Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si.

Bagi umat Hindu, upacara kematian lebih dikenal dengan istilah pitra yadnya. Pitra yadnya merupakan salah satu bagian dari tri warga yang wajib dilaksanakan oleh umat Hindu agar dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, demikian penjelasan Bhagawan Wararuci dalam kitab Sarasamuccaya. Pitra yadnya berasal dari dua kata yaitu pitra dan yadnya. Secara harfiah kata Pitra berati orang tua (ayah dan ibu), dan dalam pengertian lebih luas berarti leluhur. Sedangkan kata yadnya berarti pemujaan, persembahan atau korban suci baik material maupun non material berdasarkan hati yang tulus ikhlas, dan suci murni demi untuk tujuan-tujuan yang mulia dan luhur. Yadnya pada hakikatnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa, dan ikatan karma, untuk selanjutnya dapat menuju pada “Kelepasan”. Dengan demikian pitra yadnya berarti pengorbanan suci yang dilandasi oleh rasa hati yang tulus ikhlas yang ditujukan kepada para leluhur dalam usaha untuk membebaskan arwah para leluhur dari ikatan dosa sehingga berhasil memperoleh kelepasan. Melalui penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pelaksanaan upacara pitra yadnya mempunyai fungsi yang sangat penting yakni dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, selanjutnya dapat mengantar arwah leluhur untuk memperoleh kelepasan.

Teks Yama Purwana Tattwa menempatkan pelaksanaan upacara kematian sebagai sesuatu yang sangat gaib, sakral dan religius, seperti dijelaskan pada bait di bawah ini:

“Nihan daging kcap Yama Purwana Tattwa, par ssi, tingkah angupakara sawa sang mati, agung alit, nistha madhia utama, maka patuting wulah sang magama tirtha ring Balirajia, kewala wwang mati bner tan wnang mapendem, mangde magseng juga, saika supacarania, prasida Sang Atma molih ring Bhatara Brahma”.
Inilah isi dari Yama Purwana Tattwa tersebut; Bila melakukan upacara kematian sesuai dengan kemampuan yang disebut sederhana, menengah dan Utama (nistha, madhya, uttama). Agar tidak menyimpang dari petunjuk bagi umat yang beragama Hindu di pulau Bali. Hanya orang yang mati secara wajar tidak boleh dikuburkan, agar dibakar saja, disertai dengan upacara supaya roh orang tersebut mendapat tempat disisi Dewa Brahma (Yama Purvana Tattwa, 2b).

Teks di atas menjelaskan betapa pentingnya melaksanakan upacara kematian terhadap para leluhur, mengingat dengan cara demikian para leluhur akan berhasil memperoleh tempat disisi Dewa Brahma (Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai pencipta). Melalui sloka di atas, dapat dipahami bahwa upacara kematian memiliki fungsi yang sangat penting, yakni sebagai petunjuk jalan serta penuntun arwah leluhur sehingga mereka bisa tiba disisi Dewa Brahma.

Teks di atas juga menegaskan bahwa, bila menyelenggarakan upacara kematian hendaknya jangan memaksakan diri untuk melakukan upacara yang besar, akan tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga yang ditinggalkan sehingga tidak menjadi beban. Walau melaksanakan upacara kematian yang sangat sederhana, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya, asal dapat segera dilaksanakan dan dilandasi oleh hati yang tulus ikhlas maka arwah leluhur akan memperoleh kebahagiaan yang abadi di sisi Dewa Brahma.

Sehubungan dengan itu svarga rohana parwa Jawa kuno, memberikan penjelasan dan pemahaman tentang svarga atau neraka sebagai berikut: ketika Yudistira, raja yang sangat bijaksana sampai di svarga, dia menyaksikan sepupunya para Korawa menikmati kehidupan yang sangat menyenangkan, apapun yang diinginkan tersedia disana, dilayani oleh banyak bidadari yang cantik-cantik, sehingga mereka sangat berbahagia. Yudistira sangat sedih, karena adik-adik beserta istrinya tidak ada disana, mereka sedang menerima hukuman di neraka. Keadaan itu menyebabkan Yudistira bersikeras tidak mau tinggal di svarga, ia memilih berkumpul dengan adik-adik dan istrinya walau di neraka. Kemudian Dewa Sudata mengantarnya sampai di Yamaniloka, tempat yang sangat mengerikan. Disana ia mendapatkan adik-adik dan istrinya direndam pada air kawah yang sangat panas, dipenuhi oleh belatung, cacing, ulat dan sebagainya, sungguh sangat menakutkan. Itulah hukuman atas perbuatan buruknya pada kehidupan yang lalu. Akan tetapi begitu Yudistira menginjakkan kakinya di neraka, seketika neraka itu menjadi sejuk, sehingga semua roh memohon agar Yudistira tetap tinggal di sana guna memberi pertolongan. Mereka merasakan kesejukan seperti diperciki air suci. Yudistira tidak berkenan meninggalkan tempat itu, dan tidak lama kemudian para Dewata berdatangan, dan tempat itupun berubah menjadi svarga yang indah dan memberikan kebahagiaan kepada Para Pandawa dan Dewi Drupadi .

Melalui ilustrasi ceritera di atas, dapat dipahami bahwa semua karma membawa pahala, ada aksi – ada reaksi. Diminta ataupun tidak setiap karma pasti menghasilkan pahala. Pandawa yang dalam kehidupannya lebih cenderung pada subha karma, juga menikmati neraka walau hanya sebentar, karena pada hakikatnya tidak ada manusia yang sempurna. Setelah karma buruknya dinikmati kemudian ia memperoleh kebahagiaan yang abadi. Sedangkan Korawa yang lebih cenderung pada asubha karma, menikmati svarga walau hanya sebentar, karena pada hakikatnya setiap orang pasti ada sisi baiknya, untuk selanjutnya ia menerima pahala buruknya di neraka. Svarga atau neraka bukanlah hadiah atau hukuman akan tetapi merupakan pilihan kemana kita mau melangkah. Apapun kecendrungan yang dilakukan seseorang semasa hidupnya, maka itu pulalah yang akan dia nikmati.

Sejalan dengan itu Weda Puja Pitra Siwa menjelaskan bahwa semua bentuk upacara kematian berfungsi sebagai penyucian dan pengantar arwah leluhur sampai di ayathana sthana (wilayah perbatasan antara svarga dan neraka) selanjutnya neraka atau svarga yang dicapai karmawasananyalah yang menentukan.

Om Santih Santih Santih Om