Om Swastyastu

Melaksanakan persembahan atau yajna merupakan kewajiban serta tugas manusia untuk menunaikannya. Dalam menunaikan tugas atau kewajiban dharma itu hendaknya dilandasi oleh adanya etika yang baik.

Melaksanakan persembahan tentunya agar menimbulkan kebaikan bersama. Sila atau perilaku manusia hendaknya perlu mendapat perhatian, agar tidak terlepas dari sila dan diusahakan untuk menuju kearah susila atau perilaku yang baik. Jangan sampai terjerumus pada perilaku yang asusila atau perbuatan yang tidak baik, seperti lalai melaksanakan yajna itu. Dalam berperilaku tentunya selalu dalam pengawasan akal sehat dan pikiran yang suci. Dalam beryajna wajib dilandasi oleh pikiran dan sanubari yang suci, diusahakan kekalutan itu dijauhkan dari diri manusia. Bilamana hatinya jernih, pikiran suci, wajahnya cerah tentu usahanya mencapai hasil. Sebagai kunci keberhasilan persembahan itu tentu kesuciannya yang turut memberikan makna yang penting. Untuk itu bagaimana bisa dikendalikan (tapa) yang mengarah pada ketidakbaikan tersebut. Segala hasil karya yang kita peroleh jika itu dharma landasannya, maka arta itu sangat utama nilainya. Namun perlu disadari bahwa yang kita nikmati dari hasil karya itu tidak hanya kita nikmati sendiri, atau kita tumpuk sampai melimpah ruah arta kekayaan itu, tentu tidak! Hasil jerih payah itu sebagian perlu disedekahkan atau berdana kepada siapa saja yang berhak menerimanya atau arta itu hendaknya dipersembahkan kehadapan Hyang Pencipta, kehadapan sesama, serta makhluk lainnya yang memiliki kehidupan di dunia ini.Sebagai sedharma tentu kita ingat kewajiban untuk melaksanakan yajna itu. Dapat melakukan penghormatan terhadap orang suci agama itu pun juga yajna namanya. Melakukan yoga dan samadhi juga merupakan yajna, karena hal ini merupakan yajna, karena hal ini merupakan usaha konsentrasi diri atau memusatkan perhatian diri terhadap Hyang Maha Kuasa. Dengan demikian memang jenis yajna itu beragam pelaksanaannya, namun dengan keanekaragaman yajna itu tidak mengecilkan semangat dan gairah umat untuk melakukan persembahan, semoga tidak!

Dalam Kitab Suci Atharwa Weda XII, 1.1 dapat ditegaskan bahwa enam unsur yang merupakan kewajiban manusia dalam hidupnya. Adapun bunyi slokanya yakni :

“Satyam Brhad Rtham Ugram Diksa,

Tapo Brahma Yajna Prithiwim Dnarayanti”.

Yang artinya :

Sesungguhnya Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yajna yang menyangga dunia.

Dari sloka di atas terdapat unsur yajna, karena hakikat yajna turut memberikan motivasi umat untuk menyelamatkan dunia ini. Sebagaimana diketahui bahwa yajna sebagai sarana untuk memuja dan menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasinya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian bahwa yajna merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus ikhlas tanpa adanya imbalan yang sangat diharap-harapkan.

Pada dasarnya yajna itu hendaknya dilaksanakan dengan hati yang tulus ikhlas. Demikian juga kita terhadap sesama manusia, terhadap makhluk lainnya hendaknya juga beryajna. Dengan adanya saling menghormati, saling menolong, saling memberikan, saling harga menghargai, hal itu merupakan juga suatu yajna yang konkret. Bilamana hal ini dapat dilakukan dengan penuh kesadaran yang tinggi tanpa adanya paksaan untuk beryajna. Timbul pertanyaan, mengapa manusia harus dapat menumbuhkan kesadaran sendiri? Kita sadari bahwa  manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya seperti hewan, bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia selalu bersama-sama dengan yang lainnya. Melalui yajna manusia dapat menyatu dengan lingkungannya, baik pencipta-Nya, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

Melalui pelaksanaan Yajna manusia ingin mencapai ketentraman hati, kenyamanan hidup, keharmonisan dengan sesama yang lainnya, dan ingin melepaskan segala duka dan lara serta terhindar dari dosa-dosa.

“Yajna sistasinah santo

mucuante sarwa kilbisaih,

bunjate te twagham papa

ye pacanty atma karanat”. (Bhagavadgita, III, 13).

Yang artinya :

Ia yang memakan sisa yajna akan terlepas dari segala dosa, tetapi Ia yang hanya memasak makanan hanya bagi diri sendiri, sesungguhnya makan dosa.

Menyimak makna sloka tersebut, maka jelas bagi kita betapa pentingnya beryajna itu. Mempersembahkan makanan yang dimiliki juga termasuk persembahan yang mulia dan dapat menentramkan hidup ini.

Mempersembahkan yajna berupa makanan itu disebut dengan Yajna Sesa. Dengan demikian bahwa makanan juga sebagai sarana untuk melaksanakan persembahan. Disini mengandung makna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan dan makanan itu sebagaimana kita ketahui merupakan sumber kehidupan di dunia ini. Agar manusia memperoleh kehidupan dan penghidupan, maka sebaiknya terlebih dahulu perlu disuguhkan sebagai yajna sebelum dinikmatinya.

Apabila manusia dapat memakan sisi yajna akan terlepas dari segala dosa, ini berarti bahwa manusia harus ikhlas beryajna, manusia dapat mendahulukan kebutuhan yajna, dapat pula bermakna bahwa manusia selalu mengusahakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi., dapat menolong sesama dan menghargai yang lainnya. Menjamin kenyamanan dan keharmonisan pihak yang lain yang berarti pula menciptakan keharmonisan dan ketentraman diri sendiri. Jika manusia telah dapat mewujudkan harapan-harapan mulia tersebut berarti manusia telah berhasil melepaskan dan terhindar dari penderitaan dan malapetaka.

Selanjutnya mari kita renungkan makna sloka berikut ini :

“Istan bhogan hi vo deva

dasyante yajna bhavitah,

tair dattan apradayai ‘bhyo

yo bhunkte eva sah”, (Bhagavadgita, III,12).

Yang artinya :

Sesungguhnya keinginan untuk mendapat kesenangan telah diberikan kepadamu oleh Dewa-Dewa karena yajnamu, sedangkan ia yang telah memperoleh kesenangan tanpa memberi yajna sesungguhnya adalah pencuri.

“Annad bhawanti bhutani

parjanyad annasambhawah,

yajnad bhawati parjanyo

yajnah karma samudbhawah”, (Bhagawadgita, III,14)

Yang artinya :

Adanya mahluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena yajna, adanya yajna karena karma.

Kedua sloka tersebut mengingatkan umat Hindu betapa pentingnya melaksanakan Yajna, termasuk juga melaksanakan yajna sesa dengan mempersembahkan terlebih dahulu makanan yang telah dimasaknya sebelum menikmatinya. Kita yakin bahwa usaha apa pun pasti menghasilkan, demikian juga dalam melaksanakan yajna sesa memohon anugerah Hyang Widhi Wasa untuk selalu dianugerahi benih kehidupan dan kenikmatan hidup di dunia ini. Alangkah nistanya hidup ini yang hanya mengutamakan kepentingan sendiri, hidup untuk menyenangkan diri pribadi saja dengan mengorbankan yang lainnya, hidup yang hanya mengejar kepuasan diri pribadi sedangkan yang lainnya penuh dengan kesengsaraan dan kemelaratan, maka manusia yang demikian tidak ada bedanya dengan pribadi seorang pencuri. Tegakah kita sebagai sedharma dijuluki sebagai pencuri? Yang jelas tentu tidak. Dari renungan diatas tentu umat harus menyadari untuk memberikan persembahan dengan beryajna, seperti halnya mempersembahkan makanan atau yajna sesa. Makanan merupakan sumber kehidupan dan karena adanya makanan, maka semua mahluk di jagat raya ini dapat hidup. Persembahan makanan dalam bentuk yajna sesa walaupun wujudnya sangat sederhana dan nampaknya kecil, namun hakikat yajna sesa itu sangatlah mulia dan luhur, yang mengandung makna spiritual untuk menentramkan kehidupan mahluk yang lainnya.

Makanan yang dinikmati manusia bukan semata-mata merupakan hasil usahanya sendiri saja, tetapi manusia memperolehnya secara bersama-sama antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain. Nasi diperolehnya berkat kerja keras petani untuk mengerjakan lahannya dengan penuh pengharapan supaya menghasilkan padi, selanjutnya padi diolah juga untuk menghasilkan beras, dan beras inilah kemudian dimasak untuk dijadikan nasi. Tidak cukup hanya itu, bahwa diperlukan juga bantuan yang lainnya dari unsur kekuatan alam yang disebut dengan Panca maha Bhuta yakni adanya kekuatan tanah atau pertiwi, adanya kekuatan air atau apah adanya kekuatan panas/api atau teja, adanya kekuatan angin atau bayu, adanya kekuatan zat ether atau akasa. Adanya nasi atau makanan ini juga berkat kekuatan atau kamahakuasaan Hyang Widhi melalui manifestasinya yang disebut tri murti yakni tiga macam kekuatan Tuhan dalam melindungi dan menganugerahi umatnya. Beras dapat dimasak atau dimatangkan menjadi nasi berkat adanya tiga kekuatan tadi yakni Dewa Brahma dengan kekuatan panasnya, Dewa Wisnu dengan kekuatan airnya, dan Dewa Siwa dengan kekuatan penyumpatannya dan dari ketiga kekuatan tersebut menyatu secara bersama-sama sehingga bermula dari beras hingga menjadi matang dan diperoleh nasi itu. Proses ini merupakan suatu kerja sama manusia baik secara sekala maupun niskala sehingga dapat menikmati makanan. Oleh karena manusia ini menikmati makanan ini atas dasar kebersamaan dan merupakan pemberian, maka patutlah makanan itu dipersembahkan kembali pada kekuatan alam yang lainnya melalui yajna sesa itu sendiri.

Sebagaimana ada yang ditegaskan dalam makna sloka di atas dimana adanya makanan ini karena adanya hujan. Ini dimaksudkan bahwa dalam mengolah makanan itu memerlukan adanya air, termasuk juga yang lainnya yang dapat dijadikan sumber kehidupan di dunia ini.

Dengan demikian bahwa yajna sesa merupakan persembahan umat Hindu dengan mempersembahkan sebagian kecil dari makanannya yang berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan garam yang dialasi taledan yang terbuat dari daun pisang, yang secara rutin dilaksanakan setiap hari sehabis makanan itu dimasak dan setelah itu baru dinikmatinya. Persembahan yajna sesa ini disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing terutama pada tempat-tempat yang dianggap penting.

Tujuan Yajna Sesa

Sebagaimana halnya dalama pelaksanaan yajna-yajna yang lainnya, seperti : Dewa yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Manusa Yajna, Bhuta Yajna, dan jenis yajna yang lainnya. Semua jenis yajna itu mengandung makna dan memiliki tujuan yang sangat mulia dan spiritual sesuai dengan jenis dan tingkatan yajna yang dilaksanakannya. Namun yang jelas bahwa yajna itu sebagai wujud rasa bakti dan terima kasih yang ditujukan kehadapan Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya agar senantiasa dianugerahi kesejahteraan dan kebahagiaan yang kekal dan abadi di dunia ini maupun di akhirat atau moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Dalam hidup ini perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Hidup ini bukan hanya untuk diabdikan pada kepentingan jasmani melulu, namun perlu juga dipenuhi kebutuhan rohani. Hidup ini juga bukan hanya untuk mengumpulkan materi atau harta kekayaan yang melimpah ruah tanpa adanya tuntutan spiritual serta pembinaan mental yang berkesinambungan.

Demikian pula halnya bahwa makanan ini tidak hanya untuk dapat mengenyangkan perut saja, bukan pula untuk memuaskan kebutuhan pangan melulu. Hidup ini bukan hanya untuk makan dan selalu bermewah-mewah tanpa ada rasa kepedulian terhadap yang lainnya. Yang terpenting bahwa sesungguhnya makanan itu kita nikmati setelah terlebih dahulu dipersembahkan sebagai yajna dan sisa yajna inilah sebagai wujud anugerah Tuhan untuk dinikmati yang tidak mengurangi kadar gizi dan kesehatannya.

Secara sederhana dikemukakan di sini tujuan melaksanakan Yajna sesa bagi umat Hindu, antara lain :

  1. Sebagai persembahan yang ditujukan kehadapan Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya yang telah memberikan anugerahnya.
  2. Sebagai wujud rasa bakti dan terima kasih yang setulus-tulusnya ke hadapan Hyang Widhi yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi.
  3. Untuk mengharmoniskan dan menyelaraskan antara adanya kebutuhan jasmani yang berupa makanan dengan kebutuhan rohani melalui pelaksanaan yajna sesa.
  4. Sebagai sarana persembahan dan penghormatan terhadap makhluk hidup yang lainnya yang juga merupakan ciptaan Hyang Widhi Wasa.
  5. Untuk memupuk rasa kedisiplinan dan toleransi sesama serta dapat mengutamakan kepentingan pribadi atau dirinya sendiri.

Demikianlah beberapa tujuan pelaksanaan yajna sesa yang dilaksanakan setiap hari (Nitya Karma) guna terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini.

Om Santih Snatih Santih Om

By: I Wayan Sudarma