Om Swastyastu
“Sera Panggang Sera Tunu” demikianlah para tetua di Bali sering mengumpamakan orang, keadaan yang tidak ada bedanya. Secara harfiah Sera artinya Terasi; Sera Panggang: terasi dipanggang, dan Sera Tunu: terasi di bakar. Secara umum kita akan mengatakan bahwa bau terasi itu tidak sedap atau ‘pengit’ (bahasa Bali).
Gambar
Sera Panggang Sera Tunu dipakai untuk menggambarkan suatu keadaan yang tidak mengalami perubahan yang signifikan karena dipimpin oleh orang yang memiliki karakter seperti terasi. Yang satu terasi panggang yang lainnya terasi bakar-tetapi tetap sama-sama bau. Istilah trendnya…hanya beda chasing, tapi isi/kualitasnya sama saja. Atau untuk mengungkapkan perilaku seseorang yang pura-pura baik tapi nyatanya tetap saja ‘bau’ seperti terasi (baca: tidak baik), kebaikannya hanyalah kepura-puraan, untuk menutupi akal bulusnya saja. Mengatakan dirinya yang paling baik, paling benar, sedang yang lainnya tidak baik dan tidak benar. Semua saling memuji diri, dan disatu sisi menuduh yang lain tidak terpuji. Walau kenyataannya sama-sama tidak baik…

Gambaran ini barangkali relevan untuk menggambarkan situasi negeri ini, dimana maling teriak maling. Bicara anti korupsi; nyatanya malah korup. Yang mana pejabat dan penjahat susah dibedakan, ibarat Sera Panggang dengan Sera Tunu.

Capek dehh…..!!

Rahayu _/I\_ I Wayan Sudarma
29/02/2012

Advertisements