Aku berada di hamparan kosong tanpa titik putih
Kuingat saat kau merekahkan…
Keharuman melati di ujung tangkainya

Sewaktu lusuh sekelebat belaian hatiMu menemani
Itu seakan memudar dihantam gelombang
Sejak ku terseok menyanding laga sendu

Di kedua pucuk sabit…
Diantara ranting tak berdaun
Dan dihangatkan jabatan awan tak bertuan
Aku menyusur decak salju…
Yang mulai kuuapkan

Ya…
Baru sekelumit terlintas
Dia merona iba…menangis
Menumpahkan air mata dalam bara siang ini
Cobalah tau akan waktu yang tak mungkin gempar lagi

Sepatah mutiara muda yang kutitipkan padaMu
Tandanya telah membengkokan hatiku.

Oleh: I Wayan Sudarma
Tilem Kaenem, 13/12/2012