upakara


Om Swastyastu

Setelah sempat tersendat membahas tentang makna upakara tiba saatnya untuk dilanjutkan…semoga bermanfaat…!

Upakara ini memiliki juga tatanan tertentu dan memiliki ciri khas tertentu shg hampir semua umat Hindu (Bali) mengetahui bahwa banten itu adalah jerimpen.

Jeripen berasal dari dua suku kata yaitu: jeri dan empen. Jeri berasal dari kata Jari dan empen dari kata Empu. Dari kata jari menjadi asta (Asta Aiswarya) yang diartikan delapan penjuru dunia, sedangkan empu berarti Sang Putus (Maha Suci), diilustrasikan sebagai Sang Hyang Widhi, karena Sang Hyang Widhilah yang mengatur dan memutuskan segala yang ada di alam semesta.

Dengan demikian banten jerimpen adalah merupakan simbol permohonan kehadapan Tuhan beserta manifestasiNya (Asta Aiswarya) agar Beliau memberikan keputusan berupa anugrah baik secara lahiriah maupun bathiniah. Oleh karena itu jerimpen selalu dibuat dua buah dan ditempatkan di samping kanan dan kiri dari banten lainnya, memakai sampyan windha (jit kokokan), windha berasal dari kata windhu yang artinya suniya, dan suniya diartikan Sang Hyang Widhi.

Dua buah jerimpen mengandung maksud dan makna sebagai simbol lahiriah dan bathiniah.

Dalam penataannya jerimpen mengikuti konsep tatanan; kanistama, madyama dan uttama. Dalam tatanan upakara yang kanistama susunannya lebih sederhana dengan dialasi dulang kecil/sesenden dengan sampyan nagasari. Tapi dalam tatanan upakara madyama dan uttama biasanya bentuk banten jerimpen ini memakai keranjang jerimpen (badan) dan memakai sampyan windha (jit kokokan)

Om Santih Santih Santih Om

Kalanturang olih: Pekak Sukawati

Jro Mangku Danu
SERI UPAKARA

Pertanyaan: “Pak Mangku Danu, Ada yang mengatakan karena kelapa mengandung 7 lapisan, adalah lambang Sapta Loka, Sapta Patala, ada yang mengatakan sabagai air suci, ini khusus kelapanya, ada lagi beberapa yang lainnya. Mohon penjelasannya!, Suksma (Ibu Ketut Sugita-Cinere)

Jawab:
1. Kalalu dari sisi struktur: kelapa memiliki 7 lapisan-sehingga dijadikan simbol lapisan alam (Sapta Loka dan Sapta Patala.
2. Kalau ddari sisi jenis tirtha: air dalam kelapa tergolong: pawitra (tirta yang memberikan kemurnian), makanya saat ngantebang pejati, mantramnya: Om Siva sutram yajna upavitam paramam pawitram….dan seterusnya. Kata pawitram menunjuk pada air kelapa sebagai persembahan utama. Makanya seusai pemujaan kelapa dibelah lalu airnya ditunas sebagai Tirtha Pawitra. Sayangnya banyak umat yang ngaturang daksina, kelapanya dibiarkan glalak-gluluk, bahkan dipura seusai pujawali, rata-rata kelapa daksina ten wenten ngerunguang, yang ditunas malah buah-buahannya saja. Padahal dalam kelapalah sumber kemurnian itu ada berupa Tirta Pawitra. Makanya kelapa juga digunakan sebagai sarana pembersihan pada banten seperti byakala, prayascita, pedudusan, dan lain sebagainya. Ini karena secara klinis/kimiawi air kelapa memang memiliki daya anti toksin.
3. Dari sisi Kosmologi Hindu, Kelapa dijadikan simbol Bhuana Agung, dalam lontar Yadnya Prakerti dikatakan sebagai: Andha Bhuana (perwujudan alam).
4. Dari etimologi, kata daksina artinya: pemberian secara tulus sebagai tanda penghormatan atas suatu karunia/kebaikan. Makanya saat melakukan Rsi Yadnya/puniya kepada rohaniwan, dinamakan Daksinam. Kata daksina juga berarti selatan (arah dimana dewa Brahma, sebagai pencipta) daksina/kelapa adalah lambang dimana Kesadaran akan Tuhan pertama kali tumbuh. Kenten Bu ketut.

Ibu Ketut Sugita: Matur suksma pisan mangku, karena banyak versi, tiyang ingin yang masuk logika,tapi tatwanya juga jelas, sekali lagi suksma.

*Diunduh dari: diskusi Group Persaudaraan via Whatsapp, 30/01/2014

Written & Posted by: IW.Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag.

Om Swastyastu
Kata segehan, berasal kata “Sega” berarti nasi (bahasa Jawa: sego). Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng (nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang atau janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti ?bawang merah, jahe, garam? dan lain-lainnya. dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.

Segehan artinya “Suguh” (menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).

Bhuta Kala dari kaca spiritual tercipta dari akumulasi limbah pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, yang dipelihara oleh kosmologi semesta ini. Jadi segehan yang dihaturkan di Rumah bertujuan untuk mengharoniskan kembali kondisi rumah terutama dari sisi niskalanya, yang selama ini terkontaminasi oleh limbah yang kita buat. Jadi Caru yang paling baik adalah bagaimana kita dapat menjadikan rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi harus dapat dimaknai bahwa rumah tak ubanya seperti badan kita ini.

Segehan dihaturkan kepada aspek SAKTI (kekuatan ) yaitu Dhurga lengkap dengan pasukannya termasuk Bhuta Kala itu sendiri. Segehan dan Caru banyak disinggung dalam lontar KALA TATTVA, lontar BHAMAKERTIH. Kalau dalam Susastra Smerti (Manavadharmasastra) ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara Bali (suguhan makanan kepada alam). dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat terjadinya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.

Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.

Macam – Macam Segehan
Segehan Kepel Putih
Alas dari daun / taledan kecil yang berisi tangkih di salah satu ujungnya. taledan = segi 4, melambangkan 4 arah mata angin. Nasi putih 2 kepal, yang melambangkan Rwa Bhineda

a). Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.

b). Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)

c). Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).

Diatasnya disusun canang genten.
Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi hilang/mati.

Segehan Kepel Putih Kuning
Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning.

Segehan Kepel warna lima
Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja warna nasinya menjadi 5, yaitu putih, merah, kuning, hitam dan brumbun.

Segehan Cacahan
Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. Sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih. Kalau menggunakan 7 (tujuh) tangkih; 5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah. 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam. 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras. Kemudian di atas disusun dengan canang genten. Kalau menggunakan 11 (sebelas) tangkih: 9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin. 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam. 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras. Kemudian di atas disusun dengan canang genten.

Ke-empat jenis segehan di atas dapat dipergunakan setiap kajeng klwion atau pada saat upacara – upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan.

Segeh Agung
Merupakan tingkat segehan terakhir. segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara bhuta yadnya yang lebih besar lainnya. Untuk tingkatan rumah tangga, Segehan Agung dihaturkan saat hari Penampahan Galungan dan padda hari Tawur Agung Kesanga (Pengrupukan). Adapun isi dari segeh agung ini adalah; alasnya ngiru/ngiu, ditengahnya ditempatkan daksina penggolan (kelapanya dikupas tapi belum dihaluskan dan masih berserabut), segehan sebanyak 11 tanding, mengelilingi daksina dengan posisi canangnya menghadap keluar, tetabuhan (tuak, arak, berem dan air), pada acara-acara tertentu ada juga yang menambahkan dengan anak ayam yang masih kecil, sebelum bulu kincung (ekornya belum tumbuh bulu yang panjang) serta api takep (api yang dibuat dengan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk tanda + atau tampak dara).
Adapun maksud simbolik banten ini adalah:
a). Alasnya ngiru/ngiu, merupakan kesemestan alam
b). Daksina, simbol kekuatan Tuhan
c). Segehan sebanyak 11 tanding, merupakan jumlah dari pengider-ider (9 arah mata angindan arah atas bawah) serta merupakan jumlah lubang dalam tubuh manusia diantaranya; 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 lubang dubur, 2 lubang kelamin serta 1 lubang cakra (pusar).
d). Zat cair yaitu arak (putih/Iswara), darah (merah/Brahma), tuak (kuning/Mahadewa), berem (hitam/Wisnu) dan air (netral/siwa).
e). Anak ayam, merupakan simbol lobha, keangkuhan, serta semua sifat yang menyerupai ayam
d). Api takep, api simbol dewa agni yang menghancurkan efek negatif, dan bentuk + (tampak dara) maksudnya untuk menetralisir segala pengaruh negatif.
Adapun tata cara saat menghaturkan Segehan Agung adalah pertama menghaturkan segehannya dulu yang berdampingan dengan api takep, kemudian buah kelapanya dipecah menjadi lima, di taruh mengikuti arah mata angin, kemudian anak ayam di putuskan lehernya sehingga darahnya menciprat keluar dan dioleskan pada kelapa yang telah dipecahkan tadi, telor kemudian dipecahkan, di ”ayabin” kemudian ditutup dengan tetabuhan.

Mantra Masegeh
* Untuk segehan yang dihaturkan di sor pelinggih: Om atma tatwatma suddha mam swaha, swasti swasti sarwa bhuta sukha pradhana ya namah swaha.

* Untuk segehan di Pemesu/pintu masuk: Om atma tattwama suddha mam swaha, swasti swasti sarwa dhurga bucari bhyo namah swaha

* Untuk Segehan Agung: Om sanghyang purusangkara, nugraha sira maring bhatari dhurga, nugraha sira maring sang bhuta dengen ameng amengan dewa, iki tadah saji nira sega agung iwak antiga, ri huwus ta sira amangan tetadahan sajinira, aywa ta sira anyengkalen manusanira ngastithi bhakti maring Widhi. Om buktyantu dhurga bucari, buktyantu sarwa bhutanam, buktyantu kala mawaca, buktyantu paisaca sanggayam bhyo namah swaha.

* Mantra menghaturkan Tetabuhan Arak-Berem-Tuak: Om ebek segara, ebek danu, ebek banyu pramananing hulun ya namah swaha.

Om Santih Santih Santih Om
Bekasi, 20 Juni 2010

* Sumber Bacaan:
– Lontar Kala Tattwa
– Lontar Bhama Kertih
– Lontar Sunarigama
– Lontar Mpu Lutuk

Written & Posted by: IW.Sudarma

Oleh: Sudarma

Om Swastyastu
Otonan bagi sebagian umat Hindu adalah hal yang biasa-biasa saja karena merupakan kegiatan upacara rutin yang datang setiap enam bulan sekali (210) hari sekali sesuai dengan sistem penanggalan Hindu. Namun bagi sebagian lagi mungkin merupakan sebuah pertanyaan besar, apa sih otonan itu?, apa sama dengan hari ulang tahun?, sampai kapan upacara otonan ini harus dilaksanakan, dan upakarannya seperti apa?. Itu adalah sebagian dari begitu banyak pertanyaan yang mesti kita jawab dengan akal sehat dan kejernihan hati nurani, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa agama Hindu adalah agama yang primitive, animisme bahkan sadisme.

Secara harfiah otonan dapat diartikan sebagai hari peringatan kelahiran, dimana Hindu memiliki sistem tersendiri dalam menenutkan jatuhnya perayaan otonan ini yaitu gabungan antara eka wara sampai dasa wara dan pawukon, yang jika dikalkulasi akan datang setiap enam bulan sekali, berbeda dengan tahun Masehi yang datang setiap setahun sekali.

Tujuan dari upacara otonan ini adalah untuk check list ( evaluasi) sampai sejauh mana kita telah dapat melaksanakan dharma kita baik sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial, sejauh mana kita telah mengembangkan kerohanian kita, seberapa besar kesalahan yang kita telah perbuat, ini semua tercermin dalam sebuah renungan mendalam yang bernama OTONAN. Sehingga dapat dikatakan otonan adalah sebuah usaha manusia dalam rangka memperbaiki kesalahan dan keburukan prilaku terdahulu dengan melaksanakan sadhana spiritual sehingga dalam kehidupan sekarang jauh lebi baik dan lebih sempurna.

Manusia Mahluk Kombinasi

Pada saat otonan Dewa dan Bhuta yang menyertai kita reinkarnasi turun dan menghampiri kita memberikan karunia bagi yang dapat menjaga kemurnian hatinya dan digoda oleh maya bagi yang menyimpang dari dharma, karena sesungguhnya manusia adalah mahluk kombinasi antra Dewa dan Bhuta ( Manava Madava – Manava Danava). Tujuan hidup sebagai manusia adalah dapat menjadikan diri kita sebagi manava madava (manusia dengan sifat kedewataan) bukan manava danava (manusia dengan sifat raksasa).

Dengan eling dan waspada pada saat otonan sebuah jalan tol untuk pembebasan telah menanti kita, sehingga kita tidak kehilangan jati diri dan harga diri. Banyak orang berkomentar otonan tidak modis bahkan cenderung bersifat klenik, apa ya?

Otonan tidak mesti dibuatkan upacara yang besar dan mewah, yang terpenting adalah nilai rohaninya, sehingga nilai tersebut dapat mentransformasikan pencerahan kepada setiap orang yang melaksanakan otonan. Tidak ada gunanya otonan yang besar namun si anak tidak pernah diajarkan untuk sungkem dan hormat pada orang yang lebih tua, akan sia-sia upacara otonan itu jika hanya untuk pamer kepada tetangga.

Otonan harus dapat merubah prilaku yang tidak benar menjadi tindakan yang santun, hormat, bijaksana dan welas asih baik kepada orang tua, saudara, dan masyarakat. Otonan yang dilaksanakan dengan sadhana akan mengarahkan orang tersebut kepada realisasi diri yang tertinggi. Karena dalam upacara otonan terkandung makna bahwa kita berasal dari Brahman dan harus kembali kepadaNya.

Banten Otonan

Jika anda ingin melaksanakan upacara otonan, tidak perlu banyak membuat banten, cukup membuat banten Pejati (untuk Bhatara Guru/Kemulan), Dapetan (sebagai tanda syukur) dan Sesayut Pawetuan (untuk Sang Manumadi), segehan (untuk Bhuta) dan dapat diisi kue Taart di atasnya dikasi canang sari dan dupa, kemudian didoakan. Terkecuali otonan itu yang pertama baru dibuatkan upakara yang lebih lengkap seperti Prayascita, Byakala, Parurubayan dan tataban yang lainnya.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Sudarma

”Pranais cittam sarvam otam prajñana, yasmin visuddhe vibhaty esa Ātma”
Semua pikiran manusia dipenuhi oleh indria Ketika pikiran disucikan, Atman menampakkan sinar suci-Nya (Mundaka Upanisad III.1.9)

Om Swastyastu

A. Pendahuluan
Menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat utama, karena di antara berbagai mahluk hidup di alam semesta ini, hanya manusia yang dapat memperbaiki hidupnya dengan jalan berbuat baik sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Demikian umat Hindu seperti umat beragama lainnya memperingati hari kelahirannya yang disebut “Otonan” yang mengandung makna untuk menyucikan dirinya yang dirayakan pada hari kelahirannya.
Pada saat upacara “Otonan” dilaksanakan umat Hindu melaksanakan persembahyangan diikuti oleh keluarga terdekat dan dalam hal upacara “Otonan” pertama atau yang ketiga kali, bila dilaksanakan secara besar-besaran, tidak hanya keluarga terdekat yang hadir, tetapi juga sanak saudara, kerabat dan masyarakat lingkungannya diminta hadir untuk memberikan doa restu serta merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh keluarga yang melaksanakan upacara tersebut.
Mengingat kondisi umat yang beragama, dari segi ekonomi ada yang mampu (kaya) dan ada juga yang miskin, maka ajaran agama memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih pelaksanaan upacara agama baik yang besar (Uttama), menengah (Kanistama) atau yang sederhana (Kanistama).
Dengan adanya tiga macama pilihan di atas, maka tidak ada alasan bagi umat Hindu untuk tidak melaksanakan upacara agama tersebut, oleh karena itu yang menjadi landasan adalah Sraddha (keimanan) di samping landasan utama adalah kesucian atau ketulusan hati.

B. Pengertian Upacara Otonan
Kata Otonan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang telah menjadi kosa kata bahasa Bali yang berasal dari kata “wetu” atau “metu” yang artinya keluar, lahir atau menjelma. Dari kata “wetu” menjadi “weton” dan selanjutnya berubah menjadi “oton” atau “otonan”. Demikian pula kata “piodalan” dari kata “wedal” berubah menjadi “odal” atau “odalan” yang juga mengandung makna yang sama dengan “weton” tersebut di atas. Di dalam bahasa Sanskerta kata yang mengandung pengertian kelahiran adalah “janma” dan kata “janmadina” atau “janmastami” mengandung makna “hari kelahiran” atau hari ulang tahun.
Hari kelahiran umat Hindu di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali diperingati berdasarkan kalender Bali-Jawa yang disebut pasaran. Kalender ini mempergunakan perhitungan “Wuku” yang jumlahnya 30 Wuku (210 hari) dalam satu tahun Jawa-Bali, Sapta Wara (Pasaran Tujuh) dan Panca Wara (Pasaran Lima). Jadi hari kelahiran seseorang diperingati setiap enam bulan sekali menurut perhitungan 35 hari sekali) atau “Pitu Wulanan” di Jawa dengan perhitunga setiap bulannya 30 hari. Misalnya seorang yang lahir pada hari Rabu Wage Wuku Klawu atau Buda Cemeng Klawu, maka setiap hari tersebut datang dalam jangka waktu 210 hari disebut hari “Otonan” atau hari ulang tahun bagi yang bersangkutan.
Berdasarkan uraian tersebut yang dimaksud dengan “Otonan” adalah hari kelahiran bagi umat Hindu yang datang dan diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan perhitungan Sapta Wara, Panca Wara dan Wuku yang berbeda dengan pengertian hari ulang tahun pada umumnya yang didsarkan pada perhitungan kalender atau tahun Masehi.

C. Tujuan pelasanaan upacara Otonan
Setiap upacara agama memiliki tujuan tertentu, demikian pula upacara Otonan memiliki tujuan antara lain:
a). Memperingati kelahiran seseorang, dengan demikian yang bersangkutan mengetahui pada hari apa ketika dilahirkan dan berapa tahun umurnya pada saat upacara Otonan dilaksanakan.
b). Guna menyucikan diri seseorang, dengan upacara Otonan yang bersangkutan akan melaksanakan upacara penyucian berupa “Byakala” atau “Prayascitta” dimaksudkan untuk menyucikan diri, melenyapkan kotoran batin, menjauhkan diri dari gangguan “Bhutakala, Dengen dan sejenisnya” (mahluk-mahluk gaib yang suka mengganggu umat manusia), dengan demikian pikirannya menjadi cemerlang.
c). Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, para leluhur, kedua orang tua dan kerabat terdekat. Dalam pelaksanaan upacara setelah yang bersangkutan menyucikan diri secara jasmaniah, dengan berkeramas dan mandi, mengenakan bhusana yang bersih, dilanjutkan dengan upacara “Byakala” atau “Prayascitta”, maka dilanjutkan dengan upacara persembahyangan bersama keluarga di Pamrajan atau tempat pemujaan keluarga.
d). Mesyukuri (Santosa) wara nugraha atau karunia Hyang Widhi atas kesempatan yang dianugrahkan-Nya untuk menjelma sebagai umat manusia. Demikian pula mempersembahkan puji syukur atas karunia dianugrahkannya umur yang panjang serta makanan yang berlimpah yang dilaksanakan berupa “ngayab” banten Otonan yang diakhiri dengan menikmati banten yang telah dipersembahkan maupun banten Otonan yang telah “diayab” oleh yang bersangkutan.
Demikian antara lain tujuan pelaksanaan upacara Otonan yang patut dilaksanakan oleh setiap umat Hindu, dengan demikian hidup seseorang akan penuh makna untuk memperbaiki diri, menikmati kesejahtraan dan kebahagiaan.

D. Sarana Upakara (Banten) Otonan
Sesuai dengan penjelasan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini, pelaksanaan upacara dibedakan menjadi 3 macam, yaitu yang besar (Uttama), yang menengah (Madhyama) dan yang sederhana (Kanistama). Pada tulisan ini kami ketengahkan upacara Otonan yang sederhana (Kanistama) yang dilaksanakan setelah upacara Otonan yang besar baik yang dilakukan pada hari Otonan yang pertama atau yang Ketiga (Telung Oton) sebagai berikut:
1. Byakala atau Byakaon: Alasnya berupa “sidi”, tempeh berlubang untuk menyaring tepung, sebagai alat pemisah yang bersih dan yang kotor. Di atas sidi ditaruh sebuah taledan (alas dari janur), raka-raka (buah-buahan) lengkap. Di tengah-tengah taledan diisi sejumput beras, benang dan sebuah sirih tampelan. Di atasnya ditempatkan kulit peras (ukiran dari tiga pucuk daun pandan). Di atas kulit peras, diisi nasi yang dibungkus, satu slekos jajan sumping, satu slekos segi tiga jajan. Kojong (daun pisang) rangkadan. Sampiyan nagasari, sesedep berisi beras dan benang putih. Coblong (tempat air) berisi air dan sebuah padma (dari janur). Satu tanding pabresihan payasan. Satu takir isuh-isuh bersi sapu lidi, tulud, sambuk, danyuh dan satu takir benang merah.

2. Peras: Alasnya berupa taledan, diisi raka-raka (buah-buahan) lengkap, kulit peras yang dialasi beras dan di atasnya ditaruh nasi berupa 2 buah untek, sirih tampelan, benang dan kojong rangkadan. Dilengkapi dengan sampiyan peras atau pengambeyan, dapat dilengkapi dengan ayam panggang atau tutu dan canang sari.

3. Pengambeyan: Alasnya berupa taledan, raka-raka (buah-buahan) lengkap dilengkapi dengan jajan bantal pengambeyan, nasi berupa 2 tumpeng yang ditengah-tengahnya disandarkan ketipat pengambeyan, 2 buah tulung pengambeyan yang berisi nasi, kacang saur, kojong rangkadan dan ayam panggang. Sampiyan pengambeyan dan sebuah canang.

4. Ajuman atau Sodan: Alasnya berupa taledan, raka-raka (buah-buahan) lengkap. Nasinya berupa 2 kelompok kecil nasi sodan, ulam (daging) dalam ceper (rerasmen) atau dalam ituk-ituk dan canang. Sodan yang lebih lengkap dapat diisi sampiyan slangsang atau sampiyan cili dan dilengkapi dengan ayam panggang, atau tutu, dapat diisi ketupat kelanan.

5. Sayut Lara Mararadan: Alasnya berupa tamas sesayut. Raka-raka (buah-buahan) lengkap. Nasi: Di atas sebuah kulit sayut, sebagian memakai tepi (masebeh) berisi nasi maura dan kacang saur. Dilengkapi 3 tanding kojong rangkadan. Ditancapkan 3 batang linting kapas berisi celupan minyak kelapa. Waktu natab linding dinyalakan. Sampiyannya: nagasari, sasedep, wadah uyah, penyenang, lis- padma, pabresihan payasan. Dilengkapi 1 buah kelapa gading muda (dikasturi/dibuka) yang airnya digunakan untuk dicipratkan dengan memakai lis padma yang berfungsi menghanyutkan lara dan canang.

6. Dapetan: Alasnya berupa taledan, raka-raka (buah-buahan) lengkap.Nasinya berupa 1 tumpeng, kojong rangkadan. sampiyannya jeet goak, sasedep berisi benang putih. Diisi penyenang (berupa tumpeng 3 buah) dan canang.

E. Pelaksanaan Upacara
Pada hari yang merupakan hari Otonan, bayi, anak atau seseorang setelah membersihkan dari lahir dan batin, maka kegiatan upacara dilakukan di Balai tempat upcara. Dengan tata cara sebagai berikut:
Pemimpin upacara, apakah seorang pandita, pinandita, pemangku atau orang yang dituakan mengambil posisi dengan memohon Tirtha Panglukatan, menyucikan upakara yang akan digunakan dalam upacara Otonan tersebut.
Mempersembahkan upakara Byakala atau Byakaun dengan posisi di dekat pindu rumah, atau di halaman rumah atau tempat untuk upacara. Yang diupacarakan menghadapi banten Byakala atau Byakaon, setelah diucapkan doa baik berupa Sehe (doa dalam bahasa Daerah) maupun mantram-mantram, yang diupacarakan “ngayab” dengan kedua telapan tangan diarahkan ke bawah.
Pemimpin upacara selanjutnya mempersembahkan banten peras, banten pengambeyan dan ajuman (sodan) kehadapan Sang Hyang Widhi, Para Dewata dan Leluhur, mohon persaksian dan mohon wara nugrahanya dan mohon Tirtha Wangsuhpada dengan pengucapan mantram atau Sehe.
Yang akan diupacarakan Otonan dan keluarga terdekat selanjutnya dipersilahkan melaksanakan persembahyangan bersama memohon keselamatan bagi yang diupacarakan dan seluruh keluarga, semoga panjang umur dan sehat sejahtera.
Setelah acara persembahyangan dilanjutkan dengan “Ngayab” banten Sayut Lara Malaradan dan Dapetan dilaksanakan oleh pemimpin upacara dengan doa mantra atau sehe yang intinya memohon supaya bila ada penyakit dalam tubuh dan jiwa yang diupacarakan segera sembuh, tidak kena penyakit kembali serta menerima dan menghadapi kenyataan hidup dengan tegar.
Selesai me”ngayab” banten Lara Malaradan dan Dapetan dilanjutkan dengan acara Ngelebar atau Ngalungsur sesajen yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi dan Leluhur serta menikmati banten Lara Malaradan dan banten Dapetan oleh yang diupacarakan bersama keluarga. Berakhirlah pelaksanaan upacara Otonan tersebut.
Demikian pelaksanaan Upacara Otonan tersebut yang pelaksanaannya kadang-kadang terdapat perbedaan, misalnya acara Ngayab banten sayut lara Malaradan dan Dapetan dilaksanakan sebelum acara persembahyangan (Muspa) dan matirtha.

F. Makna Simbolisasi Sarana Upacara
Setiap sarana upacara terutama banten atau sesajen mengandung makna simbolis tertentu. Demikianlah dengan sarana upacara Otonan ini. Semua makna tersebut akan sangat bermanfaat bagi yang bersangkutan apabila dipahami dengan baik dan dilakskanakan penuh dengan Sraddha (keimanan) dan Bhakti yang tulus. Lebih lanjut kami uraikan secara singkat makna simbolis dan banten Otonan tersebut, sebagai berikut:

1. Banten Byakala : Sesuai dengan namanya banten ini mengandung makna simbolis untuk menjauhkan kekuatan Bhutakala (kekuatan negatif) yang mengganggu umat manusia. Sampeyan dari 3 pucuk daun pandan menunjukkan supaya kekuatan negatip itu menjauh, selanjutnya dikondisikan supaya yang bersangkutan bersih lahir dan batin dengan adanya sapu lidi, tulud dan sebagainya. setelah bersih diri lahir dan batin barulah seseorang menghadap Sang Hyang Widhi dan para leluhur.

2. Banten Peras: Banten Peras sesuai dengan namanya memohon keberhasilan, sukses atau prasidha (Sidhakarya)nya sebuah Yajña. Di dalamnya juga terkandung permohon kepada Sang Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Tri Murthi, guna menyucikan Tri Guna (sifat Sāttwam, Rājah dan Tāmah) pada diri manusia.

3. Banten Ajuman atau Sodan: Banten Ajuman atau Sodan maknanya mempersembahkan makanan yang dilengkapi dengan sirih (canang) karena umat manusia diwajibkan mempersembahkan terlebih dahulu apa saja yang mesti dinikmati. Seseorang yang menikmati makanan tanpa mempersembahkan terlebig dahulu kepada-Nya, dinyatakan sebagai pencuri yang menikmati pahala dosanya sendiri.

4. Pengambeyan: Kata Ngambe berarti memanggil atau memohon. banten Pengambeyan mengandung makna simbolis memohon karunia Sang Hyang Widhi dan para leluhur guna dapat menikmati hidup dan kehidupan senantiasa berdasarkan Dharma di bawah lindungan dan kendali Sang Hyang Widhi dan para Leluhur. Disini muncul permohonan ketegaran dan ketangguhan untuk menghadapi tantangan hidup dan kehidupan.

5. Banten Sayut Lara Malaradan: Sesuai dengan namanya, banten ini mengandung makna keselamatan, mohon kesejahtraan, dan berkurang serta lenyapnya semua jenis penyakit, apakah sakit karena kekuasaan alam, seperti cuaca yang buruk, vbanjir besar dan sebagainya, penyakit yang disebabkan oleh virus atau kuman, atau penyakit yang disebabkan oleh kurang mampunya seseorang mengendalikan disi (psikosomatik), dan lain-lain.

6. Banten Dapetan: Banten ini mengandung makna seseorang hendaknya siap menghadapi kenyataan hidup dalam suka dan duka. Harapan setiap orang tentunya berlimpahnya kesejhatraan dan kebahagiaan, panjang umur dan sehat walafiat. banetn ini juga sebagai ungkapan berterima kasih, mensyukuri karunia Tuhan Yang maha Esa (Santosa) karena telah diberikan kesempatan untuk meniti kehidupan dan memohon senantiasa tidak jauh dari lindungan-Nya.

G. Penutup
Demikian sekilas tentang upacara Otonan yang sederhana (Kanista) atau kecil. Kecil bukan berarti hina, tetapi merupakan upacara yang inti, dan akan sangat besar manfaatnya bila dilandasi dengan kesucian dan ketulusan hati. Semoga.

Om Siddhir astu tat astu swaha.
Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu
Air merupakan sarana sembahyang yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai pada waktu sembahyang, yaitu air untuk membersihkan mulut dan tangan dalam persiapan sembahyang, dan air yang nantinya berfungsi sebagai air suci atau tirtha.Tirtha inipun ada dua macam yaitu tirtha yang didapat dengan memmohon kepada Tuhan dan tirtha yang dibuat oleh pandita dan atau pinandita dengan puja mantra.

Beberapa istilah:
1). Odaka; adalah air dalam arti biasa, dapat dipergunakan untuk mencuci tangan, berkumur, minum, sebagai pelepas dahaga, dan sebagainya.
2). Tirtha; adalah air yang telah disucikan. Kesuciannya bisa diperoleh dengan jalan dimantrai oleh orang yang berwenang dan bisa pula dengan jalan mengambil di suatu tempat tertentu disertai upacara keagamaan. Yang terakhir ini di beberapa tempat disebut juga wangsuhpada.

Penggunaan Tirtha:
1). Yang berfungsi sebagai penyucian terhadap tempat, bangunan-bangunan, alat-alat upacara ataupun diri seseorang. Tirtha ini diperoleh dengan jalan puja mantra para pandita dan atau pinandita, misalnya tirtha pelukatan, tirtha pabersihan, prayascita, byakaon, pasupati, tirtha pemlaspas, dan sebagainya.
2). Yang berfungsi sebagai penyelesaian dalam upacara persembahyangan. Umumnya tirtha ini dimohon di suatu pelinggih utama pada suatu pura atau tempat yang dianggap suci. Tirtha ini sering disebut dengan tirtha wangsuhpada.
3). Yang berfungsi sebagai penyelesaian upacara kematian, misalnya: tirtha penembak, pangentas, pralina, dan tirtha pemanah

Pada intinya maksud dari pemakaian tirtha ini adalah sebagai penyucian secara lahiriah dan rohani.

Om Santih Santih Santih Om
*Dari berbagai sumber
Oleh: Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P.)

Om Swastyastu

1). SANGGAR SURYA: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati, Penastan, Ring Sor: Segehan Agung, petabuh arak-berem-tuak.

2). PADMASANA: Daksina Pralingga, Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati, Ayaban Tumpeng pitu , Penastan, Rantasan, Cane, Sesayut Amertha Dewa, Orti, Ulap-ulap, Sapsap, Lamak, Gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Agung.

3). PANUNGGUN KARANG: Daksina Pralingga, Suci Alit, Pejati, Ketipat Dampulan, Ayaban Tumpeng lima, Rantasan, Orti, Ulap-ulap, Sapsap, Lamak, gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Cacahan Hitam.

4). LAPAAN / PANGGUNGAN: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati , Ayaban Tumpeng 11 (Peras, Pengulapan, Pengambyan, Dapetan, Penyeneng, Kurenan, Panyegjeg, Pancoran, soda, pangkonan), Jerimpen Sumbu 1 pasang, pajegan buah 1, Pajegan bunga, Sesayut lembaran: Sesayut Tulus Ayu, Sesayut Siddha Karya, Sesayut Siddha Lungguh, Sesayut Siddha Sampurna, Sesayut Dewa Rame Rawuh. Penastan, Lamak, Gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Cacahan.

5). BANTEN PEMELASPAS PELINGGIH: Suci Alit, Pejati, Sesayut Pemelaspas, Urip-urip, Perabot Tukang (siku, palu, pahat).

6). BANTEN PEMELASPAS RUMAH: Suci Alit, Pejati, Ayaban Tumpeng Lima, Sesayut Pemelaspas, Urip-urip, Ulap-ulap, Orti, Ceniga, Gantung-gantungan, Segehan Cacahan.

7). BANTEN PELANGKIRAN (kalau ada): Pejati, ceniga, gantung-gantungan, segehan cacahan.
BANTEN DAPUR, SUMUR: @ peras, daksina, segehan cacahan.

8). BANTEN PEMESU: Soda 2 set, ceniga, gantung-gantungan @ 2 set, segehan panca warna.

9). CARU PANCA SATA DI NATAH:
A. Arah Timur: Caru ayam putih tulus, dengan urip 5, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober warna putih.
B. Arah Selatan: Caru ayam biying (merah), dengan urip 9, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng,Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, koberwarna .
C. Arah Barat: Caru ayam Putih Kuning, dengan urip 7, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober warna kuning.
D. Arah Utara: Caru ayam Hitam, dengan urip 4, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober warna Hitam.
E. Di Tengah: Caru ayam brumbun, dengan urip 8, lengkap dengan banten ayaban caru, Suci Laksana, Daksina Gede, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober lima warna. Sesayut Byakala, Prayscita, Durmenggala
F. Perlengkapan Caru yang lainnya:
Masing-masih Caru berisi nasi bulan dengan lauk kuning telor ayam, nasi matan ai dengan lauk putih telor ayam, nasi segara muncar dengan lauk darah mentah. Masing-masing caru berisi: nasi selasahan, tulung urip dengan lauk kacang sawur, cau petik dengan lauk kacang sawur, cau tampak dengan lauk kacang sawur, tri kona dengan lauk ikan laut, dan nasi takep-takep dengan lauk ikan tawar, masing-masing ditanding sesuai dengan arah, warna dan urip. Sapu, tulud, kulkul, tetimpug, arak-berem-tuak-toya anyar.

10). AREPAN SANG MAMUJA: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati,sesayut Dharma Wiku, Prayascita, Byakala, Durmenggala, Pengulapan, Eteh-eteh Padudusan alit, Payuk Pelukatan, Sibuh Pepek, Kuskusan Sudamala, Lis Gede 1 buah. Ceniga, Gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Cacahan.

* Catatan: kalau mau diturunkan tinggal merubah suci laksana menjadi suci alit, dari suci alit menjadi suci sibakan. Caru dari panca sata menjadi eka sata.

Om Santih Santih Santih Om
Sumber:
* Lontar Mpu Lutuk-Koleksi pribadi
* Lontar Kala Tatwa-Kolekasi pribadi
* Lontar Indik Nguangun Parahyangan-Koleksi pribadi
* Lontar Wiswakarma Tatwa-Koleksi pribadi

Written & Posted by: Sudarma

(Sebagai Media Pecaruan Yang Praktis Dan Ahimsa Karma)

Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P.)

Om Swastyastu

Pengertian:
Secara umum Bhumi Suddha dapat diartikan: sebagai sebuah usaha yang dilakukan oleh manusia Hindu agar tetap terjaganya kondisi Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang diliputi oleh kesucian, kedamaian dan keharmonisan. Karena kondisi yang damai dan aman memungkinkan manusia untuk beraktivitas sesuai dengan dharmanya. Banten Bhumi Suddha diwariskan oleh leluhur kita adalah untuk menjawab semua tantangan bahwa umatt Hindu yang semakin lama semakin kritis, terutama antara ajaran Ahimsa dan Dharma Vighata. Hindu adalah agama yang fleksibel dan luwes ini dibuktikan dengan adanya banten Bhumi Suddha yang memiliki fungsi sama dengan pecaruan yang hingga kini masih menggunakan berbagai binatang sebagai bahan/upakaranya. Bahkan menurut beberapa praktisi spiritual, baik pandita maupun pinandita yang telah menggunakan Bhumi Suddha sebagai media pecaruan mengatakan bahwa: ’Bhumi Suddha’ dapat menghasilkan energi spirit yang lebih besar dan lebih murni’, jika dibandinkan dengan pecaruan yang masih menggunakan binatang. Namun hal tersebut kembali lagi tergantung kepada keyakinan dan kepuasan bhatin umat yang menjadi Yajamana dari upacara tersebut.

Tandingan Banten Bhumi Suddha:
Banten Bhumi Suddha; Alasnya dapat menggunakan Ngiyu/ tampah yang agak besar, kemudian diatasnya sebuah kain putih (-/+ 1/5 mtr) ditulisi dengan Aksara Dasa Bhayu, kulit sesayut yang bundar kemudian disusun dari bawah yaitu Pala bungkah seperti ubi, talas, singkong, kentang, dan lain sebagainya. Berbagai jenis bumbu dapur lengkap masing-masing dialasi dengan ceper yang kecil, berbagai jenis kacan-kacangan juga dialasi dengan ceper kecil, beras empat warna dialasi dengan ceper kecil diletakkan sesuai dengan warna arah mata angin, berbagai jenis sayur-sayuran seperti mentimun, jagung, terong, jantung pisang, kacang-kacangan, diatur mengelilingi tampah, buah-buahan secukupnya, kue secukupnya. Di tengah-tengah diisi sebuah daksina (tanpa telor) 1, banten peras 1, soda 1, penyeneng 1, pasucian 1, ketipat 1 kelan, sampyan nagasari 1, canang sari 1, tebu batangan 1, seikat padi dipasang mengelilingi tampah/ngiyu.

Banten Bhumi Suddha dapat berdiri sendiri seperti untuk Ngeruak pekarangan, Mecaru setelah upacara kematian, untuk memagari rumah secara niskala, dan atau menyertai berbagai upacara yang lain, seperti upacara Melaspas rumah ataupun pelinggih.

Banten Bhumi Suddha memiliki beberapa keuntungan yaitu:
1). Bahan mudah dan murah (praktis efisien dan efektif).
2). Mengedepankan ajaran Ahimsa.
3). Semua orang dapat membuat dan melasanakanya.
4). Langsung menuju sasaran dari tujuan upacara tersebut (tepat guna).
5). Mempunyai kekuatan spirit yang tinggi dan lebih murni (Sattvam).
6). Multi fungsi dan multi guna.

Penutup:
Demikian sekilas tentang banten Bhumi Suddha, semoga ada manfaatnya dan rohani kita semua semakin meningkat. Selamat mencoba dan mempraktikkan keampuhan dan manfaat dari banten Bhumi Suddha.

Om Santih Santih Santih Om
Sumber:
* Purva Bhumi Kamulan-Koleksi Pribadi
* Ngartaaken Bhumi Lambha-Warisan Leluhur Hindu Sunda Wiwitan
* Kala Tattwa-Koleksi Pribadi
* Tenger Linuh-Koleksi Pribadi

Written & Posted by: Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
Dalam “Lontar Tapeni” disebutkan bahwa upakara merupakan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti adanya Tri Angga antara lain:
a)      Semua bentuk daksina adalah merupakan simbul kepala (hulu) yang merupakan kekuatan dan sumber pengatur.
b)      Semua bentuk ayaban seperti pengambeyan, dapetan adalah merupakan simbul badan, dan jerimpen adalah simbul tangan, semua bentuk tebasan dan sesayut adalah semua bentuk perut.
c)      Semua bentuk lelaban seperti, caru segehan adalah simbul pantat dan kaki.
 
Uraian tersebut ditegaskan dalam Tutur Tapeni sebagai berikut:
“Apan Widhi widana juga ngaran banten, bang ngaran sang Hyang Prajapati (Widhi), anten ngaran inget, ngaran eling, ling ngaran tunggal, ngaran kimanusa anunggal lawan widhi”.
 
“Iki paribasa Widhining yajna, luir ipun, yajnaadruwe prabhu (hulu), tangan, dada muah suku manut manista, madya motama. Daksina pinaka hulunia, jerimpen karopinaka asta karo sehananing banten ring areping Widhini pinaka angga, sahananing palelabahan pinaka suku”.
 
Sebab Widhi Widana juga bererti banten, bang disebut dengan Sang Hyang Prajapati, anten artinya ingat, eling ling, artinya satu, disebut sebagai manusia yang senantiasa menyatu dengan Sang Hyang Widhi.
Yadnya ini sebagai penggambaran Tuhan, seperti yajna memiliki kepala,  tangan, dada dan kaki sesuai konsep nista, madya, utama. Daksina sebagai kepalanya, kedua jerimpen sebagai bahu, seluruh banten yang ada di atas merupakan penggambaran seluruh badan Sang Hyang Widhi, dan semua pelelaban merupakan kaki beliau.
 
Selanjutnya dalam Lontar Tutur Yajna Prakerti ada juga uraian tentang simbolisasi dan makna banten tersebut antara lain bunyinya:
“Ika nimitan ing Widhi-Widana araniya, ikang sarwa babanten, apaniya dadi lingga, dadi saksi, dadi caya, dadi cihnan ing wang astiti bhakti ring Widhi. Panggalaniya ya ring raga sarira juga stana ini Widhin anuksma, ring bhumi nggwan ing astute, nggwan ing stungkara, nggwan ing Umastawa sira.
Karan ing Widhi-Widhana nga, Bhatara; Wi nga, suksma; dhana nga, sakala nyalankara. Kalinganiya ikang babanten juga pinaka reka rupa warnan ira Bhatara, rinekeni rupa kadi tingkah ing kawongan, pada sowong-sowang”
 
Itu disebutkan sebagai Widhi-Widhana, semua dari bebanten, merupakan symbol lingga, menjadi saksi, menjadi cahaya/sinar menjadi cirri-ciri orang yang bhakti kepada Widhi.
Itu sebabnya Widhi-widhana/ banten disebut Bhatara. Wi artinya suksma/disucikan; Dhana artinya nyata-nyata ada.
Makna banten juga sebagai perwujudan bharata, yang diteladani oleh manusia didalam bertingkah laku.
Memperhatikan penjelasan isi lontar tersebut banten yang dipergunakan sebagai sarana persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi penuh dengan makna simbol-simbol. Segala perasaan dan keinginan yang ingin disampaikan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi disampaikan dalam bentuk simbolisasi. Banten secara keseluruhan merupakan penggambaran Ida Sang Hyang Widi secara utuh. Banten juga merupakan lingga (tempat berstananya Ida Sang Hyang Widi), banten adalah perwujudan ketulusan hati, banten juga merupakan perlambang cahaya yang menerangi hati nurani manusia.
 
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
 Prosesi Upacara Pengabenan Uttama menurut Teks Yama Purwana Tattwa, cukup rumit, mengingat banyaknya sarana upakara yang dipergunakan, sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk menyediakannya. Upacara Pengabenan Uttama dapat dilaksanakan oleh orang yang berkecukupan, baik dari segi ekonomi, waktu demikian juga tenaga. Menurut Teks Yama Purwana Tattwa Upacara Pengabenan Uttama memungkinkan dilaksanakan terhadap mayat yang sudah dikubur, demikian juga bagi yang masih ada mayatnya.
 
Bila mayatnya masih ada disebut Sawapreteka. Seperti namanya Sawapreteka, berarti langsung mengupacarai mayat, sehingga tidak melalui Upacara Nebusin demikian juga Ngendag, akan tetapi langsung menyucikan mayat atau nusang sawa. Sedangkan jika tidak ada mayat disebut Sawawedana, oleh karena tidak ada mayat wajib membuat pengawak atau pipil dari kayu cendana dan sangga urip sebagai simbolis stula sarira dan suksma sarira. Dengan demikian wajib melaksanakan Upacara Nebusin ke Pura Dalem dan Prajapati, selanjutnya Ngendag Ngulapin.  Sebagai pengusungan mayat ke kuburan menggunakan wadah atau bade yang disesuaikan dengan keturunannya, pembakaran mayatnya menggunakan petulangan yang juga disesuaikan dengan keturunannya. 
 
 Fungsi Upacara Pengabenan Sawapreta demikian juga Sawawedana tidak jauh berdeda, yakni sama-sama sebagai penyucian serta penuntun sang atma sampai di Mahadewa Loka. Selanjutnya Weda Puja Pitra Siwa menjelaskan;
“Yan nyawa wedhana palakunya, kramanya tunggal lawan sawa prateka, saha upakaranya. Mapangawak candana, majagau, kayu aba maka nistanya. Swarganya Pascima, kawahnya Banu Wedang, pangadang-adangnya sang Suratma, Cikrabalanya watek pisaca, widyadharinya Sulasih, wikunya Bhagawan Kanwa, Dewanya Sang Hyang Mahadewa, wewalenya gong. Pamuputnya ring setra. Tirthanya Amerta Kundalini”.
Jika ia meminta sawa wedhana, maka tata caranya sama dengan Sawa Prateka, termasuk upakaranya. Menggunakan simbul/perwujudan orang yang meninggal dari kayu cendana, majagau, atau kayu aba untuk simbol yang tingkatan kincit. Sorganya di Barat, nerakanya air mendidih, penghalangnya Sang Suratma, laskarnya para pisaca, bidadarinya bernama Sulasih, pendetanya Bhagawan Kanwa, dewatanya Sang Hyang Mahadewa, walinya gong  tempat penyelenggaraan upacaranya di Kuburan. Air sucinya Amerta Kundalini.
Bila bentuk upacara pengabenan sawa wedhana yang dipilih untuk dilaksanakan, maka atma orang yang diaben akan di antar menuju arah Barat yaitu ke Kahyangan Dewa Mahadewa. Jika orang yang di aben dalam kehidupannya cenderung melakukan perbuatan baik, maka ia akan sampai di svarganya Dewa Mahadewa, disambut oleh Bidadari yang bernama Dewi Sulasih, disana ia akan ditemani oleh Bhagawan Kanwa. Akan tetapi jika orang yang di aben lebih cendrung pada perbuatan asubha karma, maka ia akan sampai di nerakanya Dewa Mahadewa, direndam pada air yang mendidih, disambut oleh Sang Suratma. Air suci sebagai pengruatan sang atma adalah Tirtha Amerta Kundalini yang ketika pemujaannya Sang Pandita membayangkan keluarnya dari nada pada Omkara Adu Muka dengan pertemuannya pada ungsilan, disertai dengan air suci anugerah Bhatara yang berstana di Pura Puseh.
Upacara pengabenan sawa wedhana dilakukan jika tulang-belulang orang yang mau diaben tidak diketemukan, maka ketika mengupacarainya dibuatkan pengawak dari Kayu Cendana yang Uttama, kayu Majagahu bagi yang Sedang (Madya), Kayu Aha bagi yang Nistha. Kayu tersebut diberi gambar orang yang mati, disertai dengan tulisan Catur Dasaksara dan Rwa Bhineda. Pelaksanaannya sama dengan Sawaprateka, hanya saja pada upacara Pangaskaran disertai dengan banten Panebusan, yang uangnya sesuai dengan tingkatan upacaranya, yang fungsinya untuk menebus atma orang yang mau diaben. Jika upacara yang dipilih adalah tingkat Uttama mempergunakan mantram Kunapabhiseka, menggunakan Nagabandha, bagi Ksatriya Awirbhuja dan Sang Pandita Bhyuh Sisya. Menurut ajaran Mpu Lutuk. Jika upacaranya dilakukan pada upacara panupitan maka upacaranya termasuk Astiwedhana (Tim Penyusun, 2001: 18). Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat disampaikan bahwa fungsi Upacara Pengabenan Uttama adalah untuk menyucikan keberadan sang atma agar layak diterima disisi Ida Sang Hyang Widhi sehingga tidak mengotori alam semesta, selanjutnya menuntun sang atma sampai ke Mahadewa Loka. 
 
Berdasarkan penjelasan-penjelasan  dari teks tersebut di atas dapat dipahami bahwa fungsi upacara pengabenan adalah untuk menyucikan sang atma agar layak bersatu kembali dengan asalnya yaitu Ida Sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya. Tidaklah salah jika dalam perkembanganannya upacara kematian menjadi salah satu religi yang sangat penting dalam kehidupan umat Hindu, yaitu untuk meningkatkan kehidupan leluhur di alamnya, demikian juga keluarga yang ditinggalkan di dunia. Upacara kematian memang bersifat sangat gaib, karena diyakini dapat mengantarkan arwah leluhur dari dunia nyata (dunia sekala) menuju pulau harapan (svarga).
 
Teks Yama Purwana Tattwa memilah upacara kematian menjadi tiga bagian, yaitu: 1) pada pelaksanaan upacara pengabenan terjadi pemisahan antara stula sarira dengan suksma sarira melalui pemercikan tirtha pengentas, selanjutnya stula sarira dipralina, sedangkan suksma sarira diantar  ke sunya loka dengan weda puja, 2) pada pelaksanaan upacara pengiriman, tulang-tulang yang sudah dibakar dipungut, kemudian direka sebagai perwujudan raga, di atasnya ditempatkan 22 buah kewangen sebagai simbol jiwa, selanjutnya dwi sarira ini dipersatukan dengan puja utpathi, disuguhkan sesajen, disucikan, kemudian dipralina kembali selanjutnya dianyut, 3) pada pelaksanaan upacara memukur atau nyekah, sang atma di angkat  kembali, di-sthana-kan pada adeg sekah, dipuja utpathi sebagai simbolis penyatuan, disucikan, kemudian dipralina, selanjutnya dianyut. Setelah tiga kali mengalami proses penyucian, dilanjutkan dengan pelaksanaan Upacara Nuntun Dewa Hyang. Upacara ini bertujuan memberikan kebebasan dan penghormatan kepada para leluhur, jika laksana dharmanya sudah sempurna diharapkan dapat bersatu dengn Ida Sang Hyang Widhi, dan jika laksana dharmanya belum sempurna dituntun untuk di-sthana-kan pada sanggah kemulan atau rong tiga.
 
Selanjutnya Teks Yama Purwana Tattwa yang menjelaskan tentang lima (5) bentuk upacara pengabenan, memberikan kebebasan kepada setiap umat Hindu dalam memuja Tuhan sesuai dengan karakter yang ia sukai. Pemilihan bentuk  upacara pengabenan yang disesuaikan dengan karakter dan kecendrungan orang yang meninggal adalah sangat penting, mengingat dengan cara demikian atma orang yang meninggal akan sampai pada tempat yang diinginkan, walaupun pada akhirnya karma wasananya jugalah yang menentukan apakah ia akan sampai di svarga  atau nerakanya. Melalui pelaksanaan upacara kematian (pengabenan) diyakini;
1) keluarga yang ditinggalkan dapat membayar hutangnya,
2) atma leluhur bisa sampai disisi Dewa Brahma (Tuhan Yang Maha Esa),
3) dengan demikian alam semesta akan menjadi tenang sehingga para Dewa akan merasa nyaman disana.
 
Berdasarkan penjelasan tersebut, pelaksanaan upacara kematian menempati posisi yang sangat penting. Sehubungan dengan itu Weda Puja Pitra Siwa memberikan pemahaman bahwa orang yang meninggal atau keluarga yang ditinggalkan dapat memilih bentuk upacara kematian yang akan diselenggarakan sesuai dengan karakter serta kecendrungannya semasih hidup. Jika ia adalah pemuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi wisnu misalnya, maka ketika dia meninggal boleh saja dia memilih bentuk upacara sesuai pengabenan sesuai dengan karakter yang disukai yaitu Pranawa sehingga jika dalam kehidupannya ia cenderung pada subha karma maka ia akan sampai di svarganya dewa Wisnu, dan jika ia cenderung pada asubha karmanya maka ia akan sampai di nerakanya, demikian dan seterusnya.
 
Om Santih Santih Santih Om

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers