Pustaka Hindu


Om Swastyastu
Hal kecil memiliki makna yang sangat dalam “Anteng atau Selendang”. Masyarakat Bali jika datang ke sebuah tempat suci ataupun ketempat orang suci pasti memakai anteng atau selendang yang diikatkan pada pinggang. Salah satu makna dari Anteng ini adalah pengikatan segala indria jasmani untuk fokus atau berkonsentrasi pada jiwa yang ada didalam diri,yaitu Tuhan. Disamping itu pula Anteng  adalah simbol perlindungan dari Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagi umatNya. Ini adalah mantra atau doa yang bisa diucapkan saat mengikatkan Anteng atau selendang pada pinggang. Saat mengikat atau memakai Anteng atau selendang, pegang simpul atau ikatan selendangnya, kemudian ucapkan mantra berikut ini:

Om Manidharavajrani Mahapratisari Raksha Raksha Hum Phat Swaha

O, Tuhan, saya mengikat simpul selendang ini bagaikan halilintar(Vajra) yang menarik dan mengikat segala pikiranku yang berkelana menuju kepada-Mu. Semoga Engkau melindungiku(raksha) dengan menjaga pikiranku dan mengahalangi masuknya segala pikiran buruk.

Dalam Mantra diatas ada tiga bijaksara mantra yaitu:
HUM-adalah Kavaca bijaksara atau bijaksara dari baju zirah(armour/baju perlindungan/tameng/baju perang)
PHAT-adalah bijaksara senjata(weapon) di dalam sansekertha.
SWAHA-nama dari permaisuri Dewa Agni, juga berarti persembahan, permohonan.

Salam, kirang langkung tiang nunas genggrena sinampura

Om Santih Santih Santih Om
* Ganapatya Nanda

Written & Posted by: IW. Sudarma

Om Swastyastu

:Om Idham bhasma param guhyam
Pavitram papa nasanam
Sarva klesa vinasaya
Sarva rogha vinasanam”.

Om-Hyang Widhi
Idham-ini
bhasma-abu suci
param-utama
guhyam-rahasia, mistik
pavitram-penyucian
papa-dosa
nasanam-menghancurkan
Sarva-berbagai
Klesa-penderitaan
Vinasaya-menghancurkan
Sarva-berbagai
Rogha-penyakit
Vinasanam-menghancurkan

Artinya: Abu suci ini adalah rahasia yang paling utama. Yang memberikan kesucian dan menghapuskan segala dosa. Yang menghancurkan segala penderitaan. Serta menghancurkan segala penyakit.

Abu sisa dari sebuah ritual upacara Agni Hotra atau Homa disebut dengan Bhasma. Bhasma artinya abu, dan para pengikut Siwa atau penganut Siwaisme akan memakai abu suci tersebut di kening atau diantara kedua alis mata atau melumuri seluruh tubuhnya dengan abu sisa dari upacara Homa ini. Abu sisa dari sebuah ritual Agni Hotra atau Homa diyakini sangat suci dan memiliki berbagai khasiat positif. Bhasma ini diyakini memberikan penyucian diri, perlindungan serta penghancuran  segala dosa dan penyakit. Bagi mereka yang sudah terbiasa dan meyakini ritual tradisi dari Weda ini biasanya juga menggunakan abu Homa ini sebagai penyucian dan perlindungan pekarangan rumah.

Namun di Bali jarang kita temukan pemangku ataupu para sulinggih yang memakai Bhasma atau abu suci ini. Karena umumnya yang dipakai adalah beras yang dicampur air cendana ataupun “bhasma’ yang diperoleh dengan menggosok kayu cendana di dalam periuk yang terbuat dari tanah. Walaupun mantra yang diucapkan, umumnya adalah mantra di atas.

Demikian dapat saya ketengahkan makna dari mantram ini. Semoga dapat menambah wawasan kira akan keluawasan Weda, dan dapat meningkatkan Sraddha~Bhakti kita semua.

Om Santih Santih Santih Om
* Ganapatya Nanda

Written & Posted by: IW. Sudarma

Oleh: Shri Danu Dharma Patapan

Om Swastyastu
Konsepsi kehidupan dalam ajaran agama Hindu pada dasarnya bersumber dari filosofis religi kosmos, yang memandang manusia dan alam sebagai sesuatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang sama. Konsep Rwa Bhinneda yang merupakan bentuk hubungan antara makro kosmos (bhuana agung) atau alam semesta dan mikro kosmos (bhuana alit) atau badan kasar manusia sebagai dua unsur yang berbeda dan selalu ada, di mana satu sama lain saling mempengaruhi. Kosmos selalu mengalami proses terus menerus sebagai akibat dari ketidakseimbangan kondisi. Proses ini mengandung dimensi waktu yang disebut konsep Tri Masa (Atita/masa lalu, Nagata/masa kini dan Wartamana/masa depan) serta konsep Nemu Gelang (proses kembali ke asal namun dalam kedudukan yang lebih tinggi).

Untuk mempertahankan keseimbangannya, makro kosmos dan mikro kosmos diatur melalui yang disebut Panca Maha Butha: apah, teja, bayu, akhasa, pertiwi (cairan, sinar matahari, udara dan zat padat). Dengan demikian kondisi setempat, iklim, fisik dan lingkungan dan sosial budaya sangat dipertimbangkan sebagai dasar penataan lingkungan (desa, kala, patra).

Dalam kehidupan sehari-hari filosofi bhuana agung dan bhuana alit yang selaras melahirkan aspek kehidupan berupa konsepsi-konsepsi. Konsepsi tersebut meliputi konsepsi Tri Hita Karana yang mengatur keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya. Tri Hita Karana, bila duraikan secara harfiah Tri berarti tiga, Hita berarti Kemakmuran, baik, gembira, senang, lestari atau kehidupan, dan Karana berarti sebab musabab atau sumber sebab. Dengan demikian Tri Hita Karana mempunyai arti tiga sebab atau unsur yang menjadikan kehidupan (kebaikan), yaitu: 1) Atma (zat penghidup, jiwa atau roh), 2) Prana (tenaga), dan 3). Angga (jasad/fisik).

Selanjutnya Konsepsi Tri Hita Karana yang mengatur keseimbangan atau keharmonisan manusia dengan lingkungannya, tersusun dalam konsep Tri Angga. Tri Angga secara harfiah dapat diartikan Tri sebagai tiga dan Angga sebagai badan. Konsepsi Tri Angga ini menekankan pada tiga nilai fisik, yaitu Utama Angga/sakral, Madya Angga/netral, dan Nista Angga/profan. Konsepsi ini memberi arah tata nilai secara vertikal. Disamping itu konsepsi Tri Angga di dalamnya juga meliputi tata nilai yang berkaitan dengan orientasi yang disebut Luan-Teben yang menjadi pedoman tata nilai di dalam mencapai penyelarasan antara bhuana agung dan bhuana alit.

Luan-Teben memiliki orientasi antara lain:

1) berdasarkan sumbu bumi, yaitu kaja-kelod (gunung dan laut),

2 arah tinggi-rendah (tegeh dan lebah),

3) berdasarkan sumbu Matahari, yaitu: Timur-Barat (Matahari terbit dan terbenam).

Tata nilai berdasarkan sumbu bumi (kaja/gunung – kelod/laut) memberikan nilai utama pada arah kaja (gunung) dan nista pada arah kelod (laut), sedangkan pada sumbu matahari, nilai utama pada arah matahari terbit dan nista pada arah matahari terbenam. Ketika kedua sistem tata nilai ini digabungkan maka secara imajiner akan terbentuk pola Sanga Mandala yang membagi ruang menjadi sembilan segmen.

Sedangkan sifat kosmos atau alam yang disimbolkan dengan huruf suci Panca Brahma. Filosofi inilah yang kemudian melahirkan konsep Catus Patha, yang memberi pengertian bertemunya pengaruh yang datang dari empat arah mata angin (Timur, Selatan, Barat dan Utara). Jika konsep Catus Patha digabung dengan Panca Aksara maka akan melahirkan konsep Dasa Aksara. Filosofi ini kemudian menjiwai konsep Astha Dala (delapan penjuru mata angin) dengan satu inti di tengah, yang akhirnya melahirkan konsep Dewata Nawa Sangha.Konsep ini merupakan kristalisasi filosofi yang menggambarkan pengendalian ketertiban proses keseimbangan alam, mempengaruhi seluruh kehidupan masyarakat dan sebagai jiwa dalam perencanaan fisik/tata ruang yang telah melahirkan konsep Nawa Sangha (sembilan pengendali).

Sifat kosmos yang mengundung utpati, shiti dan pralina (dicipta, dipelihara dan dilebur) dalam konteks proses alam juga memberikan arti simbolis sebagai terbitnya matahari (Timur/utpati), teriknya matahari (tengah/shriti) dan terbenamnya matahari (Barat/pralina). Hal tersebut yang digabungkan dengan konsep Tri Angga yang mewujudkan konsep tata ruang Bali, yang disebut Sanga Mandala (sembilan zona).

Secara konseptual tata ruang tradisional Bali didasarkan pada nilai yang dibentuk oleh 3 (tiga) sumbu, yaitu:

1. Sumbu kosmos: bhur loka (bumi), bhuah loka (angkasa) dan swah loka (sorga).

2. Sumbu religi/ritual: kangin-kauh (arah terbit dan terbenamnya matahari).

3. Sumbu natural/bumi: kaja-kelod (arah gunung dan laut).

Demikian sekilas konsep Luan-Teben ini hingga kini dijadikan acuan oleh umat Hindu dalam menata hidup dan kehidupannya baik kaitannya dengan kehidupan spiritual, sosial dan bermasyarakat. semoga bermanfaat bagi kita semua

Om Santih Santih Santih Om

Sumber Bacaan: Lontar Asta Kosala-Kosali, Lontar Asta Bhumi, Lontar Wiswakarma Tattwa.
Saturday, April 2, 2011 at 1:27am

Om Swastyastu

Jiwa menjadi menderita di dunia material, apa itu hukuman? mengapa sang jiwa lupa (atau dibuat lupa?) pada semua penjelmaan sebelumnya

Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavadgita, II.17-25 bahwa Jiva dan Tuhan bersifat tidak termusnahkan (avinasi), abadi (avyayam) dan juga kekal (nityam). Jadi antara Tuhan dan Jiva tidak pernah tidak ada dan tidak pernah juga dimulai baik secara bersamaan ataupun tidak bersamaan.

Menurut filsafat Achintya Bhedaabheda tattva disebutkan bahwa Tuhan dan Mahluk hidup memiliki sifat dan karakter (kualitas) yang sama. Yang membedakan hanyalah masalah kuantitas.

Mengenai kenapa mahluk hidup harus turun ke dunia material, bukan karena hukuman, ataupun Tuhan yang memaksa kita jatuh dan menderita di dunia ini, tetapi karena kebebasannyalah dalam memilih karena kebebasan kita yang disebut icca (Bhagavadgita, VII.27). Bahkan pada dasarnya dunia material ini diciptakan karena kasih sayang Tuhan kepada kita yang ingin menikmati kehidupan terpisah dari diri-Nya. Namun tentunya karena Tuhan memperingati berkali-kali lewat diwahyukannya kitab suci, Avatara dan orang-orang suci yang mengajarkan bahwa dengan kehidupan terpisah ini sang jiva tidak akan pernah merasakan kenikmatan sejati, tetapi mereka akan dibelenggu oleh kenikmatan semu. Jiva yang jatuh ke dunia materialpun diberikan kebebasan untuk memilih badan yang dia sukai.

Dalam hal ini jangan menjadikan mindset kita sebagai manusia sebagai patokan. Mungkin kita bisa mengatakan babi dan anjing itu menjijikkan dan kotor, tapi mungkin dalam otak si babi dan anjing mengatakan bahwa sesungguhnya manusialah yang bodoh dan terlalu susah dalam usahanya menikmati hidup.

Kenapa manusia pada umumnya harus lupa jika dia menggantikan badan? Mungkin aja dengan mengatakan bahwa jika kita ingat kehidupan masa lalu kita bisa sadar akan Tuhan… tetapi belum tentu. Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavadgita, XV.15: bahwa ‘ingatan’ dan ‘pelupaan’ adalah karunia dari Tuhan dan kedua unsur itu perlu dan tidak bisa dipisahkan. Bayangkan jika seseorang mengalami masa kelam dan dia tidak bisa melupakan kejadian itu, apa yang akan terjadi secara psikologi dengan orang tersebut? Dengan adanya proses pelupaan itu tidak serta merta akan merugikan mahluk hidup dalam usahanya mencapai Tuhan. Dikatakan ‘Antah pravistah sasta jananam’, pada saat mahluk hidup meninggalkan badan yang dimilikinya sekarang, dia lupa akan segala sesuatu; tetapi mahluk hidup memulai pekerjaannya lagi, karena ia digerakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun ia lupa, Tuhan memberikan kecerdasan untuk memulai pekerjaannya dari tingkat yang telah dicapainya pada saat ia berhenti dalam penjelmaannya yang lalu.

Bagaikan api yang memiliki sifat panas dan membakar, demikian juga Jiva yang memiliki sifat dasar (dharma) sebagai pelayan Tuhan. Api akan puas dengan mengikuti sifatnya yang bisa memanaskan dan membakar segala sesuatu dan Atman/jiva akan puas dan mencapai kebahagiaan jika melakukan kewajibannya melayani Tuhan. Pelayanan itu hanya bisa dicapai secara sempurna jika dia kembali kepada kedudukan asalnya di dunia rohani.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: IW. Sudarma
Bali-01/07/2002

Oleh: Sudarma

Om Swastyastu
Upacara Ngelungah adalah upacara atiwa – tiwa bagi anak-anak yang berumur di atas tiga bulan dan belum tanggal giginya. Bila meninggal dunia maka diselesaikan dengan upacara yang dinamakan upacara Ngelungah ini. Kalau bagi anak yang belum berumur tiga bulan, bila meninggal maka jenazahnya dikubur saja dan selanjutnya dibuatkan upacara pengrapuh. Namun, anak yang berumur di atas tiga bulan dan sudah tanggal giginya diupacarakan dengan diaben seperti orang dewasa.

Demikian disebutkan Upacara Ngelungah ini dalam sumber kutipan  Lontar Yama Purana Tattwa sebagai berikut :Mempermaklumkan ke Pura Dalem dengan upakara: canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telor bukasem dan segehan putih kuning. Memaklumkan ke pura  Prajapati dengan upakara: canang, ketupat, daksina dan peras.Mempermaklumkan pada Sedahan Setra, dengan upakara: canang meraka dan ketipat kelanan. Permaklumkan pada bangbang rare, dengan upakara: sorohan, pengambian, pengulapan,peras daksina, klungah nyuh gading yang disurat Omkara. Banten pada atman bayi, seperti: bunga pudak, bangsah pinang, kereb sari, panjang dan banten bajang.Tirta Ngelungah dan atau Tirta Pengrapuh dapat dimohon melalui Pandita atau dapat memohon di Pura Dalem dan Prajapati. Semua tetandingan banten itu tempatkan di gegumuk bangbang. Pemimpin upacara yaitu: Pandita, atau  Pinandita memohon pada bhatara/bhatari agar roh bayi cepat kembali menjadi suci. Bila selesai memercikkan tirta, banten ditimbun dan bangbang diratakan kembali.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Sudarma

I. KODIFIKASI VEDA SRUTI

Pada mulanya para maharsi menerima wahyu itu lama kemudian ketika tulisan ditemukan, barulah dituliskan kembali mantram-mantram Veda itu. Tradisi pembelajaran Veda pada jaman dulu disebut sakha yang kemudian berkembang menjadi sampradaya atau asrama, yakni pusat pembelajaran Veda yang dipimpin oleh seorang maharsi atau lebih. Di dalam asrama itu wahyu Tuhan didiskusikan dan diteruskan secara lisan melalui sistem parampara dalam tradisi Hindu. Dan diyakini yang menghimpun atau mengkompilasi mantram-mantram Veda (Sruti) yang sebelumnya tersebar dalam berbagai sakha adalah Maharsi Vyasa. Veda disusun dan dituliskan kembali oleh Maharsi Vyasa dalam 4 himpunan dibantu 4 orang siswanya yaitu :

  1. Pulaha, yang menyusun Rgveda yang merupakan himpunan pengetahuan suci yang berhubungan dengan pemujaan.
  2. Vaisampayana, yang menyusun Yajurveda yang isinya pengetahuan suci tentang upacara korban.
  3. Jaimini, yang menyusun Samaveda yang berisi himpunan pengetahuan suci tentang irama (melodi).
  4. Sumantu, yang menyusun Atharvaveda yang berisi nyanyian-nyanyian yang bersifat magis.

Pengelompokkan dari keempat kitab Veda (Sruti) itu terdiri dari :

  1. Samhita yakni himpunan mantra-mantra Veda yang mengandung mantra upasana (doa kebaktian, pemujaan, ucapan syukur, mantra-mantra upacara korban), ajaran filsafat dan tata susila, pendidikan, dan lain-lain.
  2. Brahmana yakni uraian tentang ketuhanan/teologi teristimewa observasi tentang jalannya upacara korban atau mistis dari upacara korban yang dilakukan oleh individu atau kelompok.
  3. Aranyaka dan Upanisad. Aranyaka berarti buku hutan dan Upanisad berarti ajaran yang bersifat rahasia (rahasyam). Di dalam kitab-kitab tersebut terkandung ajaran tentang teologi, ajaran filsafat Hindu yang sangat mendalam dan medias atau kehidupan menjadi pertapa di hutan, juga ajaran Yoga untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.

I.A. Rgveda

Rgveda terdiri dari 1028 sukta (himne), 10.552 mantra. Terbagi atas 10 mandala dan masing-masing mandala terdiri dari beberapa sukta atau varga (himne) dan masing-masing sukta terdiri dari beberapa mantra. Rgveda memiliki beberapa resensi yaitu resensi Sakala, Baskala, Aswalayana, Samkhyayana dan Mandukaya. Resensi Sakala adalah resensi yang paling lengkap.

Kitab Aitareya (40 adhyaya) dan Kausitaki (Samkhyayana) (30) merupakan kitab Brahmana dari Rgveda. Aitareya umurnya lebih tua dan isinya lebih tebal, tetapi Kausitaki lebih kaya dan isinya lebih bervariasi. Aitareya ditulis oleh Mahidasa Aitareya; isinya ialah persembahan Soma, Agnihotra (persembahan api) dan Rajasuya (upacara penobatan raja). Kausitaki memuat 30 adhyaya; adhyaya 1 sampai 6 berisi tentang persembahan makanan, sedangkan adhyaya 7 sampai 30 tentang upacara persembahan Soma.

Aitareya Brahmana memuat Aitareya Aranyaka dan Kausitaki Brahmana memuat Kausitaki Aranyaka. Upanisad yang tergolong dalam Rgveda ada 10 buah yaitu : Aitareya, Kausitaki, Nadabindu, Atmaprabodha, Nirvana, Mudgala, Aksamalika, Tripura, Sambhagya dan Bahvrca.

I.B. Samaveda

Samaveda terdiri dari 1875 mantra yang sebagian besar diambil dari mantra-mantra Rgveda (1800 mantra merupakan pengulangan dari mantra-mantra Rgveda, 2 mantra berasal dari Yajurveda). Terdapat 3 resensi Samaveda yaitu Kauthuma, Ranayaniya dan Jaiminiya (Jaiminiya merupakan yang terpenting). Kauthuma terdiri dari 2 bagian yaitu Mantra dan Brahmana. Kitab Mantra terdiri dari 2 sub bagian yaitu Purvarcika (dari Rgveda) dan Uttararcika (mantra tambahan)

Kitab Brahmana dalam Samaveda adalah Tandyamaha Brahmana (Pancavimsa Brahmana), Jaiminiya Brahmana, Talavakara dan Kautama. Tandyamaha Brahmana terdiri dari 25 bab, 2 bab merupakan sisipan yang dianggap bagian yang berdiri sendiri dengan satu tambahan yang disebut Sadvimsa Brahmana.

Pada bagian awal dari Chandogya Upanisad merupakan kitab Aranyaka dari kitab Brahmana kitab Samaveda. Upanisad yang tergolong dalam Samaveda adalah Kena, Chandogya, Aruni, Maitrayani, Vajrasucika, Yogacundamani, Vasudeva, Mahat, Sanyasa, Avyakta, Kundika, Savitri, Rudraksa Jabala, Darsana, Jabali dan Maitreyi.

I.C. Yajurveda

Yajurveda terdiri dari 1975 mantra yang tersebar kedalam 40 adhyaya. Adhyaya yang terbesar adalah adhyaya 12 yang terdiri dari 117 mantra, diikuti oleh adhyaya 17 (99 mantra), adhyaya 24 ( 98 mantra), adhyaya 33 (97 mantra), adhyaya 19 (95 mantra), adhyaya 20 (90 mantra), adhyaya 11 (83 mantra); yang terpendek adalah adhyaya 39 (13 mantra). Ada 2 bagian kitab Yajurveda yaitu:

  1. 1. Sukla Yajurveda; terdiri dari 2 resensi yaitu Kanva dan Madhyandina ( Vajasaneyi). Kitab Brahmana dari Yajurveda adalah Satapatha Brahmana ( mengatur tentang upacara ) yang terbagi atas 100 adhyaya yang disusun oleh Yajnavalkya Vajasaneya. Upanisad yang tergolong dalam kelompok Sukla Yajurveda adalah Isavasya, Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Paramahamsa, Subala, Mantrika, Nirambha, Trisikhi, Brahmana, Turiyatita, Advayataraka, Paingala, Biksu, Adhyatma, Tarasara, Yajnavalkya, Satyayani, Muktika, Mandala Brahmana.
  2. 2. Krsna Yajurveda; memiliki 4 resensi yaitu Kathaka, Kapisthala Katha, Maitrayani dan Taittiriya. Taittiriya terbagi atas 2 bagian yaitu Apastaba dan Hiranyakesin. Taittiriya Brahmana merupakan kitab Brahmana dari Krsna Yajurveda. Upanisad yang termasuk dalam kelompok Krsna Yajurveda antara lain: Kathavali, Taittiriya, Brahma, Kaivalya, Svetasvatara, Garbha, Narayana, Amrtabindu, Amrta-nada, Kalagnirudra, Sarvasara, Sukharahasya, Tejobindu, Dhyanabindu, Yogatattva, Daksinamurti, Skanda, Sariraka, Yogasikha, Ekaksara, Aksi, Avaduta, Katha, Rudrahrdya, Yoga kundalini, Pancabrahma, Pranagnihotra, Varaha, Kalisamtarana, Sarasvatirahasya, Ksurika.

I.D Atharvaveda

Atharvaveda ditulis oleh Maharsi Atharvan, terdiri dari 5987 mantra, 20 kanda dimana tiap-tiap kanda terbagi atas himne dan tiap-tiap himne terdapat beberapa mantra. Kanda 1 sampai 7 mengandung nyanyian-nyanyian pendek, kanda 8 sampai 12 mengandung nyanyian yang lebih panjang, kanda 13 berisi nyanyian-nyanyian yang ditujukan kepada matahari (Rohita), kanda 14 berisi nyanyian-nyanyian perkawinan, kanda 15 tentang Vratya, kanda 18 tentang nyanyian untuk orang mati.

Aslinya terdapat 9 resensi tentang Atharvaveda dan kini yang masih tersisa hanyalah resensi dari Sakha Paippalada dan Saunaka. Sembilan resensi itu adalah Paippalada, Danta, Pradanta, Snata, Snauta, Brahmadavala, Saunaka, Devadarsani dan Caranavidya.

Gopatha Brahmana adalah kitab Brahmana dari Atharvaveda. Upanisad yang masuk dalam kelompok Atharvaveda antara lain: Prasna, Mundaka, Mandukya, Atharvasira, Atharvasikha, Brhajabala, Nrsimhatapani, Naradaparivrajaka, Sita, Sarabha, Mahanarayana, Ramarahasya, Ramatapani, Sandilya, Annapurna, Surya, Atma, Pasupata, Parabrahma, Tripuratapani, Dewi, Paramahamsa, Parivrajaka, Bhawana, Ganapati, Mahavakya, Gopalatapani, Krsna, Brahmajabala, Hayagriva, Dattareya, Garuda.

II. KLASIFIKASI VEDA

Pada dasarnya Veda diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : Sruti, Smrti dan Nibanda (kitab agama). Mengenai Sruti sudah dijelaskan di atas. Smrti merupakan kelompok kitab ke-dua sesudah Sruti (kitab wahyu) dan dianggap sebagai kitab hukum Hindu. Kitab Smrti dinyatakan dalam beberapa kitab sebagai kitab Dharmasastra. Smrti bersifat suplement atau pelengkap dalam melengkapi keterangan yang terdapat di dalam kitab Sruti, merumuskan dengan cara mudah dan lebih sistematis kembali apa yang telah diutarakan di dalam kitab Sruti. Jadi Smrti semacam kitab ulang dalam versi yang berbeda. Smrti terdiri dari 3 kelompok yaitu : Vedangga, Upaveda dan Nibanda (kitab Agama).

II.A. Vedangga

Vedangga adalah kitab yang berisi petunjuk-petunjuk tertentu untuk mendalami Veda. Kata Vedangga berarti “bagian-bagian” yakni alat bantu untuk mempelajari Veda. Vedangga adalah buku-buku sumber, dengan bantuan buku tersebut seseorang akan dapat mengerti arti nyata dari mantra-mantra Veda. Vedangga terdiri atas 6 bagian, yaitu:

1. Siksa

Yaitu ilmu pnonetika (bunyi) Veda. Kitab-kitab yang termasuk dalam kelompok ini adalah Paniniya Siksa ( Maharsi Panini ), Yajnavalkyasiksa ( Maharsi Yajnavalkya ), Naradasiksa ( Maharsi Narada ).

  1. 2. Vyakarana

Yakni ilmu tata bahasa. Panini adalah penyusun tata bahasa Sanskerta yang sangat terkenal. Kitabnya bernama Paniniyavyakarana Sutra, yang terdiri dari 8 bab ( Astadhyayi ) dengan 3996 sutra. Kitab Vyakarana yang lain yaitu Paniniya Vartikasutra ( Maharsi Katyayana ), Mahabhasya ( Patanjali ), Mahavyakarana, Indra, Candra, Sakatayana, Sphotayana, Pauskara, Sarasvata, Kumara, dan lain-lain yang ditulis dalam bahasa Prakrti ( dialek Sanskerta )

  1. 3. Nirukta

Yakni ilmu yang menjelaskan tentang etimologi kata-kata yang terdapat di dalam kitab Veda. Kitab ini ditulis oleh Yaska. Nirukta terdiri atas beberapa bagian yaitu Naighantuka Kanda, Naigama Kanda dan Daiwata Kanda.

  1. 4. Chanda

Yakni ilmu tentang irama Veda ( Chandasastra ). Disebutkan Paingala sebagai penulis kitab Chandovichiti yang terdiri dari 8 bab, 3 bab pertama mengenai irama Veda sedang 5 bab lainnya adalah karya sekuler. Buku-buku chanda yang lain adalah Sarvanu Kramanika oleh Katyayana.

  1. 5. Jyotisa

Yakni ilmu astronomi dan astrologi. Jyotisa berperan sebagai pedoman mengenai hari yang tepat dalam melaksanakan upacara-upacara Veda (prakriya). Penyusun kitab Jyotisa yang terkenal adalah Maharsi Garga. Naskah-naskah kuno yang termasuk kitab Jyotisa antara lain : Suryasiddhanta ( Maharsi Garga ), Siddhantasiromani ( Bhaskaracarya ), Brhadsamhita dan Brhadjataka oleh Varamihora, Siddhanta Kaustubha ( Sundaresvarasrauti ), Aryabhata Siddhanta, Vasisto Siddhanta, Romaksa Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Paltamaha Siddhanta.

  1. 6. Kalpa

Yakni ilmu tentang upacara korban. Kitab-kitab Kalpasutra seperti Hotra Prayoga ditulis oleh Maharsi Asvalayana dan Maharsi Samkhayana; Udgatra Prayoga ditulis oleh Maharsi Baudhayana, Apastkami Adhvarya, Latyayana dan Vrihyayana.

Kalpasutra mencakup 4 bidang sebagai berikut :

  1. Sulva ( Sraddha Kalpa, Pitrimedha Sutra )
  2. b. Grhya
  3. Dharmasatra ( Yajnavalkya, Harita, Usana, Angira, Yama, Atri, Samvarta, Katyayana, Vrhaspati, Daksa, Satatapa, Likhita, Vyasa, Parasara, Sankha, Apastamba, Visnu, Manu, Gautama, Vasistha ).
  4. d. Srauta

II.B. Upaveda

1. Ayurveda

Ayurveda dikenal sebagai upaveda dari Rgveda. Pertama kali diajarkan Brahma kepada Prajapati, dari Prajapati kepada Asvini, dari Asvini kepada Indra, dari Indra kepada Dhanvantari, dari Dhanvanatari kepada Bharadvaja, dari Bharadvaja kepada Agnivesa, selanjutnya kepada Caraka dan seterusnya kepada Susruta dan lain-lain.

Kitab-kitab yang termasuk dalam Ayurveda adalah:

  1. Maiteriya Samhita ( Salya, Salakya, Kayacikitsa, Bhutavidya, Kaumarabrthya, Agadatantra, Rasayanatantra, Vajikaranatantra ).
  2. Caraka Samhita ( Sutrathana, Nidanasthana, Vrmanasthana, Sarithana ).
  3. c. Susruta Samhita
  4. d. Kasyapa Samhita
  5. e. Astanggahrdaya
  6. f. Yogasutra
  7. Kamasutra ( Rsi Vatsyayana )

2. Dhanurveda

Dhanurveda merupakan Upaveda yang diambil dari Yajurveda. Diyakini bahwa Visvamitra menyusun kitab Visvamitradhanurveda dalam 40 bab. Bab pertama tentang perpanahan, bab kedua tentang sejenis “peluru kendali”( astra sastra ), bab ketiga tentang penggunaan berbagai senjata, bab keempat tentang ilmu persenjataan dan penggunaannya di medan pertempuran. Dronacarya juga menyusun Dhanuspradipa yang terdiri 7000 sloka. Kitab lainnya yang termasuk Dhanurveda adalah Viracintanamidhanurveda.

  1. 3. Gandharvaveda

Gandharvaveda merupakan Upaveda dari kitab Samaveda. Isinya adalah pengetahuan Samagana ( pengetahuan untuk melagukan mantram Samaveda ) dan seni musik pada umumnya. Naskah-naskah yang termasuk dalam Gandharvaveda adalah Natyasastra ( Natyavedagama, Devadasahasri ), Rasamava, Rasaratnasamuccaya.

  1. 4. Arthaveda

Atharvaveda merupakan Upaveda dari Atharvaveda. Buku ini menjelaskan tentang ilmu pemerintahan, ekonomi, pertanian, ilmu sosial dan sebagainya. Terdiri dari 1.000.000 sloka. Buku-buku yang termasuk dalam Arthaveda antara lain : Usana, Nitisara, Sukraniti, Purvadigama, Agama, Purvagama, Devadigama, Nagarakramasasana, Batarasasana, Manavadharmasastra, Sarassamuccaya, Vrittisasana.

  1. 5. Purana

Purana isinya menceritakan deva-deva, raja-raja dan rsi-rsi kuno. Setiap purana intinya mengandung ajaran agama.

Purana terbagi menjadi 2 kelompok yaitu :

  1. a. Mahapurana ( oleh Maharsi Vyasa )

Mahapurana berjumlah 18 buah, antara lain : Visnu. Narada, Bhagavata, Garuda, Padma, Varaha, Brahmanda, Brahmavaivarta, Markandeya, Bhavisya, Varuna, Brahma, Matsya, Kurma, Lingga, Siva, Agni, Skanda.

  1. b. Upapurana

Upapurana juga berjumlah 18, antara lain : Sanatkumara, Narasimha, Brhannaradiya, Siva, Durvasa, Kapila, Manava, Varuna, Kalika, Mahesvara, Samba, Saura, Parasara, Devi Bhagavata, Aditya, Vasistha, Visnu Darmottara, Ausanasa.

  1. Itihasa ( cerita bersejarah )

Yang tergolong Itihasa antara lain :

a. Ramayana ( oleh Maharsi Valmiki )

Nama lain dari Ramayana adalah Caturvimsati-sahasri-samhita. Hal ini karena jumlah slokanya sebanyak lebih dari 23.000 buah. Terdiri dari 7 kanda, 659 sarga dan 23.864 sloka sebagai berikut :

  • Bala Kanda, 77 sarga, 2.266 sloka
  • Ayodhya Kanda, 119 sarga, 4.185 sloka
  • Aranyaka Kanda, 75 sarga, 2.441 sloka
  • Kiskindha Kanda, 67 sarga, 2.453 sloka
  • Sundara Kanda, 68 sarga, 2.807 sloka
  • Yuddha Kanda, 128 sarga, 5.675 sloka
  • Uttara Kanda, 111 sarga, 3.373 sloka
  1. b. Mahabharata ( oleh Maharsi Vyasa )

Mahabharata disebut juga Satasahasri Samhita ( yang mempunyai 100.000 sloka ). Terdiri atas 18 parva, sebagai berikut :

  • Adi Parva ( melukiskan kelahiran Kaurava dan Pandava )
  • Sabha Parva ( melukiskan pertemuan untuk divisi kerajaan )
  • Vana Parva ( melukiskan kekalahan Pandava dan pembuangannya ke hutan )
  • Virata Parva ( melukiskan pembuangan Pandava yang kedua )
  • Udyoga Parva ( melukiskan kompromi antara Kaurava dan Pandava )
  • Bhisma Parva ( melukiskan perang Bharata dan kejatuhan Bhisma )
  • Drona Parva ( melukiskan perang Bharata dan kematian Mahapatih Drona )
  • Karna Parva ( melukiskan kematian Mahapatih Karna )
  • Salya Parva ( melukiskan kematian Mahapatih Salya )
  • Sauptika Parva ( melukiskan perang malam oleh Asvatthama dan kematian anak-anak Devi Drupadi, melukiskan kematian Duryodhana )
  • Stri Parva ( melukiskan ratap tangis janda dan upacara

kematian )

  • Santi Parva ( melukiskan kematian Bhisma yang seorang kakek, sebelum beliau meninggal, beliau memberikan wejangan Dharma kepada Yudhistira )
  • Anusasana Parva ( melukiskan kerajaan Pandava )
  • Asvamedhika Parva ( melukiskan Yajna Asvamedha oleh Pandava )
  • Asramavasika Parva ( melukiskan Asramavasa Dhrtarastra dan lain-lain )
  • Mausala Parva ( melukiskan kehancuran keturunan Yadu di Dvaraka )
  • Mahaprasthanika Parva ( melukiskan kepergian Pandava ke Gunung Himavan )
  • Svargarohanika Parva ( melukiskan kematian Bhima, Arjuna dan lain-lain

II.C. Nibandha

Nibandha terdiri dari bermacam-macam Kitab Agama. Pada jaman Krtayuga, Veda sebagai kitab utama yang dijadikan pedoman dan pegangan. Pada jaman Tretayuga, Dharmasastra sebagai kitab utama. Pada jaman Dvaparayuga, purana sebagai kitab pegangan utama. Dan pada jaman Kaliyuga kitab-kitab Agama-lah kitab pegangan utama. Demikian diungkapkannya dalam kitab Mahanirvana Tantra.

Nibandha memuat banyak aturan yang mencakup sistem atau cara pemujaan terhadap Tuhan, tentang filsafat agama dan tuntunan tentang penggunaan mantra. Berbagai jenis naskah yang termasuk dalam kelompok Nibandha ( Kitab Agama ) antara lain :

  1. 1. Sarasammuccaya ( Rsi Vararuci )
  2. 2. Purva Mimamsa

Secara khusus Purva Mimamsa mengkaji bagian Veda yakni kitab-kitab Brahmana dan Kalpasutra. Purva Mimamsa sering disebut Karma Mimamsa. Pendiri ajaran ini adalah Maharsi Jaimini.

3. Bhasya

Berisi tentang komentar terhadap buku Yogasutra ( Patanjali ). Buku ini ditulis oleh Bhojaraja.

4. Brhastika

  1. 5. Agama / Tantra

Kitab-kitab Agama juga dikenal sebagai kitab-kitab Tantra

6. Vahya

  1. 7. Uttaramimamsa

Yang disebut juga Jnana Mimamsa. Kitab-kitab ini membahas Aranyaka dan Upanisad. Kitab ini dikenal dengan nama yang populer yaitu Vedanta. Kitab Vedanta ini dalam Bagavadgita disebut Brahmasutra.

  1. 8. Wangsa

Wangsa : Lontar-lontar Bhagavan Garga Catur Vara, Ekajala Reshi, Saptavara, Wirakusuma, Chandrabumi, Sewakatama, Siwatattva, Sivabudha, Sivarasi, Dharmawunala, Chandrapramana, dan lain-lain.

  1. 9. Puja Mantra

Antara lain : Wedaparikrama, Surya Sevana, Atma mantra, Jenyana Sidhakanda, Pujaweda Ksatriya, Sattwa Bhatara, Argha Adhyatmika, Pitara Puja, Kalepasan, Anusthana, Astra Mantra, Toya Mantra, Pamancanggah dan Pancawali ( kelompok Babat ), 9 buah Takep Lontar ( kelompok Tantra ).

Oleh: Sudarma

Pattram puspam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchata
tad aham bhakty upahrtam
Asnami praya tatmanah

(Siapa saja yang sujud kepada Aku dengan
persembahan sehelai daun, sekuntum bunga,
sebiji buah-buahan dan seteguk air,
Aku terima sebagai bhakti persembahan
dari orang yang berhati suci). Bhagawadgītā IX.26.

Ajaran agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Veda dimanapun sama, namun pelaksanaannya berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya lingkungan alam, sosial budaya dan lain sebagainya. Demikian pula hari-hari raya Hindu baik di India maupun di Indonesia, ada yang sama-sama dirayakan dan ada yang tidak. Persamaan dan perbedaan pelaksanaan kehidupan beragama ini merupakan ciri yang memberi kuasa dan mewarnai pelaksanaan agama Hindu.

Di India seperti halnya umat Hindu di Indonesia mengenal banyak hari-hari besar keagamaan atau hari raya yang seluruhnya dapat dibedakan enjadi tiga 3 kelompok , yaitu : Pertama, hari-hari pesta keagamaan (festivals) yang dilakukan dengan meriah, seperti Chitrra Purinima, Durgapuja atau Navaratri, Dipavali, Gayatri Japa, Guru Purnima. Holi , Makara Sankranti, Raksabandha, Vasanta Panchami dan lain-lain. Kedua, adalah hari peringatan kelahiran tokoh-tokoh suci yang disebut Jayanti atau Janmasthani seperti Ganesa Caturti, Gita Jayanti, Valmiki Jayanti, Hanuman Jayanti, Krisna Janmasthani, Sankara Jayanti, Ramanavami dan lain-lain dan ketiga adalah hari untuk melaksanakan Brata(Vrata) atau Upavasa(Puasa) misalnya Sivaratri, Satyanarayana Vrata, Vara Laksmi Vrata, Ekadasi dan lain-lain.

Citra Purnima jatuh pada hari purnama bulan Chaitra, yakni bulan pertama dari penanggalan Saka, pemujaan ditujukan kepada dewa Yama, dewa maut dengan mempersembahkan sesajen berupa nasi berisi bumbu (sejenis “bubur pitara” di Bali) yang kemudian setelah dipersembahkan makanan atau prasadam (di Bali disebut “lungsuran”) dibagikan kepada mereka yang mengikuti upacara.

Durgapuja atau Navaratri disebut juga Dussera atau Dasahara jatuh pada tanggal 1 sampai dengan 10 paro terang bulan Aswasuja atau Asuji (September-Oktober) untuk memperingati kemenangan Dharma terhadap Adharma, Upacara ini adalah untuk menghormati kemengangan Sri Rama melawan Rawana yang disebut juga Dasamukha (berkepala sepuluh). Konon Sri Rama berhasil jaya oleh karena anugerah Dewi Durga, karena itu sebagian umat Hindu memuja -Nya pada hari ini sebagai Durgapuja. Versi lain menyebnutkan sebagai kemenangan Sri Kresna melawan raksasa Narakasura, Upacara yang berlangsung 10 hari, sembilan hari pertama disebut Vijaya Dasani. Hari raya yang disebut juga Dussera ini mirip dengan Galungan dan Kuningan di Indonesia.

Dipavali, artinya persembahan lampu, disebut juga Divali, jatuh dua hari sebelum Tilem ( bulam mati) kartika ( Oktober-November), beliau disambut dengan penyalaan lampu-lampu, kembang api dan mercon semalam suntuk. Pagi hingga siang hari dilakukan persembahyangan keluarga di pura-pura terdekat di samping kunjungan keluarga, suasananya seperti Ngembak Agni di Bali.

Gayatri Japa, jatuh sehari setelah purnama Sravana (Kasa) bulan Juli atau agustus, sebagai peringatan turunya mantram Gayatri yang kini populer menjadi mantra Japa yang sangat penting dan sangat dikeramatkan oleh umat Hindu.

Guru Purnima jatuh pada hari purnama Asadha (bulan Juli-Agustus), hari ini disebut juga Vyasa Jayanti, hari lahirnya maharesi Vyasa. Makna hari raya ini mirip dengan Pagerwesi. Sejak purnama ini selama 4 bulan ( Caturmasa) para Sanyasin tidak lagi mengembara (karena musim hujan), mereka tinggal di asram-asram mendiskusikan Brahmasutra dan melakukan meditasi.

Holi, hari ini jatuh pada purnama Phalguna ( Kawulu), bulan Februari-Maret, dirayakan diseluruh India sangat meriah , maknanya untuk menyambut musim panas dikaitkan dengan raksasa perampuan bernama Holika yang akhirnya mati terbakar dikalahkan oleh kenbenaran yang dimanifestasikan oleh Prahlada. Upacaranya mirp dengan mecaru di perempatan-perempatan desa di Bali dan membuat api unggun yang dinyalakan pada saat menjelang malam.

Makara Sankranti jatuh pada pertengahan januari, pada saat itu matahari mulai bergerak ke arah utara Katulistiwa, sebagian besar umat Hindu menyucikan diri di sungai Gangga atau sungai sungai suci lainya di India, pemujaan ditujukan kepada dewa Surya.

Raksabandha jatuh pada hari purnama Sravana(Kasa), Juli- Agustus hari untuk menguatkan tali kasih sayang antara suami-istri, anak orang tua, kemenakan dengan paman/bibi, murid dengan guru dan sebaliknya, mengingatkan cintanya dewi Sachi kepada Indra. Pada hari ini pagi-pagi benar umat Hindu menyucikan diri ke sungai Gangga atau sungai-sungai suci lainya. Selesai sembahyang dilanjutkan dengan pengikatan benang pada pergelangan tangan masing-masing, tanda memperteguh ikatan kasih sayang.

Vasanta Panchami jatuh pada hari kelima paro terang ( Suklapaksa Magha masa), yakni bulan Januari-Februari dalam menyambut musim semi (Vasanta), seperti halnya hari-hari suci lainya, pada hari ini juga umat hindu mandi suci di sungai Gangga atau sungai-sungai suci lainya di India, disamping melakukan meditasi atau yoga Sadhana.

Hari-hari lainya yang berkaitan dengan peringatan kelahiran tokoh seperti Ganesa Caturti jatuh pada tanggal 4 paro terang Badrapada ( Agustus – september ) memperingati kelahiran Ganesa putra Siva. Para pemuja Ganesa melakukan japa, bermeditasi mengingat nama-Nya.

Gita Jayatri adalah memperingati turunya sabda suci Bhagawandgita, jatuh pada Ekadasi Suklapaksa Màrgasirsa yakni hari ke sebelas paro terang bulan Màrgasirsa (Desember-Januari), seperti dimaklumi Bhagawadgita disampaikan oleh Sri Kresna kepada Arjuna di padang Kurusetra, tepat terjadinya peristiwa rohani ini kini disebut Jyotisara, sekitar 3 kilometer dari tempatnya Rsi Bhisma terbaring menunggu matahari bergerak ke Utara.

Valmiki Jayanti jatuh beberapa hari menjelang Dipavali adalah untuk memperingati tokoh hindu, penyusun Ramayana sedang Hanuman Jayanti jatuh pada purnama Chaitra ( Bulan Maret-April) bersamaan dengan hari Chaitra Purnama, untuk memuja Yama, Kresna Janasthami jatuh pada hari ke 8 paro petang bulan Bhadrapada ( Agustus-September) untuk memperingati kelahiran Sri Kresna di kota Mathura, sebuah kota suci ditepi sungai Yamuna.

Sankara Jayanti jatuh pada tanggal 5 paro terang bulan Vaisaka ( Mei-Juni) untuk menghormati tokoh spiritual India peletak dasar ajaran Advaita Vedanta. Sri Sankara dikenal sebagai gurudeva dari para Sanyasin di seluruh India.

Ramanavani Jayanti adalah peringatan hari kelaiharan Sri Rama yang jatuh pada tanggal 9 paro terang bulan Chaitra ( Maret-April) . Sri Rama lahir di kota suci Ayodya, di Uttar Pradesh, India Utara.

Hari yang berkaitan dengan Brata atau Upavasa adalah Sivaratri hari ini jatuh pada tanggal 14 paro gelap bulan Maghadan Phalguna ( yakni bulan januari dan Februari ). Umat Hindu di Indonesia melaksanakannya pada bulan Magha ( sasih Kapitu), sedang umat Hindu di India melakukan pada bulan Phalguna ( Kawulu). Hal ini mungkin disebabkan saat itu merupakan bulan mati paling gelap di India.

Satya Narayana Vrata umunya dilakukan pada hari-hari purnama seperti Kartika ( Kapat), Vaisaka ( Kadasa), Sravana(Kasa), dan Chaitra ( Kasanga) dapat juga dilakukan pada saat bulan terbit ( tanggal 1 paro terang/penanggal). Bentuknya sangat sederhana yakni berupa persembahan dana punia kepada para pandita dan pemberian / pembagian makanan kepada orang-orang miskin.

Ekadasi atau Vaikunta Ekadasi Vrata jatuh pada tanggal dab panglong dan penanggal 11 bulan Màrgasisra ( Desember-Januari), 2 kali sebulan berupa puasa tidak makan nasi pada hari itu. meraka yang melakukan Ekadasi Vrata terbebas dari segala dosa.

Vara Laksmi Vrata , dilakukan pada hari Jumat bulan Sravana ( kasa) bulan Juli – Agustus untuk memohon kesejahteraan lahir dan bathin. Masih banyak kita jumpai informasi tentang Brata atau Upavasa di dalam kitab-kitab Ithiasa dan Puranba yang rupanya beberapa diantaranya dipetik dan diabadikan dalam lontar lontar tentang Bratha di Bali.

Telah dijelaskan di depan bahwa hari raya keagamaan yang mirip dengan galuingan dan kuningan adalah hari Durgapuja atau Navaratri yang diakhiri dengan Vijaya Dasani dirayakan hampir diseluruh India. menurut Svami Sivananda dalam bukunya Fasts & Festivals of India (1991) India bahwa permulaan musim panas dan permulaan musim dingin, dua hal yang sangat penting adalah pengaruh matahari dan Iklim. Pda kedua perioda ini adalah kesempatan yang baik memuja iklim. Durga ( manifestasi Tuhan Yang Maha Esa segabai seorang Ibu) yakni dilakukan bertepatan dengan Ramanavani pada bulan Chaitra ( April-Mei) dan pada Durga Navarartri atau VijayaDasami pada bulan Asuji (September – Oktober) . Sri Rama dipuja pada saat Ramanavami sedang dewi dewi Durga di puja pada Navaratri. Durgapuja ini dirayakan secara besar-besaran dengan menghias altar ( tempat pemujaan keluarga, biasanya dalam kamar suci, tidak mempunyai pemerajan seperti kita di Indonesia). Tiga hari pertama pemujaan ditujukan kepada dewi Durga, tiga hari selanjutnya kepada dewi Laksmi dan tiga hari berikutnya kepada dewi Sarasvati.

Pada Pucak perayaan, hari ke sepuluh ( Vijaya Dasami) sejak pagi hari umat telah melakukan sembahyang dirumah ditujukan kepada ketiga dewi tadi, didahului dengan pemnujaan kepada Ganesa dan diakhiri denan pemujaan kepada dewa Siva atau Istadevata lainya. Selesai pemujaan dilanjutkan denan Dhyana atai meditasi dan pembacaan kitab-kitab suci khusunnya Dewi Sukta dari Rgveda, Dewi Mahatya, Bhagavadgita, Upanisad, Brahmasutra atau kitab Ramayana. Umat pada umumnya sejak pagi sudah mengucapkan Bhajan atau kidung-kidung memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa . Berbagai jenus makanan dipersembahkan dan akhir dari persembahyangan bersama dalam keluarga atau di pura ( Mandir ) selalu dibagikan Pradasam atau lungsuran untuk dinikmati bersama. Dewasa ini resepsi perayaan Durgapuja atau Wijaya Dasami dilakukan puladi kantor-kantor pemerintah dan swasta, juga disekolah-sekolah , selesai persembahyangan pada umumnya umat melakukan Dharmasanti, yakni kunjungan kepada keluarga terdekat, para guru pandita maupun sahabat atau tetangga. Saat ini semua keluarga berkumpul, karena itu beberapa hari kota-kota besar seperti mati, karena suasananya sepi, Ketika malam tiba, mulailah dilaksanakan pembakaran patung patung rawana yang digambarkan berkepala sepuluh, juga adiknya kumbakarna dan putranya meghananda, di India Timur dan selatan dilanjutkan dengan mengarak arca atau patung Durga, seorang dewi yang amat cantik bertangan sepuluh. Pembakaran atau terbunuhnya Rawana dan pengikutnya selalu dudahului dengan drama tari Ramayana dan keesokan harinya umat datang ke sungai-sungai suci untuk mandi menyucikan diri. Demikianlah pelaksanaan Vijaya Dasami, sedang peringatan tahun Baru Saka yang kita kenal dengan hari raya Nyepi tidak dikenal/dirayakan oagi di India, walaupun pada jaman dahulu hampir seluruh India mengenal dan menggunakan tahun Saka. Kini di India hanya pemerintah yang menetapkan tahun baru Saka setiap tanggal 22 Maret bila tahun biasa dan 21 maret bila Tahun Kabisat dan masyarakat umum kurang memperhatikan hal itu. Di India selain tahun Saka, dikenal juga tahun Harsa ( Harsa Sampat), tahun Vikrama ( Vikrama Sampat) dan lain-lain. Informasi yang saya terima tahun yang lalau di Nepal umat Hindu juga merayakan tahun baru Saka bersamaan denan hari raya Nyepi kita di Indonesia. Untuk dimaklumi Nepal adalah satu-satunya kerajaan hindu di dunia yang tempatnya di pegunungan Himalaya. Arsitektur pura di Neval bentukya sama denan Meru di Bali ( Indonesia), manunjukkan hubungan yang erat pengaruh Hindu ( India) terhadap Indonesia. Rupanya karena perbedaan musim dan tidak ada raja yang menjadikan Sri Rama sebagai Istadevata maupun karena sistem kalender yang digunakan di Indonesia, kita hanya mengenal Galungan dua kali dalam setahun, seperti halnya juga Sarasvati puja.

Selanjutnya bila kita memperhatikan persembahyangan yang dilakukan sehari menjelang hari raya Holi, yakni berupa persembahan biji bijian dan bunga serta pada air pada perempatan-perampatan desa yang telah menyiapkan kayu api untuik apiu unggun mengingat kita pada upacara Catur Tawur Kasanga, sehari menjelang Nyepi, sedang pelaksanaan Sivaratri hampir sama dengan di Indonesia.

Permulaan Perayaan Galungan di Bali (Indonesia)

Sungguh amat sulit memastikan hal ini, bila kita menegok kembali pada sumber tradisi di Bali di antaranya kitab Usana bali dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh bapak K.Ginarsa terhadap prasasti-prasasti jaman bali Kuna maka dapat disimpulkan baha Galungan telah dirayakan pada jaman Valajaya atau Tarunajaya yang didalam lontar Usana Bali disebut Jayakusuma putra dari raja Bhatara Guru yang memerintah pada tahun saka 1246 -1250 . Didalam lontar Usana Bali dinyatakan bahwa para raja pendek usianya disebabkan melupakan tradisi untuk merayakan Galungan ( yakni upacara pabhyakalan pada Kala Tiga ning Dungulan)

Bila kita melihat upacara Sradha, yakni upacara penyucian roh sang raja Gunapriya Dharmapathi, permaisuri raja Dharma udayana Varmadewa yang memerintah Saka 911-929 dan ketika mangkat rohnya disatukan dengan Istadevata-Nya sebagai Durgamahisa sura mardini, yaitu Dewi Durga sedang membunuh raksasa dalam wujudnya seekor kerbau ( kini arcanya tersimpan di pura kedarman burwan kutri, Gianyar), maka upacara Durgapuja telah dilaksanakan pada waktu itu. Upacara penyatuan roh yang telah disucikan dengan dewata pujaan (Istadevata) disebut mencapai tingkatan Atmasiddhadevata dan hal ini dapat kita lihat dari Informasi penyucian roh leluhur raja Hayam Wuruk, yakni Ratu gayatri di Pura penataran yang dalam kitab Nagarakrtagama, Pura ini disebut Hyang I Palah.

Upacara Durgapuja pada waktu itu belum disebut galungan, melainkan disebut ” atawuri umah anucyaken pitara” yang artinya upacara selamatan rumah dan penyucian roh ( leluhur), sebagaimana bunyi prasasti Suradhipa tahun Saka 1037.

Istilah Galungan rupanya pertama kali disebut dalam prasasti yang di keluarkan oleh raja Jaya Sakti tahun Saka 1055, disamping juga sesajen yang bernama Tahapan-stri, persembahan yang ditujukan kepada dewi Durga Sakti Siva, karena dewi Durga- lah yang dapat membasmi berbagai bentuk kejahatan dalam wujud raksasa.. Ciri khas persembahan kepada dewi Durga adalah berupa daging babi yang sampai kini masih tersisa di Bengala dan Nepal dan rupanya penggunaan daging babi ( yang juga warisi di Bali) adalah tradisi dari upacara Durgapuja itu.

Selanjnya bila kita melihat penaggalan bali, dalam hitungan hari yang disebut Astawara, maka sejak Radite sampai dengan Anggara Wage Dungulan, hari-hari itu bertepatan dengan Kala, karenanya disebut Sang Kala Tiga, sedang pada hari galungan ( Buda Kliwon Dungulan) adalah Uma, nama lain dari Durga dalam aspek Santa ( damai) pada saat ini umat memohon anugerahnya. Hari Galungan di samping memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspek beliau sebagai Uma, Durga atau Siva Mahdeva, bagi umat Hindu di Bali adalah juga merupakan hari pemujaan kepada leluhur. Hal ini dapat kita lihat dari rangkaian dari dan upacara Galungan, sejak Sugihan Jawa, Bali sampai dengan Sabtu Umanis Wuku Kuningan , akhir dari rangkaian perayaan Galungan.

Berdasarkan penjelasan tadi, Galungan telah dimulai sejak jaman Bali Kuna dan hingga kini tetap dirayakan. Jelaslah bagi kita upacara Galungan memiliki kesamaan makna dengan upacara Durgapuja atau Sradha Vijaya Dasani di India. Tentang filsafat Galungan ini kiranya dapat dilihat dari keputusan Seminar Kesatuan Tafsir kiranya dapat aspek-aspek agama hindu I di Amlapura, 1975 yang telah pula ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia, sebagai hari kemenangan Dharma melawan a Dharma, kebenaran melawan kejahatan.

Hal yang tergantung adalah adanya transformasi diri bahwa dengan persembahyangan yang mantap pada hari-hari besar keagamaan diharapkan kita lebbih maju dalam bidang spiritual. Transformasi yang dimaksud adalah perubahan diri dari tadinya yang masih dibelenggu oleh sifat loba atau tamak, angkuh, suka menipu orang dan perbuatan sejenisnya berubah menjadi dermawan, suka menolong hidup lainyua. Transformasi diri akan terjadi dengan sendirinya bila mampu mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Apakah artinya berbagai bentuk perayaan dan persembahyangan yang kita lakukan bila tidak terjadi perubahan diri, sipat-sifat Adharma senantiasa menguasai kita. Tentunya hal itu akan sia-sia.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari raya keagamaan ini dan sesuai pula dengan pengertian agama yakni mewujudkan “kerahayuan jagat”, disamping kegiatan ritual, kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan kemanusiaan sangat mutlak dilakukan. Disinilah pentingnya aktualisasi dan reaktualisasi agama dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Panitia-panitia perayaan yang ada pada lingkungan desa atau kantor instansi pemerintah atau swasta dapat melakukan berbagai kegitan, misalnya dengan donor darah, mengunjungi panti asuhan dan rumah jompo, memberikan pelayanan kesehatan, penghijaun dan lain-lain. Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat melalui Pesamuhan Agung 1989 yang lalu menetapkan 6 meteda pembinaan umat, yakni: Dharma Vacana (yakni kotbah/ceramah agama), Dharma Tula (diskusi/sarasehan agama), Dharma Gita (menyayikan lagu-lagukeagamaan), Dharma Santi (Silaturahmi/resepsi ), Dharma Sadhana (merealisasikan ajaran agama melalui yogasamadi ) dan Dharma atau Tirthayatra mengunjungi tempat-tempat suci untuk mendapatkan kesucian diri ). Bila 6 kegiatan ini dapat dilakukan maka transformasi diri denngan sendirinya terjadi. Semogalah.

Om Dirghayur astu tat astu svaha

Om Santih Santih Santih

Oleh:Pndt. Shri Danu Dharma P.

Om Swastyastu
Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma. Mahaṛṣi Cānakya dalam kitabnya Nītisāstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian. Untuk mewujudkan kemakmuran bersama, pemerintah menurut ajaran Hindu hendaknya dapat mengatur perekonomian rakyat dengan baik. Perekonomian disebut dengan istilah Vārttā, yang menurut Kautilya dalam bukunya Arthasāstra (I.7) meliputi pengelolaan kekayaan negara. Perekonomian hendaknya pula didukung oleh keberhasilan pengembangan : Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Danîanīti (Hukum), sedang lingkup Vārttā meliputi 4 bidang (Vārttā Caturvidhā), yaitu : pertanian, peternakan, perdagangan dan membungakan uang seperti disebutkan dalam Bhāgavata Purāṇa X.24.21 (krsi-vānijya-goraksā kusīdam tūrīyamucyate, vārttācaturvidhā tattra vayam govṛttayo’nisam).

Berbicara keterkaitan antara Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Dandanīti (Hukum), kiranya tidak jauh berbeda dengan teori sistem ekonomi modern, seperti diungkapkan oleh Dr. Winardi, S.E. dalam bukunya Kapitalisme Versus Sosialisme, Suatu Analisis Ekonomi Teoritis seperti dikutip oleh I Gede Sudibya dalam bukunya Hindu Menjawab Dinamika Zaman (1994), antara lain: “Every economic system is part of constellation of economic and political institutions and ideas and can be understood only as a part of this whole”, demikian pula pernyataan lainnya: “Economic systems comprise the ways and means by which economic welfare can be secured within the framework of social relations”. Dewasa ini kita diingatkan oleh sistem ekonomi kita yang mengalami krisis yang mulai dari krisis moneter, yang berpengaruh pada bidang-bidang yang lain seperti politik, stabilitas nasional, dan kepercayaan yang tentunya bila tidak tertangani dengan baik, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbicara tentang sistem ekonomi Hindu, ada baiknya dikutipkan secara lengkap pendapat yang dikemukakan oleh cendekiawan Hindu terkemuka dan presiden pertama India, S. RadhaKrishnan, sebagai berikut: “The Hindu view of the individual and his relation to society can be best brought out by a reference to the synthesis and gradation of: The fourfold object of life (Purūṣārtha: desire and enjoyment (Kāma), interest (Artha), ethical living (Dharma), and spiritual freedom (Moksa),
The fourfold order of society (Varṇa), the man of learning (Brahmin), of power (Kśatriya), of skilled productivity (Vaisya), and of service Sudra, and The fourfold succession of the stage of life (Aśrama), student (Brahmacari), householder (Gṛhastha), forest recluse (Vanaprastha, and the free supersocial man (Sanyasin). By means of this threefold discipline the Hindu strives to reach his destiny, which is to change body into soul, to discover the world’s potentiality for virtue and derive happiness from it”.

Jadi menurut S. Radha Krishnan, melalui ralisasi nilai-nilai Catur Purusārtha, Catur Varṇa dan Catur Aśrama, umat Hindu akan mecapai tujuannya, yakni penemuan manusia terhadap jiwanya, yang mengantarkannya ke jalan Tuhan Yang Maha Esa, untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati.

Lebih jauh tentang pengelolaan penghasilan untuk mendukung hidup dan kehidupan, mahaṛṣi (Bhagavān) Vararuci yang disebut juga dengan nama Katyāyana, dalam Sarasamuccaya (261-276) secara panjang lebar menjelaskan cara-cara memperoleh harta benda yang tidak boleh bertentangan dengan Dharma (kebenaran dan kebajikan). Harta benda atau penghasilan yang diperoleh melalui kerja atas dasar Dharma, hendaknya dibagi tiga, yakni masing-masing sepertiga, digunakan untuk: Dharma, mengembangkan harta dan untuk dinikmati. Untuk jelasnya kami kutipkan śloka Sarasamuccaya, sebagai berikut:
“ekanāmcena dharmāthaḥ kartavyo bhūtimicchatta, ekanāmcena kāmtha ekamamcam vivirddhayet”.
“Nihan kramaning pinatêlu, ikang sabhāga, sādhana rikasiddhaning. dharma, ikang kapingrwaning bhāga sādhana ri kasiddhaning Kāma ika, ikang kaping tiga, sādhana ri kasiddhaning artha ika, wṛddhyakêna muwah, mangkana kramanyan pinatiga,denika sang mahyun manggiha kênang hayu”. Sarsamuccaya 262
Yang artinya: Demikian hendaknya dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian, digunakan sebagai biaya mewujudkan Dharma, bagian yang kedua digunakan sebagai biaya untuk memenuhi Kāma (untuk kenikmatan hidup) dan bagian yang ketiga digunakan untuk mengembangkan hartamelalui berbagai usaha,kegiatan ekonomi, agar berkembang lagi. Demikianlah hendaknya harta penghasilan itu dibagi tiga, oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan.

Demikianlah sepintas tentang tujuan hidup manusia, masalah perekonomian dan pengelolaan penghasilan. Selanjutnya marilah kita bahas usaha untuk memperoleh harta benda atau kekayaan, ditinjau dari sudut pandang agama Hindu. Kitab Nītisāstra, karya mahārsi Cānakya yang dikenal juga dengan nama Kautilya, di antaranya menyatakan sebagai berikut: “Udyoge nāsti dāridriyam”
(Tidak ada masalah kemiskinan bagi mereka yang giat berusaha) Cānakya Nītisāstra III.11.
“Dhana-dhanya prayogesu vidyā samgrahanesu ca, Āhāre vyavahāra ca tyakta lajjāḥ sukhi bhavet” (Dalam urusan mencari beras dan dalam urusan keuangan,
dalam hal menuntut ilmu, dalam hal menikmati makanan dan dalam hal berdagang, orang hendaknya meninggalkan rasa malu. Orang tersebut akan memperoleh kebahagiaan). Cānakya Nītisāstra VII.2.

Demikian pula mahaṛṣi Vararuci dalam kitabnya Sarasamuccaya menyatakan: “Lawan tekaping mangarjana, makapagwanang dharma ta ya”
Sarasamuccaya 261.
(Dan cara memperoleh sesuatu, hendaknyalah senantiasa berdasarkan Dharma (kebenaran dan kebajikan)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, juga kutipan terjemahan mantra Veda yang kami sampaikan dalam pendahuluan tulisan ini, ternyata ketekunan bekerja, bekerja dengan penuh kejujuran, termasuk tidak perlu malu dalam hal berusaha yang benar (halal) atau sesuai dengan ajaran Dharma. Ajaran agama Hindu memberi motivasi untuk berusaha, untuk itu sebenarnya bisnis, sebagai satu kegiatan perekonomian adalah wajar dan patut ditinjau dari sudut pandang agama Hindu, sepanjang di dalamnya atau kegiatan tersebut tidak merugikan konsumen, tidak ada unsur penipuan atau ketidakjujuran.

Selanjutnya bila kita tinjau dari sudut pandang hukum Hindu, distributor independen, produsen dan konsumen seperti tergabung dalam satu perserikatan, yakni dengan pemberian diskon atau bonus kepada distributor independen dan konsumen pada derajat tertentu keberhasilannya melakukan penjualan. Hukum Hindu yang mengatur ketentuan tentang perserikatan atau perjanjian kerjasama atau penjualan bersama, termasuk dalam Vyāvaharapāda (titel hukum): Sambhūya-Samutthāna yang artinya perusahaan kerjasama atau persekutuan. Maksudnya adanya usaha kerja sama dengan para pihak, antar produsen atau antara produsen dengan distributor dan bahkan dengan konsumen. Di dalam Bṛhaspati Smṛti diamanatkan persyaratan orang yang patut diajak kerja sama atau bekerja sama dalam membuat sekaligus memajukan perusahaan, yakni: “orang-orang dari keluarga yang baik (integritasnya tidak diragukan), orang-orang yang cerdas, terdidik, penuh aktivitas, rajin, fasih mengelola keuangan, ahli dalam mengatur pengeluaran dan pemasukan, jujur, memiliki keberanian, bertanggung jawab, dan perusahaan perserikatan atau joint venture, hendaknya jangan dikelola oleh orang yang yang ahli dan rajin dengan partnernya yang lemah, malas, orang yang sedang menderita karena penyakit, orang yang tidak memiliki keberuntungan, atau orang yang sangat melarat”(Bṛhaspati Smṛti dalam Sacred Books of the East, vol.33 p.336 verses 1-2).

Terjemahan sloka tersebut patut kita dikaji kembali, yakni orang-orang dari keluarga baik, maksudnya jangan sampai bekerja sama dengan mereka yang reputasinya tidak baik di dunia bisnis, di samping keseimbangan antar partner, jangan bekerja sama dengan orang yang malas, atau sedang menderita penyakit yang berat atau orang yang sangat melarat, dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan dan banyak bukti di masyarakat, bekerja sama dengan orang yang demikian sering mengalami kegagalan disebabkan tidak ada keseimbagan dalam kerjasama. Dalam kitab-kitab Dharmasāstra diatur pula kewajiban para pihak yang diajak bekerja sama, termasuk dalam hal perusahaan mengalami kerugian karena berbagai faktor, misalnya ditimpa musibah, atau adanya peraturan baru dari pemerintah. Penjualan asset dan lain sebagainya. Selanjutnya bisnis bila kita tinjau dari ajaran karma (Karmayoga dalam Bhagavadgītā), maka melakukan kerja apapapun yang dipandang benar menurut ajaran agama hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan, kebaktian, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berikut kami kutipkan śloka yang menegaskan hal tersebut: “yat karosi yad asnāsi yaj juhosi dadāsi yat, yat tapasyasi kaunteya tat kurusva mad arpanam” (Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau makan, yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan. Displin diri
dan pertapaan apapun yang engkau lakukan, laksanakanlah wahai Arjuna, hanya sebagai bentuk bhakti dan persembahan kepada Aku). Bhagavadgītā IX.27
Adapun maksud sloka di atas adalah melakukan segala tugas dan kewajiban atau pekerjaan dan disiplin diri hanya sebagi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karma Marga atau jalan kerja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa berawal dari melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Segala usaha bila dilakukan dengan sebaik-baiknya, tentunya akan mendapat rakhmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Masih relevankah ajaran agama pada jaman Kaliyuga ini? Pertanyaan ini muncul karena kenyataan hal-hal yang bersifat normatif sebagai pembimbing moral sering dilanggar oleh umat manusia. Di dalam berbagai kitab Purāṇa ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Pariksit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (Gambirananda, 1984 : XIII). Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kāma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia. Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka. Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur. Di mana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran. Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda Purāṇa , XVII.1, antara lain pada: minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas (Vettam Mani, 1989: 373). Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran), di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan. Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya mirip dengan penggambaran Viṣṇu Purāṇa , sebagai berikut : “atha evā bhijana hetuḥ, dhanam eva asesadharma hetuḥ
abhirucir eva dāmpatyasambandha hetuḥ, anṛtam eva vyavahjayaḥ strītvam eva’pabhoga hetuḥ……………….brahma sūtram eva vipratve hetuḥ lingga dhāranam eva asrama hetuḥ”
Viṣṇu Purāṇa IV. 24. 21-22.
Yang artinya: Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan
status sosial/kemewahan bagi seseorang, materi menjadi dasar kehidupan
kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya
sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan
spiritual.

Walaupun jaman Kaliyuga ini digambarkan seperti tersebut di atas, seseorang akan memperoleh keselamatan bila ia menyadari makna penjelmaan serta senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menyadari dan mencermati makna penjelmaan, seseorang akan tekun melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama, khususnya nilai-nilai moralitas sebagai usaha untuk memberi makna terhadap penjelmaan ini. Kitab Sarasamuccaya, karya mahaṛṣi Vararuci, menjelaskan bahwa kesempatan untuk menjelma sebagai manusia sangat sulit untuk diperoleh, oleh karena memanfaatkan penjelmaan ini untuk merealisasikan ajaran Dharma (Dharmasādhana) dalam hidup ini adalah mutlak : “Sebab hanyalah manusia yang mampu mengentaskan dan memperbaiki dirinya dengan jalan berbuat baik (subhakarma). Amat sulit memperoleh kesempatan untuk menjelma (lahir) sebagai manusia, oleh karena itu setiap orang hendaknya dapat mensyukurinya.
Orang yang tidak memanfaatkan penjelmaan inidengan baik keadaannya seperti orang yang sakit pergi kesuatu tempat yang tidak memberikan pertolongan atau obat.
Penjelmaan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas hidup seperti halnya meniti tangga menuju sorga. Penjelmaan ini walaupun singkat, bagaikan kerdipan petir, hendaknya dimanfaatkan untuk melaksanakan Dharmasādhana, yakni merealisasikan (mewujudkan pengamalan Dharma) yang akan memberikan pahala berupa kebahagiaan yang sejati dan kalepasan (Moksa). Orang yang tidak melaksanakan Dharma sādhana, akan jatuh ke lembah neraka. Orang yang tidak berusaha melepaskan diri dari ikatan penjelmaan di dunia ini dinyatakan tetap dalam penderitaan (Sarasamuccaya, 2-12).

Dengan menyadari makna penjelmaan ini serta kesadaran Sang Hyang Ātma (Sang Diri) yang terbelenggu oleh badan, maka seseorang akan berusaha menyucikan hidupnya, yang senantiasa akan berpegang teguh kepada nilai-nilai moralitas dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada jaman Kaliyuga, jalan yangpaling mudah dilakukan untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan : Japa, Dhyana dan Seva (Padasevanam). Japa adalah mengulang-ulang mantra atau nama suci Tuhan Yang Maha Esa, Dhyana adalah memusatkan diri kepada-Nya dan Seva memberikan pelayanan kepada masyarakat, memandang anggota masyarakat sebagai ciptaan-Nya. Banyak ajaran yang mengandung nilai-nilai moralitas yang tinggi dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya, yang intinya menuntun manusia untuk mencapai tujuan tertinggi (Moksa) dan kesejahtraan hidup (Jagadhita) di dunia ini. Bila seseorang menyadari bahwa setiap perbuatan akan menghasilkan pahala baik atau buruk:
“punye vai punyena karmanā bhavati pāpaḥ pāpeti” “sādhukari sādhur bhavati pāpakari pāpo bhavati” (Bṛihadāranyaka Ūpaniṣad III.2.13 & IV.4.5.)
(Yang dipuji adalah Karma. Sesungguhnya yang menjadikan orang itu berkeadaan baik,adalah perbuatannnya yang baik dan yang menjadikan orang itu berkeadaan buruk adalah perbuatannya yang buruk. Seseorang akan menjadi baik, hanya dengan berbuat kebaikan dan seseorang menjadi papa karena berbuat jahat).

Menyadari bahwa setiap perbuatan memberikan pahala baik atau buruk, mereka yang memiliki kesadaran rohani senantiasa ingin mengamalkan ajaran Dharma dan menghindarkan diri dari perbuatan buruk, untuk itu nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam ajaran agama senantiasa memancar dalam tingkah laku dan perbuatannya dapat menjadi motivasi dan inspirasi dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Demikian pula berkaitan dengan bisnis, bila dilakukan sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilandasi dengan penuh keihklasan, maka bisnis merupakan salah satu jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan ini kami kutipkan pula pernyataan Svami Vivekānanda seratus tahun yang lalu: “Your hand on work, but your heart o God”, tangan menghadapi pekerjaan (apapun) namun hati hendaknya senatiasa menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh ke belakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri.

Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua.

Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!

Untuk itu, selagi masih muda dan ada waktu, hendaknya tidak menghambur-hamburkan kesempatan dan tidak berbuat kebajikan. Karena rasa sesal kadangkala tak lagi bermanfaat tatkala usia dan nafas terakhir telah diujung hidung.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Durma = Munduring Tata Krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati, Duryodhana.

Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya, durjana, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dan sebagainya.

Pupuh Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar bertengkar (udur) atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasihat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik.

Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspada, demikian pupuh Durma mengingatkan kita semua.

Om Santih Santih Santih Om
*Shri Danu Dharma P*

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers