Om Swastyastu

Dalam berbagai event, simakrama, yang membicarakan tentang humanisme, sosial, keagamaan, pepeling/piteket/piwulang ini acapkali dengan fasih disampaikan. “Salulung Sabhayantaka” (Satu dikala Suka-Satu dikala ada bahaya/duka), adalah petuah bagaimana agar masyarakat Bali khususnya dan kita pada umumnya dapat senantiasa menjaga kekompakan, persatuan dalam membangun tatanan hidup yang harmonis dalam bingkai Tri Hita Karana, baik kepada Tuhan, Manusia lainnya, dan juga kepada alam termasuk mahluk lainnya.

Salulung Sabhayantaka; adalah petunjuk bagaimana sekat-sekat wangsa, soroh, pangkat, kedudukan, kaya-miskin, dan sebagainya luluh menjadi ‘pasemetonan/nyama braya/persaudaraan’, dengan berpijak pada prinsip “paras-paros” (saling menghargai, saling mendukung, saling. Mengayomi) sehingga tercapai tatanan hidup yang “Sarpanaya” (beradab, dan berkeadilan).

Sebuah piteket yang sedemikian ‘Linuwih’ yang barangkali sudah kita abaikan. Untuk itu melalui kesempatan ini, ijinkan saya kembali mereview, agar kita tidak terjebak pada kotak-kotak kecil bernama ‘fanatisme’. Bahwa keadaban kita akan tetap eksis manakala prinsip “Salulung Sabhayantaka” ini kembali hidup dan tumbuh dalam tata laku hidup kita, baik sebagai individu yang merdeka, pun sebagai bagian integral dari komunitas semesta ini.

Om Santih Santih Santih Om Saudaraku semuanya
Jro Mangku Danu (I W Sudarma)
Piteket Hyang Kamimitan, 27072012