upakara


Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
 Prosesi upacara pengabenan nista menurut Teks Yama Purwana Tattwa, juga sangat sederhana, jika diperhatikan dari sarana upakara yang digunakan. Bentuk Upacara Pengabenan Nistha dalam Teks Yama Purwana Tattwa, sejalan dengan bentuk Upacara Pengabenan Supta Pranawa dalam Teks Weda Puja Pitra Siwa yang menjelaskan:
”Muang mati kala kahawanan, katiban mrana, muang tutumpur, kaperepeganing musuh, kari wawalunganya mapendem, maung ring salu sampun setahun, wenang Pranawa, Sawehnya geseng wawalungan ika ring setra muang kirim, babantenya panjang ilang, bubur pirata, nasi angkeb, wija catur warna, kalungah kinasturi, ajuman putih kuning, peras, sorohan, tarpana sarparikrama, dyus kamaligi, nora tumut kukwan, muang wak-wakanya, pisang jati palungguhan krama jangkep, daksina sang ngajengin karya gung artha 8000. Sawa Pranawa ngaran”.
Bagi mereka yang meninggal pada saat perjalanan jauh, dilanda penyakit dan wabah, diserang musuh, tulang-belulangnya masih dikubur atau masih di atas tumpang salu hingga setahun, dapat diupacarai dengan upacara pranawa. Semua tulang belulangnya dibakar di kuburan dilanjutkan dengan upakara pakiriman dengan sesajennya; panjang ilang, bubur pirata, nasi angkeb, wija catur warna, kelapa gading muda yang dikasturi, ajuman putih kuning, peras, sorohan, saji tarpana selengkapnya, dyus kamaligi, tidak berisi kukwan dan wak-wakan, pisang jati sebagai palungguhan selengkapnya dan daksina untuk pendeta yang memimpin upacara dengan uang sebesar 8000. Upacara ini disebut Pranawa.

Memperhatikan uraian teks di atas dapat dipahami bahwa; dalam pelaksanaan Upacara Pengabenan Nistha wajib membuat pengawak atau pipil dan sangga urip, sebab tidak dibenarkan mengupacarai tulang-belulang saja. Mengenai arah perjalanan yang akan dituju bila memilih bentuk Upacara Pengabenan Nistha adalah ke Utara, yaitu ke Wisnu Loka (wilayah kekuasaan Dewa Wisnu). Bila dalam kehidupannya orang yang diupacarai perilakunya cenderung subha karma maka atmanya akan tiba di Svarganya Dewa Wisnu, disambut oleh bidadari Tunjung Biru. Di sana ia akan tinggal bersama Bhagawan Janaka. Apabila dalam kehidupannya ia cenderung pada perbuatan asubha karma maka atmanyya akan sampai di neraka yang panas membara karena dipenuhi lahar. Cikrabala yang akan menyambutnya bernama Adikara dan Kingkara. Pada saat memohon Tirtha Pawitra, Sang Pandita membayangkannya keluar dari nada pada aksara Mang dalam pertemuan Tri Aksara, dan diantarkan dengan Om Kara Gheni, dengan Panca Brahma berada di bawah, sedangkan Panca Aksara berada di atas, disertai dengan air suci anugrah Betara Dalem.

Berkenaan dengan hal tersebut dapat dipahami bahwa fungsi Upacara Pengabenan Nistha atau Supta Pranawa adalah sebagai penyucian terhadap sang atma, selanjutnya menuntun dan mengantarkan sang atma sampai ke Wisnu Loka.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
Bila diperhatikan dari bentuknya, Upacara Pengabenan Pitra Yadnya merupakan upacara pengabenan yang sangat sederhana, hampir sama dengan Upacara Pengabenan Swastha Gheni, akan tetapi ada sesuatu yang sifatnya sangat prinsipil yang membedakan kedua bentuk upacara pengabenan tersebut yakni;  Upacara Pengabenan Swastha Gheni dilaksanakan jika ada mayat, sedangkan Upacara Pengabenan Pitra Yadnya dilaksanakan bagi yang mayatnya tidak diketemukan. Mengenai fungsinya juga tidak berbeda yaitu sama-sama sebagai penyucian terhadap sang atma. Sejalan dengn itu  Weda Puja Pitra Siwa juga menjelaskan tentang fungsi Upacara Pengabenan Pitra Yadnya adalah sebagai berikut:
“Muang yan amitra yadnya palakunya, kramanya tan pawadah, tan patulangan, tan padamar kurung, tan pabanten teben, kewala saji muang pacaruan. Swarganya ring Tengah, kawahnya Weci Desa, pangadang-adang sang Bhuta Angga Sakti, cikrabalanya watek Danuja, widyadarinya sang Supani, wikunya Wilaruci, dewanya Sang Hyang Siwa, wewalenya Gending Lwang, pamuputnya ring Umah, Tirthanya Amertha Sanjiwani. 
Kalau pitra yadnya yang dilaksanakan, tatacaranya tidak memakai wadah, tidak memakai perabuan, tidak memakai dammar kurung, tidak menggunakan banten teben, hanya berisi saji dan pecaruan. Arah svarga yang dituju adalah di Tengah, Nerakanya adalah kotoran, penghalangnya adalah Sang Byuta dilaksanakan di kuburan, Tirthanya Amertha Sanjiwani Angga sakti, Laskarnya Para Danuja, bidadarinya Sang Suparni, Lawang. Upacaranya. Pendetanya sang Nilaruci, Dewatanya Sang Hyang Siwa, walinya gending.
 
Bila Upacara Pengabenan Pitra Yadnya yang menjadi pilihan untuk dilaksanakan ; maka atma orang yang diaben akan dituntun menuju ke arah Tengah yaitu ke Siwa Loka. Jika dalam hidupnya ia cendrung pada subha karma maka ia akan sampai di svarganya Dewa Siwa, Bidadari yang menyambutnya adalah Sang Suparni. Di svarganya Dewa Siwa, sang atma akan ditemani oleh Pandita Sang Nilaruci. Jika dalam kehidupannya ia lebih cenderung pada perbuatan asubha karma, melalui Upacara Pengabenan Pitra Yadnya, sang atma akan diantar ke neraka. Neraka yang akan dijumpainya berupa kotoran, sedangkan penghalangnya adalah Sang Byuta Angga Sakti, laskar yang akan menyambutnya adalah Para Danuja. Dalam pelaksanaan upacara hendaknya menggunakan tabuh gending lawang. Sedangkan Tirthanya adalah Tirtha Amertha Sanjiwani.
 
Pada saat memohon Tirtha Amertha Sanjiwani, sang Pandita membayangkannya keluar dari nyala api yang keluar dari pusarnya, naik ke jantung, naik lagi hingga sampai pada otot yang buntu, lalu mendidihkan air yang terdapat dalam otak, melalui jalan depan Ardhacandra adalah kedua mata, windunya adalah pangkal hidung, dan dinamakan Yoga Nirbhana. Dengan demikian jelaslah bahwa fungsi Upacara Pengabenan Pitra Yadnya  adalah sebagai penyucian terhadap sang atma agar layak bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi, selanjutnya dituntun sampai ke Siwa Loka.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Seperti telah dijelaskan di depan, Upacara Pengabenan Swastha Gheni merupakan bentuk upacara pengabenan yang paling sederhana. Mengingat bentuknya yang sangat sederhana Upacara Pengabenan Swastha Gheni memungkinkan dilaksanakan oleh siapa saja yang menghendaki, dan tidak memerlukan waktu yang banyak untuk menyiapkannya. Satu hal yang harus menjadi perhatian,  Upacara Pengabenan Swastha Gheni bisa dilaksanakan jika mayatnya masih ada.
kewala wwang mati bner tan wnang mapendem, mangde magseng juga, saika supacarania, prasida Sang Atma molih ring Bhatara Brahma, apitwi tan pabia, swastha ring Sang Hyang Aghni sida amanggih rahayu Sang Hyang Atma.
 
Hanya orang yang mati secara wajar tidak boleh dikuburkan, agar dibakar saja, disertai dengan upacara supaya roh orang tersebut mendapat tempat disisi Dewa Brahma. Walaupun tanpa biaya, dengan jalan upacara swasta gheni. Atma akan berhasil mendapat kebahagian yang abadi (YPT 2b).
Kunang wekasan wenang sakama-kama amreteka sawa karyaning angatma wedana, nga, nyekah, memukur, kunang yan sampun sah kadadia sama amanggih rahayu Sang Pitara, iccha pada bhatara lumingga ring jagat.
 
Selanjutnya sewaktu-waktu dapat dilaksanakan upacara Atma Wedana yaitu Nyekah/Mamukur. Apabila ini sudah terlaksanakan Sang Atma sama-sama mendapat kebahagiaan, dan para Dewata merasa senang berada didunia ini (Yama Purvana Tattwa, 3a).
 
Bait-bait sloka di atas menjelaskan, fungsi Upacara Pengabenan Swastha Gheni menurut Teks Yama Purwana Tattwa adalah sebagai penuntun sang atma, hingga bisa mendapat tempat disisi Dewa Brahma dan serta memperoleh kebahagiaan yang abadi.  Bila sang atma sudah memperoleh kebahagiaan maka ia tidak akan bergentayangan mengotori dunia, dengan demikian Ida Sang Hyang Widhi akan senang ber-shana di dunia ini. 
 
Lebih jauh Weda Puja Pitra Siwa menguraikan: bila memilih melaksanakan Upacara Pengabenan Swastha Gheni; sang atma akan diantar ke Selatan. Bila dalam kehidupannya orang yang meninggal perilakunya subha karma maka arwahnya akan tiba di svarganya Dewa Brahma, disambut oleh bidadari Gagarmayang. Di sana ia akan tinggal bersama Bhagawan Rama Parasu. Apabila dalam kehidupannya ia cenderung pada perbuatan asubha karma maka arwahnya akan sampai di neraka yang sangat panas membara karena dipenuhi oleh api. Cikrabala yang akan menyambutnya bernama Doraloka dan Para Bhuta. Bait sloka ini juga menjelaskan bahwa fungsi Upacara Pengabenan Swastha Gheni adalah sebagai penuntun sang atma sampai di Brahma Loka.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
Dalam “Lontar Tapeni” disebutkan bahwa upakara merupakan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti adanya Tri Angga antara lain:
a) Semua bentuk daksina adalah merupakan simbul kepala (hulu) yang merupakan kekuatan dan sumber pengatur.
b) Semua bentuk ayaban seperti pengambeyan, dapetan adalah merupakan simbul badan, dan jerimpen adalah simbul tangan, semua bentuk tebasan dan sesayut adalah semua bentuk perut.
c) Semua bentuk lelaban seperti, caru segehan adalah simbul pantat dan kaki.
 
Uraian tersebut ditegaskan dalam Tutur Tapeni sebagai berikut:
“Apan Widhi widana juga ngaran banten, bang ngaran sang Hyang Prajapati (Widhi), anten ngaran inget, ngaran eling, ling ngaran tunggal, ngaran kimanusa anunggal lawan widhi”.
 
“Iki paribasa Widhining yajna, luir ipun, yajnaadruwe prabhu (hulu), tangan, dada muah suku manut manista, madya motama. Daksina pinaka hulunia, jerimpen karopinaka asta karo sehananing banten ring areping Widhini pinaka angga, sahananing palelabahan pinaka suku”.
 
Sebab Widhi Widana juga bererti banten, bang disebut dengan Sang Hyang Prajapati, anten artinya ingat, eling ling, artinya satu, disebut sebagai manusia yang senantiasa menyatu dengan Sang Hyang Widhi.

Yadnya ini sebagai penggambaran Tuhan, seperti yajna memiliki kepala,  tangan, dada dan kaki sesuai konsep nista, madya, utama. Daksina sebagai kepalanya, kedua jerimpen sebagai bahu, seluruh banten yang ada di atas merupakan penggambaran seluruh badan Sang Hyang Widhi, dan semua pelelaban merupakan kaki beliau.
 
Selanjutnya dalam Lontar Tutur Yajna Prakerti ada juga uraian tentang simbolisasi dan makna banten tersebut antara lain bunyinya:
“Ika nimitan ing Widhi-Widana araniya, ikang sarwa babanten, apaniya dadi lingga, dadi saksi, dadi caya, dadi cihnan ing wang astiti bhakti ring Widhi. Panggalaniya ya ring raga sarira juga stana ini Widhin anuksma, ring bhumi nggwan ing astute, nggwan ing stungkara, nggwan ing Umastawa sira.
Karan ing Widhi-Widhana nga, Bhatara; Wi nga, suksma; dhana nga, sakala nyalankara. Kalinganiya ikang babanten juga pinaka reka rupa warnan ira Bhatara, rinekeni rupa kadi tingkah ing kawongan, pada sowong-sowang”
 
Itu disebutkan sebagai Widhi-Widhana, semua dari bebanten, merupakan symbol lingga, menjadi saksi, menjadi cahaya/sinar menjadi cirri-ciri orang yang bhakti kepada Widhi. Itu sebabnya Widhi-widhana/ banten disebut Bhatara. Wi artinya suksma/disucikan; Dhana artinya nyata-nyata ada. Makna banten juga sebagai perwujudan bharata, yang diteladani oleh manusia didalam bertingkah laku.

Memperhatikan penjelasan isi lontar tersebut banten yang dipergunakan sebagai sarana persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi penuh dengan makna simbol-simbol. Segala perasaan dan keinginan yang ingin disampaikan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi disampaikan dalam bentuk simbolisasi. Banten secara keseluruhan merupakan penggambaran Ida Sang Hyang Widi secara utuh. Banten juga merupakan lingga (tempat berstananya Ida Sang Hyang Widi), banten adalah perwujudan ketulusan hati, banten juga merupakan perlambang cahaya yang menerangi hati nurani manusia.
 
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si.

Bagi umat Hindu, upacara kematian lebih dikenal dengan istilah pitra yadnya. Pitra yadnya merupakan salah satu bagian dari tri warga yang wajib dilaksanakan oleh umat Hindu agar dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, demikian penjelasan Bhagawan Wararuci dalam kitab Sarasamuccaya. Pitra yadnya berasal dari dua kata yaitu pitra dan yadnya. Secara harfiah kata Pitra berati orang tua (ayah dan ibu), dan dalam pengertian lebih luas berarti leluhur. Sedangkan kata yadnya berarti pemujaan, persembahan atau korban suci baik material maupun non material berdasarkan hati yang tulus ikhlas, dan suci murni demi untuk tujuan-tujuan yang mulia dan luhur. Yadnya pada hakikatnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa, dan ikatan karma, untuk selanjutnya dapat menuju pada “Kelepasan”. Dengan demikian pitra yadnya berarti pengorbanan suci yang dilandasi oleh rasa hati yang tulus ikhlas yang ditujukan kepada para leluhur dalam usaha untuk membebaskan arwah para leluhur dari ikatan dosa sehingga berhasil memperoleh kelepasan. Melalui penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pelaksanaan upacara pitra yadnya mempunyai fungsi yang sangat penting yakni dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, selanjutnya dapat mengantar arwah leluhur untuk memperoleh kelepasan.

Teks Yama Purwana Tattwa menempatkan pelaksanaan upacara kematian sebagai sesuatu yang sangat gaib, sakral dan religius, seperti dijelaskan pada bait di bawah ini:

“Nihan daging kcap Yama Purwana Tattwa, par ssi, tingkah angupakara sawa sang mati, agung alit, nistha madhia utama, maka patuting wulah sang magama tirtha ring Balirajia, kewala wwang mati bner tan wnang mapendem, mangde magseng juga, saika supacarania, prasida Sang Atma molih ring Bhatara Brahma”.
Inilah isi dari Yama Purwana Tattwa tersebut; Bila melakukan upacara kematian sesuai dengan kemampuan yang disebut sederhana, menengah dan Utama (nistha, madhya, uttama). Agar tidak menyimpang dari petunjuk bagi umat yang beragama Hindu di pulau Bali. Hanya orang yang mati secara wajar tidak boleh dikuburkan, agar dibakar saja, disertai dengan upacara supaya roh orang tersebut mendapat tempat disisi Dewa Brahma (Yama Purvana Tattwa, 2b).

Teks di atas menjelaskan betapa pentingnya melaksanakan upacara kematian terhadap para leluhur, mengingat dengan cara demikian para leluhur akan berhasil memperoleh tempat disisi Dewa Brahma (Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai pencipta). Melalui sloka di atas, dapat dipahami bahwa upacara kematian memiliki fungsi yang sangat penting, yakni sebagai petunjuk jalan serta penuntun arwah leluhur sehingga mereka bisa tiba disisi Dewa Brahma.

Teks di atas juga menegaskan bahwa, bila menyelenggarakan upacara kematian hendaknya jangan memaksakan diri untuk melakukan upacara yang besar, akan tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga yang ditinggalkan sehingga tidak menjadi beban. Walau melaksanakan upacara kematian yang sangat sederhana, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya, asal dapat segera dilaksanakan dan dilandasi oleh hati yang tulus ikhlas maka arwah leluhur akan memperoleh kebahagiaan yang abadi di sisi Dewa Brahma.

Sehubungan dengan itu svarga rohana parwa Jawa kuno, memberikan penjelasan dan pemahaman tentang svarga atau neraka sebagai berikut: ketika Yudistira, raja yang sangat bijaksana sampai di svarga, dia menyaksikan sepupunya para Korawa menikmati kehidupan yang sangat menyenangkan, apapun yang diinginkan tersedia disana, dilayani oleh banyak bidadari yang cantik-cantik, sehingga mereka sangat berbahagia. Yudistira sangat sedih, karena adik-adik beserta istrinya tidak ada disana, mereka sedang menerima hukuman di neraka. Keadaan itu menyebabkan Yudistira bersikeras tidak mau tinggal di svarga, ia memilih berkumpul dengan adik-adik dan istrinya walau di neraka. Kemudian Dewa Sudata mengantarnya sampai di Yamaniloka, tempat yang sangat mengerikan. Disana ia mendapatkan adik-adik dan istrinya direndam pada air kawah yang sangat panas, dipenuhi oleh belatung, cacing, ulat dan sebagainya, sungguh sangat menakutkan. Itulah hukuman atas perbuatan buruknya pada kehidupan yang lalu. Akan tetapi begitu Yudistira menginjakkan kakinya di neraka, seketika neraka itu menjadi sejuk, sehingga semua roh memohon agar Yudistira tetap tinggal di sana guna memberi pertolongan. Mereka merasakan kesejukan seperti diperciki air suci. Yudistira tidak berkenan meninggalkan tempat itu, dan tidak lama kemudian para Dewata berdatangan, dan tempat itupun berubah menjadi svarga yang indah dan memberikan kebahagiaan kepada Para Pandawa dan Dewi Drupadi .

Melalui ilustrasi ceritera di atas, dapat dipahami bahwa semua karma membawa pahala, ada aksi – ada reaksi. Diminta ataupun tidak setiap karma pasti menghasilkan pahala. Pandawa yang dalam kehidupannya lebih cenderung pada subha karma, juga menikmati neraka walau hanya sebentar, karena pada hakikatnya tidak ada manusia yang sempurna. Setelah karma buruknya dinikmati kemudian ia memperoleh kebahagiaan yang abadi. Sedangkan Korawa yang lebih cenderung pada asubha karma, menikmati svarga walau hanya sebentar, karena pada hakikatnya setiap orang pasti ada sisi baiknya, untuk selanjutnya ia menerima pahala buruknya di neraka. Svarga atau neraka bukanlah hadiah atau hukuman akan tetapi merupakan pilihan kemana kita mau melangkah. Apapun kecendrungan yang dilakukan seseorang semasa hidupnya, maka itu pulalah yang akan dia nikmati.

Sejalan dengan itu Weda Puja Pitra Siwa menjelaskan bahwa semua bentuk upacara kematian berfungsi sebagai penyucian dan pengantar arwah leluhur sampai di ayathana sthana (wilayah perbatasan antara svarga dan neraka) selanjutnya neraka atau svarga yang dicapai karmawasananyalah yang menentukan.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Isi:

Dialasi dengan sebuah Sidi (sejenis nampan yang terbuat dari anyaman bambu dan memiliki lubang seperti saringan), atau dapat menggunakan nampan, diatasnya aled sayut, kulit peras yang terbuat dari ujung daun pandan berduri, tumpeng/penek among (tumpeng disisipi dengan irisan jahe, bawang merah, dan terasi) 1 buah, disampingnya berisi nasi berbentuk segi empat dan segi tiga yang dibungkus daun pisang masing-masing 1 buah, soroan alit (peras, tulung, sesayut) 1 buah, isuh-isuh 1 tempat, buah dan kue, penyeneng dan sampyan nagasari yang terbuat dari daun andong merah, lis buu, padma, tempat tirta, klungah bungkak gadang, pesucian, dan canang sari.

Makna:

Kata “Byakaon” berasal dari kata baya  dan  kaon. Baya artinya segala sesuatu yang membahayakan baik pada setiap upakara, pralingga, termasuk yang terdapat dalam diri sendiri, yang kemudian dapat menimbulkan gejolak-gejolak negatif tatkala berpikir, berucap dan berprilaku yang bersumber dari ahamkara (egoisme). Sedangkan kata Kaon artinya menghilangkan.

Dalam Lontar Rare angon dikatakan: “ Banten Bayakaon inggih punika maka sarana ngicalang sekancanin pikobet-pikobet sane nenten ecik, dumugi sidha galang apadang”.

Dengan demikian Banten Bayakaon berfungsi sebagai sarana untuk menghilangkan semua gejolak  negatif yang bersumber dari ahamkara (egoisme).  Pada saat menjalankan prosesi Bayakaon ini tirtha dipercikkan ke bawah atau dari pinggang ke bawah dan diayab kebelakang.

Mantra Ngaturang Byakaon/Byakala:

Alternatif Pertama :

Om pukulun sang kala kali, puniki ta pabyakala nira, sang yajamana, katur ring sang kala kali, sira ta reka pukulun, angeluarana sakueh ikang kala kecarik. Kala pati, kala lara, lara karogan, kala ujar, kala pepugan, kala gringgingan, kala sepetan, kala kecang kingan, kala brahma, kala undar-andir, mekadi sekueh ikang kala ingena, keluarana denira bhatara Siva, mekadi betara betari, lah sama mata sang kala-kali, mundur sedulur maring ipun sang abayakala, den ipun anutugaken tuwuh, tunggumen denira sang Hyang Premana, ketekan sari nadyanipun.

Om siddhirastu ya namah swaha.

Alternatif Kedua :

Pakulun batara kala, batara kala sakti, sang kala petak, sang kala bang, sang kala jenar, sang kala ireng, sang kala manca warna, sang kala karogan-rogan, sang kala sepetan, sang kala gering, sang kala pati, sira sang sedahan kala kabeh, aja sira anyungkalen sang Hyang Deva, muang manusanira ring mrecapada, aluara sira ring prewatek sang Hyang Deva, iki buktin sira kabeh, iki tadah sajinira pilih abelanira soang-soang pasang sarga sira ring batara  Siva

Ong sang kala kali bya bakta ya namah, Ong ksama sampurna ya namah.

Om sarwa kala ksama sampuna ya namah swaha.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma (Kota Bekasi)

Om Swastyastu
Ya Tuhan Yang Mahaesa, Engkau adalah Brahma, Visnudan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang maha agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2.
Pada hari Budha Kliwon Perwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang mahaatinggi atau maha agung. Hari yang dirangkaikan pemujaannya dengan Sarasvatī, Śrī Lakṣmī, yang dirayakan berturut-turut selama lima hari, mulai hari sabtu Umanis Watugung.

Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud. Umat Hindu di India merayakan upacara Śrāddha Vijaya Dasami atau Durgapūjā, di Indonesia kita merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Demikian pula Sarasvatī, Śivaratri dan lain-lain. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu. Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon antara lain: Pagerwesi (di India disebut Guru Purnima)ditempatkan pada hari Budha Kliwon Sinta ( hari ketiga dari wuku pertama ), Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari), hari-hari seperti Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon atau Tumpek wuku Landep), Sankarapūjā (Tumpek Wariga) dan Sarasvatī pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung. (more…)

Oleh: I Wayan Sudarma (Bekasi, 26 Desember 2006)

 Om Swastyastu

Seperti diketahui, kata ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yajna khususnya pembakaran mayat. Tetapi ada juga ngaben tidak disertai dengan membakar mayat oleh karena suatu tradisi di daerah tertentu.

Kata ngaben berasal dari kata beya yang artinya biaya atau bekal. Dalam bahasa yang lebih halus, Ngaben disebut Palebon yang beralsal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu, ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan dengan cara mengubur ke dalam tanah. Upacara Ngaben umumnya dilakukan dengan membakar jenazah sehingga menjadi abu. Tujuannya adalah untuk segera mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta yang ada pada diri manusia kepada asalnya. (more…)

Om Swastyastu

Melaksanakan persembahan atau yajna merupakan kewajiban serta tugas manusia untuk menunaikannya. Dalam menunaikan tugas atau kewajiban dharma itu hendaknya dilandasi oleh adanya etika yang baik.

Melaksanakan persembahan tentunya agar menimbulkan kebaikan bersama. Sila atau perilaku manusia hendaknya perlu mendapat perhatian, agar tidak terlepas dari sila dan diusahakan untuk menuju kearah susila atau perilaku yang baik. Jangan sampai terjerumus pada perilaku yang asusila atau perbuatan yang tidak baik, seperti lalai melaksanakan yajna itu. Dalam berperilaku tentunya selalu dalam pengawasan akal sehat dan pikiran yang suci. Dalam beryajna wajib dilandasi oleh pikiran dan sanubari yang suci, diusahakan kekalutan itu dijauhkan dari diri manusia. Bilamana hatinya jernih, pikiran suci, wajahnya cerah tentu usahanya mencapai hasil. Sebagai kunci keberhasilan persembahan itu tentu kesuciannya yang turut memberikan makna yang penting. Untuk itu bagaimana bisa dikendalikan (tapa) yang mengarah pada ketidakbaikan tersebut. Segala hasil karya yang kita peroleh jika itu dharma landasannya, maka arta itu sangat utama nilainya. Namun perlu disadari bahwa yang kita nikmati dari hasil karya itu tidak hanya kita nikmati sendiri, atau kita tumpuk sampai melimpah ruah arta kekayaan itu, tentu tidak! Hasil jerih payah itu sebagian perlu disedekahkan atau berdana kepada siapa saja yang berhak menerimanya atau arta itu hendaknya dipersembahkan kehadapan Hyang Pencipta, kehadapan sesama, serta makhluk lainnya yang memiliki kehidupan di dunia ini. (more…)

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Sebagai Umat Hindu Kita meyakini bahwa: adanya mahluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena yajna, adanya yajna karena karma. Ini mengandung makna yang sangat mulia bagi manusia. Hidup ini senantiasa memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang seimbang antara jasmani dengan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus berusaha dengan karmanya guna membuahkan hasil atau pahala.

Demikian juga bahwa manusia untuk tetap menunaikan kewajibannya untuk melaksanakan yajnanya, baik yajna yang dilakukan setiap hari atau nitya karma maupun yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Pelaksanaan yajna sesa merupakan jenis yajna yang dilaksanakan oleh umat Hindu sehari-hari atau Nitya Karma. Yajna sesa adalah persembahan yang tulus ikhlas dengan mempersembahkan makanan berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, garam, dan air, yang dilaksanakan setelah selesai memasak yang dipersembahkan pada tempat-tempat tertentu. Yajna sesa juga disebut Ngejot atau Banten Saiban. Perlu diingat bahwa pelaksanaan Yajna sesa/Ngejot/Saiban ini dilaksanakan setelah selesai memasak nasi dan belum makan yang dipersembahkan setiap hari. (more…)

« Previous PageNext Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers