Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
 Prosesi upacara pengabenan nista menurut Teks Yama Purwana Tattwa, juga sangat sederhana, jika diperhatikan dari sarana upakara yang digunakan. Bentuk Upacara Pengabenan Nistha dalam Teks Yama Purwana Tattwa, sejalan dengan bentuk Upacara Pengabenan Supta Pranawa dalam Teks Weda Puja Pitra Siwa yang menjelaskan:
”Muang mati kala kahawanan, katiban mrana, muang tutumpur, kaperepeganing musuh, kari wawalunganya mapendem, maung ring salu sampun setahun, wenang Pranawa, Sawehnya geseng wawalungan ika ring setra muang kirim, babantenya panjang ilang, bubur pirata, nasi angkeb, wija catur warna, kalungah kinasturi, ajuman putih kuning, peras, sorohan, tarpana sarparikrama, dyus kamaligi, nora tumut kukwan, muang wak-wakanya, pisang jati palungguhan krama jangkep, daksina sang ngajengin karya gung artha 8000. Sawa Pranawa ngaran”.
Bagi mereka yang meninggal pada saat perjalanan jauh, dilanda penyakit dan wabah, diserang musuh, tulang-belulangnya masih dikubur atau masih di atas tumpang salu hingga setahun, dapat diupacarai dengan upacara pranawa. Semua tulang belulangnya dibakar di kuburan dilanjutkan dengan upakara pakiriman dengan sesajennya; panjang ilang, bubur pirata, nasi angkeb, wija catur warna, kelapa gading muda yang dikasturi, ajuman putih kuning, peras, sorohan, saji tarpana selengkapnya, dyus kamaligi, tidak berisi kukwan dan wak-wakan, pisang jati sebagai palungguhan selengkapnya dan daksina untuk pendeta yang memimpin upacara dengan uang sebesar 8000. Upacara ini disebut Pranawa.

Memperhatikan uraian teks di atas dapat dipahami bahwa; dalam pelaksanaan Upacara Pengabenan Nistha wajib membuat pengawak atau pipil dan sangga urip, sebab tidak dibenarkan mengupacarai tulang-belulang saja. Mengenai arah perjalanan yang akan dituju bila memilih bentuk Upacara Pengabenan Nistha adalah ke Utara, yaitu ke Wisnu Loka (wilayah kekuasaan Dewa Wisnu). Bila dalam kehidupannya orang yang diupacarai perilakunya cenderung subha karma maka atmanya akan tiba di Svarganya Dewa Wisnu, disambut oleh bidadari Tunjung Biru. Di sana ia akan tinggal bersama Bhagawan Janaka. Apabila dalam kehidupannya ia cenderung pada perbuatan asubha karma maka atmanyya akan sampai di neraka yang panas membara karena dipenuhi lahar. Cikrabala yang akan menyambutnya bernama Adikara dan Kingkara. Pada saat memohon Tirtha Pawitra, Sang Pandita membayangkannya keluar dari nada pada aksara Mang dalam pertemuan Tri Aksara, dan diantarkan dengan Om Kara Gheni, dengan Panca Brahma berada di bawah, sedangkan Panca Aksara berada di atas, disertai dengan air suci anugrah Betara Dalem.

Berkenaan dengan hal tersebut dapat dipahami bahwa fungsi Upacara Pengabenan Nistha atau Supta Pranawa adalah sebagai penyucian terhadap sang atma, selanjutnya menuntun dan mengantarkan sang atma sampai ke Wisnu Loka.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements