Lenteranya Telah Padam

salam kasih

28

Alkisah, suatu hari seorang buta berpamitan kepada temannya untuk kembali ke desanya. Sudah seminggu lamanya ia tinggal di rumah temannya itu. Ketika berangkat, ia dibekali temannya sebuah lentera. Tetapi orang buta itu berkata keheranan, “Untuk apa lentera ini? Aku tidak membutuhkannya karena bagiku tidak ada bedanya antara terang dan gelap.”

“Aku tahu….., tetapi jika kamu tidak membawanya, aku khawatir kamu akan ditabrak orang ketika kamu berjalan di malam hari yang gelap,” jelas temannya.

Mendengar penjelasan temannya, orang buta itupun mau menerima lentera itu dan diijinkan pulang. Selepas maghrib, tibalah ia disuatu desa setelah berjalan beberapa hari lamanya. Karena hari sudah mulai gelap, iapun berjalan sangat hati-hati. namun, ketika melewati suatu kelokan jalan, tiba-tiba ia ditabrak oleh seseorang hingga keduanya terjatuh. Si buta itu marah dan berkata kepada penabraknya,”Apa kamu tidak punya mata? Kamu seharusnya bisa melihat nyala lentera ini dan tahu ada orang yang sedang melewati kelokan ini!”

Orang itu tergopoh meminta maaf, katanya,” Maaf Tuan, lenteranya telah padam!”

Sahabat……., mungkin kita juga pernah bersikap seperti orang buta itu. Kita menuntut orang lain untuk mengerti keadaan kita yang mengaku sedang dalam kesusahan atau kesulitan. Kita menuntut uang sekolah anak kita tidak dinaikkan, kita minta supaya pembayaran hutang ditunda, dan sebagainya. Padahal pola hidup kita tidak mencerminkan kesusahan. Orang masih sering menjumpai kita belanja bermacam-macam barang di mall, makan di restoran mahal, ikut berwisata ke luar pulau, ke luar negeri, dan sebagainya. (sumber: Intisari Zen)

IW Sudarma (Shri Danu D.P) @2009-Bekasi

Advertisements