MENUJU HYANG WIDHI DENGAN BERDĀNA

sadhana

I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)

  1. A. Pengertian

Salah satu ajaran agama Hindu yang harus dihayati dan diamalkan untuk tegaknya Dharma ialah ajaran dana piinya. Kata dana punya berarti pemberian dengan tulus sebagai salah satu bentuk pengamalan ajaran Dharma. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana), berupa pendidikan (Vidyadana) dan berupa harta benda (Arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat. Ajaran dana punya ini mempunyai peranan yang penting dan harus menjadi kenyataan untuk dilaksanakan sebagai salah satu wujud dari Dharma, seperti diamanatkan dalam Wrhaspati Tattwa 26, yakni: Sila (tingkah laku yang baik), Yajna (pengorbanan), Tapa (pengendalian diri), Dana (pemberian), Prawrjya (menambah ilmu pengetahuan suci), Diksa (penyucian diri/Dwijati) dan Yoga (menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa). Setiap umat Hindu hendaknya secara utuh dapat mengamalkan ajaran Dharma (agama) tersebut.

Tujuan pokok dari ajaran dana punya adalah untuk menumbuh-kembangkan sikap mental yang tulus pada diri pribadi umat manusia dalam melaksanakan ajaran Wairagya yaitu: ajaran ketidak terikatan (keikhlasan) pada diri seseorang. Istilah berdana ini lazim disebut ajaran dana punya umumnya dalam bentuk materi berupa benda-benda bergerak dan benda-benda tak bergerak seperti tanah labhapura atau tanah bukti dan lain-lain.

Ajaran dana punya bertujuan untuk membimbing manusia menuju kesempurnaan lahir batin yang akan mengantar manusia mencapai surga dan bahkan mencapai Moksa (kalepasan, bersatunya Sang Diri dengan Tuhan Yang Maha Esa), oleh karena ajaran ini merupakan salah satu-bagian dari 7 jenis perwujudan Dharma, maka menurut hukum Hindu, ajaran dana punya ini wajib hukumnya, wajib dilaksanakan oleh setiap umat manusia

Ajaran dana punya dilandasi oleh ajaran Tattvamasi, yang memandang setiap orang seperti diri kita sendiri yang memerlukan pertolongan, bantuan atau perlindungan untuk mewujudkan kebahagiaan hidup yang sejati, seperti diamanatkan dalam kitab suci Veda, “vasudhaivakutumbakam” semua makhluk adalah bersaudara.

  1. B. Sabda suci Tuhan Yang Maha Esa tentang Dana punya

Sumber-sumber ajaran dana punya adalah kitab suci Veda yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan sumber tertinggi ajaran agama Hindu, serta yang terkandung dalam susastra Hindu. Dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu terkandung ajaran-ajaran sebagai berikut:

“Semoga kita dapat mengabdikan diri kita menjadi instrument Tuhan Yang Maha Esa dan dapat membagikan keberuntungan kita kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan ” (RgvedaL15.8)

“Hendaknya mereka memperoleh kekayaan dengan kejujuran dan dapat memberikan kekayaannya itu dengan kemurahan hati, mereka tentunya akan dihargai oleh masyarakat. Semogalah mereka tekun bekerja dan meyakini kerja itu sebagai bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa” (Rgveda 1.15.9)

“Orang-orang yang dermawan menghuni tempat yang tinggi di sorga. Orang yang tidak picik, yang mendermakan kuda, memperoleh tempat di alam Surya ” (Rgveda X. 107.2)

“Wahai umat manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan seratus tangan dan sumbangkanlah kekayaan itu dengan seribu tanganmu, dapatkanlah hasil yang penuh dari pekerjaan dan keahlianmu di dunia ” (Atharvaveda III.24.5)

“Orang-orang yang dermawan, tidak pernah mati, tidak menderita karena malapetaka, juga tidak binasa ” (Rgveda X. 107.8)

“Orang yang bijak yang suka berderma memancarkan cahaya kesucian dan memperoleh kekuasaan-Nya” (Rgveda 1.125.5)

“Tuhan Yang Maha Esa menurunkan anugrah yang mengagumkan kepada orang yang pemurah, suka berdana punya yang dilandasi dengan ketulusan hati. Mereka memperoleh keabadian, rakhmat-Nya kejayaan dan panjang usia” (Rgveda LI25.6)

“Tuhan Yang Maha Esa tidak akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang memperoleh kekayaan dengan tidak jujur. Demikian pula yang tidak mendermakan sebagian miliknya kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukan. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengambil kekayaan milik orang-orang yang tamak dan menganugrahkannya kepada orang-orang yang dermawan ” (Rgveda V.34.7)

“Tuhan Yang Maha Esa akan mengambil kekayaan mereka yang suka memeras bawahan dan orang-orang di sekitarnya. Demikian pula mereka yang tidak membagikan kekayaannya kepada pekerja-pekerja yang ulet membanting tulang” (Rgveda V.42.9)

“la yang hanya mementingkan diri dan menikmati makanan untuk dirinya sendiri dan menolak memberikan kepada orang-orang yang miskin dan sangat kelaparan sesungguhnya tidaklah pantas dijadikan sahabat” (Rgveda X.ll7.4)

“Hendaknya kekayaan dan keberuntungan dapat didermakan kepada orang-orang miskin dan benar benar memerlukan. Hendaknya mereka dapat memandang jalan kehidupan yang benar. Roda kereta pembawa kekayaan tidak pernah berhenti. Kekayaan berlimpah satu hari dan bertambah terus pada hari-hari selanjutnya. Hendaknya setiap orang sadar untuk menolong orang setiap hari” (Rgveda X.I 17.5)

“Berdermalah untuk tujuan yang baik dan jadikanlah kekayaanmu bermanfaat. Kekayaan yang didermakan untuk tujuan luhur tidak pernah hilang. Tuhan Yang Maha Esa memberikan jauh lebih banyak kepada yang mendermakan kekayaan untuk kebaikan bersama “(Atharvaveda HI. 15.6)

“Hendaknya bekerjalah kamu seperti dengan seratus tanganmu dan mendermakan hasilnya dengan seribu tanganmu. Bila kamu bekerja dengan kesungguhan dan kejujuran, hasil yang akan diperoleh akan berlimpah ruah, beribu kali. Bagi yang mendermakannya, sesuai dengan keperluannya, Tuhan Yang Maha Esa akan menganugrahkan rahmat-Nya ” (Atharvaveda 111.24.5)

“Wahai umat manusia, bekerja keraslah kamu sekuat tenaga, usir jauh-jauh sifat-sifatmu yang membuat kamu melarat dan sakit. Hendaknya kekayaan yang kamu peroleh dengan kejujuran dapat bermanfaat bagi masyarakat. Arahkanlah untuk perbuatan-perbuatan baik dan kesejahteraan masyarakat”(Atharvaveda VI.81.1)

“Hanyalah seseorang yang senang mendermakan makanan kepada yang lain apakah kepada cendekiawan, pandita, orang-orang miskin atau peminta-minta dan orang-orang cacat, menikmati makanan yang telah dipersembahkan. Orang yang demikian selalu memperoleh rakhmat-Nya. la dapat mengubah musuhnya menjadi sahabatnya yang sejati”(Rgveda X. 117.3)

“Semogalah kebaikan bagi penyembah yang tulus tidak pernah menderita. Hari-harinya penuh dengan kegembiraan, kesedihan tidak akan pernah menyentuh mereka. Seseorang yang suka menderma dan senantiasa jujur tidak pernah menyesal dan putus asa “(Rgveda 1.125.7).

 

Dalam kitab suci Manavadharmauastra, terkandung ajaran sebagai berikut:

“Seorang kepala keluarga hams memberi makanan sesuai dengan kemampuannya kepada mereka yang tidak menanak untuk dirinya (yaitu pelajar dan pertapa) dan kepada semua makhluk. Seseorang hendaknya membagi-bagikan makanan tanpa mengganggu kepentingannya sendiri (Manavadharmasastra IV32)

“Bagi mereka yang berumah tangga, bila mampu hendaknya berdana punya kepada mereka yang tidak memasak makanan dan makhluk lain yang memerlukan ” (Manavadharmasastra 1V.33)

“Walaupun harta itu diperoleh sesuai menurut hukum (dharma) tetapi bila tidak didanakan (disedekahkan/diamalkan) kepada yang layak, akan terbenam ke kawah neraka (Manavadharmasastra IV193)

“Hendaknya tidak jemu-jemunya la berdana punya dengan memberikan hartanya dan mempersembahkan sesajen dengan penuh keyakinan. Memperoleh harta dengan cara yang benar dan didermakan akan memperoleh tempat yang tertinggi (Moksa) “(Manavadharmasastra TV.226)

“‘la yang berderma air akan memperoleh kepuasan, berderma makanan akan memperoleh pahala kenikmatan, yang berderma biji-bijian akan memperoleh keturunan, dan yang berderma mampu akan memperoleh pengetahuan yang sempurna” (Manavadharmasastra FV.229)

“Yang berderma tanah akan memperoleh dunia yang layak baginya, berderma emas memperoleh umur panjang, berderma rumah akan memperoleh karunia yang agung, yang berderma perak akan memperoleh keindahan ” (Manavadharmasastra IV.230)

“Yang berderma pakaian akan memperoleh tempat yang layak di alam ini dan di bulan nanti, yang berderma kuda memperoleh kedudukan seperti dewa Asvina, yang berderma kerbau akan memperoleh keberuntungan dan yang berderma lembu akan mencapai Suryaloka (Sorga)” (Manavadharmasastra IV231)

“Apapun juga niatnya untuk berdana punya pahala itu akan diperolehnya dikemudian hari” (Manavadharmasastra IV.234)

“la yang dengan normal menerima pemberian dana punya ia dengan tulus memberikannya keduanya mencapai sorga, dan apabila pemberian dan penerimaannya tidak dengan tulus akan jatuh ke neraka ” (Manava-dharmasastra IV235)

Dalam kitab Sarasamuccaya terkandung ajaran-ajaran sebagai berikut :

 

“Barang siapa yang memberikan dana punia maka ia sendirilah yang akan menikmati buah (pahala) dari kebajikannya itu” (Sarasamuccaya 169).

“Adapun yang disebut dana punya adalah nasehat (wejangan) para pandita, sifat yang tidal dengki, taat melakukan Dharma, sebab bila semuanya itu dilakukan dengan tekun, ia akar memperoleh keselamatan sebagai pahala dari dana punia ” (Sarasamuccaya 170)

“Maka hasil pemberian dana punya melimpah-limpah adalah diperolehnya berbagai kenikmatan dunia lain (sesudah mati), akan pahala pengabdian kepada orang tua adalah diperolehnya hikmah kebijaksanaan yaitu kewaspadaan dan kesadaran, sedangkan pahala dari ahimsa karma ialah panjang usia, demikianlah sabda Maha Yogi (Bhatara)” (Sarasamuccaya 171).

“Kekayaan seseorang datang dan pergi (mengalami pasang surut), bila tidak dipergunakan untuk berdana punya, maka mati namanya, hanya karena bernafas bedanya, seperti halnya puputan pandai besi” (Sarasamuccara, 179)

  1. C. Dana punya lebih utama dibandingkan dengan upacara Yajna

Memperhatikan terjemahan sabda suci Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab Veda maupun susastra Hindu lainnya, maka yang menjadi landasan filosofis dilaksanakannya dana punya adalah ajaran suci tentang kesatuan (advaitavada) yang memandang segala sesuatunya berporos kepada keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu kesatuan. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan umat manusia dan semua makhluk lainnya dalam satu “iila” atau “krida” dan semua makhluk tunduk kepada ajaran dan hukum-Nya, oleh karenanya umat manusia dituntut untuk menjadi instrument-Nya (Vaidikapaurusam) serta melaksanakan tugas dan kewajibannya (svadharma) dengan sebaik-baiknya. Demikianlah dana punya merupakan satu ajaran untuk mewujudkan kebenaran, kesucian dan keharmonisan (satyam-sivam-sundaram), karena itu setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ajaran dana punya tersebut.

Dalam Bhagavadglta XVIII. 5 dinyatakan bahwa: seseorang jangan pernah berhenti melaksanakan Yajna, Tapa dan Dana, karena ketiganya akan menyucikan seseorang. Oleh karena itu fungsi dari dana punya yang utama adalah untuk menyucikan diri, sebab dengan kesucian diri pahala dari dana punya akan dapat diwujudkannya Dalam kitab suci Manawadharmasastra 1.86 dinyatakan bahwa : “Pada zaman Krtayuga, Tapalah yang paling utama, pada zaman Traitayuga dinyatakan yang utama adalah Jnana, pada zaman Dvapara adalah Yajna dan pada zaman Kaliyuga yang sangat utama adalah Dana “

Oleh karena itu jaman sekarang ini yang merupakan jaman Kaliyuga, melaksanakan dana punya adalah kegiatan yang sangat utama dibandingkan dengan upacara yajna.

 

  1. D. Besaran dan Pengelolaan Dana punya

Menurut Sarasamuccaya 262-264, peruntukan harta hasil kerja itu hendaknya dibagi, yaitu sepertiga untuk Dharma (sadhana ri kasiddhaning dharma), sepertiga lagi untuk Kama (sadhana ri kasiddhaning kama), dan sepertiga untuk Artha (sadhana ri kasiddhaning artha wrddhyaken mwah), sesuai kutipan berikut:

“Demikianlah keadaannya, maka dibagi tigalah hasil usaha itu, yang satu bagian untuk biaya mewujudkan Dharma, bagian yang kedua adalah untuk biaya memenuhi Kama, dinikmati dan bagian yang ketiga diperuntukkan untuk mengembangkan modal usaha dalam bidang artha, ekonomi agar berkembang kembali, demikianlah hendaknya hasil usaha itu dibagi tiga, oleh orang yang ingin memperoleh kebahagiaan “(262)

 

“Sebab harta benda itu jika Dharma dijadikan landasan untuk memperolehnya, labha atau keuntungan namanya, sungguh mengalami kesenangan orang yang memperoleh harta benda itu, akan tetapi jika harta benda itu diperoleh dengan jalan Adharma, merupakan noda terhadap harta benda itu, dihindari oleh orang yang berbudi utama, oleh karena itu janganlah bertindak menyalahi Dharma, jika anda berusaha menuntut sesuatu ” (263).

“Jika ada orang yang begini perilakunya, memperoleh harta denganjalan Adharma, kemudian harta benda itu digunakan untuk membiaya Dharma, orang yang demikian perilakunya, lebih baik tidak berusaha secara demikian, sebab lebih benar orang yang menghindari Lumpur dari pada menginjaknya, walaupun akhirnya akan dapat dibasuhnya ” (264).

 

Dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26 dinyatakan 7 macam perbuatan yang tergolong Dharma, satu di antaranya adalah dana atau dana punya. Berdasarkan pembagian Dharma serta peruntukan dari hasil karya (penghasilan) seseorang, maka dapat diperinci sebagai berikut: 33 1/3 % (yang diperuntukkan Dharma) dibagi 7, sehingga dapat dibulatkan menjadi 5 %. Dengan demikian setiap umat Hindu wajib menyisihkan 5 % dari penghasilan bersihnya secara khusus untuk didana punya kan.

Pengelolaan dana punya dilaksanakan oleh Parisada yang dinyatakan sebagai majelis tertinggi umat Hindu menurut ketentuan kitab suci ManawadharmaSastra.

Demikian Bhisama ini ditetapkan untuk dijadikan tuntunan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Sumber : Bhisama PHDI Pusat Tahun 2002 di mataram

PENGAMALAN CATUR VARNA

  1. A. Latar Belakang

Sudah merupakan pengertian umum bahwa ajaran Catur Varna yang bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Veda dan kitab-kitab susastra Veda (Hindu) lainnya adalah ajaran yang sangat mulia. Namun dalam penerapannya terjadi penyimpangan penafsiran menjadi sistem Kasta di India dan sistem Wangsa di Indonesia (Bali) yang jauh berbeda dengan konsep Catur Varna. Penyimpangan ajaran Catur Varna yang sangat suci ini sangat menodai perkembangan agama Hindu dalam menuntun umat Hindu selanjutnya. Banyak kasus yang ditimbulkan akibat penyimpangan itu yang dampaknya benar-benar merusak citra Agama Hindu sebagai agama sabda Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan agama tertua di dunia.

Perjuangan untuk mengembalikan kemurnian ajaran Catur Varna itu sudah banyak dilakukan oleh sebagian umat Hindu. Perjuangan itu dilakukan baik oleh para cendekiawan maupun lewat berbagai organisasi/lembaga keumatan Hindu. Meskipun sangat alot namun perjuangan untuk mengembalikan kebenaran ajaran Catur Varna itu sudah menampakkan hasilnya. Seperti dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan hukum semakin nampak adanya kesetaraan. Justru dalam bidang keagamaan dan sosial budaya seperti pergaulan dalam kemasyarakatan yang membeda-bedakan Wangsa atau Soroh masih sangat kuat. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari sangat tampak adanya penggunaan sistem Wangsa yang tidak proporsional. Demikian pula dalam bidang keagamaan dan adat istiadat perilaku membeda-bedakan Wangsa masih sangat kuat. Hal itu menjadi sumber konflik yang tiada putus-putusnya dalam kehidupan keberagamaan umat Hindu di Indonesia (khususnya di Bali). Wacana dari berbagai kalangan umat Hindu semakin keras untuk kembali ke ajaran Catur Varna, oleh karena itu dalam Maha Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia bulan September 2001 di Denpasar telah mengusulkan adanya penetapan Bhisama Tentang Catur Varna. Usulan itu didahului oleh berbagai seminar dan diskusi-diskusi. Seminar dan diskusi itu diadakan oleh Parisada maupun oleh Ormas dan lembaga-lembaga umat Hindu. Hampir setiap seminar dan diskusiada usulan untuk kermbali kepada sistem Catur Varna dengan melepaskan penerapan sistem Wangsa yang keliru. Tujuan ditetapkannya Bhisama Catur Varna adalah untuk menegakkan ajaran Catur Varna secara benar. Sistem Wangsa agar dipergunakan hanya untuk Pitra Puja dan untuk berbakti kepada leluhur dalam menumbuhkan rasa persaudaraan intern wangsa itu sendiri. Sistem Wangsa hendaknya diarahkan untuk mengamalkan ajaran Hindu yang benar dalam konteks kesetaraan antar sesama manusia. Sistem Wangsa itu tidak dijadikan dasar dalam sistem adat-istiadat, pergaulan sehari-hari, seperti sistem penghormatan dalam pergaulan sosial dan sebagainya. Menurut pandangan Hindu sesungguhnya semua umat manusia bersaudara dalam kesetaraan (Vasudaiva kutum bakam). Demikian juga pandita dalam swadharmanya memimpin upacara tidak memandang asal usul Wangsa seseorang. Seseorang setelah melaksanakan upacara Diksa menjadi pandita sudah lepas dari ikatan Wangsanya.

  1. B. Pengertian dan Fungsi Ajaran Catur Varna Menurut Kitab Suci Weda

Tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu sebagaimana dinyatakan dalam kitab Brahma Purana 228.45.Dharma artha kama moksanam sarira sadanam, artinya : badan (Sarira: Sthula, Suksma dan Antahkarana Sarira) hanya dapat dijadikan sarana untuk mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Inilah yang disebut Catur Purusha Artha atau empat tujuan hidup Untuk mencapai empat tujuan hidup manusia itu ,harus dilaksanakan secara bertahap. Dalam Agastya Parwa dinyatakan bahwa empat tujuan hidup itu dicapai secara bertahap menurut Catur Asrama. Tahap hidup Brahmacari diprioritaskan mencapai Dharma, tahap hidup Grhastha diprioritaskan mencapai Artha dan Kama, sedangkan dalam tahap hidup Vanaprastha dan Sannyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan mencapai Moksa.

Untuk mewujudkan empat tujuan hidup (Catur Purusartha) melalui empat tahapan hidup (Catur Asrama) dibutuhkan empat jenis profesi yang disebut Catur Varna. .Dalam kitab suci Yajurveda XXX. 5 dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan empat profesi atas dasar bakat dan kemampuan seseorang. Brahmana Varna diciptakan untuk mengembangkan pengetahuan suci, Ksatriya untuk melindungi ciptaan-NYA, Vaisya untuk kemakmuran dan Sudra untuk pekerjaan jasmaniah. Dalam mantra Yajurveda XXX. II dinyatakan Brahmana Varna diciptakan dari kepala Brahman, Ksatriya dari lengan Brahman, Vaisya dari perut-Nya dan Sudra dari kaki Brahman. Jadi semua Varna itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Varna ini memiliki kemuliaan yang setara. Hal ini dinyatakan dalam mantra Yajurveda XVIII.48 untuk memanjatkan puja kepada Tuhan Yang Maha Esa, Brahmana, Ksatriya,Vaisya dan Sudra sama-sama diberikan kemuliaan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Varna itu akan mulia kalau sudah menaati swadharmanya masing-masing.

Dalam Bhagavadgita IV. 13 dan XVIII.41 dengan sangat jelas dan tegas bahwa untuk menentukan Varna seseorang didasarkan pada Guna dan Karmanya. Guna artinya minat dan bakat sebagai landasan terbentuknya profesi seseorang. Jadi yang menentukan “Varna” seseorang adalah profesinya bukan berdasarkan keturunannya. Sedangkan Karma artinya perbuatan dan pekerjaan. Seorang yang berbakat dan punya keahlian (profesi) di bidang kerohanian dan pendidikan serta bekerja juga di bidang kerohanian dan pendidikan itulah yang dapat disebut ber “Varna” Brahmana. Demikian juga orang yang dapat disebut ber “Varna” Ksatriya adalah orang yang berbakat dan punya keakhlian dibidang kepemimpinan dan pertahanan. Orang yang berbakat dibidang ekonomi dan bekerja juga dalam bidang ekonomi ialah yang dapat disebut Vaisya. Sedangkan orang yang hanya mampu bekerja hanya dengan menggunakan tenaga jasmaninya saja karena tidak memiliki kecerdasan disebut Sudra.

Menurut Manawa Dharmasastra X.4 dan Sarasamuscaya 55 hanya mereka yang tergolong Brahmana, Ksatriya dan Vaisya saja yang boleh menjadi Dvijati (pandita). Sudra tidak diperkenankan menjadi Dvijati karena mereka dianggap hanya mampu bekerja dengan mengandalkan tenaga jasmaninya saja, tanpa memiliki kecerdasan. Dvijati harus memiliki kemampuan rohani dan daya nalar yang tinggi, oleh karenanya Swadharma seorang Dvijati adalah sebagai Adi Guru Loka atau Gurunya masyarakat. Namun untuk mendapatkan tuntunan kitab suci Veda semua Varna berhak dan boleh mempelajarinya termasuk Sudra Varna.Hal ini ditegaskar dengan jelas dan tegas dalam Yajurveda XXV.2.

Varna seseorang tidak dilihat dari asal-usul keturunannya, misalnya kebrahmanaar seseorang bukan dilihat dari sudut ayah dan ibunya. Meskipun ayah dan ibunya seorang pandite atau rsi yang tergolong ber “Varna” Brahmana, belum tentu keturunannya menjadi seorang Brahmana, seperti halnya Rahwana, kakeknya, ayahnya dan ibunya adalah rsi yang terpandang namun Rahwana bersifat raksasa. Prahlada di dalam kitab Bhagavata Parana disebut sebagai anak dari raksasa Hiranya Kasipu, namun Prahlada adalah seorang Brahmana yang sangat taat beragama meskipun ia masih anak-anak. Varna seseorang tidak ditentukan oleh keturunannya dijelaskan dengan tegas dalam kitab Mahabharata XII, CCCXII,108 bahwa ke “Dvijati”ar seseorang tidak ditentukan oleh ke “wangsa”annya (nayonih), yang menentukan adalah perbuatannya yang luhur dan pekerjaanya yang memberi bimbingan rohani kepada masyarakat

C.        Menegakkan sistem Catur Varna.

Untuk mengembalikan sistem Catur Varna dalam masyarakat Hindu di Indonesia    haruslah ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Umat Hindu harus diajak secara bersama-sama untuk menghilangkan adat-istiadat keagamaan Hindu yang bertentangan dengan ajaran Catur Varna pada khususnya dan ajaran agama Hindu pada umumnya. Hal ini dilakukan melalui berbagai “metode pembinaan umat Hindu” yang telah ditetapkan dalam Pesamuan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia tahun 1988 di Denpasar yang terdiri dari: Dharma Wacana, Dharma Tula, Dharma Gita, Dharma Sadhana, Dharma Yatra dan Dharma Santi.
  1. Dalam kehidupan beragama Hindu umat diajak untuk tidak membeda-bedakan pandita dari segi asal kewangsaannya. Seorang pandita dapat “muput” (memimpin) upacara yang dilaksanakan oleh umat tanpa memandang asal-usul keturunannya Umat Hindu dididik dengan baik untuk tidak membeda-bedakan harkat dan martabat para pandita Hindu dari sudut asal “Wangsa”nya.
  1. Dalam persembahyangan bersama saat “Nyiratang Tirtha” (memercikkan air suci) umat diajak untuk membiasakan menerima “Siratan Tirtha” (percikkan air suci) dari Pamangku atau Pinandita. Ada sementara umat menolak dipercikkan Tirtha oleh Pamangku Pura bersangkutan, karena menganggap Pemangku itu Wangsanya lebih rendah dari umat yang menolak diperciki Tirtha. Sikap seperti itu jelas menggunakan sistem Wangsa yang melecehkan swadharma seorang Pemangku. Hal tersebut harus ditinggalkan.
  1. Sistem penghormatan tamu Upacara Yajna atau Atithi Yajna dalam suatu Upacara Yajna janganlah didasarkan pada sistem Wangsa, aitinya jangan tamu dalam upacara yajna dari Wangsa tertentu saja mendapatkan penghormatan adat, bahkan kadang-kadang ada pejabat resmi yang patut mendapatkan pengerhormatan yang sewajarnya didudukkan ditempaUcan secara kurang wajar dalam tata penghormatan itu.
  1. Umat Hindu hendaknya diajak untuk melaksanakan upacara yajna pawiwahan yang benar, seperti kalau ada pria yang kawin dengan wanita yang berbeda wangsa pada saat upacara “Matur Pruning” di tempat pemujaan keluarga pihak wanita, seyogyanya kedua mempelai bersembahyang bersama.
  1. Pandita seyogyanya tidak menolak untuk “Muput” upacara “Pawiwahan” (perkawinan) karena mempelai berbeda wangsa.
  1. Dalam hal Upacara Manusa Yajna “Mepandes” (Potong Gigi), orang tua sepatutnya tidak membeda-bedakan putra-putrinya yang disebabkan oleh perkawinan berbeda wangsa.
  1. Tldak seyogyanya seseorang yang akan di-Dwijati / di-Abiseka kawin lagi hanya karena istrinya yang pertama dari wangsa yang berbeda.
  1. Perkawinan yang disebut kawin nyerod harus dihapuskan.

10. Upacara adat Patiwangi harus dihapuskan sejalan dengan hapusnya tradisi Asumundung dan Anglangkahi Karang Hulu oleh Dewan Pemerintah Bali Tahun 1951.

11. Pemakaian bahasa dalam etika moral pergaulan antar wangsa, sepatutnya saling harga-menghargai agar jangan menimbulkan kesan pelecehan terhadap wangsa lainnya.

Demikian Bhisama ini ditetapkan untuk memberikan tuntunan kepada umat Hindu demi tegaknya supremasi nilai-nilai agama Hindu di atas adat-istiadat. Dengan demikian adat-istiadatpur akan tetap terpelihara dengan dasar kebenaran ajaran agama. Hendaknya umat Hindu tetap memelihara adat yang menjadi media penyebaran kebenaran Veda yang disebut Satya Dharma.

Sumber : Bhisama PHDI Pusat Tahun 2002 di mataram