Pustaka Hindu


Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Om Śri Lakṣmī Mahādevī, Pīta varṇā pītāmbarā, dala vāyavya sthānañ ca, sarva pāpa praharaṇam. (Aṣtadevīstava.6)
(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu yang sangat mulia, dewi Lakṣmī yang menganugrahkan kemakmuran yang maha agung. Warna dan bhusananya serba kuning, bersthana di Barat Laut dari daun bunga teratai. Melenyapkan segala kepapaan dan penderitaan).

Dewi Lakṣmī digambarkan sebagai dewi yang mengenakan bhusana (kain sari) berwarna merah, warna perhiasan (bhusananya) gemerlapan warna kuning (emas) sebagai wujud dewi kemakmuran yang menganugrahkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Lakṣmī bertangan empat sebagai wujud kemaha kuasaan-Nya. Dua tangan di belakang memegang padma (teratai merah) melambangkan kesucian, tangan kanan depan dalam sikap Vāramudra, yakni menganugrahkan kepingan-kepingan uang emas sebagai lambang menganugrahkan kemakmuran, tangan kiri depan memegang kendi Amṛta, lambang air kehidupan dan kebahagiaan abadi.

Umumnya pada alas Dīpa (lampu) bagian depan terdapat tulisan Śubha dan pada lampu kiri Lābha, yang maknanya dengan kebajikan memperoleh keberuntungan dan di depan padmāsana-Nya (tempat duduk teratai) terdapat tulisan di atas lembaran kitab yang terbuka, yakni Śri Lakṣmī Prasanna, yang artinya dewi kemakmuran yang maha suci dan penuh rakhmat.

Biasanya dewi Lakṣmī digambarkan dalam sikap berdiri menganugrahkan berkeping-keping uang mas yang di tampung dalam sebuah piring. Uang atau emas adalah sarana untuk memperoleh kemakmuran. Di Indonesia (Bali) seperti halnya di India dewi ini dipuja (sebagai Iṣtadevatā, devatā pujaan utama) oleh para pedagang (Vaiṣya). Seperti halnya pemujaan kepada dewi Sarasvatī, maka pemujaan kepada dewi Lakṣmī dirangkaikan dengan pemujaan kepada dewi Durgā (setahun dua kali). Pada hari itu, arca dewi Lakṣmī dihiasi dengan uang kertas baru, seperti halnya Bhatara Rambut Sadhana di Bali (Indonesia). Sebuah kidung menyatakan: Durgā-Lakṣmī-Sarasvatī mapahi jagatmata, yang maknanya ketiga dewi itu (Durgā, Lakṣmī dan Sarasvatī merupakan perwujudan ibu alam semesta.

Di Bali Lakṣmi digambarkan sebagai Śri Sadhana, yakni dewa-dewi yang badan dan perhiasannya terbuat dari uang kepeng dan pemujaan kepada-Nya dirangkaiakan dengan hari Sarasvatī. Dewi Laksmi di Bali dipuja pada hari: Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Budha Cemeng Kelawu setahun dua kali. Bahkan oleh para pedagang di pasar Beliau dipuja sebagai dewi Melanting.

Om Santih Santih Santih Om
Bali-21 Januari 2001

image

Oleh: Shri Danu Dharma P ( I W Sudarma)

Oṁ Swastyastu
Barhiṣadaḥ pitara śti arvāg, imā va havyā cakṛmā juṣadhvam, ta ā gata avasā śaṁtamena, atha naḥ śaṁyor arapo dadhāta – Para leluhur kami yang kami sucikan, yang duduk bertebaran (di angkasa), hadirlah kemari, ke tempat upacāra yang kami persembahkan ini, semogalah anda berbahagia, anugrahkanlah pertolongan, kesehatan dan rahmat, dan bebaskan kami dari keperihan hidup). Ṛgveda X.15.4.

A. PENDAHULUAN
Upacāra agama merupakan ekspresi dan perwujudan dari pengamalan ajaran agama Hindu. Sejak wahyu suci Veda diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, upacāra-upacāra agama senantiasa dilaksanakan oleh umat. Berbagai bentuk upacāra itu sesungguhnya merupakan pengamalan dari ajaran Yajña. Kata Yajña mengandung pengertian yang jauh lebih luas dan merupakan landasan filosofis dari pelaksanaan upacāra agama. Secara garis besar Yajña dikelompokkan ke dalam 5 jenis yang dikenal dengan sebutan Pañca Yajña atau Pañca Maha Yajña.

Salah satu bentuk dari Pañca Yajña tersebut adalah Piṭṛa Yajña yang merupakan pengorbanan suci kepada para leluhur, di antaranya berupa upacāra Mamukur, yang merupakan upacāra kelanjutan dari upacāra Ngaben yang di India disebut Antyesti atau Mṛtyu Samskara. Biasanya bila seseorang atau sebuah keluarga besar melaksanakan upacāra Mamukur, maka diiringi pula oleh upacāra lainnya seperti upacāra Mapandes, Otonan dan kadang-kadang pula upacāra Pawintenan. Ketiga upacāra terakhir ini sering disebut upacāra Manusa Yajña, yang merurut sumber-sumber kepustakaan yang lebih tua seperti kitab-kitab Gṛhyasutra, Manavadharmaśāstra dan di Indonesia dijumpai pula dalam kitab Agastyaparva, merupakan upacāra Śarīra Samskara, Vidhi-vidhana atau upacāra penyucian diri pribadi. Upacāra Manusa Yajña dalam bentuknya yang sederhana adalah dengan memberikan pertolongan kepada sesama umat manusia, yakni mereka yang miskin dan memerlukan pertolongan.

Di India, seperti telah disebutkan di atas, upacāra Ngaben disebut Antyesti, Nyekah, disebut Sapindikaraṇa atau Piṭṛapinda dan terakhir, mensthanakan roh suci disebut Śrāddha. Upacāra ini secara besar-besaran pernah dilakukan oleh raja Hayam Wuruk, pada masa kejayaan Majapahit, untuk mensthanakan leluhur di Hyang I Palah, yakni di Candi Penataran, dekat Blitar, jawa Timur.

Tulisan ringkas ini menguraikan makna upacāra Mamukur, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan upacāra Yajña tersebut, terutama bagi sang Yajamana, yang melaksanakan upacāra, masyarakat di sekitarnya serta para Athiti, undangan yang berkenan hadir untuk turut serta mendoakan suksesnya pelaksanaan upacāra dimaksud.

B. PENGERTIAN UPACĀRA MAMUKUR
Guna memantapkan pengertian kita terhadap upacāra Mamukur, kiranya terlebih dahulu kami sampaikan tentang struktur pribadi kita, yakni sebagai umat manusia yang hidup dan mampu melaksanakan aktivitas karena dihidupi atau dihidupkan oleh Ātma yang di dalam tubuh mahluk sering disebut Jivàtmà. Ātma individual ini dibelenggu oleh 5 selaput yang disebut Pañca Koṣa, yang terdiri dari:
* Annamayakoṣa, selubung yang paling luar berupa badan wadag yang terdiri dari berbagai unsur makanan, yang tersusun dari unsur-unsur Pañca Tan Matra dan Pañca Māha Bhūta.
* Prāṇamayakoṣa, selubung yang lebih di dalam dari selaput yang paling luar (Annamayakoṣa) yang dalam bentuknya yang paling sederhana adalah berupa tenaga vital (energi) dalam tubuh setiap mahluk.
* Manomayakoṣa, selubung yang ketiga dari luar, merupakan badan pikiran.
* Vijñānamayakoṣa, selubung keempat dari luar, berbentuk kecerdasan budi (intelektualitas).
* Anandamayakoṣa, selubung yang paling tengah, tidak lain adalah Ātma, sumber hidup setiap mahluk.
Kelima pembungkus tersebut, dapat disederhanakan menjadi tiga badan atau Tri Śarīra, yakni Sthula Śarīra (badan wadag, terdiri dari Annamayakoṣa dan Prāṇamayakoṣa), Suksma Śarīra (badan halus, terdiri dari Manomayakoṣa dan Vijñànamayakoṣa), serta Antahkarana Śarira, yakni Anandamayakoṣa, Ātma atau Sang Diri.

Bila seseorang meninggal dunia, maka badan wadag (Sthula Śarīra, atau Annamayakoṣa dan Prāṇamayakoṣa) akan hancur, sedang badan lainnya masih tetap utuh. Upacāra Ngaben atau Antyesti itu bertujuan untuk membebaskan Ātma yang masih terbungkus oleh badan halus atau Suksma Śarīra (Manomayakoṣa dan Vijñànamayakoṣa) dari ikatan badan wadag (Sthula Śarīra) tersebut. Bila dalam kurun waktu tertentu (12 hari), badan wadag tidak diupacārakan (dikremasi), maka Ātma yang masih terbungkus oleh badan halus (Suksma Śarīra) itu akan tetap berstatus sebagai Preta. Untuk membebaskan Preta menjadi Piṭṛa inilah, upacāra Antyesti atau Ativahika mesti dilaksanakan. Upacāra Ativahika ini di Kalimantan dikenal dengan istilah Tiwah, di Jawa dan Bali disebut Atiwa-tiwa atau Atatiwa dan kini umum disebut Ngaben, yang berasal dari kata api, yang mengandung makna upacāra pembakaran jenasah.

Rangkaian upacāra selanjutnya, adalah menyucikan Ātma yang terbungkus dengan Suksma Śarīra itu, sehingga benar-benar menjadi suci dan tidak terikat dengan badan halusnya itu. Upacāra penyucian Ātma agar tidak terbelenggu oleh badan halus ini disebut dengan berbagai istilah, di antaranya Nyekah (dari kata sekar, karena simbol perwujudan roh atau puṣpaśarīra berupa bunga, dan badannya terbuat dari daun beringin sejumlah 108 lembar), Ngeroras (karena umummya upacāra ini dilakukan setelah 12 hari upacāra Ngaben), Mamukur (dari kata bukur, yang merupakan tempat abu puṣpaśarīra baik berupa bokor, maupun sebuah usungan dengan atap bertingkat-tingkat, seperti meru). Disamping itu dikenal juga dengan upacāra Maligya dan sebagainya.

Rangkaian terakhir, dari upacāra ini adalah upacāra mensthanakan Ātma yang telah berubah status menjadi Piṭṛa atau DewaPiṭṛa, yang di India maupun pada jaman Majapahit disebut dengan upacāra Śrāddha.

Berdasarkan uraian tersebut, yang dimaksud upacāra Mamukur, adalah upacāra kelanjutan dari upacāra Ngaben, berupa penyucian Ātma agar tidak terbelenggu oleh badan halus, mengubah dan meningkatkan status Ātma menjadi Piṭṛa atau DewaPiṭṛa untuk nantinya setelah disthanakan, dapat disembah oleh pratisantana atau anak cucu keturunannya.

C. PELAKSANAAN UPACĀRA MAMUKUR DAN DEWAPIṬṚA PRATIṢṬHA
Pelaksanaan upacāra Mamukur, seperti upacāra-upacāra Yajña lainnya disesuaikan dengan kemampuan Sang Yajamana, yakni mereka yang melaksanakan upacāra tersebut. Secara garis besar, sesuai kemampuan umat dibedakan menjadi 3 kelompok, yakni yang besar (uttama), menengah (madhya) dan yang sederhana (kanistama). Pada upacāra Mamukur yang besar, rangkaian upacāranya terdiri dari:
1). Ngangget Don Bingin, yakni upacāra memetik daun beringin (kalpataru/kalpavṛiksa) untuk dipergunakan sebagai bahan puṣpaśarīra (simbol badan roh) yang nantinya dirangkai sedemikian rupa seperti sebuah tumpeng (dibungkus kain putih), dilengkapi dengan prerai (ukiran/lukisan wajah manusia, laki/perempuan) dan dihiasi dengan bunga ratna. Upacāra ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lain, sebagai alas daun yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.
Ngangget don Bingin: dalam kutipan lontar Taru Sorga, dijelaskan: “…. ketlatarang inggih punika, Ngangget don bingin mawit sakit karuna ngangget, don, miwah bingin. Ngangget sajeroning bahasa Bali tegesnyane ngimpuk utawi ngalap nganggen tungguan kejangkepin tiuk. Don mawit saking bahasa Bali, daun molihang sanditasi dados don. Yening bingin, sampun meteges “punyan bingin” wantah taru pinih ageng taler kesengguh silih sinunggil taru sane tenget/angker. Paiketang saking pengabenan, punyan bingin ketarka pinaka cihna taru sorga ring mercapada, taru sorga wentenne ring suargan kebaos taru wreksa, kapercaya prasida ngicen napi sane ketunas. Taru puniki taler kebaos kalpataru. Tegesnyane upacara ngangget don bingin wantah sinunggil upacara ngalap don bingin, lumrahnyane megenah ring genah suci utawi pura, pacang keanggen sarana ngawi sekah utawi puspa sarira sajeroning upacara mamukur. Ngangget don bingin dumunan wawu upacara memukur”.
2). Ngajum, Setelah daun beringin tiba di tempat upacāra, maka untuk masing-masing perwujudan roh, dipilih sebanyak 108 lembar, ditusuk dan dirangkai sedemikian rupa kemudian disebut Sekah. Jumlah Sekah sebanyak roh yang akan diupacārakan, di samping jumlah tersebut, dibuat juga untuk Lingga atau Sangge. Setelah Sekah dihiasi seperti tubuh manusia dengan busana selengkapnya (berwarna putih), dilakukan upacāra Ngajum, yakni mensthanakan roh pada Sekah tersebut, sekaligus ditempatkan di panggung upacāra yang disebut Payajñan (tempat upacāra Yajña yang khusus untuk hal itu, terbuat dari batang pinang yang sudah dihaluskan).
3). Amet Toya Hening. Rangkaian upacāra selanjutnya, dapat dilakukan pada pagi hari menjelang hari “H”, berupa prosesi (mapeed) mengambil air jernih (toya hening) sebagai bahan utama air suci (Tirtha) bagi pandita atau dwijati yang akan memimpin upacāra yajña Mamukur tersebut. Toya hening tersebut ditempatkan di bale Pamujan (Pawedan) di depan panggung Payajñan.
4). Mapinton atau Mapajati, Upacāra ini berupa prosesi (mapeed) bagi puṣpaśarīra (roh yang diupacārakan) untuk mempermaklumkan kepada para dewata yang bersthana pada pura-pura terdekat, utamanya pura untuk pemujaan leluhur (Kawitan).
5). Mapradaksina, Upacāra ini sering disebut Mapurwadaksina, yakni prosesi (mapeed) bagi puṣpaśarīra (yang dipangku atau dijunjung oleh anak cucu keturunannya, memakai bhusana serba putih), dilakukan pada hari “H”, setelah upacāra Mapinton, mengelilingi panggung Payajñan sebanyak 3 kali (dari arah Selatan ke arah Timur) mengikuti jejak lembu putih (sapi gading), yang dituntun oleh gembalanya, di atas hamparan kain putih, dilakukan secara khusuk , diiringi gamelan gambang, saron atau selonding, gong gede, kidung, kakawin, pembacaan parwa (Mahābhārata) dan Putrupasaji (biasa oleh Walaka senior).
Puncak Upacāra (Pandita Muput Yajña). Bersamaan dengan upacāra Mapradaksina, seorang atau beberapa pandita (Sulinggih) yang memimpin pelaksanaan upacāra, melakukan pula upacāra;
6). Melaspas bukur atau madhya, atau padma anglayang, alat untuk mengusung puṣpaśarīra yang telah disucikan (di-pralina) berupa meru (beratap tumpang) dihias dengan hiasan kertas emas, kemudian ditempatkan di dekat panggung Payajñan.
7). Ngaliwet, yakni upacāra menanak nasi sebagai saji tarpana (di India umumnya nasi tersebut dibuat bulat seperti bola pingpong (penek/pulung-pulung kecil) disebut pinda, sebanyak 108 buah, dipersembahkan kepada roh yang diupacārakan, di samping dipersembahkan kepada para dewata dan leluhur). Memasaknya dilakukan di depan Sanggar Tawang (depan panggung Payajñan) dipimpin oleh pandita. Beras yang dipersiapkan di atas nyiru berisi lukisan padma dan wijaksara (huruf suci) tertentu dituangi empehan (susu) dan madu (madhuparka).
8). Ngenyitin Damar Kurung (Menyalakan Lampu Terkurung/Lampion) yang ditempatkan di sebelah panggung Payajñan atau di pintu masuk areal upacāra.
Ngilenang Padudusan, yakni melaksanakan upacāra penyucian ditujukan kepada Sanggar Tawang (Sanggar Surya), untuk memohon perkenan para dewa/dewata turun menyaksikan dan menganugrahkan keberhasilan Yajña tersebut, di panggung Payajñan, untuk menyucikan roh-roh yang diupacārakan.
9). Muspa, yakni upacāra persembahyangan yang didahului pemujaan kepada Sang Hyang Surya sebagai saksi agung alam semesta, kemudian kepada para dewata dan leluhur, serta sembah untuk pelepasan roh (Ātma) dari ikatan Suksma Śarīra yang diikuti oleh Sang Yajamana dan seluruh keluarga besarnya.
10). Pralina, yakni upacāra tahap akhir dilakukan oleh pandita (Sulinggih) sebagai simbol pelepasan Ātma dari ikatan Suksma Śarīra.
11). Papendetan, yakni mempersembahkan tari-tarian, bahwa tapa pelepasan roh telah dilaksanakan, para leluhur sesaat lagi akan menuju alam sorga.
12). Ngeseng Puṣpalingga, yakni membakar puṣpaśarīra (wujud roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak, dengan sarana sepit, panguyegan, balai gading dan lain-lain, dengan api pembakaran yang diberikan oleh pandita pemimpin upacāra. Upacāra ini sangat baik dilakukan pada dini hari, saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan Ātma dari keduniawian.
Sekah tunggal. Selesai upacāra Ngeseng, maka arang/abu dari puṣpaśarīra dimasukkan ke dalam degan (kelungah) kelapa gading, dibungkus kain putih dan dihias dengan bunga harum selanjutnya disthanakan di dalam bukur, di atas padma anglayang atau di dalam bokor perak, diikuti dengan persembahyangan oleh keluarga.
13). Nganyut Sekah ke Segara. Upacāra ini merupakan tahap terakhir dari upacāra Mamukur, dapat dilakukan langsung selesai upacāra Ngeseng Sekah (upacāra ini umumnya disebut Ngalanus) atau keesokan pagi harinya disebut upacāra Ngirim. Setelah tiba di tepi pantai, arang/abu yang ditempatkan dalam kelungah kelapa gading dikeluarkan dan ditebarkan di tepi pantai yang didahului dengan upacāra persembahan sesajen kepada Sang Hyang Baruna, sebagai dewata penguasa laut, sekaligus permohonan penyucian terhadap roh yang diupacārakan dan diakhiri dengan persembahyangan oleh keluarga.
14). Dewapiṭṛa Pratiṣṭha (Ngalinggihang Dewapiṭṛa/Dewapitara). Upacāra ini bukan merupakan bagian dari upacāra Mamukur, melainkan merupakan upacāra kelanjutan dari upacāra Mamukur itu. Upacāra ini sering disebut Ngalinggihang Dewa Hyang, merupakan tradisi lebih lanjut dari men-dharma-kana leluhurnya pada pura Kawitan masing-masing yang dirangkai pula dengan upacāra Nyagara-Gunung atau Majar-ajar, seperti ke pantai Goalawah dan pura Dalem Puri, Penataran Agung Besakih.

Demikian sepintas pelaksanaan upacāra Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha yang umum dilakukan oleh umat Hindu di Indonesia, khususnya umat Hindu di daerah Bali.

D. MAKNA UPACĀRA MAMUKUR & DEWAPIṬṚA PRATIṢṬHA
Memperhatikan rangkaian pelaksanaan upacāra Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha seperti tersebut di atas, maka makna yang dikandung dari rangkaian upacāra tersebut adalah:
1). Ngangget Don Bingin. Pohon bingin atau beringin di dalam kitab suci veda dan susastra Hindu lainnya disebut Kalpataru atau Kalpavṛikṣa. Sejenis dengan pohon ini disebut pula Asvatta. Pohon beringin pada mulanya tumbuh di sorga dan untuk kemakmuran umat manusia, pohon ini diturunkan ke bumi sebagai simbolis untuk memperoleh kemakmuran. Pohon kalpataru ini benyak dipahatkan pada dinding luar mandir atau candi, seperti halnya dapat kita lihat di candi Prambananan, Jawa Tengah. Upacāra Ngangget Don Bingin mengandung makna untuk memantapkan hati sang Yajamana beserta keluarganya untuk menyelenggarakan upacāra penyucian arwah leluhur dengan menjadikan daun beringin (108 lembar) sebagai badan spiritual bagi arwah yang akan disucikan ini. Arwah atau roh yang disucikan itu diharapkan natinya mencapai sorga, juga sering disebut “munggah ring ron baingin”.
2). Ngajum Puṣpaśarīra atau Puṣpalingga. Upacāra ini mengandung makna supaya leluhur yang diupacārakan berkenan hadir dan menjadikan Puṣpaśarīra sebagai perwujudan badannya. Ātma yang akan disucikan sebagai puruûa, sedang Puṣpaśarīra sebagai prakṛti-nya.
3). Mapradaksina atau mapurwadaksina. Upacāra ini mengandung makna untuk menurunkan roh leluhur yang akan diupacārakan berkenan turun hadir dalam upacāra, selanjutnya mengikuti jejak lembu putih (sapi gading) sebagai simbol mengikuti jalan ketuhanan, karena lembu putih adalah kendaraan dewa Śiva. Melalui upacāra ini dimohon kehadapan Sang Hyang Śiva supaya leluhur yang diupacārakan dapat mencapai sorga, sthana Sang Hyang Śiva di gunung Kailaśa di arah Ttimur Laut yang menjulang tinggi.
4). Ngaliwet. Upacāra ini mengandung makna sebagai persembahan atau bekal roh untuk selanjutnya dipersembahkan kepada Sang Hyang Śiva. Persembahan berupa nasi yang dibuat berbentuk seperti bola pingpong itu di India disebut Pióîa atau Piṭṛapinda. Dalam upacāra Ngaben, umat Hindu mempersembahkan bubur bundar (bubur-pitara) sebagai persembahan roh kepada Sang Hyang Yama, putra Sang Hyang Sūrya (Śiva) sebagai penguasa alam kematian (Piṭṛaloka), demikian pula dalam upacāra memukur ini, roh yang telah disecikan disebut Piṭṛa atau Pitara dimohon pula dapat membimbing kehidupan anak cucunya di dunia ini untuk mencapai kesejahtraan dan kebahagiaan.
5). Ngeseng Puṣpaśarīra. Inilah puncak acara untuk melenyapkan keterikatan Ātma dengan Suksma Śarīra atau keduniawiannya, sehingga Ātma yang bersangkutan dapat mencapai sorga bahkan lebih tinggi lagi yakni mencapai Moksa, bersatu dengan Hyang Widhi. Upacāra ini didahului dengan Mapadudus, yang mengandung makna penyucian, upacāra Tarpana, mempersembahkan sajian kepada roh yang diupacārakan, Ngelepas Ātma (membebaskan ma dari keterikatan duniawi) dan Muspa atau persembahyangan guna memohonkan Ātma tersebut bebas dari keduniawian, untuk selanjutnya dapat disembah oleh anak cucunya untuk memohon wara nugraha dan perlindungan.
6). Nganyut Sekah ke Segara. Upacāra ini mengandung makna bahwa abu bekas Puṣpaśarīra ini dikembalikan ke usur alam yang disebut Pañca Māhabhūta yang disimboliskan dengan air. Air laut berfungsi sebagai rangkaian akhir hanyutnya kekotoran dunia, sekaligus pula sebagai tempat penyucian dan tirtha Amṛita (air kehidupan dan keabadian).
7). Dewapiṭṛa Pratiṣṭha. Upacāra ini mengandung makna permohonan kepada Ātma yang disucikan itu berkenan untuk bersthana pada pura keluarga, Sanggah Kamulan, pamarajan atau Kawitan, untuk disembah, dimohon wara nugraha dan perlindungannya. Upacāra ini dirangkai pula dengan upacāra Nyagara-gunung atau Majar-ajar mengandung makna memberitahukan kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur sebagai perwujudan Piṭṛa ṛnam, bakti anak cucu kepada leluhurnya.

E. TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DAN KELUARGA
Upacāra Mamukur dan upacāra-upacāra Piṭṛa Yajña lainnya, pada hakekatnya adalah merupakan tanggung jawab keluarga seperti diamanatkan dalam kitab Manavadhaśāstra, bahwa kalurga, khususnya anak tertua laki-laki mempunyai kewajiban untuk melakukan upacāra Śrāddha bagi leluhur atau orang tuanya. Dengan pengertian ini, sesungguhnya seorang Gṛihastin, berkewajiban tidak hanya memelihara orang tua sejak beliau mulai tidak mampu secara lahir dan batin untuk melakukan tugas kehidupan, tetapi juga sampai hayat hidup, sejak kematiannya (Ngaben), Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha.
Sebaliknya upacāra Mapandes adalah merupakan kewajiban orang tua (ibu-bapa) untuk menyelenggarakannya, dan bila kita kaji secara seksama, seorang anak sesungguhnya adalah pula leluhur kita yang menjelma untuk meningkatkan kualitas kehidupannya (lahir dan batin) yang pada akhirnya dapat mengantarkannya guna mewujudkan Jagadhita (kesejahtraan dan kebahagian hidup di dunia ini) dan Mokṣa (bersatunya Ātman dengan Paramātman).
Dalam melakukan Yajña ini, landasan yang paling mendasar bagi Sang Yajamana (yang melaksanakan atau yang memiliki upacāra itu), Sang Amancagra (tukang bebanten dan sangging), dan Sang Pandita (yang memimpin dan menyelesaikan upacāra) adalah ketulusan hati. Ketulusan ini patut pula diikuti oleh para Athiti tamu undangan) guna Yajña tersebut berhasil Śiddhakarya.
Untuk mengembangkan ketulusan hati, utamanya Sang Yajamana bersama keluarga hendaknya dapat melakukan berbagai Brata, seperti Upavaśa (mengendalikan diri untuk tidak menikmati makanan) pada saat puncak upacāra berlangsung, dan senantiasa memustkan pikiran kehadapan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur untuk keberhasilan dari Yajña yang diselenggaraka.

Demikian sepintas makna upacāra Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha yang dilakukan oleh umat Hindu untuk menunjukkan bakti pratisantana (anak cucu) kepada leluhurnya, dengan demikian hubungan yang harmonis dengan Hyang Widhi, para dewata dan leluhur dapat diwujudnyatakan untuk kesejahtraan dan kebahagian hidup umat manusia.

E. PENUTUP
Demikianlah tulisan singkat ini kami sampaikan dalam rangka mewujudkan partisipasi kami, semoga Yajña yang sangat mulia ini mencapai Śiddhaning Don, Śiddhakarya sebagai yang kita harapkan.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ
Sumber Bacaan:
Lontar Yama Tatwa
Lontar Yama Purwa Tatwa
Lontar Yama Purwana Tatwa
Lontar Aji Pelelayon
Lontar Tutur Wong Pejah
Lontar Dharma Kahuripan
Lontar Taru Sorga

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

“Purusa memiliki sifat “sadar-pasif” & Pradhana memiliki sifat “tidak sadar-aktif”. Purusa seperti seorang yang melihat tetapi lumpuh, sedangkan Pradhana seperti soeorang buta tapi sehat. ..dan untuk mencapai tujuan (bahagia) Pradhana yang buta tapi sehat menggendong Purusa yang melihat tapi lumpuh. ..keduanya bekerja sama saling menguntungkan”.
image

Dalam bhuana alit, jiwa adalah aspek purusa dan badan adalah aspek pradhana, tanpa badan sang jiwa tidak dapat mencapai tujuan (kebahagiaan) dan demikian pula sebaliknya. ..

Saudara/i, kita tak bisa mengabaikan keberadaan badan (pradhana), walau memang sejatinya kita bukanlah badan. …tapi dalam kehidupan ini badan adalah perahu yang akan membantu kita menyeberangi lautan kehidupan ini….Kerjasama antara Purasa dengan Pradhana akan melahirkan karya baik dan buruk, dan Dominasi salah satu akan menimbulkan disharmoni.

Keduanya berperan penting, namun demikian Kontrol berada pada yang sadar/melihat….menunjukkan ke arah mana si sehat harus melangkah. Jika si buta yang mengontrol perjalanan-kemungkinan tersesat sangat terbuka lebar.
Si buta yang sehat harus tetap sehat, sdang si melihat harus tetap sadar dan tidak kepincut dengan pesona maya yang ilusi

Om Santih Santih Santih Santih
Oleh: I W. Sudarma ( Shri Danu Dharma Patapan)
Bali-11/09/2011

image

Written & Posted by: IW. Sudarma

Om Swastyastu
Hal kecil memiliki makna yang sangat dalam “Anteng atau Selendang”. Masyarakat Bali jika datang ke sebuah tempat suci ataupun ketempat orang suci pasti memakai anteng atau selendang yang diikatkan pada pinggang. Salah satu makna dari Anteng ini adalah pengikatan segala indria jasmani untuk fokus atau berkonsentrasi pada jiwa yang ada didalam diri,yaitu Tuhan. Disamping itu pula Anteng  adalah simbol perlindungan dari Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagi umatNya. Ini adalah mantra atau doa yang bisa diucapkan saat mengikatkan Anteng atau selendang pada pinggang. Saat mengikat atau memakai Anteng atau selendang, pegang simpul atau ikatan selendangnya, kemudian ucapkan mantra berikut ini:

Om Manidharavajrani Mahapratisari Raksha Raksha Hum Phat Swaha

O, Tuhan, saya mengikat simpul selendang ini bagaikan halilintar(Vajra) yang menarik dan mengikat segala pikiranku yang berkelana menuju kepada-Mu. Semoga Engkau melindungiku(raksha) dengan menjaga pikiranku dan mengahalangi masuknya segala pikiran buruk.

Dalam Mantra diatas ada tiga bijaksara mantra yaitu:
HUM-adalah Kavaca bijaksara atau bijaksara dari baju zirah(armour/baju perlindungan/tameng/baju perang)
PHAT-adalah bijaksara senjata(weapon) di dalam sansekertha.
SWAHA-nama dari permaisuri Dewa Agni, juga berarti persembahan, permohonan.

Salam, kirang langkung tiang nunas genggrena sinampura

Om Santih Santih Santih Om
* Ganapatya Nanda

Written & Posted by: IW. Sudarma

Om Swastyastu

:Om Idham bhasma param guhyam
Pavitram papa nasanam
Sarva klesa vinasaya
Sarva rogha vinasanam”.

Om-Hyang Widhi
Idham-ini
bhasma-abu suci
param-utama
guhyam-rahasia, mistik
pavitram-penyucian
papa-dosa
nasanam-menghancurkan
Sarva-berbagai
Klesa-penderitaan
Vinasaya-menghancurkan
Sarva-berbagai
Rogha-penyakit
Vinasanam-menghancurkan

Artinya: Abu suci ini adalah rahasia yang paling utama. Yang memberikan kesucian dan menghapuskan segala dosa. Yang menghancurkan segala penderitaan. Serta menghancurkan segala penyakit.

Abu sisa dari sebuah ritual upacara Agni Hotra atau Homa disebut dengan Bhasma. Bhasma artinya abu, dan para pengikut Siwa atau penganut Siwaisme akan memakai abu suci tersebut di kening atau diantara kedua alis mata atau melumuri seluruh tubuhnya dengan abu sisa dari upacara Homa ini. Abu sisa dari sebuah ritual Agni Hotra atau Homa diyakini sangat suci dan memiliki berbagai khasiat positif. Bhasma ini diyakini memberikan penyucian diri, perlindungan serta penghancuran  segala dosa dan penyakit. Bagi mereka yang sudah terbiasa dan meyakini ritual tradisi dari Weda ini biasanya juga menggunakan abu Homa ini sebagai penyucian dan perlindungan pekarangan rumah.

Namun di Bali jarang kita temukan pemangku ataupu para sulinggih yang memakai Bhasma atau abu suci ini. Karena umumnya yang dipakai adalah beras yang dicampur air cendana ataupun “bhasma’ yang diperoleh dengan menggosok kayu cendana di dalam periuk yang terbuat dari tanah. Walaupun mantra yang diucapkan, umumnya adalah mantra di atas.

Demikian dapat saya ketengahkan makna dari mantram ini. Semoga dapat menambah wawasan kira akan keluawasan Weda, dan dapat meningkatkan Sraddha~Bhakti kita semua.

Om Santih Santih Santih Om
* Ganapatya Nanda

Written & Posted by: IW. Sudarma

Oleh: Shri Danu Dharma Patapan

Om Swastyastu
Konsepsi kehidupan dalam ajaran agama Hindu pada dasarnya bersumber dari filosofis religi kosmos, yang memandang manusia dan alam sebagai sesuatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang sama. Konsep Rwa Bhinneda yang merupakan bentuk hubungan antara makro kosmos (bhuana agung) atau alam semesta dan mikro kosmos (bhuana alit) atau badan kasar manusia sebagai dua unsur yang berbeda dan selalu ada, di mana satu sama lain saling mempengaruhi. Kosmos selalu mengalami proses terus menerus sebagai akibat dari ketidakseimbangan kondisi. Proses ini mengandung dimensi waktu yang disebut konsep Tri Masa (Atita/masa lalu, Nagata/masa kini dan Wartamana/masa depan) serta konsep Nemu Gelang (proses kembali ke asal namun dalam kedudukan yang lebih tinggi).

Untuk mempertahankan keseimbangannya, makro kosmos dan mikro kosmos diatur melalui yang disebut Panca Maha Butha: apah, teja, bayu, akhasa, pertiwi (cairan, sinar matahari, udara dan zat padat). Dengan demikian kondisi setempat, iklim, fisik dan lingkungan dan sosial budaya sangat dipertimbangkan sebagai dasar penataan lingkungan (desa, kala, patra).

Dalam kehidupan sehari-hari filosofi bhuana agung dan bhuana alit yang selaras melahirkan aspek kehidupan berupa konsepsi-konsepsi. Konsepsi tersebut meliputi konsepsi Tri Hita Karana yang mengatur keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya. Tri Hita Karana, bila duraikan secara harfiah Tri berarti tiga, Hita berarti Kemakmuran, baik, gembira, senang, lestari atau kehidupan, dan Karana berarti sebab musabab atau sumber sebab. Dengan demikian Tri Hita Karana mempunyai arti tiga sebab atau unsur yang menjadikan kehidupan (kebaikan), yaitu: 1) Atma (zat penghidup, jiwa atau roh), 2) Prana (tenaga), dan 3). Angga (jasad/fisik).

Selanjutnya Konsepsi Tri Hita Karana yang mengatur keseimbangan atau keharmonisan manusia dengan lingkungannya, tersusun dalam konsep Tri Angga. Tri Angga secara harfiah dapat diartikan Tri sebagai tiga dan Angga sebagai badan. Konsepsi Tri Angga ini menekankan pada tiga nilai fisik, yaitu Utama Angga/sakral, Madya Angga/netral, dan Nista Angga/profan. Konsepsi ini memberi arah tata nilai secara vertikal. Disamping itu konsepsi Tri Angga di dalamnya juga meliputi tata nilai yang berkaitan dengan orientasi yang disebut Luan-Teben yang menjadi pedoman tata nilai di dalam mencapai penyelarasan antara bhuana agung dan bhuana alit.

Luan-Teben memiliki orientasi antara lain:

1) berdasarkan sumbu bumi, yaitu kaja-kelod (gunung dan laut),

2 arah tinggi-rendah (tegeh dan lebah),

3) berdasarkan sumbu Matahari, yaitu: Timur-Barat (Matahari terbit dan terbenam).

Tata nilai berdasarkan sumbu bumi (kaja/gunung – kelod/laut) memberikan nilai utama pada arah kaja (gunung) dan nista pada arah kelod (laut), sedangkan pada sumbu matahari, nilai utama pada arah matahari terbit dan nista pada arah matahari terbenam. Ketika kedua sistem tata nilai ini digabungkan maka secara imajiner akan terbentuk pola Sanga Mandala yang membagi ruang menjadi sembilan segmen.

Sedangkan sifat kosmos atau alam yang disimbolkan dengan huruf suci Panca Brahma. Filosofi inilah yang kemudian melahirkan konsep Catus Patha, yang memberi pengertian bertemunya pengaruh yang datang dari empat arah mata angin (Timur, Selatan, Barat dan Utara). Jika konsep Catus Patha digabung dengan Panca Aksara maka akan melahirkan konsep Dasa Aksara. Filosofi ini kemudian menjiwai konsep Astha Dala (delapan penjuru mata angin) dengan satu inti di tengah, yang akhirnya melahirkan konsep Dewata Nawa Sangha.Konsep ini merupakan kristalisasi filosofi yang menggambarkan pengendalian ketertiban proses keseimbangan alam, mempengaruhi seluruh kehidupan masyarakat dan sebagai jiwa dalam perencanaan fisik/tata ruang yang telah melahirkan konsep Nawa Sangha (sembilan pengendali).

Sifat kosmos yang mengundung utpati, shiti dan pralina (dicipta, dipelihara dan dilebur) dalam konteks proses alam juga memberikan arti simbolis sebagai terbitnya matahari (Timur/utpati), teriknya matahari (tengah/shriti) dan terbenamnya matahari (Barat/pralina). Hal tersebut yang digabungkan dengan konsep Tri Angga yang mewujudkan konsep tata ruang Bali, yang disebut Sanga Mandala (sembilan zona).

Secara konseptual tata ruang tradisional Bali didasarkan pada nilai yang dibentuk oleh 3 (tiga) sumbu, yaitu:

1. Sumbu kosmos: bhur loka (bumi), bhuah loka (angkasa) dan swah loka (sorga).

2. Sumbu religi/ritual: kangin-kauh (arah terbit dan terbenamnya matahari).

3. Sumbu natural/bumi: kaja-kelod (arah gunung dan laut).

Demikian sekilas konsep Luan-Teben ini hingga kini dijadikan acuan oleh umat Hindu dalam menata hidup dan kehidupannya baik kaitannya dengan kehidupan spiritual, sosial dan bermasyarakat. semoga bermanfaat bagi kita semua

Om Santih Santih Santih Om

Sumber Bacaan: Lontar Asta Kosala-Kosali, Lontar Asta Bhumi, Lontar Wiswakarma Tattwa.
Saturday, April 2, 2011 at 1:27am

Om Swastyastu

Jiwa menjadi menderita di dunia material, apa itu hukuman? mengapa sang jiwa lupa (atau dibuat lupa?) pada semua penjelmaan sebelumnya

Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavadgita, II.17-25 bahwa Jiva dan Tuhan bersifat tidak termusnahkan (avinasi), abadi (avyayam) dan juga kekal (nityam). Jadi antara Tuhan dan Jiva tidak pernah tidak ada dan tidak pernah juga dimulai baik secara bersamaan ataupun tidak bersamaan.

Menurut filsafat Achintya Bhedaabheda tattva disebutkan bahwa Tuhan dan Mahluk hidup memiliki sifat dan karakter (kualitas) yang sama. Yang membedakan hanyalah masalah kuantitas.

Mengenai kenapa mahluk hidup harus turun ke dunia material, bukan karena hukuman, ataupun Tuhan yang memaksa kita jatuh dan menderita di dunia ini, tetapi karena kebebasannyalah dalam memilih karena kebebasan kita yang disebut icca (Bhagavadgita, VII.27). Bahkan pada dasarnya dunia material ini diciptakan karena kasih sayang Tuhan kepada kita yang ingin menikmati kehidupan terpisah dari diri-Nya. Namun tentunya karena Tuhan memperingati berkali-kali lewat diwahyukannya kitab suci, Avatara dan orang-orang suci yang mengajarkan bahwa dengan kehidupan terpisah ini sang jiva tidak akan pernah merasakan kenikmatan sejati, tetapi mereka akan dibelenggu oleh kenikmatan semu. Jiva yang jatuh ke dunia materialpun diberikan kebebasan untuk memilih badan yang dia sukai.

Dalam hal ini jangan menjadikan mindset kita sebagai manusia sebagai patokan. Mungkin kita bisa mengatakan babi dan anjing itu menjijikkan dan kotor, tapi mungkin dalam otak si babi dan anjing mengatakan bahwa sesungguhnya manusialah yang bodoh dan terlalu susah dalam usahanya menikmati hidup.

Kenapa manusia pada umumnya harus lupa jika dia menggantikan badan? Mungkin aja dengan mengatakan bahwa jika kita ingat kehidupan masa lalu kita bisa sadar akan Tuhan… tetapi belum tentu. Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavadgita, XV.15: bahwa ‘ingatan’ dan ‘pelupaan’ adalah karunia dari Tuhan dan kedua unsur itu perlu dan tidak bisa dipisahkan. Bayangkan jika seseorang mengalami masa kelam dan dia tidak bisa melupakan kejadian itu, apa yang akan terjadi secara psikologi dengan orang tersebut? Dengan adanya proses pelupaan itu tidak serta merta akan merugikan mahluk hidup dalam usahanya mencapai Tuhan. Dikatakan ‘Antah pravistah sasta jananam’, pada saat mahluk hidup meninggalkan badan yang dimilikinya sekarang, dia lupa akan segala sesuatu; tetapi mahluk hidup memulai pekerjaannya lagi, karena ia digerakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun ia lupa, Tuhan memberikan kecerdasan untuk memulai pekerjaannya dari tingkat yang telah dicapainya pada saat ia berhenti dalam penjelmaannya yang lalu.

Bagaikan api yang memiliki sifat panas dan membakar, demikian juga Jiva yang memiliki sifat dasar (dharma) sebagai pelayan Tuhan. Api akan puas dengan mengikuti sifatnya yang bisa memanaskan dan membakar segala sesuatu dan Atman/jiva akan puas dan mencapai kebahagiaan jika melakukan kewajibannya melayani Tuhan. Pelayanan itu hanya bisa dicapai secara sempurna jika dia kembali kepada kedudukan asalnya di dunia rohani.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: IW. Sudarma
Bali-01/07/2002

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers