<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dharmavada</title>
	<atom:link href="http://dharmavada.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dharmavada.wordpress.com</link>
	<description>Pembawa Pesan Kebenaran &#38; Kebajikan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Dec 2011 05:49:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dharmavada.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/8e755cd5f3525096f6eda4ca16bced2b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Dharmavada</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dharmavada.wordpress.com/osd.xml" title="Dharmavada" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dharmavada.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Salahkah Bila Berharap&#8230;??</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/salahkah-bila-berharap/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/salahkah-bila-berharap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Om Swastyastu Sejak zaman dahulu, sekarang maupun yang akan datang, manusia selalu mempunyai harapan dan harapan. Satu harapan menjadi kenyataan, harapan yang lain menanti untuk dipenuhi. Anak kecil mempunyai harapan, orang dewasa juga mempunyai harapan, apalagi orang tua. Umat awam mempunyai harapan, para rohaniawan juga memiliki harapan. Singkatnya, manusia dalam kehidupannya selalu berharap dan berharap. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=518&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Om Swastyastu</strong></p>
<p>Sejak zaman dahulu, sekarang maupun yang akan datang, manusia selalu mempunyai harapan dan harapan. Satu harapan menjadi kenyataan, harapan yang lain menanti untuk dipenuhi. Anak kecil mempunyai harapan, orang dewasa juga mempunyai harapan, apalagi orang tua. Umat awam mempunyai harapan, para rohaniawan juga memiliki harapan. Singkatnya, manusia dalam kehidupannya selalu berharap dan berharap. Harapan atau cita-cita yang menjadi kenyataan menjadikan manusia bahagia, sedangkan harapan yang tidak menjadi kenyataan menjadikan manusia merana.</p>
<p><a href="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/12/harapan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-519" title="harapan" src="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/12/harapan.jpg?w=510&#038;h=382" alt="" width="510" height="382" /></a></p>
<p>Semakin banyak harapan atau cita-cita yang kita miliki, maka semakin terbuka kemungkinan untuk kecewa, karena adakalanya harapan itu tidak semuanya menjadi kenyataan. Semakin sedikit keinginan atau harapan, maka semakin sedikit pula kemungkinan untuk tidak terpenuhi, sehingga kemungkinan kecewa juga sedikit.</p>
<p>Harapan-harapan itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh: anak kecil ke Pura untuk bermain-main, harapannya tentu untuk berbahagia; remaja ke Pura untuk mencari teman; yang beranjak dewasa ke Pura untuk mencari pacar; ada juga yang ke Pura untuk mencari jodoh; orang tua ke Pura untuk mencari bekal; dan orang tertentu ke Pura untuk berbuat baik. Di antara umat Hindu, ada juga yang ke Pura hanya untuk ngobrol-ngobrol saja karena di Pura banyak umat Hindu yang bisa diajak ngobrol. Di luar keinginan-keinginan atau harapan-harapan umat yang beraneka ragam itu, ada yang menginginkan usahanya lancar, cepat dapat jodoh, cepat mempunyai anak, disayang oleh suami, istri maupun anak, dan masih banyak lagi keinginan-keinginan dari para umat.</p>
<p>Dalam usaha supaya harapan atau cita-citanya terkabul, berbagai usaha ditempuh oleh para umat, mulai dari cara-cara yang masuk akal sampai cara-cara yang di luar akal sehat. Cara-cara yang masuk akal misalnya dengan melakukan hal-hal yang sesuai, yang mendukung cita-cita atau harapannya dengan berjuang sungguh-sungguh, dengan banyak melakukan kebajikan. Dan mungkin juga ada yang melakukan hal-hal yang di luar akal sehat, misalnya mandi kembang tengah malam, kemana-mana membawa jimat atau yang lainnya. Ada pula umat yang supaya cita-citanya tercapai, minta dibacakan mantra atau doa oleh Pandita-Pinandita bagi yang beragama Hindu. Ada yang supaya cita-cita atau harapannya tercapai, datang ke tempat-tempat keramat tujuannya supaya selamat dan cita-citanya terwujud. Ada juga umat yang datang ke paranormal atau tokoh-tokoh spiritual yang dianggap mampu menjembatani keinginannya supaya terkabul, tidak peduli itu masuk akal atau tidak yang penting dijalani. Kalau keinginannya terkabul; syukur, sebaliknya kalau keinginannya tidak terkabul, sering kali menyalahkan pihak yang didatangi atau diminta pertolongan.</p>
<p>Sesungguhnya harapan-harapan atau keinginan-keinginan tidak memonopoli milik umat saja, tetapi kaum rohaniawan juga memilikinya. Tidak peduli agama atau kepercayaannya apa, tentu semuanya memiliki harapan. Jadi sesungguhnya rohaniawan juga memiliki harapan atau keinginan tidak jauh berbeda dengan umat awam. Jadi tidak usah kaget atau terkejut kalau mendengar seorang rohaniawan memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan tertentu.</p>
<p>Ingat rohaniawan juga manusia, tidak beda dengan umat awam, jadi semuanya mempunyai harapan. Ada yang untuk dirinya sendiri, ada juga untuk orang lain, ada juga untuk para leluhur dan lain sebagainya. Keinginan-keinginan atau harapan-harapan para rohaniwan itu, misalnya:</p>
<ol>
<li>Ingin disayangi dan menyenangkan sesama rohaniwan di dalam kehidupan suci, dihormati dan dijunjung tinggi oleh mereka.</li>
<li>Ingin mendapatkan empat macam kebutuhan pokok: makanan, pakaian, obat-obatan dan tempat tinggal.</li>
<li>Mereka yang menyokong kehidupan-kehidupan kerohaniannya memperoleh pahala yang besar.</li>
<li>Para leluhur berbahagia.</li>
<li>Terbebas dari hal-hal yang tidak baik.</li>
<li>Terbebas dari ketakutan dan kengerian.</li>
<li>Memiliki kemampuan-kemampuan batin.</li>
<li>Mencapai tingkat-tingkat pembersihan kekotoran batin.</li>
<li>Merealisasi Moksha.</li>
</ol>
<p>Apakah keinginan-keinginan atau harapan-harapan pararohaniwan dan juga para umat itu bisa menjadi kenyataan? Ataukah itu hanya keinginan saja tanpa dapat diwujudkan? Dengan cara apakah harapan-harapan atau keinginan-keinginan itu bisa menjadi kenyataan? Ada orang tertentu, supaya harapannya menjadi kenyataan, ia selalu berdoa dan berdoa, meminta dan meminta kepada kekuatan di luar sana, bahkan tidak jarang sampai menangis tersedu-sedu. Para Maharsi tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk menjadi peminta-minta atau pengemis supaya harapan kita tercapai. Seandainya dengan berharap, berdoa dan menangis semua harapan menjadi kenyataan, maka tidak perlu manusia berjuang mencapai cita-cita dengan susah payah. Berjuang dengan cara apakah supaya harapan dan keinginan-keinginan itu menjadi kenyataan? Avatara Buddha menjelaskan supaya keinginan atau harapan itu menjadi kenyataan, maka siapapun haruslah sempurna di dalam pelatihan moralitas yang lebih tinggi dan yang lebih baik, tidak mengabaikan meditasi, mengembangkan kebijaksanaan. Seandainya siapa pun berharap, maka seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak malas.</p>
<p>Sesungguhnya, “berharap” bagi umat Hindu tidak ada salahnya. Masalahnya supaya harapan-harapan itu menjaddi kenyataan, manusia itu harus berjuang. Berharaplah dan berusaha mewujudkan harapan dengan berjuang sebagai kuncinya. Setelah tahu bahwa harapan harus dibarengi dengan perjuangan, maka sebagai umat Hindu sudah sepatutnya kita terus berjuang dan berjuang. Menjadi kenyataan atau tidak harapan kita tergantung pada diri kita. Semakin banyak berjuang semakin terbuka kesempatan untuk berhasil. Ingat, sukses atau gagalnya harapan kita ditentukan seberapa keras perjuangan kita. Selamat berjuang. Semoga berhasil.</p>
<p><strong>Om Santih Santih Santih Om</strong></p>
<p>Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=518&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/salahkah-bila-berharap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/12/harapan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">harapan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ala-Ayuning Sasih</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/ala-ayuning-sasih/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/ala-ayuning-sasih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jyotisa/Wariga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag Om Swastyastu Seperti halnya wewaran, wuku, tanggal panglong semuanya mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk) maka sasihpun mempunyai perhitungan ala ayu. Misalnya pada waktu bergerak saat wiswayana (saat berada di tengah) kemudian bergerak ke utara (uttarayana) dan kemudian bergerak ke arah selatan (daksinayana). Maka secara umum sasih uttara yana dianggap sasih yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=516&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag<br />
</strong></p>
<p><strong>Om Swastyastu<br />
</strong></p>
<p>Seperti halnya wewaran, wuku, tanggal panglong semuanya mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk) maka sasihpun mempunyai perhitungan ala ayu. Misalnya pada waktu bergerak saat wiswayana (saat berada di tengah) kemudian bergerak ke utara (uttarayana) dan kemudian bergerak ke arah selatan (daksinayana).</p>
<p>Maka secara umum sasih uttara yana dianggap sasih yang bersih dan daksina yana dianggap sasih kotor karena jatuh pada bulan atau sasih kanem, kapitu, kawulu adalah sasih yang baik untuk nangkluk merana atau membuat uapacara bhuta yajña.</p>
<p>Di samping itu pula sasih secara khusus mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk). Di dalam kitab Penuntun Indik Padewasan / Wariga ala ayuning sasih untuk upacara perkawinan dijelaskan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Kasa = kawon; pianake kasengsaran</li>
<li>Karo = kawon; dahat tiwas</li>
<li>Katiga = madia; akeh maduwe pianak</li>
<li>Kapat = becik; sugih rendah</li>
<li>Kalima = becik; tan kirang sangu</li>
<li>Kanem = kawon; balu</li>
<li>Kapitu = becik; pulih keselamatan</li>
<li>Kawulu = kawon; kapegatan sangu</li>
<li>Kasanga = kawon pisan; tan pegat manggih duka mahabara</li>
<li>Kadasa = becik pisan; sugih rendah suka wirya</li>
<li>Desta = kawon; manggih wirang</li>
<li>Sadha = kawon; kasakitan (I Wayan Tusan, 1974: 35).</li>
</ol>
<p>Maksudnya: Perkawinan yang dilakukan pada sasih:</p>
<ol>
<li>Kasa = buruk; anak ditimpa kemelaratan</li>
<li>Karo = buruk; amat miskin</li>
<li>Katiga = sedang; banyak mempunyai anak</li>
<li>Kapat = baik; kaya dan tersohor</li>
<li>Kalima = baik; tidak kurang makanan</li>
<li>Kanem = buruk; janda duda</li>
<li>Kapitu = baik; mendapat keselamatan</li>
<li>Kawulu = buruk; kekurangan makanan</li>
<li>Kasanga = amat buruk; tidak putus-putusnya menemui kesedihan yang amat keras/panas</li>
<li>Kadasa = amat baik; kaya tersohor</li>
<li>Desta = buruk; sering cekcok</li>
<li>Sadha = buruk; sering sakit-sakitan</li>
</ol>
<p>Demikian beberapa contoh dalam upacaraperkawinan, sudah tentu dalam upacara yang lain akan mempunyai perhitungan tersendiri seperti misalnya pada sasih kanem tidak baik untuk perkawinan tetapi baik untuk upacara nangluk merana, sasih karo baik untuk pitra yajña, sasih caitra baik untuk bhuta yajña. Sasih kapat dan kadasa baik untuk upacara dewa yajña, sehingga saat purnamaning kapat dan kadasa kita melihat umat Hindu melaksanakan upacara odalan pada pura-pura besar seperti : khayangan jagat, sad khayangan, dang khayangan, khayangan tiga dan sebagainya. Masih banyak lagi padewasan memperhitungkan ala ayuning sasih.</p>
<p><strong>Sumber Bacaan:</strong></p>
<p>Tusan. I Wayan; Penuntun Indik Padewasan, 1974.</p>
<p><strong>Om Santih Santih Santih Om</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=516&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/ala-ayuning-sasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sasih Anglawean</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/sasih-anglawean/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/sasih-anglawean/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jyotisa/Wariga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag Om Swastyastu Sasih anglawean adalah sasih atau bulan yang amat buruk (ala dahat). Oleh karena itu dikatakan materas bhuta (berkepala bhuta). Tidak boleh membangun rumah, memulai memasuki pekarangan rumah, keburukannya tidak mempunyai keturunan, mungkin gila, kalau kawin mungkin menjadi janda atau duda dan mendapat kata-kata yang tidak baik. Apabila terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=512&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag<br />
</strong></p>
<p><strong>Om Swastyastu</strong></p>
<p>Sasih anglawean adalah sasih atau bulan yang amat buruk (ala dahat). Oleh karena itu dikatakan materas bhuta (berkepala bhuta). Tidak boleh membangun rumah, memulai memasuki pekarangan rumah, keburukannya tidak mempunyai keturunan, mungkin gila, kalau kawin mungkin menjadi janda atau duda dan mendapat kata-kata yang tidak baik. Apabila terjadi perkawinan kemungkinan anaknya atau keturunannya menjadi kerdil dan menjadi janda atau duda salah satu dan semua pekerjaan tidak akan berhasil. Yang dinamakan sasih (bulan) anglawean, berdasarkan pencarian pada waktu pananggal pisan (1) tilem itu hilang. Dan apabila mencari purnama menjadi panglong pisan (bulan) materas (berkepala) bhuta catus pata, sama sekali tidak boleh dipakai dewasa. Hal inilah disebutkan dalam buku wariga Dewasa sebagai berikut:</p>
<p><em>Sasih anglawean “ala dahat” apan materas bhuta. Tan wenang amangun graha, ngulihin pakarangan. Alania tan pasantana, doyan buduh, balu muang kaogan-ogan. Yan mate muang alakirabi, bedi anaknia, malih rangda salah tunggal, salwiring karya tan sida. Sane kawastaning sasih anglawean, matapakan pangalihan, kalaning ngalih tanggal 1, tilem hilang. Muang kalaning ngalih purnama dadi panglong 1, purnama hilang (</em>Sri Reshi Anada Kusuma, 1979: 10-11).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi sasih anglawean itu apabila terjadi pangalihan atau pergeseran pada waktu mencari tanggal apisan (1), tilem hilang maksudnya panglong 15 (tilem) menjadi pananggal pisan (1). Dan pada waktu mencari purnama menjadi panglong pisan (1), maksudnya tanggal 15 (purnama) menjadi panglong 1. jelasnya Tilem dan Purnama hilang menjadi pananggal 1 dan panglong 1. apabila kita lihat sloka nguna latri seperti diuraikan dalam modul 4 di depan, dapat dibandingkan dengan sloka yang berbunyi: “Prati padentu” artinya pananggal/panglong 15 menjadi satu (1) 1 (15/1). Oleh karena itu untuk menghindari padewasan ala (buruk) yang disebut sasih anglawean terlebih dahulu perlu lebih di dalami pemahaman tanggal – panglong dan sasih itu.</p>
<p><strong>Sumber Bacaan:</strong></p>
<p>Anandakusuma, Sri Reshi, Wariga Dewasa. Satya Hindu Dharma Klungkung, Bali, 1979.</p>
<p>O<strong>m Santih Santih Santih Om</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=512&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/sasih-anglawean/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pangunyan Sasih</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/pangunyan-sasih/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/pangunyan-sasih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jyotisa/Wariga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag Om Swastyastu Pangunyan sasih terdiri dari dua kata yaitu Pangunyan dan sasih. Pangunyan berasal dari kata “unya” mendapat sengau “ng” kemudian mendapt awalan “an” (pa + ng + unya + an). Uya (ngunya) artinya berkunjung. Sasih berarti bulan. Pangunyan sasih artinya kunjungan bulan. Yang dimaksud adalah kunjungan suatu bulan (sasih) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=509&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag</p>
<p><strong>Om Swastyastu</strong></p>
<p>Pangunyan sasih terdiri dari dua kata yaitu Pangunyan dan sasih. Pangunyan berasal dari kata “unya” mendapat sengau “ng” kemudian mendapt awalan “an” (pa + ng + unya + an). Uya (ngunya) artinya berkunjung. Sasih berarti bulan. Pangunyan sasih artinya kunjungan bulan. Yang dimaksud adalah kunjungan suatu bulan (sasih) tertentu kepada bulan yang lainnya sehingga terjadi perubahan sifat bulan yang mengakibatkan perubahan musim. Misalnya sasih kanem ngunya kapitu (Kanem-kapitu) artinya bulan kanem mengambil sifat bulan katujuh (Kamus Bali Indonesia, 1978: 631).</p>
<p>Contoh lain sasih katiga ngunya sasih kanem artinya sasih katiga mengambil sifat sasih kanem sehingga nampak di dalam ciri dari masing-masing sasih itu, seperti sasih katiga cirinya panas dan sasih kanem cirinya turun banyak hujan. ada sasih yang demikian itu akan tampak sesaat panas yang keras dan kadang-kadang terjadi hujan yang amat deras. Pangunyan sasih berguna untuk  mengetahui perubahan-perubahan cuaca  terutama dalam pangunyan sasih yang kontras.</p>
<p>Adapun dasar perhitungan untuk  mengetahui pangunyan sasih adalah rah pangunyan. Untuk mendapat rah pangunyan caranya tahun Saka dibagi 12 (dua belas), sisa pembagian itulah disebut rah pangunyan.Untuk mendapatkan tahun Saka adalah tahun Masehi dikurangi 78, karena perbedaan kedua tahun ini adalah 78 tahun. Jadi misalnya pada tahun 1992, maka tahun Sakanya adalah 1992- 78 = 1914.</p>
<p><a href="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/12/pangunyan-sasih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-510" title="pangunyan sasih" src="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/12/pangunyan-sasih.jpg?w=510&#038;h=263" alt="" width="510" height="263" /></a></p>
<p><strong>Keterangan:</strong><strong></strong></p>
<ol>
<li>Kolom 1-12 adalah sisa dari tahun caka dibagi 12. Apabila caka itu habis dibagi 12 atau tidak bersisa, maka ini berarti bersisa 12, bukan 0 karena pada kolom itu tidak ada kolom 0.</li>
<li>Sasih kasa, bila tahun caka dibagi 12, sisanya satu (1) berarti sasih kasa ngunya kapat (karena di bawah kolom satu (1) terdapat angka 4. Apabila sisanya 6 ini berarti sasih kasa ngunya ke sanga (9) karena di bawah kolom 6 terdapat angka 9 yang berarti sasih kasanga demikian seterusnya.</li>
<li>Sasih kasanga, bila tahun caka dibagi 12 sisanya (1) satu berarti sasih kasanga ngunya kapat, dan apabila sisanya sebelas (11) maka ini berarti sasih kasanga ke sada (12).</li>
<li>Pangunyan sasih akan memugelang atau kembali kepada yang pertama selama 12 tahun sekali.</li>
</ol>
<p><strong>Sumber bacaan:</strong></p>
<ol>
<li>Panitia Panyusunan Kamus Bali – Indonesia, Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1978.</li>
<li>Guweng, I Ketut, Sarining Wariga, 1975.</li>
<li>Rawi, I Ketut Bangbang Gde, Kunci Wariga, 1967</li>
</ol>
<p><strong>Om Santih Santih Santih Om</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=509&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/12/15/pangunyan-sasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/12/pangunyan-sasih.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pangunyan sasih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian dan Tujuan Upacara Suddhi Vadani</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/pengertian-dan-tujuan-upacara-suddhi-vadani/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/pengertian-dan-tujuan-upacara-suddhi-vadani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 03:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[susila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Sudarma &#8211; Kota Bekasi  Om Swastyastu Pengertian Suddhi Vadan Untuk memberikan gambaran  umum yang lebih jelas tentang upacara Suddhi Vadani, maka terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dari Suddhi Vadani tersebut. Secara etimologi Suddhi Vadani berasal dari kata Suddhi dan Vadana, Suddhi berasal dari bahasa Sanskerta (f) yang artinya penyucian, persembahan, upacara pembersihan/penyucian. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=506&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="right"><strong>Oleh: I Wayan Sudarma &#8211; Kota Bekasi</strong></p>
<p><strong> Om Swastyastu</strong></p>
<p><strong>Pengertian Suddhi Vadan</strong></p>
<p><strong></strong>Untuk memberikan gambaran  umum yang lebih jelas tentang upacara <em>Suddhi Vadani</em>, maka terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dari Suddhi Vadani tersebut. Secara etimologi <em>Suddhi Vadani</em> berasal dari kata <em>Suddhi</em> dan <em>Vadana,</em> <em>Suddhi </em>berasal dari bahasa Sanskerta (f) yang artinya penyucian, persembahan, upacara pembersihan/penyucian. Kata yang sepadan dengan <em>Suddhi</em> aalah <em>Suddha </em>(mfn), yang berarti bersih, suci, cerah, putih, tanpa cacat atau cela. Baik kata <em>suddhi </em>maupun kata <em>suddha</em> berasal dari akar kata kerja <em>“suddh”,</em> yang berarti membersihkan, menyucikan, menjad bersih, suci. Sedangkan kata <em>Vadani </em>secara gramatikal berasal dari kata benda <em>“vada”</em> (mfn) yang berarti perkataan, pembicaraan, yang dalam kata majemuk, kata <em>vada</em> itu hanya terpakai sebagai kata terakhir, misalnya <em>Priyamvada,</em> yang berarti berbicara dengan baik atau dengan pantas. Vadani berarti banyak perkataan, banyak pembicaraan, adapun bentuk-bentuknya seperti:</p>
<ol>
<li>Vadana (n)atau vadhana (f) yang dapat berarti muka, mulut, prilaku/cara berbcara.</li>
<li>Vadanya (mn) atau vadanya (f) yang berate fasih berbicara, ramah, banyak bicara.<a href="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/suddhi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-507" title="suddhi" src="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/suddhi.jpg?w=510" alt=""   /></a></li>
</ol>
<p>Dengan demikian kata suddhi dan vadani  dapat diartikan dengan kata-kata penyucian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa upacara suddhi vadhani adalah upacara dalam agama Hindu sebagai pengukuhan atau pengesahan ucapan atau janji seseorang yang secara tulus ikhlas  dan hati suci menyatakan masuk dan memeluk agama Hindu ( Tim, 1998: 3-4 ). Adapun beberapa istilah yang berkenaan dengan upacara suddhi vadani, yang perlu juga kita ketahui diantaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Suddhi Vadani, adalah pernyataan suci melalui kata- kata atau janji oleh seseorang untuk nmenganut atau memeluk agama Hindu yang dilandasi hati yang tulus ikhlas.</li>
<li>Yajna, adalah kegiatan keagamaan yang dilaksanakan berdasarkan keikhlasan dan ketulusan hati terhadap Tuhan (Sang Hyang Widhi) beserta kemahakuasaan-Nya, para Maharsi, leluhur,sesama manusia, terhadap makhluk lain maupun terhadap alam lingkungannya.</li>
<li>Inisiasi, adalah penyucian dan pentasbihan.</li>
<li>Samakara, adalah upacara penyucian yang bertujuan untuk menyucikan badan dan pikiran sehingga dapat memuja Tuhan secara layak dan khusuk.</li>
<li>Satyam, Sivam, Sudharam,adalah hakekat sifat keagungan Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud kebenaran, kebahagiaan dan keindahan.</li>
<li>Sraddha, adalah keyakinan/ kepercayaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) beserta segala ka Maha Kuasaan-Nya,</li>
<li>Bhakti. Adalah pancaran cinta kasih yang tulus dan luhur dalam bentuk penyerahan diri kepada Sang Hyang widhi Wasa.</li>
<li>Dasa karma patha, adalah sepuluh jenis tindakan yang harus dikendalikan melalui : tiga macam dari pikiran, empat macam dari perkataan dan tiga macam dari tindakan badan.</li>
<li>Dharma Siddhiyartha, adalah landasan sistem berfikir dalam penuangan konsep untuk menentukan alternatif kegiatan guna mencapai tujuan beragama.<span id="more-506"></span></li>
</ol>
<p>Penganut agama Hindu dengan berdasarkan kitab suci veda tidak dibatasi oleh sekat etnis,golongan,bahasa,daerah,bangsa,ataupun sekat- sekat yang lain. Agama Hindu bersifat terbuka karena veda tidak diperuntukkan bagi sesuatu golongan saja. Kitab suci sukla Yayurveda XXVI.2 menyebutkan :</p>
<p><em>“Yathenam vacam kalyanim, avadani janebhayah, brahma rajanabhyam, sudarya caryaya ca avaya caranaya ca”.                                                                                             </em></p>
<p>“Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendikiawan, rohaniawan,raja/ pemerintah/ masyarakat. Para pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang- orangku, dan orang orang lain sekalipun”.</p>
<p>Ajaran ini diperkuat lagi oleh hukum Hindu bahwa Veda adalah penutun umat manusia di dalam menciptakan kesejahteraan dunuawi dan kebahagiaan rohani dengan otoritas tunggalnya yakni Dharma. Dharma sebagai sumber hukum Hindu adalah kebenaran mutlak, sebab Tuhan setelah menciptakan alam semesta beserta isinya, kemudian menciptakan hukum yang mengatur hubungan partikel yang diciptakan. Ketentuan hukum dinyatakan sekali saja dan berlaku untuk selamanya. Adapun bentuk-bentuk perujudan yang menjadi landasan dharma dinyatakan dalam kitab Manavadharmasastra  II.6 dan 10 sebagai berikut :</p>
<p><em>Vedo’khilo dharma mulam, Smrti sile ca tad vidam, Acarasca iva sadhunam, Atmanastustir eva ca (M.DS. II.6)</em></p>
<p><em>Srutistu vedo vijneyo, Dharmasastram tu vai smrtih, Ta s</em>arvarthesvamimamsye, Tabhyam dharmo hi nirbabhau (M.DS.II.10)</p>
<p>“Veda adalah sumber dari segala dharma, kemudian barulah smrti, di samping Sila, Acara dan Atmanastusti” (Pudja, 1996: 62).</p>
<p>“Sesungguhnya Sruti adalah veda, Smrti adalah Dharmasastra, keduanya tidak boleh diragukan kebenarannya di dalam keadaan apapun, sebab keduanya sumber kebenaran agama dan hukum” (Pudja, 1996: 63).</p>
<p><strong>Tujuan  Upacara Suddhi Vadani</strong></p>
<p><strong></strong>Tujuan diadakannya upacara <em>suddhi vadani</em> adalah untuk memberikan kepastian hukum baik hukum agama maupun hukum pemerintahan agar seseorang yang sudah melaksanakan upacara <em>suddhi vadani</em> dapat melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya itu, termasuk mendapatkan hak- hak pelayanan sesuai dengan agama Hindu. Disamping itu untuk menghilangkan anggapan  bahwa umat Hindu telah melaksanakan pemurtadan terhadap orang yang telah beragama.</p>
<p>Dalam kehidupan beragama, UUD’45 pasal 29 ayat (2) menentukan : “Negara menjamin kemerdekaan tiap- tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing- masing dan beribadat menurut kepercayaan itu.” Dengan demikian setiap warga negara  Indonesia dijamin kebebasannya untuk memeluk agama yang dianut dan diyakini. Bahkan untuk melakukan ibadah agamanya juga dijamin dan dilindungi oleh negara sehingga setiap umat beragama dapat menjalankan ibadah agama dengan baik,lancar dan aman.</p>
<p>Kebebasan untuk memeluk kepercayaan agamanya dalam perkembangan pergaulan hidup saat ini telah mampu menembus dinding-dinding batas antar golongan, suku maupun ras. Oleh karena itu setiap orang dapat memeluk agama Hindu menurut keyakinannya. Dalam kondisi pergaulan seperti itu tidak jarang terjadi pengalihan agama yang satu dengan yang lain,baik secara sukarela maupun melalui proses perkawinan antara seorang wanita dengan seorang pria dengan latar belakang yang berbeda.</p>
<p>Upaya untuk mengatasi hal tersebut Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang merupakan Majelis tertinggi Agama Hindu, telah menetapkan bahwa agar perkawinan   dari pasangan yang berbeda agama dapat diakui keabsahannnya oleh Hukum Agama Hindu maupu oleh Negara dalam hal ini Undang Undang perkawinan Nomor : 1 tahun 1974 maka perlu diadakan upacara Suddhi vadani</p>
<p>Guna keseragaman pelaksanaannya diperlukan adanya bukun pedoman untuk melaksanakan upacara Suddhi Vadani.</p>
<p><strong> Kedudukan Upacara Suddhi Vadani</strong></p>
<p>Upacara Suddhi vadani memiliki kebenaran dan hukum yang sah, baik dalam hukum agama maupun dalam hukum negara.</p>
<p>a.  Kedudukan dalam Hukum Agama Hindu:</p>
<ol>
<li>Dharma sebagai hukum, membawa konsukwensi logis yang jika dilanggar akan mendapat sanksi. Dharma sebagai sumber hukum memuat lima dasar ajaran yang harus dipercayai sebagai kebenaran, yakni: Sruti (Veda), Smrti (Dharmasastra), Sila (tingkah laku luhur), Sadacara (adat istiadat dan teladan orang orang suci) dan Atmanastusti (kebahagiaan batin/ suara hati). Suddhi Vadani bersumber pada kelima dasar ajaran tersebut terutama Atmanastusti. Hal ini sangat jelas, karena untuk memeluk agama Hindu tidak dipaksa, melainkan atas kesadaran sendiri (Atmanastustusti ) untuk memperoleh kebahagiaan.</li>
<li>Upacara Suddhi vadani adalah samskara yakni upacara penyucian diri dan berkaitan erat dengan upacara Manusa Yajna.</li>
</ol>
<p>b.  Kedudukan dalam Hukum Negara.</p>
<p>1.  UUD 45 Bab XI Pasal 29 menyatakan:</p>
<p>ayat (1) Negara berdasarkan atas ke Tuhanan Yang Maha Esa. Ayat (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap- tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.</p>
<p>2. Untuk menjaga kemurnian agama, masing-masing diwajibkan bagi pemeluknya untuk tidak mencampuradukkan ajaran agama yang satu dengan yang lainnya. Khusus dalam aspek sosio- religius berkaitan dengan interaksi sosial sebuah perkawinan diatur dalam UU No: 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Bahwa ditekankan masalah perkawinaan tidak dibenarkan antar agama dan oleh karena itu syahnya suatu perkawinan adalah syah menurut hukum agama dan kepercayaan yang dianutnya. Upacara Suddhi Vadani menjadi awal yang sangat penting memenuhi syarat- syarat diatas sehingga tidak terjadi perkawinan silang antar pemeluk agama yang berbeda.</p>
<p><strong>Sumber Ajaran Suddhi Vadani</strong></p>
<p>1.  Keyakinaan / sraddha. Kata sraddha dalam  Veda mengandung makna  yang amat luas yakni ‘’keyakinan atau keimanan “. Ada lima dasar keyakinan agama Hindu yang disebut panca Sraddha. Ke lima keyakinan itu adalah Brahman, Atman, Karmaphala, Punarbhava/ samsara dan Moksa. Dalam pengamalannya, terdapat enam wujud/ bentuk sraddha yang dinyatakan sebagai penyangga dunia ini sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci Arthavaveda XII.1.1 sebagai berikut:</p>
<p><em>“Satyam brhad rtam ugram diksa tapo brahma yajnah prthivim dharayanti”</em>.</p>
<p>“ Kebenaran yang suci, hukum Nya yang abadi, pensudhian/ penyucian/ inisiasi, pantangan atau pengendalian diri, pemujaan atau doa, pengorbanan atau korban persembahan, itulah yang menyangga dunia ini”.</p>
<p>Dengan ajaran itulah mengalir keyakinan / sraddha dengan segala aspek ke Tuhanannya dan menumbuhkan semangat kerohanian yang mantap untuk mewujudkan jagadhita dan moksa.</p>
<p>2. Tiga kebajikan pokok.  Dalam kitab Brhadaranyaka upanisad V,2.1-3 dikatakan bahwa prajapati (Tuhan) memiliki murid sekaligus keturunan Nya yaitu Devata, Manusia dan Asura. Kepada para muridnya itu  Prajapati mengajarkan kebajikan- kebajikan utama sebagai berikut :</p>
<p><em>“Trayah prajapatyah parjapatau pitari brahmacaryam ucuh, deva  manusya asurah, usitva brahmacaryam deva ucuh; bravituno bhavan iti,tebhyonhaitad aksaram uvaca; da iti vyajnasista iti; hocuh, damyata iti na attheti,aum iti hovaca, vyajnasisteti”.</em></p>
<p>“Tiga keturunan  Prajapati, Devata, Manusia dan asura, hidup bersama ayah mereka Prajapati sebagai murid pengetahuan suci. Setalah menyelesaikan masa belajarnya para devata berkata: “Tuanku, mohonlah kami diajar terus”.Kepada mereka beliau menggumam kan satu aksara suci “Da” dan  bertanya apakah kalian mengerti? Kami sudah mengerti, paduka mengatakan “Damyata” kepada kami, “Kendalikan dirimu”. Dia menjawab: Ya kalian sudah mengerti. Para deva dikatakan bersifat susah diatur dan karena itu diminta  untuk mengendalikan diri”.</p>
<p><em>“Atha hainam manusya ucuh: bravitu no bhavan iti, tebhyo haitad evaksaram uvaca; da iti; vyajnasista iti;vyajnasisma iti hocuh, datta iti na attheti aum iti hovaca vyajnsisteti”</em></p>
<p>“Kemudian manusia berkata kepada Prajapati: “Tuanku, mohonlah kami           diajar terus”;kepada mereka juga beliau menggumamkan aksara suci yang sama, “Da” dan bertanya :”apa kalian sudah mengerti, Paduka mengatakan “Datta”: ”memberi”. Dia menjawab: Ya kalian sudah mengerti. Manusia biasanya tamak, rakus karena itu semestinya membagikan hartanya sebanyak mungkin (berdana punia)”</p>
<p>“<em>Atha hainam asura acuh: bravitu no bhavan iti; tebhyo haitad evaksaram uvaca; da iti; vyajnasisma iti hocuh, dayadhvam iti na attheti; aum iti hovaca vyajnasisteti. Tad etad avaisa daivivag anuvadati stanayitnuh da,da,da iti, damyata datta,dayadhvam iti.Tad etat trayam sikset damam,danam,dayam iti”</em></p>
<p>“Kemudian para asura berkata pada Nya : “Tuanku,mohonlah kami diajar terus” kepada mereka juga menggumankan aksara yang sama, “Da” dan berkata: apa kalian sudah mengerti?. Mereka menjawab: kami sudah mengerti; Paduka mengatakan “Dayadhavam”, ”harus welas Asih”. Dia menjawab, ya kalian  sudah mengerti. Asura itu kejam dan suka melukai orang lain, mereka harus mempunyai welas asih kepada orang lain. Hal yang sama, suara dari sorga (daivivag) bergema menirukan da, da, da, yaitu kendalikan dirimu, memberi .dan welas asih. Setiap orang mesti melatih ketiga hal yang sama ini, pengendalian diri, memberi dan welas asih</p>
<p><strong>Fungsi Upacara Suddhi Vadani</strong></p>
<p>Karena upacara<em> Suddhi Vadani</em> merupakan Yajna dan samskara maka fungsi-fungsi baik Yajna maupun <em>samskara</em> tidak dapat dipisahkan dari fungsi upacara suddhi vadani.</p>
<p><strong>Fungsi Yajna</strong></p>
<ol>
<li><strong></strong>Sebagai sarana menyebar luaskan ajaran Veda.</li>
<li>Sebagai ungkapan terima kasih (syukur) atas segala anugerah Tuhan Yang Maha Esa)</li>
<li>Sebagai sarana untuk menciptakan kesucian dan penebusan dosa yang dapat mengantarkan <em>Atma </em>mencapai <em>Moksa</em>.</li>
<li>Sebagai media edukatif yang praktis dalam mengamalkan ajaran agama</li>
</ol>
<p><strong>Fungsi Samskara.</strong></p>
<ol>
<li>Sebagai sarana menyucikan badan dan pikiran.</li>
<li>Penyucian <em>“dasa karma patha’’</em> yang lahir dari pikiran,perkataan dan tindakan fisik.</li>
<li>Untuk memperoleh status tertentu melalui pengesahan formal agama (inisiasi).</li>
<li>Untuk meningkatkan hidup kerohanian yang berakibat pada proses penyempurnaan kepribadian orang yang melakukan <em>samskara.</em></li>
</ol>
<p><strong>Makna Upacara Suddhi Vadani</strong></p>
<ol>
<li>Memohon persaksian serta waranugraha Sang Hyang Widhi Wasa  (Tuhan Yang Maha Esa ) bahwa sejak saat disuddhikan yang bersangkutan secara resmi memeluk agama Hindu dan berkewajiban mengamalkannya.</li>
<li>Dengan upacara <em>Suddhi Vadani</em> yang bersangkutan telah menyucikan diri (pribadinya)dan berarti wajib beryajna.</li>
<li>Melalui upacara <em>Suddhi Vadani</em> yang bersangkutan telah menjadi keluarga besar umat Hindu yang keyakinan/ sraddha-nya bersumber pada Veda dan sejak saat itu yang bersangkutan berhak memperoleh bimbingan dan tuntunan Veda guna neningkatkan jnana ( Kesadaran Pengetahuan ) dan vitalitas hidup menuju <em>Sathyam, Sivam, Sundharam.</em></li>
</ol>
<p>Demikian tatacara pelaksanaan Upacara Suddhi Vadani, semoga dapat dijadikan acuan tatkala umat hendak melaksanakannya.<strong></strong></p>
<p><strong>Om Santih Santih Santih Om</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=506&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/pengertian-dan-tujuan-upacara-suddhi-vadani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/suddhi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">suddhi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PAGERWESI, Sebuah Kajian Filosofis</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/pagerwesi-sebuah-kajian-filosofis/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/pagerwesi-sebuah-kajian-filosofis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 03:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[upakara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Sudarma (Kota Bekasi) Om Swastyastu Ya Tuhan Yang Mahaesa, Engkau adalah Brahma, Visnudan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang maha agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2. Pada hari Budha Kliwon Perwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang mahaatinggi atau maha agung. Hari yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=503&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Oleh: I Wayan Sudarma (Kota Bekasi)<br />
</strong></p>
<p><strong>Om Swastyastu</strong><br />
Ya Tuhan Yang Mahaesa, Engkau adalah Brahma, Visnudan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang maha agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2.<br />
Pada hari Budha Kliwon Perwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang mahaatinggi atau maha agung. Hari yang dirangkaikan pemujaannya dengan Sarasvatī, Śrī Lakṣmī, yang dirayakan berturut-turut selama lima hari, mulai hari sabtu Umanis Watugung.<a href="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/guru.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-504" title="guru" src="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/guru.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p>Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud. Umat Hindu di India merayakan upacara Śrāddha Vijaya Dasami atau Durgapūjā, di Indonesia kita merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Demikian pula Sarasvatī, Śivaratri dan lain-lain. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu. Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon antara lain: Pagerwesi (di India disebut Guru Purnima)ditempatkan pada hari Budha Kliwon Sinta ( hari ketiga dari wuku pertama ), Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari), hari-hari seperti Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon atau Tumpek wuku Landep), Sankarapūjā (Tumpek Wariga) dan Sarasvatī pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung.<span id="more-503"></span></p>
<p>Baik di India maupun di Indonesia dalam memperingati hari-hari raya keagamaan umat Hindu melakukan hal yang sama, yakni mempersembahkan sesajen dan melakukan sembahyang baik pada tempat persembahyangan keluarga (biasa berupa altar dengan beberapa arca pada kamar suci), pada mandir, yakni pura terdekat, atau pura-pura yang besar yang sangat terkenal. Bila mereka melakukan persembahyangan pada pura-pura yang letaknya jauh dari rumah, biasanya umat Hindu sekaligus melakukan Tirthayatra yang pada umumnya bermalam di pura dengan melakukan berbagai aktivitas keagamaan seperti Japa, meditasi dan Bhajan atau menyanyikan lagu-lagu keagamaan (kidung).</p>
<p>Di Indonesia, Pagerwesi yang mempunyai makna sama dengan Guru Purnima dirangkaikan perayaannya dengan Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (pemujaan kepada Sarasvatī), jatuh pada hari terakhir wuku terakhir, yakni Saniscara Umanis wuku Watugunung dan hari pertama dari wuku pertama, yakni Redite Pahing wuku Sinta, dengan Some Ribek dan Sabuhmas, yang jatuh pada hari Soma Pon dan Anggara Wage wuku Sinta.Hari Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (Air Ilmu Pengetahuan) adalah hari untuk memuja dewi Sarasvatī sebagai dewi ilmu pengetahuan, maka pada hari Somaribek dan Sabuhmas adalah hari untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī dan Pagerwesi adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Śiva Parameṣṭi Guru, yakni guru tertinggi di jagat raya ini. Makna pemujaan kepada Śiva Parameṣṭi Guru ini adalah sama dengan makna hari raya Guru Purnima yang jatuh pada bulan Purnama Sravana (di Indonesia disebut Purnama Kasa) yang jatuh pada bulan Juli-Agustus. Pada hari Guru Purnima di samping memuja Tuhan Yang Mahaesa, juga memuja para ṛṣi dan ṛṣi yang paling agung mendapat penghormatan adalah mahaṛṣi Vyasa yang menghimpun dan mengkodifikasikan kitab suci Veda bersama para siswanya, seperti : Sumantu, Pulaha, Jaimini dan Vaisampayana.</p>
<p>Bila di Indonesia bentuk perayaan berupa persembahyangan terhadap Sang Hyang Parameṣṭi Guru atau guru tertinggi, yang dimaksud tidak lain adalah Sang Hyang Śiva atau Sang Hyang Guru (Mahaguru). Dalam seni arca digambarkan sebagai laki-laki berjanggut dan berkumis lebat (berewok), perutnya gendut, memegang kendi Amrta serta membawa tongkat dengan ujung bercabang tiga (Trisula). Mahaṛṣi Agastya, seorang tokoh penyebar Hindu dari India Utara ke Selatan, bahkan juga sampai Asia Tenggara dan Indonesia, digambarkan juga sebagai Sang Hyang Guru (Mahaguru) oleh karena itu Agastya diidentikan dengan Isadevatanya ini.</p>
<p>Di samping dalam seni arca, mahaṛṣi Agastya disebut-sebut juga sebagai saksi agung perbuatan umat manusia dan dinyatakan dalam sumpah di Pengadilan yang terkenal dengan sumpah Sang Hyang Hari Chandani. Di Bali dan juga di daerah Sulawesi Selatan disebut Bhattara Guru, yakni guru agung umat manusia.</p>
<p>Untuk memahami lebih lanjut tentang makna pemujaan pada hari Guru Purnima di India dan membandingkannya dengan pemujaan hari Pagerwesi di Indonesia, kiranya perlu diinformasikan tentang tata cara pemujaan hari Guru Purnima yang berlangsung di Śivananda Ashram, Rishikesh, Uttar Pradesh, sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Semua siswa dan Sanyasin di ashram telah bangun pagi-pagi benar(saat Brahmuhurta,sekitar jam 04.00).Mereka bermeditasi kepada Guru (Parameṣṭi Guru) dan mengucapkan mantra-mantra Gurupūjā.</li>
<li>Selanjutnya mempersembahkan sesaji di kaki Guru dan diiringi mantra Gurugita.</li>
<li>Selanjutnya pada siang harinya, para Sadhu dan Sanyasin menerima persembahan sajianberupa hidangan (prasadam di Bali disebut lungsuran).</li>
<li>Kemudiandiselenggarakan Satsang atau Dharmatula membahas makna spiritual Gurupūjā khususnya dan topik-topik menarik lainnya.</li>
<li>Para siswa yang telah siap untuk diinisiasi (di-Diksa) menjadi Sanyasin dilakasanakanpada hari ini juga.</li>
<li>Para siswa umumnya melaksanakan Brata dan Upavasa sepanjang hari untuk kemajuan spiritual.Bagi yang mampu sangat baik melakukan Monabrata (tidak berbicara) dan tidak menikmati makanan danminuman,namun bagi siswa tertentu hanya minum susu segar saja atau hanya buah-buahan sepanjang hari.</li>
</ol>
<p>Pada malam hari kembali berkumpul di Aula dan melakukan Bhajan (kidung)bersama memuja keagungan-Nya.Bentuk pemujaan yang paling baik adalah dengan mengikuti semua ajarannya, mampu memancarkan dan mewujudkan ajarannya dan senantiasa memajukan dan menjunjung pesan-pesan-Nya.</p>
<p>Demikian antara lain bentuk pemujaan kepada Guru di India, di Indonesia kita mengenal ajaran Tri Guru dan Catur Guru. Yang dimaksud dengan Tri Guru adalah :</p>
<ol>
<li>Guru Rupaka atau Rekha,yakni orang tua,ibu-bapa yang melahirkandanmemelihara kita.</li>
<li>Guru Vidya atau Pangajian,yakni para guru yangmemberikan pendidikandan pengajaran.</li>
<li>Guru Visesa yakni pemerintah yang bertanggung jawa mensejahtrakan masyarakat.</li>
</ol>
<p>Sedang yang dimasud dengan Catur Guru adalah Tri Guru tersebut digabungkan dengan Guru yang tertinggi, yakni Parameṣṭi Guru. Guru yang keempat ini disebut Guru Svadhyaya. Di dalam masyarakat Guru Svadhyaya juga diartikan belajar sendiri dan menjadikan Tuhan Yang Mahaesa Esa sebagai pembimbing untuk kemajuan kehidupan spiritual.</p>
<p>Bila di India terutama dalam tradisi Ashram, dilakukan upacara pemujaan kepada Guru sedemikian rupa dipimpin oleh Sanyasi, Swamiji, Sadhu atau Pandit, di Indonesia (Bali) rupanya karena tradisi ashram telah putus digantikan oleh sistem Pasiwan di geria- geria para pandita secara tradisional, maka hari raya Pagerwesi hanya dirayakan dengan persembahan sesajen terutama di pura keluarga seperti pamarajan, panti, paibon dan sejenisnya, sedang makna pemujaan ini tidaklah demikian memasyarakat.</p>
<p>Memperhatikan bentuk-bentuk pemujaan, baik di India maupun di Indonesia (Bali), kiranya makna yang terkandung dalam merayakan hari Pagerwesi adalah untuk mengingatkan kita terhadap keagungan Tuhan Yang Mahaesa serta peranan para mahaṛṣi atau guru-guru agung terutama di bidang spiritual. Pagerwesi juga mengingatkan kita bahwa bahwa proses belajar mengajar berlangsung terus menerus hingga ajal memanggil. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan pemujaan sebelumnya, yaitu Sarasvatī dan Śrī Lakṣmī. Di sini aspek kemahakuasaan-Nya didambakan oleh umat manusia untuk pengetahuan, kesejahtraan dan kebahagiaan. Sarasvatī memberikan inspirasi dan membimbing manusia untuk belajar dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, Śrī Lakṣmī menganugrahkan kesejahtraan dan kemamuran dan Sang Hyang Parameṣṭi Guru menganugrahkan kebahagiaan yang sejati.</p>
<p>Makna Pagerwesi bila dikaitkan dengan perkembangan dunia modern, terlebih lagi dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dalam era globalisasi kualitas perorangan dan masyarakat sangat diperlukan. Persaingan untuk hidup dan mencari kehidupan akan semakin sulit dan untuk itu peranan pendidikan teristimewa pendidikan mental, moral dan spiritual sangatlah mutlak. Perkembangan dunia menunjukan bahwa manusia yang tidak memiliki kualitas, kemampuan dan kreativitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan sangat sulit bersaing dan selalu ketinggalan dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakatnya.</p>
<p>Pengembangan sumber daya manusia tidak hanya beṛṣifat jasmaniah tetapi juga rohaniah. Untuk itu dalam mengembangkan pendidikan modern dewasa ini, kita tidak dapat melepaskan diri dengan konsepsi pendidikan Ashram yang sangat memperhatikan kualitas pribadi setiap siswa dan kecendrungan manusia untuk bekerja dan bermain ataupun bernyanyi, oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pendidikan yang memadukan kecendrungan itu. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membiasakan diri (Abhyasa), dapat mensyukuri nikmat yang merupakan anugrah-Nya (Santosa) dan mampu melepaskan diri dari keterikatan yang beṛṣifat duniawi (Vairagya/Tyaga) serta hidup berkeseimbangan lahir dan batin (Sthitaprajna).</p>
<p>Demikian antara lain makna yang terkandung dari pemujaan yang dilangsungkan pada hari Pagerwesi, semoga melalui pemujaan kehadapan Sang Hyang Parameṣṭi Gurtu, kita senantiasa dibimbing di jalan yang benar.</p>
<p><em>Oṁ Asato mā sad gamaya Tāmaso mā jyotir gamaya mṛtyor mā amṛtam gamaya</em> &#8211; Ya Tuhan Yang Mahaesa, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar,dari kegelapan pikiran menuju pikiran yang terang. Jauhkanlah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.</p>
<p><strong>Om Santih Santih Santih Om</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/503/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=503&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/pagerwesi-sebuah-kajian-filosofis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/guru.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">guru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“NGABEN ” Sebuah Kajian Teologis</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/ngaben-sebuah-kajian-teologis/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/ngaben-sebuah-kajian-teologis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 03:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[upakara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Wayan Sudarma (Bekasi, 26 Desember 2006)  Om Swastyastu Seperti diketahui, kata ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yajna khususnya pembakaran mayat. Tetapi ada juga ngaben tidak disertai dengan membakar mayat oleh karena suatu tradisi di daerah tertentu. Kata ngaben berasal dari kata beya yang artinya biaya atau bekal. Dalam bahasa yang lebih halus, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=500&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="right"><strong>Oleh: I Wayan Sudarma (Bekasi, 26 Desember 2006)<br />
</strong></p>
<p> <strong>Om Swastyastu</strong></p>
<p>Seperti diketahui, kata ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yajna khususnya pembakaran mayat. Tetapi ada juga ngaben tidak disertai dengan membakar mayat oleh karena suatu tradisi di daerah tertentu.</p>
<p><a href="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/ngaben.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-501" title="ngaben" src="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/ngaben.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p>Kata ngaben berasal dari kata beya yang artinya biaya atau bekal. Dalam bahasa yang lebih halus, Ngaben disebut Palebon yang beralsal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu, ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan dengan cara mengubur ke dalam tanah. Upacara Ngaben umumnya dilakukan dengan membakar jenazah sehingga menjadi abu. Tujuannya adalah untuk segera mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta yang ada pada diri manusia kepada asalnya.<span id="more-500"></span></p>
<p>Upacara Ngaben adalah bagian dari Pitra Yadnya. Kalau didalam melaksanakan Ngaben itu ada jasad yang akan diaben (ngewatang), maka upacara Ngaben itu dinamakan Sawa Wedana. Tetapi di daerah tertentu di Bali ada juga jenazahnya dikubur terlebih dahulu untuk beberapa lama, baru kemudian setelah dianggap cukup (dalam arti menyangkut biaya) baru kemudian kuburannya digali kembali untuk mengambil sisa-sisa tulang yang masih ada, atau kalau ternyata kuburannya tidak diketemukan (karena sudah membaur dengan yang lain) maka hanya diambil tanahnya saja secara simbolis. Ngaben seperti ini disebut Asti Wedana, ada juga Ngaben Nywasta yaitu apabila jasad yang akan diaben itu tidak ada misalnya karena hanyut, terbakar, dimakan binatang buas dan sebagainnya. Dari Ngaben ketiga di atas, dibedakan pada pengawaknya, yang dimaksud adalah kalau yang diaben ada jasadnya, maka jasad orang yang baru meninggal itu sebagai pengawak. Sedangkan pada Ngaben Asti Wedana, sebagai pengawaknya adalah tulng-tulang yang diambil dari kuburannya tadi atau tanah yang diambil sebagai simbul. Pada Ngaben Swasta, dimana jasadnya tidak diketemukan, maka yang dipakai sebagai pengawak adalah tirta atau daun alang-alang.</p>
<p>Yang dinamakan Ngaben Swasta bukan karena tidak ada jenazah saja tetapi ngaben yang sederhanapun juga disebut Ngaben Swasta. Manusia terdiri dari dua unsure yaitu unsure jasmani dan unsure rohani, serta terdiri dari tida lapis yaitu ragha sarira, suksma sarira dan antahkarana sarira. Ragha sarira adalah badan kasar yaitu badan yang dilahirkan karena nafsu antara ayah dan ibu. Suksma sarira adalah badan astral atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran,perasaan, keinginandan nafsu (citta, manah, indriya dan ahamkara).</p>
<p>Antahkarana sarira yaitu Sanghyang Atma (yang menyebabkan hidup). Ragha sarira atau badah kasar manusia terdiri dari lima unsur yang umum dikenal dengan Panca Maha Bhuta yang terdiri dari:</p>
<ol start="1">
<li>Pertiwi adalah unsur padat yang ada dalam tubuh manusia.</li>
<li>Apah yaitu zat cair yang bagian-bagian badan yang cair seperti darah, keringat, kelenjar.</li>
<li>Teja adalah unsur panas seperti suhu badan.</li>
<li>Bayu adalah angin yaitu nafas.</li>
<li>Akasa yaitu unsur badan yang paling halus yang menjadikan kuku dan rambut.</li>
</ol>
<p>Proses terjadinya ragha sarira  adalah sari-sari makanan yang terdiri dari enam rasa yang biasa dikenal dengan sad rasa yaitu manis, asin, pahit, sepet, asam dan pedas.</p>
<p>Sad rasa ini dimakan dan diminum oleh manusia laki-laki dan perempun dan diproses dalam tubuh sehingga disamping menjadi tenaga juga menjadi kama bang (sperma wanita) dan kama putih (sperma laki-laki). Dalam suatu hubungan badan kedua kama ini bercampur melalui proses alami menjadilah janin (badan bayi), dan sisanya menjadi air ketuban, ari-ari dan sebagainya.</p>
<p>Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin, juga Panca Tan Matra yaitu benih halus dari Panca Maha Bhuta. Panca Tan Matra ini meliputi: sari suara, raba, warna, rasa dan bau. Panca Tan Matra ini dalam tubuh bayi juga memproses dirinya menjadi suksma sarira yang terdiri dari: Citta adalah ahlak manusia yang dibentuk oleh tri guna (sattwam, rajas dan tamas), Manah yaitu alam pikiran dan perasaan, indria adalah keinginan dan Ahamkara adalah ego atau keakuan. Ketika manusia meninggal, otomatis Atman akan meninggalkan badan kasar disertai dengan suksma sarira tadi. Oleh karena antara Atman dan suksma sarira ini sudah menyatu maka akan sulit meninggalkan badan kasarnya, dengan demikian akan menimbulkan penderitaan bagi sang Atman.</p>
<p>Untuk mempercepat proses kembalinya atman maka badan kasarnya perlu dibuatkan suatu upacara yang disebut Ngaben dengan tujuan untuk segera mengembalikan kelima unsure yang ada pada badan kasar itu ke alamnya (sumbernya).</p>
<p>Jika setelah meninggal jasadnya tidak diaben dalam kurun waktu yang cukup lama, maka badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit atau Bhuta Cuil seperti disebutkan dalam Lontar Tattwa Loka Kretti lampiran 5a bunyinya sebagai berikut:</p>
<p><em>“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi</em></p>
<p><em>salawasnya tan kinenan widhi widhana, byakta</em></p>
<p><em>matemahan rogha ning bhuana, haro-haro gering</em></p>
<p><em>mrana ring rat, atemahan gadgad”.</em></p>
<p>Artinya:</p>
<p>Kalau orang mati ditanam pada tanah</p>
<p>Selamanya tidak diupacarakan diaben</p>
<p>Sesungguhnya akan menjadi penyakit bumi</p>
<p>Kacau sakit mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya).</p>
<p>Demikian juga dalam lontar yang sama lembaran 11 b disebutkan:</p>
<p><em>“Kunang ikang sawa yan tan inupakara</em></p>
<p><em>atmanya menadi neraka, munggwing tegal</em></p>
<p><em>panangsaran, mangebeki wadhuri, ragas,</em></p>
<p><em>katiksnan panesning surya, manangis angisek-isek,</em></p>
<p><em>sumambe anak putunya, sang kari mahurip lingnya</em></p>
<p><em>duh anakku bapa tan hana matra wlas ta ring</em></p>
<p><em>kawitanta, maweh bubur mwang we atahap, akeh mami</em></p>
<p><em>madruwe, tan hana wawanku mati, kita juga mawisesa</em></p>
<p><em>anggen den abecik-becik, tan eling sira ring rama rena,</em></p>
<p><em>kawitanta, weh tirtha pangentas, jah tasmat kita</em></p>
<p><em>santananiku, wastu kita amangguh alphayusa, mangkana</em></p>
<p><em>temahning atma papa ring sentana”.</em></p>
<p>Artinya:</p>
<p>Adapun sawa yang tidak diupacarakan (ngaben)</p>
<p>atmanya akan berada di neraka, bertempat di</p>
<p>tegal yang sangat panas, yang penuh dengan pohon madhuri</p>
<p>reges, terbakarnya oleh sengatan matahari, menangis</p>
<p>tersedu-sedu, menyebut anak cucunya yang masih hidup,</p>
<p>katanya Oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada</p>
<p>leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, saya</p>
<p>dulu punya tidak ada yang sayla bawa, kamu juga menikmati,</p>
<p>pakai baik-baik, tidak ingat sama ayah ibu, air tirtha</p>
<p>pangentas, pemastuku, semoga kamu umur pendek,</p>
<p>demikian kutukannya. (ngaben.26)</p>
<p>Atas dasar pemikiran tersebut maka menjadi landasan adanya upacara Ngaben. Didalam melaksanakan upacara Ngaben, ada kesan bahwa kalau tidak mempunyai biaya banyak maka upacara Ngaben masih dalam angan-angan belaka karena upacara Ngaben itu biasanya besar sehingga tidak sedikit orang-orang menjual warisan berupa sawah, kebun dan sebagainya demi melaksanakan upacara Ngaben tersebut. Padahal semua itu hanya salah kaprah belaka, karena hanya ketidak pahaman tentang hakekat dari pada upacara ngaben itu sendiri atau juga hanya demi gengsi. Pada dasarnya jumlah biaya atau besarnya sesajen bukan jaminan/ukuran untuk mengatakan bahwa upacara itu berhasil, tetapi besar kecilnya Yadnya yang  dipersembahkan kalau didasari dengan niat yang tulus niscaya yadnya itu akan diterima. Pelaksanaan upacara dapat ditempuh dengan tiga jalan yaitu: nista, madhya dan uttama. Bahkan saat ini sudah banyak diadakan upacara ngaben secara masal, tujuannya adalah dengan biaya yang relatif minim tetapi upacara ngaben bagi orang yang tidak mampu dapat dilaksanakan tanpa mengurangi arti dari upacara tersebut. Satu hal yang sangat perlu diingat adalah betapapun upacara itu dilaksanakan, bukan jaminan roh seseorang bisa menyatu kepada Brahman tetapi tetap tergantung pada karma wasananya.</p>
<p>Seperti telah disinggung terdahulu bahwa upacara ngaben adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pertisentana kepada orang tuanya. Oleh karena itu laksanakan upacara itu sesuai dengan swadarma dan kemampuanmu. Ada tiga hal yang sangat prinsip yang harus dilaksanakan didalam setiap melaksanakan upacara ngaben yaitu: ngaskara, tirtha pangentas dan mralina Atma.</p>
<p>Ngaskara dikatakan sangat prinsip karena upacara Ngaskara adalah prosesi penyucian preta menjadi sang pitara. Tirtha pangentas adalah tirtha untuk memutuskan hubungan Purusa   dengan Pradhana (aspek kejiwaan dengan aspek kebendaan) bisa dikatakan juga tirtha untuk menuntun atman menuju Brahman. Sedangkan pralina Atma dilakukan oleh Pandita yang memimpin upacara. Kata Pralina berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya hilang atau kembali. Secara filosofis tidak ada sesuatu yang hilang di alam semesta ini tetapi yang terjadi adalah perubahan tempat dan perubahan bentuk. Pada waktu manusia masih hidup, Purusa dan Pradananya bersatu secara utuh pada badan manusia. Ketika manusia itu meninggal Purusa dan Pradhana itu berpisah dari badan kasar manusia yang dikenal dengan istilah mati. Untuk lebih melapangkan jalansang atman kembali serta berpisah dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta dan lain-lain yang mengikat sang atman, maka pendeta akan melakukan puja pralina.</p>
<p><strong> Om Santih Santih Santih Om</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/500/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=500&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/17/ngaben-sebuah-kajian-teologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/ngaben.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ngaben</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEMANGAT AHIMSA  Untuk Mereduksi Kekerasan Dewasa Ini</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/02/semangat-ahimsa-untuk-mereduksi-kekerasan-dewasa-ini/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/02/semangat-ahimsa-untuk-mereduksi-kekerasan-dewasa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisdom of dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Om Swastyastu “Setiap pembunuhan dan bentuk kekerasan (penganiayaan) lain  tak peduli apa penyebabnya yang dilakukan oleh atau ditujukan kepada orang lain adalah suatu tindakan kejahatan kemanusiaan”                                                          Gandhi dalam Harijan, 20-7-1935, 180-181 Pendahuluan Satu abad atau saratus tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 September 1906 Mohandas K. Gandhi merumuskan strategi Satyagraha di Johannesberg, Afrika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=495&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Om Swastyastu</p>
<p align="center">“<em>Setiap pembunuhan dan bentuk kekerasan</em> (<em>penganiayaan) lain</em></p>
<p align="center"><em> tak peduli apa penyebabnya yang dilakukan oleh atau ditujukan </em></p>
<p align="center"><em>kepada orang lain adalah suatu tindakan </em></p>
<p align="center"><em>kejahatan kemanusiaa</em>n”</p>
<p>                                                         Gandhi dalam Harijan, 20-7-1935, 180-181</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Satu abad atau saratus tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 September 1906 Mohandas K. Gandhi merumuskan strategi <em>Satyagraha </em>di Johannesberg, Afrika Selatan. Kemudian sejak September 2006-September 2007 saat ini, dunia memperingati <em>Seabad Satyagraha</em>. Dalam suasana tersebut ajaran  Mahatma Gandhi  tentang <em>Ahimsa</em> dan masyarakat tanpa kekerasan sangat penting untuk  disebarluaskan kepada masyarakat  umum.</p>
<p><a href="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/berantem.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-498" title="berantem" src="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/berantem.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p>Ajaran dan sosok Gandhi telah menjadi milik dunia. Ia telah mendarmabaktikan pemikiran dan hidupnya untuk memajukan dunia, mewujudkan perdamaian abadi yang dilandasi kebenaran, keadilan dan cinta kasih yang tulus. Dalam situasi masyarakat yang dihantui oleh berbagai tindak kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di bumi Nusantara ini. Ajaran Gandhi tentang <em>Satyagraha</em> dan <em>Ahimsa</em> sangat relevan untuk ditelaah dan diamalkan. Kekerasan telah terjadi di mana-mana. Di lembaga pendidikan yang terhormat dari lembaga pendidikan tinggi sampai di sekolah dasar, seperti di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang menyiapkan calon birokrat yang melayani dan mumpuni, kekerasan berlangsung seru dengan melibatkan banyak pihak dan mengakibatkan beberapa korban berjatuhan. Kekerasan terjadi di sekolah dasar, seorang anak telah berani melakukan tindak brutal mengeroyok teman atau adik kelasnya, dan korban pun begelimangan. Kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar dikaitkan pula dengan tayangan <em>Smack Down</em> di TV.  Ayah kendung menganiaya anaknya denan sangat sadis (Bali Post, 5 September 2007) dan sebagainya. Kekerasan tinggal kekerasan dan tiada hentinya ditayangkan di media massa. Mulai dari ujung utara Nusantara sampai selatan, dari barat sampai ke timur, dan di rumah tangga, di lembaga pendidikan, di berbagai sektor kehidupan kekerasan telah menghantui masyarakat, dan bagi masyarakat Bali sangat merasakan dampak dari kekerasan yakni tindakan teroris yang meledakan bom di Jalan Raya Legian Kuta dan Kafe Jimbaran. Kedua ledakan besar yang mengakibatkan meninggalnya ratusan orang, terutama orang asing telah mencoreng nama Bali dan Indonesia sebagai negara yang tidak aman. Negara yang belum mampu menuntaskan penangkapan gembong teroris dan dampaknya di sektor ekonomi sangat dirasakan hingga kini.</p>
<p><span id="more-495"></span></p>
<p>Dalam situasi yang mengkhawatirkan ini, Fakultas Sastra Universitas Udayana bekerja sama dengan <em>Indian Cultural Centre</em> (<em>ICC</em>) Bali menyelenggarakan seminar internasional memperingati <em>Seabad Satyagraha</em>, tanggal 19 Mei 2007 dengan menghadirkan seorang Gandhian, Mantan Duta Besar India, Pascal Alan Nazareth dengan topik pembicaraan Peran Kebenaran dan Diplomasi di Jaman Terorisme (<em>The Role of Truth and Diplomacy in Terrorism Era</em>)  yang  menyatakan  bahwa  abad  20  merupakan  abad yang paling brutal dan merusak hampir sepanjang  sejarah umat manusia. Hampir seratus juta orang terbunuh dalam dua perang dunia, kamar gas Hitler, perang antar negara, dan perang saudara. Dengan runtuhnya tembok Berlin, muncul harapan besar bahwa abad baru akan membuka lembaran baru perdamaian dan persaudaraan semesta. Sayangnya kenyataan jauh dari harapan. Saat ini lebih banyak orang hidup dalam ketakutan, mati mendadak dan brutal dibandingkan sebelumnya. Runtuhnya <em>World Trade Centre</em> (<em>WTC</em>) 11 September 2001 yang dikenal dengan istilah 11. 9 (<em>eleven nine</em>) sangat membekas dalam ingatan. Pelaku bom bunuh diri merupakan ikon teror di jaman ini. Bagaimana orang melindungi dirinya, keluarganya, dan negaranya dalam situasi yang seperti ini. Bagaimana orang mengetahui dan mencegah kebrutalan teroris, siapa yang mendapatkan keuntungan dari misteri dan kejutan ini. Apa yang membuat teroris begitu ingin dan sama sekali tidak takut mati dengan melakukan tindakan teroris. Pertanyaan-pertanyaan ini menunggu jawaban, namun menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bukan perkara yang mudah. Bahkan hampir semua sistem pengawasan canggih yang dimiliki negara <em>super power</em> tidak mampu mencegah serangan teroris. Serangan pencegahan dan hukum keras terbukti sama sekali bukan tindakan pencegahan yang efektif. Tindakan pencegahan semacam ini justru menimbulkan tindakan teroris yang lebih brutal dan lebih canggih lagi.</p>
<p>Demikian Pascal Alan Nazareth mengawali presentasinya. Ia yang berbicara di berbagai belahan dunia, di depan akademisi di berbagai kampus terkemuka di Amerika dan Eropa mengajak dunia untuk mengubah cara pandang dan sikapnya dengan mengimplementasikan ajaran Gandhi yang terbukti mampu mengantarkan India menuju kemerdekaan. Nazareth  mengutip Albert Einstein yang mengatakan “Lesatan daya atom mengubah segalanya kecuali pemikiran kita; kita sedang menuju ke arah tragedi tiada banding. Kita membutuhkan cara berpikir baru agar umat manusia tetap dapat bertahan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Perdamaian tidak bisa dijaga dengan kekuatan. Perdamaian hanya dapat dicapai dengan pemahaman”.</p>
<p>Nazareth mengutip kata pengantar buku “<em>Gandhi in the Post Modern Age</em>” karya Prof. Ralph Bultjens, Penerima Penghargaan Sejarah Toynbee, menulis: “Kelemahan peradaban modern tampak dari cara menakutkan yang tidak efektif dalam mengatasi konflik. Dalam hubungan internasional maupun penggunaan cara-cara pencegahan militer, tidak memperbaiki kelemahan dunia. Interpretasi yang agak pesimistik terhadap sejarah ini ditentang dengan satu pengecualian penting, penerapan kebijakan dan teknik diplomasi Mahatma Gandhi di India. Gandhi bukan hanya berhasil menyelamatkan umat manusia dari keniscayaan sejarahnya, tetapi juga mendukung terus digunakannya”.</p>
<p><strong>Keberhasilan perjuangan Gandhi</strong></p>
<p>Setelah tiga puluh tahun Gandhi mencanangkan perjuangan diplomasi dengan prinsip <em>Satyagraha</em> dan <em>Ahimsa</em>, Inggris angkat kaki dari India secara sukarela. Inggris dan India terpisah dan tetap berteman dan India bergabung dalam Persemakmuran Inggris sebagai mitra sejajar. Pernyataan Gandhi bahwa “Revolusi damai &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..merupakan program transformasi hubungan yang berakhir dengan pemindahan kekuasaan dengan damai, tidak bisa disangkal”.</p>
<p>Kemanjuran strategi kebenaran dan diplomasi Gandhi juga dapat dengan jelas dilihat di berbagai belahan dunia. Dengan menggunakan strategi ini, Martin Luther King lebih membawa manfaat bagi bangsa kulit hitam selama dekade 1960-an, dibanding dengan perang saudara, dan ratusan tahun berikutnya perjuangan hukum di Amerika Serikat berhasil. Demikian pula Dalai Lama menerapkan strategi yang sama untuk Tibet. Ketika menerima penghargaan pada Desember 1989 ia mengatakan: “Saya menerima penghargaan ini atas nama orang yang tertindas di mana saja, dan semua yang memperjuangkan kebebasan dan perdamaian dunia. Saya menerimanya atas nama seorang manusia yang membangun tradisi modern perubahan tanpa kekerasan – Mahatma Gandhi – yang hidupnya mengilhami saya. Dan tentu saja, saya menerimanya atas nama jutaan rakyat Tibet, kaum laki-laki dan perempuan Tibet yang berani, yang menderita dan begitu banyak menderita&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.”.</p>
<p>Professor Gene Sharpe dari Harvad, dalam bukunya berjudul “<em>The Politics of Non Violent Action</em>”, menulis “Gandhi adalah seorang experimenter dalam pengembangan “perang tanpa kekerasan”. Karyanya menjadi pioneer dan, meskipun tidak terlalu benar, mewakili  perkembangan sejarah baik dalam etika maupun politik &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Banyak masalah dalam pengembangan dan penerapannya lebih lanjut. Namun dalam kata dan tindakannya Gandhi berfokus  pada apa yang kemungkinan menjadi kunci pemecahan masalah “bagaimana orang bisa hidup dengan damai, dan pada saat yang sama, secara aktif dan efektif, melawan penindasan dan ketidakadilan”.</p>
<p><strong>Solusi Antisipasi</strong></p>
<p>Apa yang diperlukan dunia saat ini bukanlah “perang terhadap terorisme”, tetapi perang terhadap ketidakbenaran, ketidakadilan, penindasan, dan perang itu sendiri”. Pascal Alan Nazareth  membuat kesimpulan dengan kalimat yang dikutip dari buku Jonathan Schell berjudul “<em>The Unquerable World</em>”. Dalam buku tersebut dinyatakan: “Ketika  abad baru dimulai, maka tidak ada pertanyaan yang lebih penting dari ‘apakah dunia telah mulai siklus baru kekerasan, mengutuk abad 21 karena mengulang darah abad 20’. Dan lihatlah kenyataan. bahaya kontemporer, tidak seperti sebelumnya, yaitu ‘tentara konvensional dan kebencian persaingan negara-negara kuat yang sistematis’ tapi ‘penyebaran senjata nuklir dan senjata pemusnah masal lainnya yang terus menerus dan iblis negara, suku, agama, dan pertarungan kelas yang tidak kunjung selesai’. Ia menyatakan bahwa, meskipun dengan adanya serangan 11 Septermber 2001 dan kebutuhan untuk mengambil tindakan keras mengatasi ancaman global, namun jalan baru dan menjanjikan telah terbuka. “Abad 20 memberi pelajaran berharga” yaitu bahwa bentuk-bentuk tindakan non kekerasan dapat  diterapkan secara efektif untuk menggantikan kekerasan di setiap tahapan permasalahan politik. Inilah sumpah perlawanan Mohandas K. Gandhi terhadap Kerajaan Ingris di India, gerakan hak-hak sipil Martin Luther King di Amerika Serikat, gerakan anti kekerasan di Eropa Timur dan Rusia yang meruntuhkan komunisme dan Uni Soviet”. Demikian mantan Duta Besar India, Pascal Alan Nazaret mengakhiri makalahnya yang sangat menarik peserta seminar.</p>
<p>R. C. Zaehner dalam bukunya “<em>Hinduism</em>”, (1993:206) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Kebijaksanaan dari Timur, Beberapa Aspek Pemikiran Hinduisme, diterbitkan oleh Penerbit P.T. Gramedia Pustaka Utama mengidentikan Gandhi dengan Yudhisthira, saudara tertua dari Pandawa. Ia melukiskan, “Dalam kepribadiannya yang lemah itu cita-cita lama akan pembebasan diri, ‘ketulusan’ (<em>ahimsa</em>, diterjemahkan olehnya sebagai ‘tanpa kekerasan’) dan kebenaran bertemu. Ia melukiskan dirinya sebagai seorang Hindu <em>sanatani</em>, seorang yang mengikuti <em>sanatana dharma</em> ‘hukum abadi’ yang pernah eksis dalam (diri) <em>dharma-raja</em>, Yudhisthira. Dan dilema Gandhi sama dengan dilema Yudhisthira: apakah <em>sanatana dharma</em>, yang, katanya harus ditaati ini ada? Dimanakah dia berada? Adakah dia berada di dalam hati ataukah dalam perkara-perkara seperti dinyatakan oleh para Brahmana? Harus diingat bahwa Yudhisthira pun tersiksa oleh keragu-raguan sama yang menyakitkan ini. Adakah <em>dharma</em> yang diajarkan oleh para Brahmana itu <em>dharma</em> ‘abadi’, ataukah itu <em>dharma</em> yang merupakan sumber dari keberadaan dirinya, yakni <em>dharma</em> yang merupakan berkat mana ia menjadi “Raja <em>dharma</em>”, “Raja Kebenaran”, karena kesadaran moral seorang yang benar tak dapat keliru? Dia ragu-ragu karena Tuhan sendiri telah mendorongnya ke arah perang dan kekerasan, dan menyuruhnya berbohong, tetapi ia pun <em>tahu</em> bahwa kesadaran moralnya melampaui “kebenaran” dari para Brahmana dan dari Krishna sendiri. Dilema Yudhisthira lebih menakutkan, lebih meresahkan daripada dilema Gandhi. Kesadaran moral-<em>nya</em> adalah yang pertama antara yang pernah memprotes melawan masyarakat yang kejam dan tidak adil ini. Belum ada pembaharu sebelum dia. Demikian kata-kata Zaehner dalam buku tersebut.</p>
<p>Berkaitan dengan perlawanan tanpa kekerasan yang diperjuangkan selama kehidupan Gandhi, Ketut Wisarja (2007:19) mengutip Mochtar Lubis dalam pengantar terjemahan buku “Gandhi, Semua Manusia Bersaudara” menyatakan: “Kekuatan perlawanan tanpa kekerasan Gandhi yaitu <em>ahimsa</em> ditunjang pula oleh perjuangan <em>satyagraha</em> yang berlandaskan perjuangan untuk berdiri senantiasa menegakkan kebenaran. Keduanya ditopang oleh satu kekuatan besar yaitu <em>swadesi </em>(mencintai tanah air dan lebih menyenangi pemakaian barang-barang buatan rakyat sendiri) merupakan tiga tiang dasar perjuangan Gandhi dan rakyat India untuk menekan kekuasaan Inggris mengakui kemerdekaan India”.</p>
<p>Perjuangan Gandhi untuk meraih kemerdekaan tidak lepas dari ajaran-ajarannya (utamanya dari ajaran Agama Hindu) yang dipraktikkan dalam hidupnya. Dalam menjalankan aksi perlawanannya, ia selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagai basis dasar gerakkannya. Untuk lebih memahami lebih jauh ajaran atau prinsip-prinsip anti kekerasan Gandhi, di sini dikemukakan beberapa hal yang penting (Wisarja, 2007:75), sebagai berikut: (1) <em>Ahimsa</em>. Secara harfiah ahimsa berarti “tidak menyakiti”, tetapi menurut Gandhi pengertian seperti itu belum cukup, menurutnya <em>ahimsa</em> berarti menolak keinginan untuk membunuh dan tidak membahayakan jiwa, tidak menyakiti hati, tidak membenci, tidak membuat marah, tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan memberalat serta mengorbankan orang lain. Gandhi memandang <em>ahimsa </em>dan kebenaran (<em>satya</em>) ibarat saudara kembar yang sangat erat, namun membedakannya dengan jelas bahwa <em>ahimsa</em> merupakan sarana mencapai kebenaran, sedangkan kebenaran (<em>satya</em>) sebagai tujuannya. Pengertian <em>ahimsa</em> sebagai suatu sarana berarti tidak mengenal kekerasan untuk mencapai kebenaran, baik dalam wujud pikiran, ucapan, maupun tindakan. Justru kebalikannya, <em>ahimsa</em> harus menciptakan suasana membangun, cinta, dan berbuat baik kepada orang lain meskipun orang lain itu pernah menyakitinya, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. (2) <em>Satyagraha</em>. Secara harfiah <em>satyagraha</em> berarti suatu pencaria kebenaran dengan tidak mengenal lelah. Berpegang teguh pada kebenaran artinya <em>satyagraha</em> merupakan jalan hidup seorang yang berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan Yang Maha Esa. Karena jalan satu-satunya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan sarana <em>ahimsa</em>, maka <em>satyagraha</em> juga berarti “mengejar tujuan benar dengan sarana <em>ahimsa</em>. <em>Satyagraha</em> mengambil bentuk tindakan dengan sikap <em>non-violence</em> berdasarkan <em>ahimsa</em>. Tindakan tersebut secara praktis dapat dilaksanakan dengan: <em>Pertama</em>, <em>civil disobidience</em> (ketidak patuhan sipil), berarti melanggar hukum yang dipandang tidak adil, misalnya hukum pajak yang pernah diterabas Gandhi dan para pengikutnya pada tahun 1919. <em>Kedua</em>, <em>non-cooperation</em>, berarti menolak mengambil bagian dalam sistem yang tidak adil, yang menyebabkan banyak orang tertindas dan menderita. <em>Ketiga</em>, <em>fasting</em> atau puasa, yakni pengendalian diri agar menghasilkan kewaspadaan dan sikap hormat pada orang lain. Puasa dimaksudkan untuk menyadarkan orang-orang yang melakukan kesalahan. (3) <em>Swadesi</em>. Pengertian <em>swadesi</em> adalah cinta tanah air sendiri, cara mengabdi kepada masyarakat yang sebaik-baiknya kepada lingkungannya sendiri lebih dahulu. Gandhi secara jelas memberikan urutan <em>swadesi</em> ini, yaitu pengabdian diri untuk keluarga, pengorbanan keluarga untuk desa, desa untuk negara dan negara untuk kemanusiaan. Maksud Gandhi agar <em>swadesi</em> ditaati untuk menciptakan ketentraman dunia, sedangkan pengingkaran terhadapnya mengakibatkan kekacauan. Pelaksanaan <em>swadesi</em> ini antara lain: sebisa-bisanya agar membeli segala keperluan dari dalam negeri dan tidak membeli barang-barang import, bila barang-barang tersebut dapat dibuat dalam negeri sendiri. Melihat situasi dan kondisi waktu itu memungkinkan untuk melaksanakan anti import barang-barang asing sebagai protes dan boikot terhadap kaum penjajah. (4) <em>Hartal</em>. <em>Hartal</em> semacam pemogokan nasional, toko-toko ditutup sebagai protes politik dan para pekerja melakukan pemogokan massal. Untuk pertama kalinya Gandhi memutuskan untuk menentang pemerintah kolonial Inggris di India. Ia memutuskan melaksanakan <em>hartal</em> (pemogokan total). Ia mengatakan bahwa suatu hari kegiatan dagang harus dihentikan, toko-toko tutup, dan pekerja-pekerja mogok. <em>Hartal</em> ini merupakan permulaan dari perjuangan selama 28 tahun, yang berakhir dengan penjajahan Inggris menghentikan penjajahan atas bangsa India. <em>Hartal</em> dilakukan oleh rakyat India sebagai sebuah protes politik, namun hari-hari mogok itu dihabiskan dengan berpuasa dan kegiatan keagamaan lainnya.</p>
<p>Lebih jauh walaupun Gandhi menjadikan <em>ashram</em> yang dibangunnya sebagai tempat eksperimen dari ajaran-ajaran, prinsip-prinsip atau nilai-nilai kemanusiaan yang dianutnya, ternyata eksperimennya itu dapat diterapkan dan terbukti berhasil menciptakan masyarakat ideal yang anti kekerasan. Ajaran, prinsip atau nilai-nilai kemanusiaan itu dituangkan dalam bentuk peraturan hidup (etika) di <em>ashram</em>, (Wisarja, 2007:141) yang jumlahnya 11 butir (<em>ekadasavrata</em>) yaitu: (1) <em>Sat</em> (kebenaran). Kata <em>satya</em>, kata dasarnya <em>sat</em> yang artinya ada atau kebenaran, bahkan bagi Gandhi, kebenaran adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ada merupakan satu konsepsi tentang peristiwa-peristiwa dalam hidup, yang alami dan yang dapat dirasakan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa hidup itu benar-benar ada, nyata dan bukan impian. Yang nyata dan ada itu semata-mata adalah Kebenaran. Dalam komunitas <em>ashram</em>, kebenaran tidak hanya dalam pengertian  berkata jujur atau tidak berdusta, melainkan harus terdapat pula pada semua segi, yakni pikiran, ucapan, dan tindakan. Mengejar kebenaran merupakan <em>bhakti</em> sejati (pengabdian) yang mengarahkan orang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kebenaran tersebut haruslah ditempuh melalui sikap <em>nirbhaya</em> (keberanian) keuletan, dan sikap tidak mudah menyerah. Pengertian Kebenaran dalam perspektif Gandhi mengandung keselarasan dari tiga unsur, yaitu: pikiran, ucapan, dan tindakan. Keselarasan dari ketiga unsur tersebut menjamin terselenggaranya kehidupan kepribadian setiap warga ke dalam ketaatan pada peraturan yang menjadi pengikat dalam kebersamaan. (2) <em>Ahimsa</em> (kasih sayang). Pengabdian kepada Kebenaran harus tetap mengandalkan sikap <em>ahimsa</em> (kasih sayang) terhadap sesama sekaligus terhadap makhluk lainnya. <em>Ahimsa</em> mengandung pengertian tidak menyakiti. Ahimsa merupakan suatu sikap tidak menyakiti manusia mana pun, baik pikiran, ucapan, maupun tindakan, sekalipun konon untuk kepentingan manusia itu sendiri. Prinsip <em>ahimsa</em> ini harus dijalankan dalam aktivitas keseharian manusia, utamanya bagi warga dalam <em>ashram</em>. Prinsip ini merupakan bentuk dari dasar pencegahan konflik dalam masyarakat, karena konflik biasanya muncul oleh berbagai perilaku “menyakiti” manusia lain dengan cara apa pun. Apabila setiap anggota masyarakat mematuhi prinsip ini, niscaya setiap konflik yang akan muncul dapat diminimalisir. Setiap manusia secara sadar mengamalkan prinsip ini sebagai kebutuhan dasar kemanusiaan untuk tidak saling menyakiti dan memusihi. (3) <em>Brahmacharya</em> (penguasaan indera). Pada dasarnya, <em>brahmacharya</em> mengandung pengertian sebagai sikap yang harus disesuaikan dengan proses pencarian <em>Brahma</em>, yakni Kebenaran. <em>Brahmacharya </em>lebih ditekankan pada perilaku dari setiap manusia untuk selalu bersikap sesuai dengan Kebenaran itu sendiri. Bagi Gandhi, <em>brahmacharya</em> sebagai prinsip ketiga dalam ashram lebih dari penguasaan nafsu hewani, melainkan juga mencakup penguasaan setiap indera yang terdapat dalam diri manusia. Bagaimana mungkin brahmacharya dapat dicapai sedangkan indera sendiri menjanjikan kenikmatan bagi orang yang memenuhi. Dengan mengutip ajaran suci Bhagavadgita, Gandhi optimis bahwa pencapaian brahmacharya dapat dipenuhi. Dengan tidak melayani kebutuhan indera, maka kerinduan terhadap objek-objek indera akan hilang dengan sendirinya, tetapi rasa rindu terhadap benda-benda itu muncul. Rasa rindu tersebut akan sirna sendirinya dengan usaha selalu mendekatkan diri kepada <em>Brahma</em> (Tuhan Yang Maha Esa). (4) <em>Penguasaan Rasa Lidah</em>. Prinsip ini berhubungan erat dengan brahmacharya, karena penguasaan rasa lidah pada dasarnya merupakan perilaku yang membantu tercapainya kualitas kemanusiaan menuju pada Brahma. Penguasaan rasa lidah dalam banyak hal berkaitan dengan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk makanan secara berlebihan, baik soal selera maupun mengubah orientasi makanan menjadi suatu kenikmatan. Setiap penghuni <em>ashram</em> diharapkan menghindarkan diri dari perilaku makan yang sekedar yang sekedar memenuhi kenikmatan indera semata serta tidak berlebih-lebihan, menghindari makan daging dan alkohol serta makanan yang membangkitkan nafsu. Prinsip menghindarkan diri dari berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan serta menghindari setiap makanan yang telah ditentukan merupakan ikhtiar dari setiap warga <em>ashram</em> untuk tidak memenuhi tuntutan inderawi semata-mata. (5) <em>Asteya </em>(tidak mencuri). Prinsip tidak mencuri merupakan prinsip kelima yang harus dijalankan oleh warga ashram. Tindakan mencuri merupakan sebuah pantangan bagi orang yang memperjuangkan dan membela Kebenaran. Mencuri merupakan tindakan yang merugikan orang lain, karena merasakan kehilangan miliknya. Tindakan mencuri adalah perilaku yang merusak hubungan sosialitas dalam ashram, karena akan memunculkan rasa tidak aman dan sikap saling mencurigai. Jika didiamkan hanya akan melahirkan situasi tidak kondusif bagi perjalanankehidupan <em>ashram</em>. Prinsip ini merupakan suatu upaya untuk menghindarkan diri dari nafsu untul menguasai sesuatu yang bukan menjadi haknya. Andaikata setiap manusia memiliki dan menjalankan prinsip ini, maka keserakahan yang biasanya menjadi realitas kemanusiaan dapat diminimalisir, bahkan dihentikan potensi perkembangannya. (6) <em>Aparigraha</em> (memilih hidup dalam kesederhanaan). Prinsip ini merupakan pengembangan yang lebih luas dari prinsip asteya, yaitu upaya manusia warga ashram untuk menghindarkan diri dari kepemilikan atau benda yang tidak diperlukan sekaligus yang bukan menjadi haknya. Melalui prinsip ini pula Gandhi membuat permakluman bahwa setiap warga dilarang untuk menyimpan sesuatu bagi keperluan untuk masa yang akan datang. Pelarangan ini mengandung pengertian agar setiap orang mempunyai kesempatan untuk memperoleh bagian, dan tidak menjadi monopoli yang dapat merusak hubungan antarwarga. Monopoli hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan sekaligus kesenjangan sosial dalam sosialitas <em>ashram</em>. Prinsip ini sesungguhnya merupakan suatu sikap mental agar setiap warga ashram memiliki kemampuan untuk saling memperhatian sesama, tidak serakah dan tidak terlalu menjadikan hidup berorientasi kepada kebutuhan-kebutuan fisik semata. Setiap warga <em>ashram</em> harus bersama-sama menikmati aktivitas kehidupan, tanpa ada yang paling kaya sekaligus yang berada dalam kemiskinan. Semuanya adalah milik bersama. Prinsip ini seolah juga memberikan suatu pemahaman akan pengaruh dari sikap hidup masyarakat sosialis purba yang menginginkan terbentuknya masyarakat tanpa harta milik. (7) <em>Karya Pangan</em>. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip <em>asteya</em> dan <em>aparigraha</em>. Prinsip karya pangan merupakan upaya untuk memenuhi sikap hidup yang mengutamakan asteya dan aparigraha, yaitu dengan menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri, usaha mandiri tanpa melakukan pencurian. Ketaatan terhadap <em>asteya</em> dan <em>aparigraha</em> hanya dapat ditunjang dengan melaksanakan karya pangan. Pemenuhan kebutuhan sendiri melalui karya pangan merupakan kewajiban moral bagi setiap warga yang sehat. Kewajiban ini merupakan suatu prinsip hidup agar tidak menggantungkan dirinya dan warga di <em>ashram</em> terhadap orang lain. Karya pangan menjadi wujud daribentuk kemandirian. Konskuensi logisnya menjadi suatu kekuatan bagi tubuh masyarakat sipil dengan kemampuan untuk mengelola dan mencukupi kebutuhan sendiri. (8) <em>Swadesi</em>. <em>Swadesi</em> pada dasarnya mengandung suatu pengertian bahwa manusia bukanlah makhluk yang memiliki kekuasaan penuh. Manusia masih memiliki batas-batas kekuasaan yang membuat dirinya memiliki banya kelemahan. Atas dasar ini, pengabdian manusia kepada masyarakat sebaik-bainya hanya dapat dilakukan ketika mereka melakukan pengabdian kepada lingkungannya sendiri lebih dahulu. Melalui pengabdian ini (dari lingkuangan terdekat sampai yang jauh lebih luas) akan menumbuhkan kepekaan sosial atas setiap bentuk penderitaan sekaligus upaya melakukan pembebasan umat manusia dari setiap bentuk penindasan dan ketidakadilan. (9) <em>Nirbhaya</em> (tidak mengenal takut). Situasi politik yang tidak menentu dan di tengah ketertindasan masyarakat India akibat kekejaman kolonial, membuat Gandhi menganjurkan suatu anjuran Nirbhaya, yaitu suatu sikap untuktidak pernah mengenal rasa takut, terhadap kekuatan apa pun. Prinsip ini melahirkan suatu semangat yang sangat luar biasa bagi warga ashram untuk menunjukkan kebenranian dan jiwa patriotismenya melawan pemerintah koloni Inggris. Bagi Gandhi, setiap warga India harus dihilangkan rasa takutnya untuk berani berbicara dan berpendapat di muka umum, sekaligus menuntut dihilangkannya ketidakadilan bagi warga. Lebih jelas Gandhi mengatakan bahwa sikap bebas dari rasa takut berasal dari luar, misalnya bebas dari rasa takut pada penyakit, luka, kematian, kehilangan milik, kehilangan orang yang paling dekat dan disayang, kehilangan kemasyhuran atau takut dihina dan lain-lain. Rasa takut yang dianjurkan oleh Gandhi hanyalah rasa takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menemukan dan menghilangkan rasa takut tersebut, Gandhi menganjurkan agar dimulai dan penaklukan rasa takut dalam diri sendiri. Penaklukan tersebut pada akhirnya akan menghilangkan rasa takut dari luar. (10) <em>Menghapuskan Rasa Emoh Bersentuhan</em>. Prinsip ini pada dasarnya mmerupakan bentuk penghapusan kelas-kelas sosial dalam masyarakat Hindu di India. Selama ini dalam masyarakat Hindu di India terjadi persoalan mendasar berkaitan dengan interaksi sosial. Artinya, terjadi proses pengeliminasian atau peminggiran kelas-kelas sosial tertentu berdasarkan kelahiran dan keturunan, atau yang disebut kasta. Kasta yang lebih tinggi seolah lebih mulia sehingga dilarang bersentuhan dengan kasta yang lebih rendah. Realitas ini bagi Gandhi dianggap bertentangan dengan prinsip ahimsa dan kodrat manusia yang dilahirkan dalam keadaan suci. Menurut Gandhi tidak seorang pun mungkin dilahirkan sebagai orang yang tidak boleh disentuh karena kita semua adalah percikan sinar dari yang satu dan sama. Sangatlah keliru untuk memperlakukan insan-insan tertentu sebagai orang yang pantang disentuh karena kelahiran. Prinsip ini mengandung suatu bentuk penghargaan atas kodrat kemanusiaan sebagai makhluk yang sederajat, tidak boleh terjadi berbagai bentuk diskriminasi dalam bentuk apa pun. Prinsip ini seolah mengindikasikan suatu bentuk jaminan bagi demokratisasi dalam masyarakat liberal yang memiliki tiga prinsip, yaitu: netralitas, kebebasan, dan kesetaraan dalam berbagai bidang kehidupan. Bagi Gandhi, melalui prinsip ini maka setiap warga <em>ashram</em> harus diberikan kedudukan yang sama dan wajib melakukan interaksi berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan berdasarkan status sosial yang berasal dari keturunan dan kelahiran. (11) <em>Toleransi</em>. Toleransi merupakan prinsip terakhir dalam <em>ashram</em>. Toleransi merupakan perluasan dari sikap hidup untuk tidak melakukan proses diskriminasi dalam masyarakat. Artinya, di dalam masyarakat <em>ashram</em> yang berasal dari berbagai komunitas harus menjalankan prinsip toleransi dan tidak saling membeda-bedakan. Terhadap agama-agama yang ada, Gandhi berpandangan bahwa semuanya mengandung wahyu Kebenaran, namun karena agama-agama tersebut garis besarnya dibuat oleh manusia yang tidak sempurna, maka keyakinan-keyakinan itu dipengaruhi oleh ketidaksempurnaan tersebut dan Kebenaran tersebut menjadi tidak mutlak adanya. Bila dikaji secara mendalam, pada dasarnya pemahaman Gandhi ini mencoba memberikan suatu persepsi bahwa setiap agama mengandung Kebenaran, tetapi Kebenaran tersebut diberikan penafsiran oleh manusia, maka ia tidaklah kemudian dapat diidentikkan sebagai Kebenaran yang sempurna. Hal ini karena berbagai bentuk kelemahan manusia yang turut terlibat dalam memberikan berbagai bentuk interpretasi atas agama. Ketidaksempurnaan tersebut memberikan inspirasi bagi Gandhi untuk bersikap mengembangkan prinsip toleransi, yakni menghormati keyakinan-keyakinan yang dianut olehorang lain. Ketidaksempurnaan itulah yang memberikan alasan bagi Gandhi agar setiap orang dapat menemukan bentuk-bentuk Kebenaran yang terdapat dalam agama lain. Itulah sebabnya, pengambilan nilai-nilai yang baik dan benar dalam setiap agama seolah menjadi keharusan moral yang harus dijalankan dalam komunitas <em>ashram</em>. Demikian 11 aturan, disiplin, nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang diimplementasikan dalam kehidupan <em>ashram</em> yang memberi pengaruh yang besar terhadap masyarakat India umumnya.</p>
<p>Dalam masyarakat anti kekerasan dikembangkan prinsip dasar semua manusia bersaudara (<em>Vasudhaivakutumbhakam</em>). Pandangan Gandhi ini (Wisarja, 2007:155) tidak bisa dilepaskan dari pengertiannya tentang manusia. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa manusia tidak akan menemukan dirinya sendiri, tanpa terlibat dalam kebutuhan besar, yaitu sosialitas. Manusia memang makhluk otonom, tapi otonom yang berkorelasi, otonomi tidak bisa ditemukan. Itulah sebabnya Gandhi berpegang teguh pada pemahaman untuk mengajarkan pada setiap orang menghargai orang lain sebagai manusia. Manusia dengan nilai kemanusiaannya harus menjadi landasan dalam setiap bentuk pergaulan hidup dalam sosialitas. Pembentukan masyarakat tanpa kekerasan hanya dapat dilakukan melalui komitmen warganya untuk menjalankan ahimsa dan satyagraha. Ahimsa adalah falsafah pantang kekerasan yang dikembangkan sedangkan satyagraha adalah aksi perjuangan yang tidak memakaikekerasan. Penguatan sikap moral untuk menjauhi (emoh) kekerasan adalah pilar utama mengubah keadaan masyarakat dari himsa menuju ahimsa. Emoh kekerasan mengandung nilai universalitas, karena ia dikembangkan ke dalam prinsip kemanusiaan yang bersifat universal. Semua umat manusia bersaudara, sebagai saudara, tanpa permusuhan, dan tidak saling membenci, serta kamauan untuk tidak pernah menghadirkan kekerasan di dalamnya menjadi representasi dari kesempurnaan sikap hidup manusia dalam mewujudkan dirinya sebagai makhluk sosial. Nilai-nilai ini jelas mempresentasikan kebenaran. Kebenaran adalah Tuhan Yang Maha Esa. Kebenaran adalah Tuhan Yang Maha Esa sendiri, sehingga wujud kasih sayang sebagai sebuah kebenaran merupakan tempat bersemayamnya Tuhan Yang Maha Esa. “Di mana ada kasih sayang, di sanalah Tuhan Yang Maha Esa bersemayam”.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Mengakhiri makalah ini diketengahkan bahwa masyarakat tanpa kekerasan atau masyarakat teladan yang diidamkan oleh Mahatma Gandhi. Bagi Gandhi, masyarakat yang sempurna terlahir dari situasi keadaan manusianya yang memiliki kesempurnaan pula. Begitu juga sebaliknya, manusia yang jahat juga berakibat bagi bangunan masyarakat yang menjadi temapt para individu tersebut mengembangkan kehidupannya. Manusia yang sempurna menurut Gandhi adalah pribadi yang <em>satyagrahi</em> yaitu orang yang mampu mengatasi kekuatan-kekuatan jahat yang dilakukan dengan sikap <em>ahimsa</em> dan pemurnian diri yaitu mencakup sikap lepas bebas terhadap harta milik dan bebas terhadap kelezatan dan kenikmatan melalui kehidupan yang sederhana, puasa, dan <em>brahmacharya</em>. Kesempurnaan manusia yang demikian pada akhirnya akan berhubungan dengan kondisi masyarakat.</p>
<p>Bagaimana membangun masyarakat teladan yang ideal, seperti telah disebutkan di atas, adalah membangun setiap subjek atau manusianya, dan pembangunan manusia tidak dapat lain, kecuali menanamkan pendidikan budi pekerti dan moralitas sejak anak-anak, menjauhkan dari kebencian, kekerasan, irihati, kesederhanaan, disiplin diri, sembahyang, puasa, dan penghargaan, Dalam kalimat yang singkat adalah menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati dan universal. Bila aturan hidup, disiplin, nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang diajarkan Gandhi diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia, maka niscaya masyarakat anti kekerasan akan dapat diwujudkan, dengan demikian ancaman terorisme dan sejenisnya yang diekspresikan melalui tindak kekerasan dapat diatasi dan dicegah sedini mungkin.</p>
<p>Om Santih Santih Santih Om</p>
<p>Serve by: I Wayan Sudarma, S.Ag</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Alan Nazareth, Pascal, 2007. <em>The Role of Truth and Diplomacy in Terrorism Era</em>. Makalah Seminar Internasional memperingati <em>Seabad Satyagraha</em> dilaksanakan oleh Fakultas Sastra Universitas Udayana bekerja sama dengan <em>Indian Cultural Centre</em> (<em>ICC</em>) Bali, tanggal 19 Mei 2007.</p>
<p>Gandhi, M.K. 1996. <em>Tuhanku </em>(<em>My God</em>). Himpunan Pemikiran M. K. Gandhi tentang Tuhan Yang Maha Esa dihimpun oleh R.K.Prabhu, Denpasar: Ashram Gandhi.</p>
<p>Wisarja, I Ketut.2007. <em>Gandhi dan Masyarakat Tanpa Kekerasan</em>. Surabaya: Penerbit Paramita.</p>
<p>Zaehner,  R. C. 1993<em>. Kebijaksanaan dari Timur, Beberapa Aspek Pemikiran Hinduisme</em>. Jakarta: Penerbit P.T. Gramedia Pustaka Utama</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=495&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/02/semangat-ahimsa-untuk-mereduksi-kekerasan-dewasa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dharmavada.files.wordpress.com/2011/11/berantem.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">berantem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Management Keuangan Menurut Hindu</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/02/management-keuangan-menurut-hindu/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/02/management-keuangan-menurut-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisdom of dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:I Wayan Sudarma, S.Ag Om Swastyastu Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=488&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:I Wayan Sudarma, S.Ag</p>
<p>Om Swastyastu<br />
Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma. Maharṣi Cānakya dalam kitabnya Nītisāstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian. Untuk mewujudkan kemakmuran bersama, pemerintah menurut ajaran Hindu hendaknya dapat mengatur perekonomian rakyat dengan baik.</p>
<p>Perekonomian disebut dengan istilah Vārttā, yang menurut Kautilya dalam bukunya Arthasāstra (I.7) meliputi pengelolaan kekayaan negara. Perekonomian hendaknya pula didukung oleh keberhasilan pengembangan : Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Danîanīti (Hukum), sedang lingkup Vārttā meliputi 4 bidang (Vārttā Caturvidhā), yaitu : pertanian, peternakan, perdagangan dan membungakan uang seperti disebutkan dalam Bhāgavata Purāṇa X.24.21 (krsi-vānijya-goraksā kusīdam tūrīyamucyate, vārttācaturvidhā tattra vayam govrttayo&#8217;nisam).<br />
<span id="more-488"></span> Berbicara keterkaitan antara Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Dandanīti (Hukum), kiranya tidak jauh berbeda dengan teori sistem ekonomi modern, seperti diungkapkan oleh Dr. Winardi, S.E. dalam bukunya Kapitalisme Versus Sosialisme, Suatu Analisis Ekonomi Teoritis seperti dikutip oleh I Gede Sudibya dalam bukunya Hindu Menjawab Dinamika Zaman (1994), antara lain: &#8220;Every economic system is part of constellation of economic and political institutions and ideas and can be understood only as a part of this whole&#8221;, demikian pula pernyataan lainnya: &#8220;Economic systems comprise the ways and means by which economic welfare can be secured within the framework of social relations&#8221;.</p>
<p>Dewasa ini kita diingatkan oleh sistem ekonomi kita yang mengalami krisis yang mulai dari krisis moneter, yang berpengaruh pada bidang-bidang yang lain seperti politik, stabilitas nasional, dan kepercayaan yang tentunya bila tidak tertangani dengan baik, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.<br />
Berbicara tentang sistem ekonomi Hindu, ada baiknya dikutipkan secara lengkap pendapat yang dikemukakan oleh cendekiawan Hindu terkemuka dan presiden pertama India, S. RadhaKrishnan, sebagai berikut: &#8220;The Hindu view of the individual and his relation to society can be best brought out by a reference to the synthesis and gradation of:<br />
1. The fourfold object of life (Purūṣārtha: desire and enjoyment (Kāma), interest (Artha), ethical living (Dharma), and spiritual freedom (Moksa),<br />
2. The fourfold order of society (Varṇa), the man of learning (Brahmin), of power (Kśatriya), of skilled productivity (Vaisya), and of service Sudra, and<br />
3. The fourfold succession of the stage of life (Aśrama), student (Brahmacari), householder (Gṛhastha), forest recluse (Vanaprastha, and the free supersocial man (Sanyasin). By means of this threefold discipline the Hindu strives to reach his destiny, which is to change body into soul, to discover the world&#8217;s potentiality for virtue and derive happiness from it&#8221;. Jadi menurut S. Radha Krishnan, melalui ralisasi nilai-nilai Catur Purusārtha, Catur Varṇa dan Catur Aśrama, umat Hindu akan mecapai tujuannya, yakni penemuan manusia terhadap jiwanya, yang mengantarkannya ke jalan Tuhan Yang Maha Esa, untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati.<br />
Lebih jauh tentang pengelolaan penghasilan untuk mendukung hidup dan kehidupan, mahaṛṣi (Bhagavān) Vararuci yang disebut juga dengan nama Katyāyana, dalam Sarasamuccaya (261-276) secara panjang lebar menjelaskan cara-cara memperoleh harta benda yang tidak boleh bertentangan dengan Dharma (kebenaran dan kebajikan). Harta benda atau penghasilan yang diperoleh melalui kerja atas dasar Dharma, hendaknya dibagi tiga, yakni masing-masing sepertiga, digunakan untuk: Dharma, mengembangkan harta dan untuk dinikmati. Untuk jelasnya kami kutipkan śloka Sarasamuccaya, sebagai berikut:<br />
&#8220;ekanāmcena dharmāthaḥ kartavyo bhūtimicchatta,<br />
ekanāmcena kāmtha ekamamcam vivirddhayet&#8221;.<br />
&#8220;Nihan kramaning pinatêlu, ikang sabhāga, sādhana rikasiddhaning<br />
dharma, ikang kapingrwaning bhāga sādhana ri kasiddhaning Kāma<br />
ika, ikang kaping tiga, sādhana ri kasiddhaning artha ika, wṛddhyakêna<br />
muwah, mangkana kramanyan pinatiga,denika sang mahyun manggiha<br />
kênang hayu&#8221;. Sarsamuccaya 262<br />
(Demikian hendaknya dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian, digunakan sebagai biaya mewujudkan Dharma, bagian yang kedua digunakan sebagai biaya untuk memenuhi Kāma (untuk kenikmatan hidup) dan bagian yang ketiga digunakan untuk mengembangkan hartamelalui berbagai usaha,kegiatan ekonomi, agar berkembang lagi. Demikianlah hendaknya harta penghasilan itu dibagi tiga, oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan).<br />
Demikianlah sepintas tentang tujuan hidup manusia, masalah perekonomian dan pengelolaan penghasilan. Selanjutnya marilah kita bahas usaha untuk memperoleh harta benda atau kekayaan, ditinjau dari sudut pandang agama Hindu. Kitab Nītisāstra, karya mahārsi Cānakya yang dikenal juga dengan nama Kautilya, di antaranya menyatakan sebagai berikut:<br />
&#8220;Udyoge nāsti dāridriyam&#8221;<br />
(Tidak ada masalah kemiskinan bagi mereka yang giat berusaha) Cānakya Nītisāstra III.11.<br />
&#8220;Dhana-dhanya prayogesu vidyā samgrahanesu ca,<br />
Āhāre vyavahāra ca tyakta lajjāḥ sukhi bhavet&#8221;<br />
(Dalam urusan mencari beras dan dalam urusan keuangan,<br />
dalam hal menuntut ilmu, dalam hal menikmati makanan dan<br />
dalam hal berdagang, orang hendaknya meninggalkan rasa malu.<br />
Orang tersebut akan memperoleh kebahagiaan). Cānakya Nītisāstra VII.2.<br />
Demikian pula mahaṛṣi Vararuci dalam kitabnya Sarasamuccaya menyatakan:</p>
<p>&#8220;Lawan tekaping mangarjana, makapagwanang dharma ta ya&#8221;<br />
Sarasamuccaya 261.<br />
(Dan cara memperoleh sesuatu, hendaknyalah senantiasa berdasarkan Dharma (kebenaran dan kebajikan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berdasarkan uraian tersebut di atas, juga kutipan terjemahan mantra Veda yang kami sampaikan dalam pendahuluan tulisan ini, ternyata ketekunan bekerja, bekerja dengan penuh kejujuran, termasuk tidak perlu malu dalam hal berusaha yang benar (halal) atau sesuai dengan ajaran Dharma. Ajaran agama Hindu memberi motivasi untuk berusaha, untuk itu sebenarnya bisnis, sebagai satu kegiatan perekonomian adalah wajar dan patut ditinjau dari sudut pandang agama Hindu, sepanjang di dalamnya atau kegiatan tersebut tidak merugikan konsumen, tidak ada unsur penipuan atau ketidakjujuran.<br />
Selanjutnya bila kita tinjau dari sudut pandang hukum Hindu, distributor independen, produsen dan konsumen seperti tergabung dalam satu perserikatan, yakni dengan pemberian diskon atau bonus kepada distributor independen dan konsumen pada derajat tertentu keberhasilannya melakukan penjualan. Hukum Hindu yang mengatur ketentuan tentang perserikatan atau perjanjian kerjasama atau penjualan bersama, termasuk dalam Vyāvaharapāda (titel hukum): Sambhūya-Samutthāna yang artinya perusahaan kerjasama atau persekutuan. Maksudnya adanya usaha kerja sama dengan para pihak, antar produsen atau antara produsen dengan distributor dan bahkan dengan konsumen. Di dalam Bṛhaspati Smṛti diamanatkan persyaratan orang yang patut diajak kerja sama atau bekerja sama dalam membuat sekaligus memajukan perusahaan, yakni: &#8220;orang-orang dari keluarga yang baik (integritasnya tidak diragukan), orang-orang yang cerdas, terdidik, penuh aktivitas, rajin, fasih mengelola keuangan, ahli dalam mengatur pengeluaran dan pemasukan, jujur, memiliki keberanian, bertanggung jawab, dan perusahaan perserikatan atau joint venture, hendaknya jangan dikelola oleh orang yang yang ahli dan rajin dengan partnernya yang lemah, malas, orang yang sedang menderita karena penyakit, orang yang tidak memiliki keberuntungan, atau orang yang sangat melarat&#8221;(Bṛhaspati Smṛti dalam Sacred Books of the East, vol.33 p.336 verses 1-2).<br />
Terjemahan sloka tersebut patut kita dikaji kembali, yakni orang-orang dari keluarga baik, maksudnya jangan sampai bekerja sama dengan mereka yang reputasinya tidak baik di dunia bisnis, di samping keseimbangan antar partner, jangan bekerja sama dengan orang yang malas, atau sedang menderita penyakit yang berat atau orang yang sangat melarat, dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan dan banyak bukti di masyarakat, bekerja sama dengan orang yang demikian sering mengalami kegagalan disebabkan tidak ada keseimbagan dalam kerjasama. Dalam kitab-kitab Dharmasāstra diatur pula kewajiban para pihak yang diajak bekerja sama, termasuk dalam hal perusahaan mengalami kerugian karena berbagai faktor, misalnya ditimpa musibah, atau adanya peraturan baru dari pemerintah. Penjualan asset dan lain sebagainya. Selanjutnya bisnis bila kita tinjau dari ajaran karma (Karmayoga dalam Bhagavadgītā), maka melakukan kerja apapapun yang dipandang benar menurut ajaran agama hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan, kebaktian, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berikut kami kutipkan śloka yang menegaskan hal tersebut:<br />
&#8220;yat karosi yad asnāsi yaj juhosi dadāsi yat,<br />
yat tapasyasi kaunteya tat kurusva mad arpanam&#8221;<br />
(Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau makan,<br />
yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan. Displin diri<br />
dan pertapaan apapun yang engkau lakukan, laksanakanlah wahai<br />
Arjuna, hanya sebagai bentuk bhakti dan persembahan kepada Aku). Bhagavadgītā IX.27<br />
Adapun maksud sloka di atas adalah melakukan segala tugas dan kewajiban atau pekerjaan dan disiplin diri hanya sebagi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karma Marga atau jalan kerja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa berawal dari melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Segala usaha bila dilakukan dengan sebaik-baiknya, tentunya akan mendapat rakhmat dari Tuhan Yang Maha Esa.<br />
Masih relevankah ajaran agama pada jaman Kaliyuga ini? Pertanyaan ini muncul karena kenyataan hal-hal yang bersifat normatif sebagai pembimbing moral sering dilanggar oleh umat manusia. Di dalam berbagai kitab Purāṇa ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Pariksit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (Gambirananda, 1984 : XIII). Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kāma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia. Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka. Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur. Di mana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran. Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda Purāṇa , XVII.1, antara lain pada: minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas. Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran), di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan. Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya mirip dengan penggambaran Viṣṇu Purāṇa , sebagai berikut :<br />
&#8220;atha evā bhijana hetuḥ, dhanam eva asesadharma hetuḥ<br />
abhirucir eva dāmpatyasambandha hetuḥ, anṛtam eva<br />
vyavahjayaḥ strītvam eva&#8217;pabhoga hetuḥ&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
&#8230;&#8230;..brahma sūtram eva vipratve hetuḥ lingga dhāranam<br />
eva asrama hetuḥ&#8221;<br />
Viṣṇu Purāṇa IV. 24. 21-22.<br />
(Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan<br />
status sosial/kemewahan bagi seseorang, materi menjadi dasar kehidupan<br />
kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,<br />
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya<br />
sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan<br />
spiritual).<br />
Walaupun jaman Kaliyuga ini digambarkan seperti tersebut di atas, seseorang akan memperoleh keselamatan bila ia menyadari makna penjelmaan serta senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menyadari dan mencermati makna penjelmaan, seseorang akan tekun melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama, khususnya nilai-nilai moralitas sebagai usaha untuk memberi makna terhadap penjelmaan ini. Kitab Sarasamuccaya, karya mahaṛṣi Vararuci, menjelaskan bahwa kesempatan untuk menjelma sebagai manusia sangat sulit untuk diperoleh, oleh karena memanfaatkan penjelmaan ini untuk merealisasikan ajaran Dharma (Dharmasādhana) dalam hidup ini adalah mutlak :<br />
&#8220;Sebab hanyalah manusia yang mampu mengentaskan dan memperbaiki dirinya dengan jalan berbuat baik (subhakarma). Amat sulit memperoleh kesempatan untuk menjelma (lahir) sebagai manusia, oleh karena itu setiap orang hendaknya dapat mensyukurinya.<br />
Orang yang tidak memanfaatkan penjelmaan inidengan baik keadaannya seperti orang yang sakit pergi kesuatu tempat yang tidak memberikan pertolongan atau obat.<br />
Penjelmaan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas hidup seperti halnya meniti tangga menuju sorga. Penjelmaan ini walaupun singkat, bagaikan kerdipan petir, hendaknya dimanfaatkan untuk melaksanakan Dharmasādhana, yakni merealisasikan (mewujudkan pengamalan Dharma) yang akan memberikan pahala berupa kebahagiaan yang sejati dan kalepasan (Moksa). Orang yang tidak melaksanakan Dharma sādhana, akan jatuh ke lembah neraka. Orang yang tidak berusaha melepaskan diri dari ikatan penjelmaan di dunia ini dinyatakan tetap dalam penderitaan (Sarasamuccaya, 2-12).<br />
Dengan menyadari makna penjelmaan ini serta kesadaran Sang Hyang Ātma (Sang Diri) yang terbelenggu oleh badan, maka seseorang akan berusaha menyucikan hidupnya, yang senantiasa akan berpegang teguh kepada nilai-nilai moralitas dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada jaman Kaliyuga, jalan yangpaling mudah dilakukan untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan : Japa, Dhyana dan Seva (Padasevanam). Japa adalah mengulang-ulang mantra atau nama suci Tuhan Yang Maha Esa, Dhyana adalah memusatkan diri kepada-Nya dan Seva memberikan pelayanan kepada masyarakat, memandang anggota masyarakat sebagai ciptaan-Nya. Banyak ajaran yang mengandung nilai-nilai moralitas yang tinggi dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya, yang intinya menuntun manusia untuk mencapai tujuan tertinggi (Moksa) dan kesejahtraan hidup (Jagadhita) di dunia ini. Bila seseorang menyadari bahwa setiap perbuatan akan menghasilkan pahala baik atau buruk:<br />
&#8220;punye vai punyena karmanā bhavati pāpaḥ pāpeti&#8221; &#8220;sādhukari sādhur bhavati pāpakari pāpo bhavati&#8221; (Bṛihadāranyaka Ūpaniṣad III.2.13 &amp; IV.4.5.)<br />
(Yang dipuji adalah Karma. Sesungguhnya yang menjadikan orang itu berkeadaan baik,adalah perbuatannnya yang baik dan yang menjadikan orang itu berkeadaan buruk adalah perbuatannya yang buruk. Seseorang akan menjadi baik, hanya dengan berbuat kebaikan dan seseorang menjadi papa karena berbuat jahat).<br />
Menyadari bahwa setiap perbuatan memberikan pahala baik atau buruk, mereka yang memiliki kesadaran rohani senantiasa ingin mengamalkan ajaran Dharma dan menghindarkan diri dari perbuatan buruk, untuk itu nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam ajaran agama senantiasa memancar dalam tingkah laku dan perbuatannya dapat menjadi motivasi dan inspirasi dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Demikian pula berkaitan dengan bisnis, bila dilakukan sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilandasi dengan penuh keihklasan, maka bisnis merupakan salah satu jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan ini kami kutipkan pula pernyataan Svami Vivekānanda seratus tahun yang lalu: &#8220;Your hand on work, but your heart o God&#8221;, tangan menghadapi pekerjaan (apapun) namun hati hendaknya senatiasa menghadap Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Om Santih Santih Santih Om</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/488/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=488&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/11/02/management-keuangan-menurut-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>USADA DALEM (Transkrip huruf Latin &amp; Terjemahan Bahasa Indonesia)</title>
		<link>http://dharmavada.wordpress.com/2011/06/08/usada-dalem-transkrip-huruf-latin-terjemahan-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://dharmavada.wordpress.com/2011/06/08/usada-dalem-transkrip-huruf-latin-terjemahan-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 05:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dharmavada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka Hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dharmavada.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Selesai ditranskrip ke dalam huruf Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia  Oleh: Tantrayana Gautama, Budha Cemeng Ukir, 21 Januari 2009 (1b)  Ong Awighnāmāstu. Patngëran tlas ring kapatin, iti wariga dalëm, ning nghājñanā, hana pūrwwā bhumi ring bwanālit, apan hanājñanāntāgring tan kawaśa tinggal, tlas sanghyang urip wus atinggal. Malih yan wus karaśā tëtngëran mwang ngacicidrā, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=483&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong><strong></strong></p>
<p align="right">Selesai ditranskrip ke dalam huruf Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia</p>
<p align="right"> Oleh: Tantrayana Gautama, Budha Cemeng Ukir, 21 Januari 2009</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page01.htm#B">(1b)</a>  Ong Awighnāmāstu. Patngëran tlas ring kapatin, iti wariga dalëm, ning nghājñanā, hana pūrwwā bhumi ring bwanālit, apan hanājñanāntāgring tan kawaśa tinggal, tlas sanghyang urip wus atinggal. Malih yan wus karaśā tëtngëran mwang ngacicidrā, ikā druwā wwang mangkanā. Iti lwir rikang hoṣadhi. Nihan patngëraning wiṣya, lwirnyā, yen tan pabhayu, upas tahunan kaglarani, śa, wah jruk, gulā, hisin rong, pipis patiwyā hinum. Yen kuning kukunya, kërikan gangśa glarani, śa, </em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page01.htm#B">(1b)</a>   Ya Tuhan Semoga terhindar dari segala rintangan. Tanda- tanda kematian pada orang yang akan meninggal, ini <em>Wariga Dalem</em> , (bersumber) dari pengetahuan sejati, tersebut sejak semula dalam tubuh manusia terdapat kandungan alam semesta, sebab sumber penyakit senantiasa melekat, setelah Sanghyang Atma meninggalkan badan baru dia akan pergi. Dan lagi jika sudah merasakan dan memahami tanda-tanda (tentang) penyakit , itu hendaknya diketahui oleh manusia. Ini di antaranya ilmu tentang pengobatan. Inilah tanda-tanda tentang penyakit, di antaranya, jika nafas hampir meninggalkan raga, upas tahunan menyakiti, sarana, buah jeruk, gula, <em>isinrong</em> (rempah-rempah), dilumat, airnya diminum. Jika kukunya (tampak) kuning, <em>krikan gangsa</em> , (sumber) penyakitnya, sarana,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page02.htm">(2a)</a>  ëñc</em><em>a</em><em>h bebek, kunir warangan, tahap. Yen jnar śocanyā asa bāng, upas dewek kaglaranin, śa, carmmān poh hijo, lunak tanëk, wenya bayëm puring, inum. Yen matrā kukunya karawat bang, upasing hyang nglaranin, śa, jukut raṣṭi, adas, bawang tambus, inum. Maka bāng, kadi mtu, kawaśa uyang, pipilingan kadi cinlëk, kuku bhirū u-pas manglarā, tawarën. Tluntu yogah agatël, knā warangan ika, kukurah indening yeh angët, gumigil tan pantarā turra wa –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page02.htm">(2a)</a>   air kencing itik, kunyit <em>warangan</em> , di minum. Jika matanya kuning kemerah-merahan, <em>upas dewek</em> yang menyakiti, sarana, kulit mangga hijau, asam yang direbus, air bayam <em>puring</em> , diminum. Jika mata kukunya tampak kemerahan, upas Hyang yang menyakiti, sarana, akar paku nasi, adas, bawang yang dipanggang, diminum. Mata merah, seakan hendak keluar, senantiasa gelisah, pelipis mata bagai ditusuk, kuku (tampak) biru, racun yang menyebabkan, hendaknya diobati. Gigi goyah dan gatal, itu terkena racun <em>warangan</em> , dikumur dengan air hangat, menggigil kedinginan, dan batuk</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page02.htm#B">(2b)</a>  _tuk tan pantarā, kna raratus, śa, rwan pucuk putih tan patlak saka wit, hinum, japan dening mantran panawar, wdaknyā rwa ning katepeng, tutuhnyā wdak dahuti, kasisat putih, sari kuning, kalëmbak kāsturi, puhhaknā. Yan gumtër paglaning tanganyā, knā ctik ika, pūhhaknā, wnang tinawar. Yan kna, cṭik upasmat, śa, candāna, hasat ring dulang dulang dulangan, tain ñlati, cārmman bëngkël, cārmman këndal, sami panggang haywā winālik, pipis, we bayu wenyā, hinūm, ma, Ong hayu gumi, kewu hana janma manuṣā, </em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page02.htm#B">(2b)</a>   yang terus menerus, terkena <em>raratus</em> (campuran racun), sarana, daun kembang sepatu putih termasuk akar, daun dan kulitnya, diminum, dimantrai dengan mantra penawar, borehnya daun ketepeng, ditetesi <em>boreh dahuti</em> , <em>kasisat</em> putih, <em>sari</em> kuning, <em>klembak, kasturi</em> , teteskan, jika pergelangan tangannya terasa gemetar, itu terkena <em>cetik</em> (racun), teteskan, hendaknya diobati. Jika terkena <em>cetik</em> (racun) <em>upasmat</em> , sarana, cendana digosokkan pada dulang, tahi nylati (sari-sari tanah), kulit pohon <em>bengkel</em> , kulit pohon <em>kendal</em> , semua dipanggang tanpa dibalik, dilumatkan, air saringan airnya, diminum, mantra<em> , </em><em>O</em><em>ng hayu gumi, kewu hana janma manusa,(Ya dunia sejahtera, ada manusia, ada sinar dunia, ada sinar manusia, Bhatara ada manusia, mencari kesaktian, mantraku ampuh dan berhasil)</em></p>
<p><span id="more-483"></span></p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page03.htm">(3a)</a>  tejā bhūmi hana teja manūṣā, bhatara hana manūṣā, amlaku kaśakten, makāsiddhā siddhi mandi mantranku. Gring angrintik ring jro wtëng kadi siwul, knā upas ika, glisang tawar, yan masih angrintik, gringnyā, knā upas bantën ika, śa, mbutan gdang tambus, uyah arëng, takap dusdhus dening gumpang kāng ngagring upasing kbo ingël anglarani, tan dadyāngucap mingel kewalā, śa lënghārungan, bawang pṭak tunggal, padang lëpas, ma, ong bëngkëk. Ta, kna wiṣyā, śa, rwaning</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page03.htm">(3a)</a>   <em>teja bhumi hana teja manusa, bhatara hana manusa, amlaku kasakten, makasiddha siddhi mandi mantranku</em> , Sakit melilit di dalam perut seperti lembam, itu terkena <em>upas</em> (racun), cepat diobati, jika masih melilit, sakitnya, itu terkena <em>upas banten</em> , sarana, buah pepaya muda dipanggang, arang dapur, ditutupi dengan asap dari dedak padi terhadap orang yang terkena sakit, upas <em>kbo ingel</em> yang menyakiti, tiada dapat berkata senantiasa diam, sarana, minyak <em>arungan</em> , sebiji bawang putih, padang lepas, mantra, <em>ong bengkek (Ya cebol)</em>. Obat, terkena racun, sarana, daun –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page03.htm#B">(3b)</a>  dapdap, rwaning tingkoh ne ngūddha, who tingkih, bawang, tmu tis, urapaknā. Malih, śa, mbungnging dapdap tis, santen, ktan gajih, adas, ma, Ong cṭik tiwang galūghā atal putih, cṭik tiwang sawari putih, mantrā śaliwah putih, takëp cṭik tiwang śaliwah putih, mantrā kaddhi arëp, manik, śa, babakan pule, santën, gintën, sāri, kasuna jangū, pipis patinya inum, ma, Ong cṭik tiwang galugā, cṭik tiwang macan punah, cṭik tiwang kbo putih punah, cṭikti bhūtha ya punah, gsëng sira gsëng, campa tebah cabar. Ta, knā upas sanghyang, śa, paya puwuh, klapa, kunir</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page03.htm#B">(3b)</a>   dadap, daun kemiri yang masih muda, buah <em>tingkih</em> , bawang, <em>temu tis</em> , diborehi. Lagi , sarana daun muda dadap tis (yang tidak berduri), santan, <em>ketan gajih</em> , adas, mantra, <em>ong ctik tiwang galuga atal putih, ctik tiwang sawari putih, mantra saliwah putih, (Ya racun tiwang galuga, racun tiwang sawari putih, mantra saliwah putih),</em> diminum. <em>Cetik tiwang saliwah putih</em> , mantranya seperti tersebut di atas. Lagi, sarana, kulit pohon <em>pule</em> , santan, <em>ginten</em> , sari , bawang putih dan <em>jangu</em> (jerangau), dilumatkan perasannya diminum, mantra, <em>ong ctik tiwang galuga, ctik tiwang macan punah, ctik tiwang kbo putih punah, ctik bhuta ya punah, gseng sira gseng , campa tebah cabar (Ya racun tiwang galuga, racun tiwang macan punah, racun tiwang kebo putih punah, cetik Bhuta juga punah, bakar ia bakar, agar tidak berguna lagi)</em>. Obat, terkena upas Sanghyang, sarana, <em>paya puwuh</em> (peria yang buahnya kecil-kecil), kelapa, kunyit-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page04.htm">(4a)</a>  warangan, adas, pipis inum, ma, Ong awuning karuyu kahlā, amadëmi wong, wruh aku ring kamulanmu tka tawar, 3, awu ning kbo gule amadëmi wong, wruh aku ring kamulānku, tka tawar, 3, awuning kbo dungkul kule, amadëmi wong, wruh aku ring kamulanku, tkā tawar, 3, awuning upas sanghyang, amadëmi wong, wruh aku ring kamulanku, tka tawar, 3, siḍdhi mantranku. Ta. Knā wisya, śa, rwa ning kwañji, yeh bras, bawang, pulasahi, patinya tahap. Malih, śa, lublub tingkih, candanā ingasab, santën kane, isinrong, maja kane, tahap. Malih, śa, akah dapdap, rwaning sëmbung, kuwud kumruk, wdak ring kulaknya wong kabeh, gagam-bi –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page04.htm">(4a)</a>   warnanya kemerahan, adas, di lumat kemudian diminum, mantra, <em>ong awuning karuyu kahla, amademi wong, wruh aku ring kamulanmu tka tawar, 3 x, awuning upas sanghyang, amademi wong, wruh aku ring kamulanku, tka tawar, 3x, siddhi mantranku (Ya abunya karuyu ditelan, mematikan manusia, aku tahu dari asalmu datang, jadilah tawar,3x, abunya racun Sanghyang, mematikan manusia, aku tahu dari asalku, jadilah tawar,3x, demikian pula abu racun kebo gule, kebo dungkul kule, ampuhlah mantraku)</em>. Obat, terkena racun, sarana, daun <em>terung kuanji</em> , air beras, bawang, pulasari, perasannya diminum. Lagi, sarana, <em>lublub tingkih</em> (kerikan pada tangkai pohon kemiri), air gosokan cendana, santan <em>kane</em> (parutan kelapa tanpa diisi air / santan kental), <em>isinrong</em> (rempah-rempah), <em>majakane</em> (sejenis buah maja), diminum. Lagi, sarana, akar pohon dadap, daun sembung, buah kelapa muda, diborehkan pada keseluruhan badan, gagambi-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page04.htm#B">(4b)</a>  - ran, patinya tahap Upas ring rambat denyānglara, panas mauyangayingan, śa, tbu, yeh bwah, bakūng, kasunā, patinya inum. Ta, mtu nanah gtih sapanangkanyā, śa, inan kunyit, warangan, ckuh, gamongan, isen, rwaning truk </em><em>ny</em><em>a</em><em>ny</em><em>ah, patinyā tahap, worana sari lungid. Lamun amangan, carmman campakā pinanggāng, mantrāning mantran tuju. Ta, mtu nanah sapanangkanyā, śa, wwaning tuju mūkṣā, sëmbung, isen, sāri ingid, santë, inūm. Ta, mtu rah saking bagā, śa, gamongan këdis, yeh </em><em>ny</em><em>o</em><em>ny</em><em>o, tmu tis, waluh pait, wwe cukā, tahap. Ta, ngamdalang rah</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page04.htm#B">(4b)</a>   ran (rempah), perasannya diminum. Racun / upas rambat yang mematikan, panas menggelisahkan, sarana, tebu, air buah pinang, bakung, bawang putih , perasannya diminum. Obat, keluar nanah dan darah di berbagai tempat pada badan, sarana, <em>inan</em> kunyit <em>warangan</em> (kunyit yang sudah tua), kencur, lempuyang, lengkuas, daun jeruk yang disangrai , perasannya diminum, di campurkan sari <em>lungid</em> , jika hendak dimakan, kulit pohon cempaka dipanggang, dimantrai dengan mantra tuju (rematik). Obat, keluar nanah di berbagai tempat pada badan, sarana, daun <em>tuju musna</em> , <em>sembung</em> , lengkuas, sari <em>lungid</em> , santan, diminum. Obat keluar darah dari vagina, sarana, gamongan kedis (lempuyang yang umbinya kecil-kecil), air susu ibu, <em>temu tis</em> , labu pahit, air cuka, diminum. Obat, mengeluarkan darah</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page05.htm">(5a)</a>  buuk, śa, jruk purut, inūmaknā. Ta, rare, mdalakën rah, śa, toktokan </em><em>ny</em><em>uh sari, pulāsahi, inum. Ta, mtu rah, śa, lunak tanëk, palit uyah, santën kane, gulā inūm. Ta, anguyah rah, śa, isin rong, kapūr, madhū, kayu manis, carmman aśokā natar, patinyā inum. Ta, nguyah rah, śa, micā, rwaning uyah &#8211; uyah, pule, asëm taun, bawang adas, tahapaknā. Manih, śa, yanyākaya taji &#8211; tajin rupa ning rah inguyah, maka sadanā, pupusing pisang warangan, samuṣṭi da</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page05.htm">(5a)</a>   kotor, sarana, jeruk purut, diminumkan. Obat, anak yang mengeluarkan darah, sarana, <em>toktokan nyuh</em> sari (kulit akar kelapa hijau), pulasari, diminum. Obat, mengeluarkan darah, sarana, lunak <em>tanek</em> (asam rebusan), <em>palit uyah</em> (garam yang mengkristal), santan <em>kane</em> (perasan kelapa diparut tanpa air/ santan kental), gula, diminum. Obat, pendarahan, sarana, <em>isinrong</em> (rempah), kapur, madu, kayu manis, kulit pohon asoka, perasannya diminum. Obat, pendarahan, sarana, merica, daun uyah-uyah, <em>pule</em> , asam tahun (asam yang diawetkan), bawang, adas, perasannya diminum. Lagi, sarana, pangkal daun andong yang berwarna keputihan, adas, diminumkan. Lagi, sarana, jika banyak mengeluarkan darah dan tidak putus-putusnya, maka sarananya, jantung buah pisang <em>warangan</em> (yang kemerahan) seibujari pan –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page05.htm#B">(5b)</a>  wanyā, rajah, i i, yenyā amucang, laris pinangan, waras denyā. Ta, drasānguyah sarupanyā, śa, wwaning pulët, akah silāguwi, sari lungid, majakane, majakling, tañjung raab, uyah arëng, patinya tahap. Ta, tuju raṣā, bngang, mtu gtih nanah sapanangkanyā, śa, carmman klampwak ptak, isen, candana, sarin pucuk, majakane, inūm manih, śa, carman karesek, carman kalëpu, sëmbung bëndā, murëmëk daging, gintën, mahmah patinya tahap. Ta, manguyuh rah bngang, mwang raṣā, śa, akah ñuh bang, jarak bāng, micā, 9, bsik, sārin padi, katu –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page05.htm#B">(5b)</a>   jangnya, dirajah, jika dipetik, kemudian dimakan, sembuh karenanya. Obat, mengeluarkan darah segar dan sejenisnya, sarana, daun <em>pulet</em> , akar <em>sidaguri</em> , <em>sarilungid</em> , <em>majakane</em> , <em>majakeling</em> , <em>tanjung raab</em> , arang dapur, perasannya diminum. Obat, tuju raja bengang, keluar nanah dan darah di mana-mana, sarana, kulit pohon jambu <em>kalampwak</em> putih, lengkuas, cendana, sari kembang sepatu, <em>majakane</em> , diminum. Lagi, sarana, kulit pohon <em>karesek</em> , kulit pohon <em>kalepu</em> , <em>sembung benda</em> , semua diremas isinya, <em>ginten</em> , dikunyah, perasannya diminum. Obat, pendarahan kritis, dan rasa, sarana, akar kelapa merah (<em> nyuh</em> udang), pohon jarak merah, merica, 9, butir, sari padi, ketum-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page06.htm">(6a)</a>  - mbah babolong, bras bāng, wjakaknā. manih, śa, wwaning antawas, gintën, dresan, sārin padi, urapaknā. Ta, añangañangan, śa, rwaning tasikan, 21, bidang, rwan bayëm luhur, 21, bidang, rwan kaliki, binakar, rwaning pule, 21, bidang, patinya tahap. Manih, śa, isen kapur, tingkih isinrong, inum, ampase urapaknā, waras denyā. Ta, beser, śa, kambo &#8211; kambo, kuñit, urap sikṣikanyā. Manih, śa, kuñit madhū, tinakëh, inum, arapa wnang. Manih, śa, gamongan, 7, iris, micā, 7, bsik,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page06.htm">(6a)</a>   bar, beras merah, diaduk (dicampur). Lagi, sarana, daun <em>antawas</em> , <em>ginten</em> , dresan, sari padi, diborehkan. Obat, anyang-anyangan (sebentar-sebentar kencing), sarana, daun <em>uyah-uyah</em> , 21 lembar, daun <em>bayam luhur</em> , 21 lembar, daun <em>kaliki</em> , dipanggang, daun <em>pule</em> , 21 lembar, perasannya diminum. Lagi, sarana, lengkuas kapur, kemiri, rempah-rempah (<em> isinrong</em> ), diminum, ampasnya dilulurkan, sembuh akibatnya. Obat, beser (kencing tanpa mengenal waktu : mimpi basah), sarana, <em>kambo-kambo</em> , kunyit, dilulurkan pada sekitar bawah pusar. Lagi, sarana, kunyit, madu, takarannya sama, diminum, dilulurkan juga dapat. Lagi, sarana, lempuyang, 7, iris, merica, 7, butir</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page06.htm#B">(6b)</a>  uku -uku, yeh angët, inūm. Ta, karangan, śa, wwaning ñuh, wwan unhusilit, tka ning rwanyā, wwaning rāja tangi, limo bali, wenyā, inum. Ta, nggarëgës, anguyuhakën rah, śa, carmmān dapdap tis, mwang lublubnyā, micā, 1, yeh aron &#8211; aron, tahap. Ta, ngrëgës anglampuyöng, śa, panggaga, tëbu, katimayā, tain we, bañu, ma, ong kita upas baruwang, ki ingundurakën, dening katimayā, apan panangkāntā saking nūṣā kling, undur ta salutapa lungha ṣanūtangin tahap. Ta, ngrëgës alëtih, śa, lunggahing kayu jok, linmëng, palapah</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page06.htm#B">(6b)</a>   <em>uku-uku (lampes , ruku-ruku</em> ) , air hangat, diminum. Obat, karangan, sarana, daun kelapa, daun <em>unhusilit</em> , sampai pada daunnya, daun <em>raja tangi</em> , <em>limau bali</em> , airnya , diminum. Obat , badan kurus, mengeluarkan darah, sarana, kulit pohon <em>dadap tis</em> , dan kerikannya, merica, 1, air <em>aron-aron</em> (air kukusan nasi), diminum. Obat, kurus kepala pusing, sarana, <em>panggaga</em> , tebu, <em>katimaya, tain we</em> (kotoran yang mengendap di dasar sungai berwarna kuning), air, mantra, <em>ong kita upas baruwang, ki ingunduraken, dening katimaya, apan panangkanta saking nusa kling, undur ta salutapa lunga sanutangin (Ya engkau racun baruwang, Ki mengundurkannya, oleh katinaya, karena asalmu dari Nusa Kling, mundurlah Salutapa, pergi mengikuti angin)</em>. Diminum. Obat, kurus lesu, sarana, cabang kayu <em>jok</em> , direndam, dengan</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page07.htm">(7a)</a>  nyā isen, pāsuk tahap. Ta, tuju bok mwang bngāng, śa, lampëni putih, sakawit, nyu tunu, bawang tambus, adas, ma, ong bolaning wong, bol mëngkëm, nañëh mnöng, pramaṇā mantram, 3. Ta, mising nanah, śa, carmman twi bāng, ligundi, kusambi, ampo, yeh angët, inūm. Ta, mising, śa, asaban iñjin, adas, tahap. Manih, śa, carmman twi bāng, pulan gulā, panggang haywā winalik, inum. Ta, malolos, śa, muñcuk simbukan, bangle, 3, iris, gintën cmöng, tahap. Ta, mjen, śa, gu –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page07.htm">(7a)</a>   air lengkuas, diminum. Obat <em>tuju bok</em> dan <em>bengang</em> , sarana, <em>lampeni</em> putih, lengkap dengan kulit dan akarnya, kelapa di bakar, bawang di peps, adas, mantra, <em>ong bolaning wong, bol mengkem, naneh mnong, pramana mantram, 3x (Ya duburnya manusia, dubur sembunyi, dan diam, mantra pramana,3x)</em>. Obat berak nanah, kulit pohon tui bang, ligundi, kusambi, ampo, air hangat, diminum. Obat mencret, sarana, rendaman <em>injin</em> (ketan hitam), adas, diminum. Lagi, sarana, kulit pohon <em>tui bang</em> , sari gula, dipanggang jangan dibalik, minum. Obat, loyo, sarana, pucuk simbukan, <em>bangle</em> , 3, irisan, <em>ginten</em> hitam, diminum, Obat, mien (dysentery), sarana, gu-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page07.htm#B">(7b)</a>  - lā, nyuh, bras agëmël, pangan. Malih, śa, yeh bayu, inūm, ma, ong barah mintar, bañu mintār, bañu saking sāgarā, tkā sirëp bañu agung, siddhi mantranku. Ta, lëlëngëdan, śa, bangsing waringin, tëbu cmëng, santën gulā, inum, ma, ong pjen angamuk sakwehing lara ring jro wtöng, padha ngamūk puput dening hyang tayā, wars, 3. Ta, mising lëlëdan, swe tan waras, śa, kulit bwah dalimā, rëb kaya samsam, ñañah den ratöng, brañañah ratëngāng, woring sāwaṭarā, dhuhing toyā, ñañah den ratöng, brañañah ratëngang, woring sāwaṭarā, dhuhing toyā, yopok ning pāyuk yoyuh</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page07.htm#B">(7b)</a>   -la, kelapa, segenggam beras, dimakan, lagi, sarana, <em>yeh bayu</em> (air saringan) , diminum, mantra, <em>ong barah mintar, banu mintar, banu saking sagara, tka sirep banu agung, siddhi mantranku (Ya barah pergi, air pergi, air dari laut, datang tidurlah air besar, ampuh mantraku)</em>. Obat, mengeluarkan darah dan nanah, sarana, akar gantung pohon beringin, tebu hitam, santan , gula, diminum, mantra, <em>ong pjen angamuk sakwehing lara ring jro wtong, padha ngamuk puput dening hyang taya, wars, 3x (Ya sembelit mengamuk segala sakit di dalam perut, pada mengamuk diselesaikan oleh Hyang Taya, sembuh,3x)</em>. Obat mencret mengeluarkan darah dan nanah, lama tidak sembuh, sarana, kulit buah delima, cincang seperti <em>samsam</em> , disangrai hingga matang, setelah disangrai sampai matang, dicampur dan diaduk-aduk, dengan air hangat, kemudian lulurkan</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page08.htm">(8a)</a>  anya, tkeng wangkonge. Ta, mawatuk ngutah rah, śa, wwaning susukup, wwan tampak liman, patinya inūm. Ta, ckëkën, biyaknyā gtih mawor nanah, śa, akah këndal, wwan kasine, wwaning warū, gula, gintën, kulabët, tmu, lunak bau plut, wenya inūm. Ta, mokan malëpus, bungah mambahang, mokan lëplëp, nga, śa, carmman jwet, cārmman kusambi, tain ñulati, wor pipisaknā, lepaknā. Ta, mokan ring jro, muñi mëtu sërëg, śa, isen, kapur, cārmma buu, bras bāng, 21, bṣik, dui wrak, lepaknā.</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page08.htm">(8a)</a>   sampai pada pinggang. Obat batuk muntah darah, sarana, daun <em>susukup</em> , daun <em>tapakliman</em> , perasannya di minum. Obat batuk kronis ,bercampur darah dan nanah, sarana, akar pohon kendal, daun kasiden (pohon sampat-sampat), daun pohon waru, gula, <em>ginten</em> , kulabet, <em>temu</em> , asam yang baru dikelupas, airnya diminum. Obat bengkak di mana-mana, <em>bungah mambahang</em> , <em>mokan leplep</em> , namanya, sarana, kulit pohon juwet, kulit pohon kusambi, <em>sarin</em> tanah, dicampur dan dilumatkan, dilulurkan. Obat, bengkak dalam perut, suara keluar serak, sarana, lengkuas, kapur, kulit pohon <em>buu</em> , beras merah, 21, butir, duri <em>wrak</em> , dilulurkan.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page08.htm#B">(8b)</a>  Ta, mokan lëplëp, śa, juet sakawit, kālëpu sakawit, kayu sangkā, kuñit warangan, isen kapūr, sari podi, taning wangkong, katumbah, tingkih, trikātukā, cārmmān kusambi babakar haywā winalik, urapaknā. Ta, mokan ring jro, mokan bañu, nga, śa, bun ptingan, bangsing waringin, uyah &#8211; uyah macanggah, rwan tuju musnā, patinya tahap. Ta, mokan bësëh mangurëkurëk, mokan kakipi, nga, śa, mpuning tmu tis, katumbah, añjung raab, śa, trikātukā, sari podhi, tahap, së –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page08.htm#B">(8b)</a>   Obat, bengkak (<em> mokan leplep</em> ), sarana, pohon juwet lengkap dengan akan dan kulitnya, kalepu lengkap dengan akar dan kulitnya, kayu <em>sangka</em> , kunyit <em>warangan</em> , lengkuas kapur, sari podi, dilulurkan pada pinggang, ketumbar, kemiri, bawang merah bawang putih dan jerangan, kulit pohon kusambi, dipanggang jangan dibalik, dilulurkan. Obat , <em>mokan ring jro, mokan nanu</em> , namanya, sarana, akar <em>ptingan</em> , akar atas pohon beringin, <em>uyah-uyah</em> bercabang, daun <em>tuju musna</em> , perasannya diminum. Obat, <em>mokan beseh mangrekurek</em> , <em>mokan kakipi</em> , namanya, sarana, <em>temu tis</em> yang sudah tua, ketumbar, <em>tanjung raab</em> , sarana, bawang merah bawang putih dan jerangan / trikatuka , <em>sari podi</em> , diminum, disemburkan</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page09.htm">(9a)</a>  - mbar. Ta, mokan ring jro, ckëh &#8211; ckëh, mtu nanah, śa, kunir warangan, dui jruk linglang, makā tambā, tahap. Ta, mokan ring jro, mtu nanah, śa, kunir warangan, cārmmān pule, kayu batu, maswi, tumukus, 3, katumbah, lënga wijen, tahap, sëmbarnyā rwan tingkih dumlā, candana, lungid, maswi, tingkih. Ta, sakaluiraning mokan, antukën rah, ring cangkëm, ring irung, ring socā, ring purus, ring bhagā, ring silit, śa, rwan kasune, candanā, tanah ring tunggak, ampo, kulabët, gulā, gintën irëng, santën,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page09.htm">(9a)</a>   Obat, bengkak dalam perut, batuk-batuk, keluar nanah, sarana, kunyit <em>warangan</em> , duri jeruk nipis, sebagai obat, diminum. Obat, bengkak dalam perut, keluar nanah, sarana kunyit <em>warangan</em> , kulit pohon <em>pule</em> , kayu batu, <em>maswi, tumukus</em> , 3, ketumbar, minyak kelapa, diminum, disemburkan dengan daun kemiri muda, cendana, pohon kembang sepatu, <em>maswi</em> , kemiri. Obat, segala jenis bengkak, keluar darah dari mulut, hidung, mata, penis, vagina, dubur, sarana, daun <em>kesuna (dasun</em> ), cendana, tanah pada bekas tebangan kayu, <em>ampo kulabet</em> , gula, <em>ginten</em> hitam, santan,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page09.htm#B">(9b)</a>  lungid, patinyā tahap. Ta, wtöng, larāyan mokan ring jro, śa, kapkap, atin gamongan, isen kapūr, micā, bras utuh, sëmbarraknā. Ta, panas tis, śa, gamongan, lëngis tanūsan, pipis wdaknā. Manih, śa, jëbuggarūm, we ktan gajih, wdaknā. Ta, awak panas, śa, buah base, bras bāng, wdakaknā. Ta, panas marapah, śa, ñuh, adas, jruk linglāng, bloñokaknā. Ta, panas tis, śa, gamongan, tingkih, bawang, adas, pipis, përës, dadah, blo</em><em>ny</em><em>ohaknā. </em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page09.htm#B">(9b)</a>   pohon kembang sepatu, perasannya diminum. Obat, perut, sakitnya bengkak di dalam, sarana, <em>kapkap</em> , ati lempuyang, lengkuas kapur, merica, beras yang utuh, disemburkan. Obat panas dingin (demam), sarana, lempuyang, minyak kelapa, dilumatkan kemudian dilulurkan. Lagi, sarana, <em>jebuggarum</em> , rendaman air <em>ketan gajih</em> , dilulurkan. Obat, badan panas, sarana, buah sirih, beras merah, dilulurkan. Obat, panas biasa, sarana, kelapa, adas, jeruk nipis, dilumatkan. Obat, demam, sarana, lengkuas, kemiri, bawang, adas, dilumatkan, diperas, panggang hasil pelumatannya.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page10.htm">(10a)</a>  Ta, tan mtu pluh, śa, rwan pole, trikātukā, santënkane, kinla, bloñohaknā. Grah uyang, śa, papasan, padang lëpas, lunak tanëk, adas, dadah wdakanā. Ta, uyang ngulasah, buka panggang, śa, pule, bawang, adas, wwe jruk linglang, tahap. Ta, jampi agung, laranyā, mamëngkā, ring wtöng kaku, ring ulun ati sada ngangah, mwang nëk, makokokan tan pgat ṣada tngal, śa, akah kutat kdis, akah ñuh mulung ne ngūda, lublubuhu, kaworrin tasik, bawang matambus, bhālulang kbo, winasuhan da-</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page10.htm">(10a)</a>   Obat, tidak mengeluarkan keringat, sarana, daun pohon <em>pule</em> , bawang merah bawang putih dan jerangan, santan kental, panggang, dilumatkan. Panas gelisah, sarana, <em>papasan</em> , padang lepas, asam rebusan, adas, panggang kemudian dilulurkan. Obat, gelisah kebingungan, seperti kepanasan, sarana, <em>pule</em> , bawang, adas, air jeruk nipis, diminum. Obat jampi agung (sariawan panas dalam), sakitnya membengkak atau kaku, pada perut terasa kaku, pada hulu hati terasa perih, dan nek, batuk tiada henti dan kering, sarana, akar <em>kutat kedis</em> , akar kelapa hijau yang masih muda, dikerik, dicampur dengan garam, bawang yang dipepes, kulit kerbau dicuci dan</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page10.htm#B">(10b)</a>  -na brëśih, pes peṇdëm, tahap. Sëmbar ring waduk, mwang hulun ati, śa, babakan pule, ñuh matunu, tmu tis, katumbah, babolong. Ta, basang bëngkā, mwang warang, śa, mëmëniran, sumanggi gunung, cārmmān pule, wwe këtan gajih, tahap. Ta, larā wtöng, śa, asaban candanā, tingkih, bawang tambus, tahap. Manih, śa, jëbuggarum, cāndanā, ktan gajih, patinyā tahap. Ta, arak atakëh, madhu atakëh, cukā satakëh, imeh rahinā, sing lara wtöng, waras denyā. Ta, pamali, larā a-</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page10.htm#B">(10b)</a>   dibersihkan, dipanggang, diminum. Disemburkan pada perut, dan hulu hati, sarana, kulit pohon <em>pule</em> , kelapa yang dipanggang, <em>temu tis</em> , ketumbar, <em>babolong</em> . Obat, perut bengkak, dan kemerahan, sarana daun <em>kemenir, semanggi</em> gunung, kulit pohon <em>pule</em> , air <em>ketan gajih</em> , diminum. Obat, penyakit perut, sarana, gosokan air cendana, kemiri, bawang yang dipepes / panggang, diminum. Lagi, sarana, <em>jebuggarum</em> , cendana, <em>ketan gajih</em> , perasannya diminum. Obat, arak secukupnya, madu secukupnya, cuka secukupnya, dibiarkan sehari, yang sakit perut, sembuh karenanya. Obat, pemali (karena melanggar pantangan), sakit me-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page11.htm">(11a)</a>  - ngulët, ring wtöng, ring ati, awak pati pacëki, tan kwaśa mambëkan, śa, asaban cāndanā, tingkih, bawang tambus, tahap. Manih, śa, jëbuggārum, trikātukā, bantënang ring sëndining jinöng, mula lor wwetan, sembar gringe den aratā. Manih, śa, ron kasiden, ulung ngandon dadap, isen, kunir, tingkih, isindrong gnëp, sëmbar gënahing gring. Manih, śa, ulungan dapdap, gamongan, kunir, tingkih, bawang, sëmbar. Yenyāmacëk ring gigir,mwang ring dada, tūr manunggek, mwang mangrintih, tiwang pamali papasangan, nga, śa, carmmān, pule, tmu tis,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page11.htm">(11a)</a>   -lilit, pada perut, pada hati, tubuh seperti ditusuk, tiada kuasa menahannya, sarana, gosokan air cendana, kemiri, bawang yang di bakar, minum. Lagi, sarana, <em>jebuggarum, trikatuka</em> , dihaturkan pada telapak kaki (sandi) pada lumbung, menghadap ke timur laut, semburkan pada tempat sakit dengan merata. Lagi, sarana, daun kasiden, daun dadap yang sudah jatuh ke tanah, lengkuas, kunyit, kemiri, rempah-rempah lengkap (<em> isinrong</em> jangkep), semburkan pada tempat yang sakit. Lagi, sarana, daun dadap yang sudah jatuh ke tanah, lempuyang, kunyit, kemiri, bawang, semburkan. Jika menusuk pada bagian punggung, dan pada dada, dan jika bernafas terasa sakit, lagi melilit, <em>tiwang pamali pepasangan</em> , namanya, sarana, kulit pohon <em>pule</em> , <em>temu tis</em> ,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page11.htm#B">(11b)</a>  tingkih, ñuh matunu, sëmbar tahapaknā. Yan maśih yāgring, tiwang pamāli knā moro, nga, śa, bras, cabe krusuk, kasunā jangū, sëmbaraknā. Ta, pjën, śa, woning dmung, wan pucuk putih, bawang tambus, bañun bras, inūmaknā. Ta, śa, bangsing waringin, wwan siddhaguri, bawang, patinyā inūm. Ta, larā pjën, rwan sanggālangit, adas, tahap. Manih, śa, rwan katepeng, adas. Tambā, angising rah, śa, roning kapas sagëgëm, atin isen, atining ckuh, sëpet &#8211; sëpët.</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page11.htm#B">(11b)</a>   kemiri, kelapa di panggang, semburkan dan lulurkan. Jika masih terasa sakit, tiwang pamali kna moro, namanya, sarana, beras, cabai yang dipanggang, kesuna jangu, semburkan. Obat, <em>pjen</em> , sarana, cabang dadap yang muda, daun kembang sepatu putih, bawang yang di bakar, air beras, diminumkan. Obat, sarana, akar atas (<em> bangsing</em> ) pohon beringin, daun <em>siddhaguri</em> , bawang, perasannya diminum. Obat, sakit <em>pjen</em> , daun <em>sanggalangit</em> , adas, minum. Lagi, sarana, daun ketepeng, adas. Obat, mencret darah, sarana, daun kapas segenggam, isi lengkuas yang paling tengah (ati), <em>ati kencur, sepet-sepet</em> .</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page12.htm">(12a)</a>  Ta, wdak salwirraning tuju, śa, wwan kucubung kasyan, wwan campakā kuning, bangle, trikatukā, ulig. Ta, pamupug knā gunā, śa, kalëmbak kasturi, bayëm warak, candana jënggi, wwe tuli, isindrong, pipis den alëmbat, tingkah akāryyā, tngah ngwe bnër, pūhaknā irunge, mwang tatereknā. Ta, rah mtu ring ngirung, tan pgat, śa, rwaning wadharā guṇung, gajih yuyu kuningnyā, wwe jruk linglāng, patinyā inūmnyā. Ta, tuju ngamdalang nanah, saking bhāga, saking purus, śa, rwan kapā &#8211; kapā, tmu, gintën, sari lungid, patinyā </em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page12.htm">(12a)</a>   Obat, lulur segala penyakit tuju, sarana, daun kecubung kasyan, daun cempaka kuning, <em>bangle</em> , <em>trikatuka</em> , digerus. Obat, penyucian (panglukatan) terkena guna-guna, kulit pohon kasturi, tulang badak, cendana jenggi, air pada kayu berlubang (we tuli), rempah-rempah (isinrong), digerus sampai halus, cara membuatnya, tengah malam ditambahkan air, diteteskan pada hidung, dan diborehkan. Obat, darah keluar pada hidung, terus menerus, sarana, daun wadhara gunung, sari-sari kepiting berwarna kuning, air jeruk nipis, perasannya diminumkan. Obat, tuju mengeluarkan nanah (darah putih), dari vagina, penis, sarana, daun apa-apa, <em>temu</em> , <em>ginten</em> , sari lungid, perasannya di-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page12.htm#B">(12b)</a>  - num. Arappa tunggal, sarine norā milu, kinlā rumuhun. Ta, larā wtöng, mwang barah, śa, sömbung, pule, ñuh, sami bakār, sari, pulāsahi, adas, taluh siap añar, kuningnyā, ma, ong barah jampi, budëng kalingsih, tetemudan, yan barah jampi, budëng kalingsih antëga guruning śabdā, pupug punah, talu warsa. Ta, barah wus mangëndas, śa, babakan kusambi, candanā, gulā, santën, inūm. Ta, badaśā, śa, rwan kasimbukan, yeh angët, isen, ñuh, gintën</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page12.htm#B">(12b)</a>   -minum, yang satu diborehkan, bagian sarinya tidak diikutkan, di panggang terlebih dahulu. Obat, sakit perut, dan panas, sembung, <em>pule</em> , kelapa, semua di bakar, sari, pulasari, adas, telur ayam baru menetas, kuningnya telur, mantra, <em>ong barah jampi, budeng kalingsih, tetemudan, yan barah jampi, budeng kalingsih antega guruning sabda, pupug punah, talu warsa (Ya barah jampi, budeng kalinggih, tetemudan, jika barah jampi, budeng kalingsih berguru pada suara, hancurkan dan punah)</em>. Obat bengkak yang sudah keluar sumber sakitnya (nanah, darah dll), sarana, kulit pohon kusambi, cendana, gula, santan, diminum. Obat, bengkak, sarana, daun simbukan, air hangat, lengkuas, kelapa, <em>ginten</em> ,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page13.htm">(13a)</a>  sari, lungid, sëmbar, ma, ëmbah api ëmbah , biyas, lës kuliwës mampët, 3. Ta, sakit angūyuh, śa, rwaning ghgā sari, uyah arëng, giling, tahap. Ta, ngamdalang rah, ring śarirā, tuju būh putra, nga, śa, blimbing bulūh sakawit, woning taru mangūhut, yeh bungkak ñuh mulung, raginyā, marrëmëk daging, tahap. Ta, macëk &#8211; macëk, śa, isen candana kikih, bwang, bras putih, sëmbar. Ta, lara macëk, bungkil gdhang sabhā , lunak, santën kane, trasi bhang, ma, ong kaki komarā siddhi, añaluk tatambā macëk angërës amu</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page13.htm">(13a)</a>   sari, lungid (sari-sari kembang sepatu), semburkan, mantra, <em>embah api embah , biyas, les kuliwes mampet, 3x (mengalir api mengalir, pasir tumpah tersumbat,3x)</em>. Obat sakit kencing tiada henti, sarana, daun nagasari, garam dapur, digerus, minum. Obat mengeluarkan darah, pada bagian tubuh, tuju buh putra, namanya, sarana, buah belimbing buluh lengkap dengan akar kulit dan daunnya, daun pohon manguhut, air kelapa muda (bungkak) kelapa hijau (mulung), campurannya, rempah-rempah, diminum. Obat ditusuk-tusuk, sarana, lengkuas, cendana, dikikir, bawang, beras putih, semburkan. Obat, akar pisang sabha, asam, santan kental, terasi merah, mantra, <em>ong kaki komara siddhi, anjaluk tatamba macek angeres amu- (Ya Kaki Komara Sidhi, memohon obat kesedihan dan penderitaan, Kaki Komara Gana, mengobati semua penyakit, sembuh)</em></p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page13.htm#B">(13b)</a>  - lës larāti, buyanati, kaki komara gaṇā, anamba danā lara waras. Manih, śa, rwaning lirang kang anom, mpuning kunir, tingkih, jëntung, candanā, sëmbar. Ta, ngañcukring dada gigir, śa, tmu tis, dong bwang, glam, sëmbar. Ta, daging otot mangëñcöng, śa, ndungū, adas, sëmbar. Ta, edan doyan mangan, śa, paidhuh, sulaśih cmöng, ma, ong, arāh śipini, sārwwa, graha wini swahā. Ta, edan doyan mangan rahhinā wngi, tan warëg, śa, jruk linglang, rinajah sangkan paran, pūhaknā. Ta, edan mangigël, śa, mya –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page13.htm#B">(13b)</a>   <em>les larati, buyanati, kaki komara gana, anamba dana lara waras.</em> Lagi, sarana, daun <em>lirang</em> yang masih muda, air kunyit, kemiri <em>jentung</em> , cendana, semburkan. Obat, menusuk-tusuk pada punggung dan dada, sarana, <em>temu tis</em> , daun bawang, glam, semburkan. Obat, daging dan otot kaku, sarana, <em>ndungu</em> , adas, semburkan. Obat, gila suka makan, sarana, daun paiduh, sulasih hitam, mantra, <em>ong, arah sipini, sarwwa, graha wini swaha (Ya arah sipini, segala yang diterima dapat menyembuhkan)</em>. Obat, gila suka makan siang malam, tiada pernah kenyang, sarana, jeruk nipis, dirajah <em>sangka</em> n paran, ditutuhkan. Obat, gila menari, sarana, daun mya –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page14.htm">(14a)</a>  - na irëng, sulaśih, kundang kāsih, pëhaknā, ping, 7, waras denyā. Ta, edan angidūng, amañjang akakawin, angūcap dewa, śa, wong warangas, pëkhanā. Ta, edan angūcap dewā, śa, duwëgan, adas, pëhaknā, tahap wanang. Ta, edan angawe, anangis rahinā wngi, śa, wwaning duwëgan ijo, tahap, pūh wnang. Ta, edan, śa, isen, taining kbo cmöng, gamongan, pet wwenyā, rajah tunggang mnöng, ma, ong bhaṭāri dūrggā ingsun añjaluk atambā edan, sapatakāng anglarani iku pun anu, pukulun aja walangnghati, apan iku wa –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page14.htm">(14a)</a>   na hitam, sulasih, kundang kasih, ditutuhkan, sebanyak, 7, sembuh karenanya. Obat, gila berkidung, dan berkekawin lama-lama, menyebut nama dewa, sarana, wong / jamur warangas, tutuhkan. Obat, gila menyebut nama dewa, sarana, kelapa muda, adas, tutuhkan, diminumkan juga boleh. Obat, gila bertingkah laku, menangis siang malam, sarana, daun kelapa muda hijau, minumkan, ditutuhkan juga boleh. Obat, gila, sarana, lengkuas, kotoran kerbau hitam, lempuyang, ambil airnya, rajah tunggang <em>mnong</em> , mantra, <em>ong bhatari durgga ingsun anjaluk atamba edan, sapatakang anglarani iku pun anu, pukulun aja walanghati, apan iku wa- (Ya Dewi Durga hamba mohon obat sakit gila, siapa yang menyakiti itu akan terbakar, paduka jangan ragu-ragu, karena itu pemberitahuan yang ampuh seperkataanku)</em></p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page14.htm#B">(14b)</a>  - ra siddhi saujarku, pëhanā. Ta, edan anglalawang, śa, sasawi, kamarunggi, trikātukā, ma, ong asta asta halā &#8211; halā, ārwgangna widi swahā, aha astu. Ta, edan guyon, śa, kasturi, wijining kamarunggi, liligundi, wwan mimbā, trikātukā, ma, ong ena enala nama swahā, pūhaknā. Ta, edan anggāmlali tai uyuh, widdhakakën, śa, sulaśih, myanā irëng, papare, mamah, pëhaknā. Ta, edan kalawas, śa, sigugu cmöng, kumring wruk, sawngi, esuk apuh</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page14.htm#B">(14b)</a>   <em>-ra siddhi saujarku</em> , tutuhkan. Obat, gila suka berkeliaran, sarana, <em>sasawi, kamarunggi, trikatuka</em> , mantra, <em>ong asta asta hala-hala, arwgangna widi swaha, aha astu (Ya asta-asta dan segala penyakit, kumohon pada Tuhan untuk penyembuhan)</em>. Obat, gila suka bercanda (tertawa), sarana, kasturi, biji <em>kamarunggi</em> , liligundi, daun intaran, <em>trikatuka</em> , mantra, <em>ong ena enala nama swaha, puhakna (Ya ena-enala, hancurkanlah)</em>. Obat, gila, lupa diri buang air dan kencing, diborehkan, sarana, sulasih, myana hitam, papare, mamah, tutuhkan. Obat, gila yang sudah lama, sarana, sigugu hitam, kumring wruk, didiamkan semalam, besok ditutuhkan.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page15.htm">(15a)</a>  - aknā. Ta, edan klar aturu, śa, twak warahan, pëhaknā. Ta, edan, amalā awaknyā, śa, sasawi, ñamaruggi, adas, trikatukā, ma, ong astu hala &#8211; hala, sārwwa grahā widi swāhā. Ta, edan gumuyu, śa, wijining kamaruggi, liliguṇdhi, wwan mimbā, trikatukā, ma, ong age &#8211; age ati &#8211; ati, sārwwa yuwadi bhasa swahā. Ta, edan, anëmbang, śa, kajanti, daringon, bwang pṭak, micā, bangle, gamongan, jahe, tmu irëng, sindrong, bañu tuli, pūhaknā, astwakën. Ta, edan, śa, gamongan, daringon, bwang pṭak, pëhaknā, ma, ong sang bhaga pu –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page15.htm">(15a)</a>   Obat, gila sering tidur, sarana, tuak warahan, tutuhkan. Obat, gila, ada tanda tertentu pada tubuhnya, sarana, <em>sasawi, kamarunggi, adas, trikatuka</em> , mantra, <em>ong astu hala-hala, sarwwa graha widi swaha (Ya selamatlah dari segala penyakit, segala yang diterima dapat menyembuhkan)</em>. Obat, gila suka bercanda, sarana, biji kamarunggi, liligundi, daun intaran, <em>trikatuka</em> , mantra, <em>ong age-age ati-ati, sarwwa yuwadi bhasa swaha (Ya anjing tanah berpikir, segala yang muda dan lain-lain)</em> . Obat, gila, suka menyanyi, sarana, kajanti, daringon (simbukan), bawang merah, merica, <em>bangle</em> , lempuyang, jahe, <em>temu</em> hitam, rempah-rempah (isinrong), air yang berasal dari lubang pohon (we tuli), tutuhkan, mantrakan. Obat, gila, sarana, lempuyang, daringon (simbukan), bawang merah, tutuhkan, mantra, <em>ong sang bhaga pu (Ya Sang Bhagapurusa, beliau yang menyakiti Bhagapurusa, aku tahu asalmu dahulu, sebagai kanan Sanghyang Raditya, kiri Sanghyang Ratih, byar terang-benderang,3x)</em></p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page15.htm#B">(15b)</a>  - ruṣā, sira sanganglarani bhaga puruṣā, sira amarasi, wruh aku mulanta ngūni, makatngën sanghyang raditya, maka kiwa sanghyang ratih, kadi pangadangane sanghyang radityā, mangkanā padang mataning hulun, byang cliring, 3. Mangkanā mantrānyā. Rajahing gamongan, kayeki bhaga lawan puruṣā. Ta, edan, awor ayan, śa, këmbang kalëlëngan, pet haywa kamayan, pūhaknā, waras denyā. Ta, edan anguyuh, śa, rwan waduri, gagaritan pipis kabeh, wwenyā tahap, pëhaknā, urapakën sari &#8211; sari. Ta, edan, malalung, śa, rwa</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page15.htm#B">(15b)</a>   <em>rusa, sira sanganglarani bhaga purusa, sira amaras, wruh aku mulanta nguni, makatngen sanghyang raditya, maka kiwa sanghyang ratih, kadi pangadangane sanghyang raditya, mangcana padang mataning hulun, byang cliring,</em> 3x. Demikian mantranya, rajahkan pada lengkuas seperti ini, vagina bersama dengan penis. Obat, gila, bercampur penyakit ayan (sawan), sarana, bunga kalelengan, ambil jangan diremas, tutuhkan, sembuh karenanya. Obat, gila, kencing, sarana, daun widuri, ggaritan, dilumatkan semua, airnya diminum, tutuhkan, dan lulurkan setiap saat. Obat, gila, tanpa busana, sarana, daun.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page16.htm">(16a)</a>  - n sasawi, 3, bidang, rwan kamarunggi, kamaligi pusuh, pëhaknā. Ta, edan, hana buh wtëng, śa, wwadhing liliguṇdhi, bratawali, ma, atutur ya namah swahā, pëhaknā. Ta, edan, aturu, śa, sdah tmu rose, 7, bidang, rajah sangkan paran, tahap, pūhaknā. Ta, edan angame anangis rahinā wngi, śa, duwgan ijo, kameri lanang kang anom, adās, tahap, waneh pëhaknā, waras denyā. Ta, edan, amala wong, śa, sdah tmu rose, rajah rupā kangagring, meghā mëṇdung, singgulaknā, pëh warasnyā. Ta, edan, ngame wong, śa, santën</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page16.htm">(16a)</a>   sasawi, 3 lembar, daun kamarunggi, kamaligi yang kuncup, tutuhkan. Obat, gila, perut kadang-kadang bengkak, sarana, akar liligundi, bratawali, mantra, <em>atutur ya namah swaha (bercerita ya keselamatan)</em>, tutuhkan. Obat, gila, suka tidur, sarana, daun sirih yang uratnya sama-sama ketemu, 7 lembar, rajah <em>sangkan paran</em> , minum, tutuhkan. Obat, gila senantiasa menangis siang malam, sarana, kelapa muda hijau, kameri laki dan muda, adas, minum, boleh juga ditutuhkan, sembuh karenanya. Obat, gila, pada tubuhnya terdapat tanda tertentu, sarana, daun sirih yang uratnya sama-sama ketemu, rajahkan wajah si sakit, sangga langit (mega mendung), dilumatkan, tutuhkan, sembuh karenanya. Obat, gila, menyebut nama orang, sarana, santan</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page16.htm#B">(16b)</a>  ñuh ijo, santën tingkih, adas, pëhaknā. Ta, edan tahun, śa, gamongan, rinajah tunggāng mnöng, dukut sewu, pet wwenyā, ma, ong bhaṭāri dūrggā ingsun añjaluk tambā edan samā ta kānglaran iku pun anu, ah walanghati apan iku waras siddha saujarku. Ta, edan, śa, amprun celeng, walirang, ginangśā ring tambaga, pëhaknā matërung. Manih, śa, uyah asëm, ma, sanghyang kalā dora kalā, apan aku kalā, pupuraknā. Ta, edan, śa, rwaning jënggi, 7, punggël, bwang pṭak, wwenyā uyuh ing rare, pëhaknā. Manih pupuh e –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page16.htm#B">(16b)</a>   kelapa hijau, santan kemiri, adas, tutuhkan. Obat gila menahun (lama), sarana, lempuyang, dirajah tunggang mnong, dukut sewu, ambil airnya, mantra, <em>ong bhatari durgga ingsun anjaluk tamba edan same ta kanglaran iku pun anu, ah walanghati apan iku waras siddha saujarku (Ya Dewi Durga hamba mohon obat sakit gila bersama yang menyakitinya, ah tenang karena itu akan sembuh  seperti perkataanku)</em>. Obat, gila, sarana, empedu babi, belerang, digosokkan pada tembaga, tutuhkan. Lagi, sarana, garam, asam, mantra, <em>sanghyang kala dora kala, apan aku kala (Sanghyang Kala dora Kala, karena aku Kala)</em>, dilulurkan. Obat, gila, sarana, daun <em>jenggi</em> , 7 lembar, bawang merah, airnya air kencing anak kecil, tutuhkan. Lagi, tutuhkan-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page17.htm">(17a)</a>  - dan, śa, rwan myanā cmöng, kasunā tunggal, daringon, kabeh rinajah bajrā mokṣālā, wus rinajah pipis kabeh, ma, ong kaki citra gotrā, kaki pañarikān, ingsun añjaluk supuhane si anū, hana si pupuh edan brantā ñapñap, śa, myanā cmöng, bawang pṭak tunggal, daringon, palëbūrana rare, daśamalane siyanū, trimayā, kaki tungtung bhūwanā, wastu hilang, ong ong nama swahā. Wus minantran, pūhaknā irung sang ngagring. Ta, kārṇnā larā, śa, rwan sigugu, kapūr, we añar, puhaknā kārṇnanyā. Manih, śa, rwan śulaśih, burāt manis, tagi –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page17.htm">(17a)</a>   pada si sakit gila, sarana, daun myana hitam, <em>kesuna (dasun)</em> sebiji, daringon (simbukan), semua dirajah <em>bajra moksala</em> , sesudah dirajah, digerus semua, mantra, <em>ong kaki citra gotra, kaki panarikan, ingsun anjaluk supuhana si anu, hana si pupuh edan branta napnap, us, myana cmeng, bawang ptak tunggal, daringon, paleburana rare, dasamalane siyanu, trimaya, kaki tungtung bhuwana, wastu hilang, ong ong nama swaha (Ya kaki Citra Gotra dan Penyarikan, hamba mohon kesembuhannya si anu, sakit gila dengan ciri tidak pernah tenang, sembuhkanlah sakitnya si anu)</em>. Setelah dimantrai, ditutuhkan pada hidung si sakit. Obat, sakit telinga, sarana, daun sigugu, lengkuas (kapur), air bersih, ditutuhkan pada telinganya. Lagi, sarana, daun sulasih, burat manis, garam</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page17.htm#B">(17b)</a>  - k alit, yeh bayu, pūhaknā kang kārṇnā. Manih, śa, rwan bayëm luhur, adas, pūh kang kārṇnā. Manih, śa, rwan kamārunggi, kuñit, uyah, lëngis, wus, klā, pūhhaning kārṇnā. Ta, tuli mapruk, śa, trikatukā, pipis tetesin lëngis, klëring krang, pūh kārṇnānyā. Ta, tuli curëk, śa, rwan susuruh lanah, panggang den sdëng &#8211; sdëng, pūh kārṇnānyā. Ta, mata ulëran, śa, gtih warak, ñalin kidang, pūh kneng socā. Ta, mata gatël, śa, carmmān kapuṇdung putih, tkaning rwane, uyah, lunak, pūhaknā. Ta, mata</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page17.htm#B">(17b)</a>   sedikit, berikut air bersih, teteskan di telinga. Ada lagi ramuan daun bayam <em>luhur</em> dan adas dipakai obat tetes telinga. Atau daun <em>kamarunggi</em> , kunyit, garam, minyak kelapa, setelah dimasak dipakai obat tetes telinga. Untuk ketulian yang parah, gunakan <em>trikatuka</em> , dipipis, ditetesi minyak kelapa, digoreng pakai kerang, kemudian teteskan ke telinga. Untuk tuli yang memproduksi cairan busuk (curek), ambil daun sirih <em>lanang</em>, panggang sampai setengah lunak, kemudian peras untuk menetesi telinga. Kalau mata meradang, berikan darah badak dan empedu kijang, teteskan di mata. Untuk mata gatal, berikan kulit kepundung putih berikut daunnya, garam, asam, teteskan di mata. Obat mata belok</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page18.htm">(18a)</a>  pceh, śa, jruk purut, matunū, ñali syap biying, pūhaknā. Ta, mataknā tumangwan, śa, tmu kuñit, rajah bulan matan ai, pipisaknā. Ta, mata karogan, kneng tuju rambat, śa rwan kayu dlëg, sulañjaṇā, adas, yeh susu, we tuli, ma, ong aja kola nāta kolā. Ta, mataknā tuju, puhaknā sabran wngi, mehaturu wngi. Ta, mata mlëtus, śa, tingkih jëntung, lunak, yeh susu, uyah uku, pëhakneng socā. Ta, mata saputan, śa, bwah pti, yeh bwah ngūdā, tambus, pūh kang soca. Ta, mata saputan mwang tuju, śa, bwah samañjahi, kang nganom,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page18.htm">(18a)</a>   bertahi, pakai jeruk purut dipanggang, berikut empedu dari ayam berbulu merah, teteskan. Untuk mata dengan bercak-bercak putih pada bagian hitamnya, berikan <em>temu</em> kunyit yang diberi rajahan bulan matahari kemudian digerus. Untuk mata yang rabun karena kena <em>tuju rambat</em> , berikan daun <em>kayu dleg, sulanjana, adas</em> , air susu ibu, air dari lubang pohon, kemudian bacakan mantra: <em>ong aja kola nata kola (Ya, jangan hamba tunduk)</em>. Untuk mata yang kena <em>tuju</em> , teteskan tiap malam sebelum tidur. Obat untuk mata terbelalak ialah kemiri <em>jentung</em>, asam, air susu ibu, garam butiran, untuk menetesi mata. Untuk mata katarak gunakan buah <em>pti</em> , buah pinang yang muda, dilayukan dalam abu panas, airnya teteskan di mata. Untuk mata katarak karena kena rematik, pakai buah <em>samanjahi</em> , yang muda,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page18.htm#B">(18b)</a>  tkaning kulitnyā, palit ambëngan, pulāsahi bali, pipis. Ta, arip, śa, mica, woning tki, bwang lanang, sipataknā. Pupuh sangkaning tangen, śa, rwan twi, uyah lënga wijwn, puhhaknā. Ta, busul, śa, kapokopokan mabulu, wwe jruk linglāng, trikatukā, inum. Ta, smutan, śa, landaning kpah, uyah uku, urutaknā sing larā. Ta, btël, śa, lalarì, kararasing gdhang sabā, rwan jarak aking, sami ginsëng, rok pipis, ragi trikatukā, wdaknā. Tan mtu pluh, śa, rwan pule, bangle, trikatukā, bloñohaknā, nghing dadah rumuhun.</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page18.htm#B">(18b)</a>   berikut kulitnya, daun alang-alang muda, pulasari bali, digerus. Untuk mata yang selalu kantuk, berikan merica, rumput teki, bawang lanang, oleskan pada alis. Pupukkan dari sebelah kanan, pergunakan daun turi, garam, minyak wijen, oleskan. Untuk bisul, gunakan <em>kapokopokan</em> berbulu, air jeruk nipis, <em>trikatuka</em> , minumkan. Untuk kesemutan, berikan kulit pohon kepah, garam butiran, urutkan pada bagian yang sakit. Untuk cedera otot, terkilir, berikan<em> lalari</em>, pelepah dan daun pisang <em>Saba</em> yang sudah kering, daun jarak yang kering, dibakar kemudian digerus dan bubuhkan <em>trikatuka</em> , untuk dibedakkan. Kalau tidak dapat berkeringat, gunakan ramuan dari daun pule, bangle dan trikatuka untuk digosokkan, asalkan di masak dahulu.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page19.htm">(19a)</a>  Ta, puruh, śa, tingkih jëntung, iris, ma, sapagëlo, yen meh rene patambaning anglëmpuyëng, den waras, 3, pilisaknā. Manih, śa, jahe, rajah kayeki,________ , daringo, gamongan, ma, ong kayalāka kapaluh kaya lā ring smā, tanangëlu, tëndase si anu, siddhi mandi mantranku. Manih, śa, gamongan, bawang bāng, 3, bṣik, rwan katang &#8211; katang, bidang, pipis pinilisaknā, ma, rëng lërë lëngkā nakaning socca, lahli waras. Manih, śa, rwan papare ambulungan, bwang bāng, tmu, tingkih, adas, pipis papilisaknā. Ta, jampi mamëngkā, śa, wwaning</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page19.htm">(19a)</a>   Obat pusing, berikan kemiri <em>jentung</em>, potong sambil bermantra: <em>sapagelo, yen meh rene patambaning anglempuyeng, den waras (siapa yang gila, jika demikian berikan obat sakit kepala agar sembuh)</em>, ucapkan 3 kali, dipupukkan di dahi. Demikian pula ramuan jahe, dirajah seperti ini,______ , <em>daringo, gamongan</em> , dengan mengucap: <em>ong kayalaka kapaluh kaya la ring sma, tanangelu, tendase si anu, siddhi mandi mantranku (Ya, kayalaka singkirkan penyakit itu ke kuburan, agar tidak ada keluhan di kepalanya si anu, ampuhlah mantraku)</em>. Dapat juga ramuan <em>gamongan</em> , bawang merah, 3 biji, selembar daun <em>katang-katang</em> , dipipis kemudian pupukkan di dahi sambil membaca mantra, <em>reng lere lengka nakaning socca, lahli waras</em> . Ada lagi, daun ramuan pare <em>ambulungan</em> , bawang merah, <em>temu</em> , kemiri, adas, dipupukkan di dahi. Untuk obat <em>amengka</em> , ramuan daun<em></em></p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page19.htm#B">(19b)</a>  dhapdap tis, wwan silāguwi, dumlan duwëgan ijo, wus ratëng, ëmbanyā sari, lungid, balulang kbo tinunū, rok ring tambā, inūm. Ta, bëngkā, śa, rwan kasimbukan, śulaśih, bangle, bwah jëbug, pipis den alëmbat, urapakning wtöng. Ta, bëngkā, tan knā ngising anguyuh, śa, bañuning lunak tanëk, warirang, bangkët kunir, santën, tahap. Ta, awak lupā, śa, wwan kayu puring, ingasab, wwe angët, makā wwenyā, wdaknā. Ta, lupā, śa, pulāsahi, ckuh, bras tambus, pipis wdaknā. Ta, wtöng mangkak, śa, rwan timaha, cëkweh, gëntën,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page19.htm#B">(19b)</a>   dadap <em>tis</em> , daun <em>sidaguri</em> , kelapa muda hijau, sesudah di masak, dicampur dengan, sari, lungid, kulit kerbau yang dipanggang, dicampur sebagai obat, diminum. Obat, bengkak, sarana, daun simbukan, sulasih, <em>bangle</em> , buah <em>jeug</em> , digerus sampai halus, dilulurkan pada perut. Obat, bengkak, tidak dapat berak dan kencing, sarana, air lunak rebusan, belerang, air kunyit, santan, minum. Obat, sakit pada badan, daun kayu puring, digosok, dengan air hangat, sebagai airnya, dilulurkan. Obat, lupa, sarana, pulasari, kencur, beras yang dipanggang, digerus lalu dilulurkan. Obat, perut bengkak, sarana, daun timaha, cekweh, genten,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page20.htm">(20a)</a>  rokabeh, pipis, inūm arap wtöngnyā. Nyan tambā tiwang brahmā, śa, wwaning bungkak samsam, trikatukā, bras akidik, yen laranyā maluwang, mandëlik socanyā, tiwang bangke, nga, śa, kakap, trikatukā, sëmbaraknā. Mwang yan kukul tangan mwang sukunyā, tiwang guritthā, nga, śa, rwan madhuri kang jnar, trikatukā, arapaknā. Yanyā mutah &#8211; mutah, tiwang balubur, nga, śa, kakap tang jnar, 7, lëmbar, ulungan rwan jruk linglang, 7, lëmbar, trikatukā, ma, ong ki tiwang blabūr, tumbëng baher mantrangku. Tahap. Iti tumbal tiwang, śa, batun kapas, ungkun dening rwan awar –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page20.htm">(20a)</a>   dicampur semua, dilumatkan, minum dan lulurkan pada perut. Ini obat tiwang brahma, sarana, daun kelapa muda yang dicincang, <em>trikatuka</em> , sedikit beras, jika sakitnya kaku, matanya mendelik, tiwang bangke, namanya, sarana, kapkap, <em>trikatuka</em> , semburkan. Lagi jika genggaman tangan dan kakinya, tiwang gurittha, namanya, sarana, daun meduri yang kuning, <em>trikatuka</em> , dilulurkan. Jika muntah-muntah, tiwang balabur, namanya, sarana, kapkap yang kuning, 7 lembar, daun jeruk nipis yang sudah jatuh, 7 lembar, <em>trikatuka</em> , mantra, <em>ong ki tiwang balabur, tumbeng baher mantranku (Ya, Ki Tiwang Balabur, tumbanglah oleh keampuhan mantraku)</em>, diminum. Ini tumbal tiwang, sarana, batun kapas (batu kapas)campur dengan daun awar –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page20.htm#B">(20b)</a>  awar, tanëm arëping lawang kang agring, ma, jambe urung, urung tunggal, wurung kabeh, urung pande pti upang ajì, pangumik, pangalah, pañawang, pangalah tan pasasaput, tan pasasabuk. Mwah mantra ning ananëm, ma, nini tangar, kaki tangar, kaki kmitanā nghulun, da mambahang leyake mai, 3. Ta, tiwang babai, mwah tiwang gombeng, śa, cabe krusuk, trikatuka, bras bang, pipis arapaknā. Manih, śa, kunir, trikatukā, apuh bubuk, pipis urapknā. Ta, tiwang ayan pëdëm bangunang, tur mandëlik, tiwang tojos, nga, śa, rwaning kampinis, bwang bāng, ngatut akah, puh i –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page20.htm#B">(20b)</a>   awar, tanam di depan pintu orang yang sakit, mantra, <em>jambe urung, urung tunggal, wurung kabeh, urung pande pti upang aji, pangumik, pangalah, panawang, pangalah tan pasasaput, tan pasasabuk (jambe urung dan urung tunggal, semuanya batal, semua kalah tanpa selimut, dan tanpa sabuk)</em>. Dilanjutkan dengan mantra pada waktu menanam, mantra, <em>nini tangar, kaki tangar, kaki kmitana nghulun, da mambahang leyake mai, 3x (Kaki dan Nini Tangar, jagalah hamba, jangan memberi jalan desti itu kemari, 3x).</em> Obat , tiwang babahi, dan tiwang gombeng, sarana cabai yang dipanggang, trikatuka, beras merah, digerus kemudian dilulurkan. Lagi, sarana, kunyit, trikatuka, apuh bubuk (bubuk pamor), digerus dilulurkan. Obat, tiwang ayan diselingi bangun dan tidur, dan mendelik, tiwang tojos, namanya, sarana, daun kampinis, bawang merah, sampai ke akarnya, tutuh hi-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page21.htm">(21a)</a>  _- rungnyā, inūmnyā, śa, rwaning mimba, cārmman kamanduk, cukā tahun, arak, kabang kakawā ring tembok, mantrani dening mantran tiwang. Yanyā pdëm bangunang, tiwang utara, nga, ta, śa, tain sekṣek, ati gamongan, trikatukā, arap dadanyā. Yanyā larā ring pusër, tiwang kënul, nga, ta, śa, micā, 1, bṣik, rwaning samañjahi, trikatuka, tampëlaknā pusërnyā. Tiwang tkā lemöng, mangurëkurëk, tiwang mong, nga, śa, babakan bila, kulit wohnyā kawaṣā, raab dañuh, sami gsöng, trikatukā, pipis, dwi idubāng, urapaknā. Ratu mañja –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page21.htm">(21a)</a>   -dungnya, diminumkan, sarana, daun intaran, kulit pohon kamanduh, air cuka yang sudah lama, arak, abang kakawa (sarang labah-labah) yang ada di tembok, dimantrai dengan menggunakan mantra tiwang. Jika bangun tidur, tiwang utara, namanya, obat, sarana, serbuk kayu dipan yang dimakan rayap, ati / inti lempuyang, <em>trikatuka</em> , lulurkan pada dadanya. Jika sakitnya pada pusar, tiwang kenul, namanya, obat, sarana, merica, 1, butir, daun samanjai, trikatuka, tempelkan pada pusarnya. Tiwang atau sakit yang datangnya tengah malam, melilit-lilit, tiwang mong, namanya, sarana, kulit pohon bila, kulit buahnya juga dapat dipakai, atap dari daun kelapa yang sudah tua, semua dibakar, trikatuka, dilumatkan, air indubang (ludah merah), diborehkan. Ratu manja-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page21.htm#B">(21b)</a>  ya manggawe tiwang, mangëtor awaknyā nora glëm, tiwang linūh, nga, ta, śa, umbin paspasan, umbin kaṣā, batu këmbung, sampar wantu, mica, katumbah, lëmbātaknā, ma, idhëp wiṣṇu aturu, mulih ring dagingku sidhëm ya namah śwahā. Yan këbus awaknyā nora glëm tur mangëtor, tiwang angin, nga, ta, salwiring kayu tongosin kabāng, cārmmane toktok, luhun dadah ëngsut di kabangnge, jëbugarum, gintën cmöng, wdaknā, ma, ah sirā, 3, ring</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page21.htm#B">(21b)</a>   -ya yang sumber penyakitnya (tiwang), menggigil tubuhnya tetapi tidak seperti orang sakit, tiwang linuh, namanya, obat, sarana, umbi paspasan, umbi kasa, batu kambing yang ada di parit, samparwantu, merica, ketumbar, dilumatkan, mantra, <em>idhep wuku aturu, mulih ring dagingku sidhem ya namah swaha (pikiran wuku tidur, kembalilah pada dagingku)</em>. Jika panas tubuhnya tetapi tidak sakit dan menggigil, tiwang angin, namanya, obat, segala kayu yang terdapat sarang labah-labah, kulitnya di toktok atau iris, sampah daun yang sudah kering dan menyangkut pada sarang labah-labah, <em>jebuggarum</em> , <em>ginten</em> hitam, dilulurkan, mantra, <em>ah sira, 3x (ah, beliau, 3x)</em>, pada</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page22.htm">(22a)</a>  bayu gnahnyā, ma, sadpadha angūmbāng sarì śakti, tka lukat raṣa ning yeh ñom, 3, jöng yan mangënëk ulun angën, tūr mamëpët, tiwang sindurāja, nga, ta, krikan kau, dwan tabu, palit uyah, micā, 7, bṣik, sëmbarraknā, ma, sūkṣmā pada, raṣa paddhā, ah uh, 3. Yan bṣëh kñāng ototnyā kaukauk, tiwang baruwang, nga, ta, we jruk linglāng, nggen papërës, ma, samalahin, idā mayoghā hi mahin, tkā ngëb, jöng, 3, marajā waṇna, kita angakita angaki ngraṣā, angakit wiṣṇu, angakit lëh, arëbi śakti, jöng, 3. Yan masambat &#8211; sambat wtëngnyā, tiwang guritthā, nga, ta, muñcuk</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page22.htm">(22a)</a>   nafas tempatnya, mantra, <em>sadpadha angumbang sari sakti, tka lukat rasa ning yeh nyom, 3x, jong (kumbang terbang  menghisap sari kesaktian, datang membersihkan rasanya air dingin, 3x)</em>. Jika terasa nek pada hulu hati, dan sesak, tiwang <em>sinduraja</em> , namanya, obat, kerikan batok kelapa, daun tebu, garam yang mengkristal, merica, 7, butir, semburkan, mantra, <em>suksma pada, rasa paddha, ah uh, 3x (gaiblah semua, rasa sama-sama, ah, uh, 3x)</em>. Jika sembab atau bengkak dan otot terasa kaku disertai rintihan, tiwang baruwang, namanya, obat, air jeruk nipis, dibuatkan perasannya, mantra, <em>samalahin, ida mayogha hi mahin, tka ngeb, jong, 3x, maraja wanna, kita angakita angaki ngrasa, angakit wisnu, angakit leh, arebi sakti, jong, 3x (samalahin, beliau beryoga, datang dan sembuh, beraja hutan, engkau merakit rasa, Wisnu, leh dan sakti, 3x)</em>. Jika perutnya bersuara-suara, tiwang <em>gurittha</em> , namanya, obat, pucuk</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page22.htm#B">(22b)</a>  sëmbung, mban lawang, we jëruk linglāng, tahap, panglëbūrraning lara wighnā ring wtëng, ma, aja mandilak ikang bwaṇnā ya nama swahā, lukat kawah, lukat ātma, jöng, 3, yah. Carutcut &#8211; carutcut ring jro wtöng, tiwang rakaṭa, nga, ta, bungan awon, mica, ulig, we cukā, ma, idpaku puṣpāta wang, mulih kita ring batu macpak, ah uh, mnöng, jöng, lepaknā. Yan maluwang mangañcakañcuk, malulunan, tiwang sindu rājā, nga, ta, jru trikatuka, ma, ong atma jilihah, tkā kërët, jöng, 3, wdaknā, ta, salwir ring tuju. Gnit awaknyā kadi bulenan, knā rājā panulah, ta, bangle, cabe</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page22.htm#B">(22b)</a>   daun sembung, mban lawang, air jeruk nipis, diminum, pembersihan kotoran (segala penyakit) pada perut, mantra, <em>aja mandilak ikang bwanna ya nama swaha, lukat kawah, lukat atma, jong, 3x, yah (jangan melihat dunia itu, bersihkan kawah, bersihkan manusia, 3x)</em>. Berjalan melilit-lilit pada perut, tiwang <em>rakata</em> , namanya, obat, abu dapur (<em>bungan awon</em>), merica, digerus, air cuka, mantra, <em>idpaku puspata wang, mulih kita ring batu macpak, ah uh, mnong, jong (pikiranku bernama manusia, pulanglah engkau ke batu macpak, ah, uh, diam)</em>, dilulurkan. Jika kaku terasa menusuk-tusuk, berjalan / berputar, tiwang sinduraja, namanya, obat, jruju trikatuka, mantra, <em>ong atma jilihah, tka keret, jong, 3x (Ya, atma jililah, datang ikat dengan kuat, jong, 3x)</em>, urapkan, Obat untuk segala penyakit tuju. Gatal tubuhnya seperti bulenan (pada kulit muncul lingkaran putih dan tebal), terkena raja panulah (kutukan), obat, <em>bangle</em> , cabai-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page23.htm">(23a)</a>  bungkut, tampuyak, miñcid wot bagatul, ma, ong jula julitā, aja nglaranin, gilahin, tkā luwar, 3, pipis wdaknā. Mandus yeh angët, palapahnyā rwan tinghulun, katëmpūr sami ṣeśa, ma, sari gtih urip, sari ātmā urip, jöng, 3. Nunggak &#8211; nunggak awaknyā, tiwang katket, nga, ta, babakan bangyang, katumbah, bawang, sëmbaraknā. Kriyak &#8211; kriyok wtöngnyā, tiwang balabūr, nga, ta, jahe lëkak, 3, iris, sëmbaraknā. Mëpët &#8211; mëpët angkihannyā, yen meling, tiwang brare, nga, babakan kelor, masuwi, isen, 3, iris, wdaknā ulu-</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page23.htm">(23a)</a>   plirut, tampuyak, dedak, mantra, <em>ong jula julita, aja nglaranin, gilahin, tka luwar, 3x (Ya, Jula Julita, jangan menyakiti, pergi dan enyahlah)</em>, digerus lalu diborehkan. Mandi dengan air hangat, campurannya daun tingulun, lebur semua sampai bekas-bekasnya, mantra, <em>sari gtih urip, sari atma urip, jong, 3x (sari darah hidup, sari atma hidup, jong, 3x)</em>. Jika bernafas sakit ditusuk-tusuk tubuhnya, tiwang ketket, namanya, obat, kulit pohon bangyang, ketumbar, bawang, semburkan. Merintih-rintih (kriyak-kriyok) perutnya, tiwang balabur, namanya, obat, jahe pahit, 3, irisan, semburkan. Sesak nafas, jika ingat, tiwang brare, namanya, kulit pohon kelor, masuwi, lengkuas, 3, irisan, diborehkan. Hulu-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page23.htm#B">(23b)</a>  - n hati mambatu, tan eling, tiwang angin, nga, ta, tabya bungkut, bangle, kunir warangan, sëmbaraknā. Yan bahag awaknyā, socānyā kuning, tiwang brāhmā. Nga, ta, śa, babakān jëpun, jahe, 3, iris, sëmbarraknā. Yan këbus awaknyā pluh pidit, basang malulunan, sring amalaku toyā, tiwang ghni, nga, ta, babakan nangkā, trikatukā, sëmbarraknā. Yan bṣëh wtöngnyā, mëpët ulun hati nora meling, tiwang bahi, nga, ta, śarana, babakan buu, uyah mañañah, sëm-barraknā. Nunggek nunggek awaknyā, tiwang lele, nga, ta, śa, baba </em><em>–</em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page23.htm#B">(23b)</a>   hati terasa bengkak, tidak sadarkan diri, tiwang angin, namanya, obat, cabai plirut, <em>bangle</em> , kunyit <em>warangan</em> , semburkan. Jika merah badannya, matanya kuning, tiwang brahma, namanya, obat, sarana, kulit pohon kamboja, jahe, 3, iris, semburkan. Jika tubuhnya panas dan keringatnya bercucuran, perut melilit, sering meminum air, tiwang ghni, namanya, obat, kulit pohon nangka, <em>trikatuka</em> , semburkan. Jika perutnya sembab atau bengkak, hulu hati terasa sesak dan tidak ingatkan diri, tiwang bahi, namanya, sarana, kulit pohon buu, garam disangrai, semburkan. Menusuk-tusuk tubuhnya, tiwang lele, namanya, obat, sarana, kulit –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page24.htm">(24a)</a>  - kan tinghulun, isen kapur, kunir, padha ma, 3, iris, nūli sëmbar. Yan bësöh wtöngnyā, mëpët uluh hati nora meling, tiwang bawi, nga, ta, śa, babakan buu, uyah mañañah, sëmbarraknā. Yan curut &#8211; curut mamëpët, tiwang tikut, nga, ta, śa, trikatukā, sëmbarrang. Yan ngabëtbët awaknyā, tiwang asu, nga, ta, śa, babakan ahā, iñjin, bras barak, sëmbaraknā. Yan gënit awaknyā, tiwang jawat, nga, ta, śa, babakan kananggā, kacupit waru, 7, muñcuk, sëmbarraknā. Këbus awaknyā pakāñëtñët, mwang pakañëtñët, tuju ghni, nga,______ ta, śa, baba –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page24.htm">(24a)</a>   -t pohon tingulun, lengkuas kapur, kunyit, masing-masing , 3 iris, kemudian semburkan. Jika bengkak atau sembab perutnya, hulu hati terasa sesak dan tidak ingatkan diri, tiwang bawi, namanya, obat, sarana, kulit pohon buu, garam yang disangrai, semburkan. Jika berputar / berjalan-jalan dan terasa sesak, tiwang tikus, namanya, obat, sarana, <em>trikatuka</em> , semburkan. Jika berdenyut-denyut tubuhnya, tiwang asu, namanya, obat, sarana, kulit pohon aa, ketan hitam, beras merah, semburkan. Jika terasa gatal tubuhnya, tiwang jawat, namanya, obat, sarana, kulit pohon kenanga, tunas pohon waru, 7, pucuk, semburkan. Panas tubuhnya menggigit-gigit, dan menusuk-tusuk, tuju ghni, namanya, obat, sarana, kulit-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page24.htm#B">(24b)</a>  - kan jruk, babakan ñambu er putih, bawang, sëmbarraknā. Yan këbus awake makā ukud, tuju gumi, nga, ta, śa, akah pucuk putih, akah ikuh lutung putih, ckuh, adas, sömbarrang. Ta, bawong juwëh, śa, akah dauśa, akah bëkul, akah gangyang, trikatukā, urapaknā. Ta, bangkyang juwëh, śa, kunir warangan, jbugarūm, arapaknā. Manih, śa, gamongan, pulāsahi, urapaknā. Ta, buh ring jro mambarah, jampi siṣyā kunang, śa, pañcarsoṇā, atin langkwas, ckuh, gulā, santën kane, sindrong śadharaṇā, bangkëtmu, tahap, mwang lepaknā.</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page24.htm#B">(24b)</a>   -t jeruk, kulit pohon jambu air putih, bawang, semburkan. Jika tubuh panas semuanya, tuju gumi, namanya, obat, sarana, akar kembang sepatu putih, akar ikuh lutung putih, kencur, adas, semburkan. Obat, leher terasa kaku, sarana, akar dausa, akar bekul, akar gangyang, <em>trikatuka</em> , dilulurkan. Obat, pinggang terasa kaku, sarana, kunyit <em>warangan</em> , <em>jebuggarum</em> , dilulurkan. Lagi, sarana, lempuyang, pulasari, dilulurkan. Obat, perut kembung dan panas, jampi wisya penyakitnya, sarana, pancarsona, hati lengkuas, kencur, <em>gula, santan kental, isinrong secukupnya, air temu , diminum, kemudian dilulurkan.</em><em></em></p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page25.htm">(25a)</a>  yan barah batu ring jro, ta, śa, mamëniran, kakang api, cabe, bangle, we idubāng, ma, kbëlang- kbëling, mamukaling &#8211; mamukaling, buh balada, lampah tambā, tkā surud, tkā, singgah, mandi akal kita, ah, 3. Ta, barah ring jro, idu drës mijil tan pgat, śa, tmu tis, rwan pañcarsoṇā, gintën, yan arëp angët, gintën dena kweh, yan arëp atis, kdik gintënyā, tahap. Ta, awakka panas, śa, rwan dhauṣā kling, trikātukā, lunak, sëmbarrakna. Manih, śa, rwan pucuk bhāng, dauṣā kling, bañuning sajöng, wdaknā. Manih, śa, rwan kayu puring, bangkët kunir,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page25.htm">(25a)</a>   jika perut membengkak kaku, obat, sarana, daun kemenir, kerikan abu mamah Pon (Bali : mulut dapur tempat memasak), cabai, <em>bangle</em> , air indubang (ludah merah), mantra, <em>kbelang- kbeling, mamukaling-mamukaling, buh balada, lampah tamba, tka surud, tka, singgah, mandi akal kita, ah, 3x (Kbelang kbeling, manukaling, sakit perut membesar, perjalanan obet hancurkanlah dan sembuhlah, 3x)</em>. Obat, Bengkak di dalam perut, ludah terus keluar tiada henti, sarana, <em>temu tis</em> , daun pancarsona, <em>ginten</em> , jika diinginkan yang hangat, perbanyak <em>ginten</em> nya, untuk mendapatkan yang dingin, kurangi <em>ginten</em> nya, diminum. Obat, tubuh terasa panas, sarana, daun <em>dausa kling</em> , air arak, dilulurkan. Lagi, sarana, daun kayu puring, air kunyit,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page25.htm#B">(25b)</a>  patining lunak, cuka tahun, wdhaknā. Ta, awak panas, śa, rwaning sëmbung, ñuh tunu, pipis dena lëmbat, lepaknā. Ta, panas tis, śa, gamongan, lëngā tanūsan, pipis wdhaknā. Manih, śa, jëbugarum, we ktan gajih, wdhaknā. Ta, awaknyā panas, śa, bwah base, bras bāng, pipis wdhaknā. Ta, panas marapuh, śa, ñuh adas, jruk linglāng, bloñohaknā. Ta, panas tis, śa, gamongan, tingkih, bawang adas, pipis prës dadah bloñohaknā. Ta, tan mtu pluh, śa, rwan pule, trikatukā, santën kane, kinla,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page25.htm#B">(25b)</a>   ditambahkan asam, cuka yang sudah lama, dilulurkan. Obat, tubuh terasa panas, sarana, daun sembung, kelapa yang dibakar, digerus sampai halus, lulurkan. Obat panas dingin, sarana, lempuyang, minyak kelapa, digerus lalu dilulurkan. Lagi, sarana, <em>jebuggarum</em> , air <em>ketan gajih</em> , dilulurkan. Obat, tubuh terasa panas, sarana, buah sirih, beras merah, digerus lalu dilulurkan. Obat panas demam, sarana, kelapa, adas, jeruk nipis, dilumatkan. Obat panas dalam, sarana, lempuyang, kemiri, bawang, adas, digerus diperas dan rebus hasil lumatannya. Obat, tidak dapat keluar keringat, sarana, daun <em>pule</em> , <em>trikatuka</em> , santan kental, rebus,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page26.htm">(26a)</a>  blo</em><em>ny</em><em>ohaknā. Ta, grah uyang, śa, paspasan, padhang lëpas, lunak tanëk, adas, dadah, wdhaknā. Ta, uyang, balasah, buka panggang, śa, pule, bawang, adas, wwe jruk linglāng, tahap. Ta, panas uyang ngayingan, śa, kayu tulak, kayu sāngkā, dauṣā kling, caṇdanā, we limo, wdhaknā. Ta, panas karaṣā ring jro, śa, mëmëniran, paspasan, adas, sarì, dadah, bloñohaknā, sëmbar kawaṣā. Ta, panës ring jro, śa, wwan sidagwih, dhuhi santën, inūm. Manih, śa, sumanggi gunung, adas, duhi santën,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page26.htm">(26a)</a>   dilumatkan. Obat, panas pusing, sarana, paspasan, padang lepas, lunak hasil rebusan, adas, rebus, lulurkan. Obat, bingung, tidak dapat tidur, seperti kepanasan, sarana, <em>pule</em> , bawang, adas, air jeruk nipis, diminum. Obat, panas kebingungan, sarana, kayu <em>tulak</em> , kayu <em>sangka</em> , <em>dausa kling</em> , cendana, air limau, lulurkan. Obat, terasa panas dalam perut, sarana, daun kemenir, paspasan, adas, sari, rebus, lumatkan, juga dapat disemburkan. Obat, panas di dalam perut, sarana, daun sidaguri, dicampur dengan santan, diminum. Lagi, sarana, semanggi gunung, adas, ditambah santan,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page26.htm#B">(26b)</a>  tahap. Manih, śa, tambo kutuh, tombong, bakar, ktan gajih, bwang tambus, puhaknā irūngnyā. Ta, ëngëd lawas tan warās, śa, gintën, ji, 5, lunak tanëk, śrë bāng, uyah, cuka tahun, tahāp ring dadasār cmöng. Ta, gumigil, tan kwaṣā mangawe, śa, damin dapdap, pañcarsonā, sumpit pule, tum kuskus, bwang tambus, wwenyā iragan bras, tahap. Ta, jampi wangke, lara ring lambe, ring ilat, alëk ambacin, śa, wwan dapdap, wan këndal, carmman turi bāng, sulaśih mrik, tum kuskus, mbanyāgagambiran anom, adas</em><em>,</em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page26.htm#B">(26b)</a>   diminum. Lagi, sarana, tambo kutuh, tombong / mumbang kelapa, dibakar, <em>ketan gajih</em> , bawang dibakar, tutuhkan pada hidungnya. Obat, dingin berkepanjangan tidak kunjung sembuh, sarana, <em>ginten</em> , sebanyak, 5, asam hasil rebusan, terasi merah, garam, cuka yang sudah lama, diminum dengan memakai batok kelapa hitam. Obat, menggigil, tidak mampu untuk makan, sarana, kerikan pohon dadap, pancarsona, tunas pohon <em>pule</em> , ditum dan dikukus, bawang dibakar, airnya rendaman / gosokan beras, diminum. Obat, jampi wangke, sakit yang terdapat pada bibir, pada lidah, sembelit, sarana, daun dadap, daun kendal, kulit pohon turi merah, sulasih yang harum, ditum dan dikukus, campurannya gegambiran muda, adas,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page27.htm">(27a)</a>  pulasahi, sari lūngid, bwang tambus, tahap. Ta, jampi agung, laranyā mamëngkā, ring wtöng kaku, ring ulun hati sada ngangah, mwang hnëk, makokohan tan pgat, sada tngal, śa, akah kutat këdis, akah ñuh mulung ne ngūdā, lublubuu, wor ring tasik, bwang tambus, bhālulang kbo, wiansuhan dena brëśih, pres pëṇdëm, tahap. Sëmbar ring waduk, mwang uluh hati, śa, babakān pule tbël, ñuh matunū, tmu tis, katumbah, babolong. Ta, sabaha bëngkā mwang warang, śa, mëmëniran, sumanggi gunung, cārmmān pule, wwe ktan gajih, rëmëk dhaging, tahap. Ta,</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page27.htm">(27a)</a>   pulasari, sari lungid, bawang yang dibakar, diminum. Obat, jampi agung, sakitnya membengkak, pada perut kaku, di hulu hati terasa perih, lagi nek, batuk tiada putus, dan kering, sarana, akar kutat kedis, akar kelapa hijau yang masih muda, dikerik, dicampur dengan garam, bawang yang dipanggang, kulit kerbau, dicuci hingga bersih, perasannya diendapkan, minum. Semburkan pada perut, dan hulu hati, sarana, kulit pohon <em>pule</em> yang tebal, kelapa yang dibakar, <em>temu tis</em> , ketumbar, babolong. Obat, sabaha bengka (panas dalam bengkak) dan kemerahan (warang), sarana, daun kemenir, semanggi gunung, kulit pohon <em>pule</em> , air <em>ketan gajih</em> , isinya semua diremas, minum. Obat,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page27.htm#B">(27b)</a>  pulasahi, sari lūngid, bwang tambus, tahap. Ta, jampi agung, laranyā mamëngkā, ring wtöng kaku, ring ulun hati sada ngangah, mwang hnëk, makokohan tan pgat, sada tngal, śa, akah kutat këdis, akah ñuh mulung ne ngūdā, lublubuu, wor ring tasik, bwang tambus, bhālulang kbo, wiansuhan dena brëśih, pres pëṇdëm, tahap. Sëmbar ring waduk, mwang uluh hati, śa, babakān pule tbël, ñuh matunū, tmu tis, katumbah, babolong. Ta, sabaha bëngkā mwang warang, śa, mëmëniran, sumanggi gunung, cārmmān pule, wwe ktan gajih, rëmëk dhaging, tahap. Ta, </em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page27.htm#B">(27b)</a>   jampi amengka (membengkak), sarana, buah delima, daun simbukan hitam, diremas, airnya arak, diminum. Obat, sakit perut, sarana, air gosokan cendana, kemiri, bawang yang dibakar, di minum. Lagi, sarana, jebuggarum, cendana, <em>ketan gajih</em> , perasannya diminum. Obat, arak secukupnya, madu secukupnya, cuka secukupnya, diminum setiap hari, orang yang sakit perut sembuh karenanya. Obat, pamali, sakit melilit, pada perut, pada hati, tubuh seperti ditusuk-tusuk tiada tahan, sarana, air gosokan cendana, kemiri, bawang yang dipanggang, diminum. Lagi, sarana, <em>jebuggarum</em> , trikatuka, dihaturkan pada (sendi) atau telapak kaki –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page28.htm">(28a)</a>  ning jinöng, mulu lor wetthan, sëmbar gringnge denta. Manih, ron kasinen, ulungan dapdap, isen, kunir, tingkih, bawang, sindrong gnëp, sëmbar gnahhe agring. Manih, ulungan dapdap, gamongan, kunir, tingkih, bawang, sëmbar. Yan yā mëpët &#8211; mëpët atinyā ning luhur, budëng tatmunën ikā, ta, śa, bangkëtmu, micā, 21, bṣik, gilut. Yan masih agring, śa, patining bangle, gintën, tahap. Ta, ati hnëk, tan knā alungguh, mwang wangkongnyā larā, budëng kalingsih, nga, ta, śa, rwan kadal, binakār, muṣi sajumput, den akeh, patinyā inūm, wëdaknyā myana irëng, adas</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page28.htm">(28a)</a>   lumbung, menghadap ke timur laut, sembur (usir) penyakit olehnya. Lagi, daun kasiden, jatuhan daun dadap, lengkuas, kunyit, kemiri, bawang, rempah-rempah lengkap (isinrong genap), semburkan pada tempat si sakit. Lagi, jatuhan daun dadap, lempuyang, kunyit, kemiri, bawang, semburkan. Jika sesak hatinya pada bagian atas, budeng ta <em>temu</em> tersebut , obat, sarana, air <em>temu</em> , merica, 21, butir, peras. Jika masih terasa sakit, perasan Bangli, <em>ginten</em> , minum. Obat, hati nek, tidak dapat duduk, dan punggungnya sakit, budeng kalingsih, namanya, obat, sarana, daun kadal, dibakar, musi sejumput, banyak juga bisa, perasannya diminum. Lulurannya, daun myana hitam, adas,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page28.htm#B">(28b)</a>  tingkih. Ta, puruh, śa, jahe, rajah kayeki,___________ , bawang rajah kayeki,_________ , ma, ong bhaṭārā I luh ayoga ngadëging panonku, tkā sanak, rëp siddhā mantrānku. Nihan patngërraning wiṣyā, lwirnyā, yen tan pabaya, upas tahun anglaranin, śa, weh jruk, gulā, isindrong, pipis patinya inūm. Yan kuning kukunyā, krikan gangṣā nglarani, śa, ëncëh bebek, kunir warangan, tahap. Yen jnar socanyā, asmu bāng, upas dewek anglarani, śa, carmman poh ijo, lunak tanëk, wenyā bayëm puring, inūm.</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page28.htm#B">(28b)</a>   kemiri. Obat kepala pusing (puruh), sarana, jahe, rajah seperti ini,________ bawang rajah seperti ini,________ mantra, <em>ong bhatara I luh a yoga ngadeging panonku, tka sanak, rep siddha mantranku (Ya, Bhatara I Luh beryoga berdiri mataku, ampuhlah mantraku)</em>. Inilah tanda-tanda tentang penyakit, di antaranya, jika nafas hampir meninggalkan raga, upas tahunan menyakiti, sarana, buah jeruk, gula, <em>isinrong</em> (rempah-rempah), dilumat, airnya diminum. Jika kukunya (tampak) kuning, krikan gangsa, (sumber) penyakitnya, sarana, air kencing bebek, kunyit <em>warangan</em> , di minum. Jika matanya kuning kemerah-merahan, upas dewek yang menyakiti, sarana, kulit mangga hijau, asam yang direbus, air bayam puring, diminum.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page29.htm">(29a)</a>  Yen matra kukunyā marawat bāng, upasing hysng nglarani, śa, dūkut kuraṣṭi, adas, bawang tambus, inum. Mata bang kadi mtu, kawaśa uyang, pipilingan kadi clëk, kuku bhirū, upas manglarā, tawarrën. Ta, untu ogah tūr gatël, knā warangan ikā, kukūrah I we angët. Gumigil, tan pantarā, turra watuk, tan papgatthan, knā raratusan, śa, rwan pucak putih, tan patlak sakawit, inum, japën panawar, wdaknyā rwaning katepeng, tutuhnyā wwan jahuti, kasisat putih, sari</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page29.htm">(29a)</a>   Jika mata kukunya tampak kemerahan, upas hyang yang menyakiti, sarana, akar paku nasi, adas, bawang yang dipanggang, diminum. Mata merah, seakan hendak keluar, senantiasa gelisah, pelipis mata bagai ditusuk, kuku (tampak) biru, racun yang menyebabkan, hendaknya diobati. Gigi goyah dan gatal, itu terkena racun <em>warangan</em> , dikumur dengan air hangat, menggigil kedinginan, dan batuk yang terus menerus, terkena reratus (campuran racun), sarana, daun kembang sepatu putih termasuk akar, dan kulitnya, diminum, dimantrai dengan mantra penawar, borehnya daun ketepeng, ditetesi boreh dahuti, kasisat putih, sari –</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page29.htm#B">(29b)</a>  kuning, kalëmbak kasturi, pūhaknā, yan kumtër paglangganing tangan, knā cṭik ika, pūhaknā. Wnang tinawar. Yan kënā cṭik upasmat, nga, śa, candanā, asak ring dulang dulangan. Tain ñulati, carmman bëngkël, carmman këndal, carmman waru, sami panggang, haywa winalik, pipis, we bayu wenyā, inūm, ma, ong haya gumi, kewū hana jadma manūṣā, tejā gumi hana tejā manūṣā, bhaṭārā gaṇa manūṣā, amalaku kaśakten, maka siddhyā mandi mantrangku. Ta, tan knā anguyuh, śa, bañuning bras, sindrong, gagambiran, tahap, sida mtu denyā.</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page29.htm#B">(29b)</a>   kuning, klembak, kasturi, teteskan, jika pergelangan tangannya terasa gemetar, itu terkena cetik (racun), teteskan, hendaknya di obati. Jika terkena cetik (racun) upasmat , sarana, cendana digosokkan pada dulang, tahi nlati (sari-sari tanah), kulit pohon bengkel, kulit pohon kendal, semua dipanggang tanpa dibalik, dilumatkan, air saringan airnya, diminum, mantra, <em>ong hayu gumi, kewu hana janma manusa, teja bhumi hana teja manusa, bhatara hana manusa, amlaku kasakten, siddhya mandi mantranku (Ya, damailah bumi, ada manusia, sinar bumi dan sinar manusia, Bhatara, ada manusia menggelar kesaktian, ampuhlah mantraku)</em>, Obat tidak bisa kencing, sarana, air beras, isinrong gegambiran, minum, berhasil lancar karenanya.</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page30.htm">(30a)</a>  Ta, tan knā angising anguyuh, tai buritan, nga, śa, kakap, pulasahi, bawang, adas, uyah, sëmbar sikṣikannyā. Maka arap silit katak, śa, āmbën canging, akah jaruju, pulāsahi, bawang adas. Maka inūmnyā, śa, lëngis tānūsan, atakëh, wwe jruk linglāng, atakëh, uyah uku, tahap. Manih, śa, babakan tingkih, we cukā, tahap. Ta, tan knā ngising, śa rwaning kaliki ne dumlā, winjëk, lunak, santën, bawang goreng antuk muluk celeng, tahap. Ta, btëg, śa, inan kūñit warangan, babakañ canigarā, babakan tingulun, wdhakaknā. I</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page30.htm">(30a)</a>   Obat, tidak dapat berak dan kencing, tai buritan, namanya, sarana, kapkap, pulasari, bawang adas, garam, semburkan pada bagian bawah pusarnya. Sebagai lulurannya pada bagian bawah punggung, sarana, akar pohon canging, akar jaruju, pulasari, bawang adas. Sebagai minumannya, sarana, minyak kelapa, secukupnya, air jeruk nipis, secukupnya, air garam laut, minum. Lagi, sarana, kulit pohon kemiri, air cuka, diminum. Obat, tidak dapat berak, sarana, daun jarak muda, diremas, asam, santan, bawang yang digoreng dengan lemak babi, minum. Obat, bengkak-bengkak (bteg), kunyit <em>warangan</em> yang sudah tua, kulit pohon canigara, kulit pohon tingulun, diurapkan. I-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page30.htm#B">(30b)</a>  - ki tëngran wong mati, yan kajumput carmānyā wong agring, raris, lëslësaknā, kari kadi kajumput uni carmmanyā, pjah wang mangkānā. Malih yan tinhën nakanyā ring kuku wus tinhën, yan tan asmu abāng, pjah wang mangkanā. Ta, awak panas, śa, kakap gantung, sësëb mangde agal, bjëk antuk uyah arëng, wus mabjëk, mdhaging isen makikih, gamongan makikih samā ring isen, katumbah, babolong, damök antuk toyañ canaṇā, ingasab, raris kus-kus, sāmpun ratöng, sëmbaraknā kabeh. Makā harëp, ring buku &#8211; buku, śa, babakan nagasari, ckuh, pulāsahi. Ta, rare awa –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page30.htm#B">(30b)</a>   -ni tanda-tanda orang meninggal, jika kulit orang yang sakit tampak keriput, kemudian terasa putus-putus, masih seperti tadi keriput kulitnya, orang tersebut dapat dikatakan mati. Lagi jika ditekan kukunya pada kuku (yang memeriksa) setelah ditekan, jika tiada tanda kemerahan, orang tersebut dikatakan mati. Obat, tubuh terasa panas, sarana, kapkap gantung, cincang supaya halus, diremas dengan garam dapur, setelah diremas, ditambahkan lengkuas yang dikikir, lempuyang yang dikikir sama dengan lengkuas, ketumbar, babolong, di aduk dengan air cendana, bekas gosokan, kemudian dikukus, setelah masak, disemburkan semua. Pada setiap bagian tubuh, sarana, kulit nagasari, kencur, pulasari. Obat, anak__ yang badan-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page31.htm">(31a)</a>  - k panas, śa, rwan gëntawas, bjëk antuk uyah, urab antukl apā kinikih, pes tambus, wus ratöng, sëmbarraknā awak kabeh. Ta, pamëñcah mwang bṣëh ring wtöng, śa, tibah sumëntal, sindrong jangkëp, we ñah kinlā, wus ratëng, tahapaknā. Makā panampël ring ulun ati mwang ring wtöng bṣëh, śa, wong kilas clagi, misi lunak tanëk, sindrong wayah, demök ring santën kana, alëdin dawun tibah, rinajah garuddhā, tampëlaknā. Ta, salwirring tilas, śa, rwaning kangkang yuyu, bwah përon, tawan, sindrong wayah, lënga tanusan, ikā anggen gino –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page31.htm">(31a)</a>   -nya panas, sarana, daun gentawas, diremas dengan garam, di campur dengan kelapa yang dikikir, dipepes, setelah matang, semburkan pada seluruh badan. Obat, memecahkan dan perut yang bengkak, sarana, mengkudu yang mentah, rempah-rempah lengkap (isinrong jangkep), limbah air garam, direbus, setelah matang, diminumkan. Sebagai obat menempelkan pada hulu hati dan pada perut yang membengkak, sarana, wong / jamur kilas clagi, berisi asam yang direbus, rempah-rempah (isinrong wayah), dicampur dengan santan kental, dialasi dengan daun mengkudu, di rajah garuda, tempelkan. Obat, segala tilas (penyakit kulit), daun kangkang yuyu, buah peron, tawas, rempah-rempah (isinrong wayah), minyak kelapa, itu digunakan dan digo-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page31.htm#B">(31b)</a>  - reng, wus ratöng, wolesaknā. Malih makā pamasëh, śa, isen atënggëk manuk, rwan dapdap, pinipis, amet prësanña, nggen mamasöh. Malih makā panëtël, śa, klungah sinluh ring ñambuk, binakār, sāmpun karaṣā angët tëtëlaknā. Ta, pañampi wtöng kanin ring jro, śa, isen, candanā, padha ingasab, ginawe toya wedang, sāpun umuluh luwabanñane, tibaning prapatthan, ring madhyā ning prapatthan, patining asaban candanā, asaban isen, sendok ping tlu, tahap. Ta, gring ka –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page31.htm#B">(31b)</a>   -reng, setelah masak, dioleskan. Lagi sebagai sarana membersihkan, sarana, lengkuas atenggek manuk, daun dadap, digerus, ambil perasannya, dipakai untuk membersihkan. Lagi sebagai penekan dengan halus berkali-kali, sarana, buah kelapa muda diambil bersama dengan serabutnya, dibakar, sesudah dirasa hangat ditekan-tekan dengan halus. Obat, penawar luka perut di dalam, sarana, lengkuas, cendana, sama-sama digosok, dibuatkan air seduhan, sesudah mendidih airnya, seperempat, dengan setengah perempat, air gosokan cendana, gosokan lengkuas, disendok tiga kali, minum. Obat, sakit men-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page32.htm">(32a)</a>  dadak, ngutah mising, mwang malolongan, upas bngāng denyānglarani, śa, akah nāmbu er, akah padang blulang, bras bāng, ktan gajih, bawang tambus, pipis prësaring, tahapaknā. Haji montong, śa, waning ambulu, waning karuk, mica, pipis dena lëmbat, asaban timbrah, winehan madhu, urapaknā ring paṣṭā, sakarëptā siddha, bratanya tan katmu ring istri, 3, rahinā. Pamagöng paṣṭa, śa, pijër cihnā, damār selā, pipis, dhuhing madhu, tahap marëp mangetthan, sidā pañjang denyā. Ta, panglanang, bubur ktan gajih, bañu ning sajëng manis, bëbëhin micā,</em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page32.htm">(32a)</a>   mendadak, muntah berak, dan keras, upas bengang yang menyakiti, sarana, akar pohon jambu air, akar padang blulang, beras merah, <em>ketan gajih</em> , bawang yang dibakar, digerus, diperas disaring, diminumkan. Haji montong, sarana, daun <em>ambulu</em> , daun <em>karuk</em> , merica, digerus sampai halus, gosokan air ketumbar, ditambahkan madu, dioleskan/ diurapkan pada penis, sebisanya, pantangannya tidak bersenggama dengan istri, 3, hari. Memperbesar penis, sarana, pijer cihna, damar sela, digerus, dicampur madu, minum menghadap ke timur, dapat panjang karenanya. Obat supaya kuat (panglanang), bubur <em>ketan gajih</em> , air tuak manis, dibubuhi merica,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page32.htm#B">(32b)</a>  nganën. Ta, rahasyā, śa, limo purut, pipis, wdhaknā rahasyā. Nyan pamaenak bāga, śa, ghajihing tikus, ghajihing dadali, sinama bagi, urutaknā bagantā, kanyā mwah denyā. Manih, śa, lënga uduking kacapā, lënga uduking tikus, sinama bagi, urutaknā baggā sari &#8211; sari. Manih, śa, babakan gintungngan, mpuning kunir, mricā, phalā, madhū kalupā, gtih angśaṇā, pipis, tahap. Manih, śa, isen kapur, limo purut, wdaknā ring bagghā, byaktā suraṣā denyā. Manih, śa, lawo –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page32.htm#B">(32b)</a>    manjur. Obat, rahasia (kemaluan), sarana, limau purut, digerus, dilulurkan pada tempat rahasia (kemaluan). Ini merapatkan vagina, sarana, gajihing tikus, gajihing dadali, sama-sama takarannya, dilulurkan / diurutkan pada vaginanya, kembali muda / rapat karenanya. Lagi, sarana, minyak uduking kacapa, minyak uduking tikus, sama-sama takarannya, diurutkan pada vagina setiap hari. Lagi, sarana, kulit gintungan, air kunyit, merica, pala, madu, kalupa, getah angsana, dilumatkan, diminum. Lagi, sarana, lengkuas, kapur (lengkuas) , limau purut, diborehkan pada vagina, senantiasa terasa (bergairah) olehnya. Lagi, sarana, lawos-</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page33.htm">(33a)</a>  - s, lampuyang, mpuning kunir, katumbah , lungid, pipis, urapaknā ring bagghā. Ta, puputihan, śa, kamubugan, sakawit, daringo, jasu pṭak tunggal, uyah arëng, tahap mangetthan. Ta, yan arëping wong istrì, śa, bubūr ktan gajih, wus ratöng bëbëhhin micā, 21, bṣik, antiganing sawung añar mëntah, 1, duhing santënyā, klapā ijo, panganaknā. Panglanang, śa, majā kling palā, lungid, jruk purut, waning cungor, pipis kabeh, kcirrin lëngā, urapaknā ring paṣṭā, suwe denyā mangkas. Pangundang kamā, śa, këmbang jaruju, jasun pṭak tunggal, gi –</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page33.htm">(33a)</a>   -s, Lempuyang, air kunyit, ketumbar, sari-sari kembang sepatu__ (lungid), digerus, di lulurkan pada vagina. Obat keputihan, sarana, kamubugan, bersama dengan akar kulit dan daun, daringo (simbukan), jasu merah satu, garam dapur, minum menghadap ke timur. Obat, bersenggama dengan perempuan, sarana, bubur <em>ketan gajih</em> , sesudah masak, dibubuhi merica, 21, butir, telur ayam mentah yang baru, 1, dicampur dengan santan, kelapa hijau, dimakan. Supaya kuat, sarana, maja kling pala, lungid (sari-sari kembang sepatu) jeruk purut, daun cungor, digerus semua, ditambahkan minyak, dioleskan / dilulurkan pada penis, lama beraksinya. Meningkatkan gairah sex, sarana, bunga jaruju, jasun putih sebiji,</p>
<p><em><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page33.htm#B">(33b)</a>  - lutaknā. Pangurip kamā, duwëgan ijo, kang kamruk, kinlā makṣih ring cangkoke, wus kinlā tinwun madhū, panganaknā. Puput kasurat, antuk Ida Bagus Ktut Gdhe Ëngkëg, ring Griya Taṇdëg Batur Rëning, Prabëkëlan Mambal, Distrik Abiansmal, dinā, ca, pwa, wara ugu, titi, pang, ping, 14, śaśih, kapat, I Śakā warṣā ni lokā, 1883, masehi, 1961</em><em></em></p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page33.htm#B">(33b)</a>   dilumatkan. Menghidupkan gairah sex, kelapa muda hijau, yang dikikir, dipanggang, dibakar, sebuah tempat, setelah dipanggang / rebus, dicampur dengan madu, bisa dimakan. Selesai disalin, oleh Ida Bagus Ktut Gdhe Engkeg, berasal dari Grya Tandeg Batur Rening, Prabekelan Mambal, Distrik Abiansemal, pada hari, coma, Pon, wuku Ugu, titi (tanggal) , panglong (tilem / purwani) hari ke 14, bulan, ke Empat, I Saka Warsa, 1883, tahun Masehi, 1961.</p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page34.htm">(34a)</a>   (puput)</p>
<p><a href="http://www.ringingrocks.org/projects/lontar_vol3/usada%20dalem/pages/page34.htm">(34a)</a>   (selesai)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dharmavada.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dharmavada.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dharmavada.wordpress.com&amp;blog=8325845&amp;post=483&amp;subd=dharmavada&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dharmavada.wordpress.com/2011/06/08/usada-dalem-transkrip-huruf-latin-terjemahan-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00cf63d7cd1c5032d957d9dc9f5250c3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dharmavada</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
