Pustaka Hindu


Om Swastyastu
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh ke belakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri.

Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua.

Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!

Untuk itu, selagi masih muda dan ada waktu, hendaknya tidak menghambur-hamburkan kesempatan dan tidak berbuat kebajikan. Karena rasa sesal kadangkala tak lagi bermanfaat tatkala usia dan nafas terakhir telah diujung hidung.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Durma = Munduring Tata Krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati, Duryodhana.

Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya, durjana, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dan sebagainya.

Pupuh Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar bertengkar (udur) atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasihat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik.

Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspada, demikian pupuh Durma mengingatkan kita semua.

Om Santih Santih Santih Om
*Shri Danu Dharma P*

Om Swastyastu
Gambuh atau Gampang Nambuh, dapat diartikan demikian: “sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh”.

Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang.

Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang.

Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri.

Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah Illahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Shri Danu Dharma P

Om Swastyastu
Asmaradana atau Asmara Dahana atau Semarandana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motivasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya.

Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggung jawab hamil muda.

Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang guru laku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu.

Jangan suka berpangku namun pandailah memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Mangku Danu

Om Swastyastu
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya.

Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya menjadi jera.

Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga.

Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada.

Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.

Om Santih Santih Santih Om
Shri Danu Dharma P

Om Swastyastu
Sinom artinya masih enom/muda. Jabang bayi berkembang menjadi remaja-sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga.

Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapak dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah, terkadang sedikit keras kepala, dan mudah meniru. Saat enom adalah saat mencari identitas diri, seiring menjalarnya panah asmara.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Shri Danu Dharma P

Om Swastyastu
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terkira. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapak melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si jabang bayi menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si anak, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbhakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Shri Danu Dharma Patapan

Om Swastyastu
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan dan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di garbhadana sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi.

Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mayapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus menjalani apa yang telah menjadi garis karma untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tertulis.

Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Anugerah atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Shri Danu Dharma P

Om Swastyastu
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah.

Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami-istri. Buah hati menjadi anugrah Ilahi yang harus dijaga siang dan malam. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga Ibu Pertiwi

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Shri Danu DP

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si

Om Swastyastu
Dalam ajaran Bhuwana Kosa Tuhan atau sang pencipta disebut Bhatara Siva. Bhatara Siva adalah Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, tak terbatas, bersemayam dalam hati setiap makhluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir serta kekal abadi.

Tuhan bersifat immanent dan transcendent. Imanent artinya meresapi segala sesuatu, ada pada segala sesuatu termasuk pikiran dan indrya, dikatakan Sira Vyapaka. Sedangkan bersifat Transendent artinya meliputi segala tetapi berada diluar batas kemampuan pikiran dan indrya manusia. Meskipun Tuhan Imanent dan Transendent tetapi tidak dapat dilihat dengan kasat mata karena Tuhan bersifat abstrak dan sangat rahasia, karena kerahasiaannya itu Tuhan digambarkan seperti dalam api dan kayu, bagaikan minyak dalam santan. Tuhan dinyatakan ada dimana-mana.

Bhatara Siva adalah asal dari segala yang ada, Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala sinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaan-Nya. Semua Ciptaan-Nya bersifat wujud maya yang bersifat tidak kekal karena dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaan-Nya itu kembali kepada-Nya karena ia adalah asal dan tujuan semua yang ada ini. Seperti dikatakan dalam Bhuwana Kosa :

“Mijil sakeng sira lina ri sira muwah-datang dariNya (Siva), dan akan kembali pula kepadaNya.”
Hal ini berarti, walaupun Bhatara Siva bersifat tak terbatas digambarkan juga secara terbatas, karena itu Ia sering disebut dengan nama yang berbeda-beda seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Beberapa petikan mantra dalam Bhuwana Kosa :

* Bhatara Siva Maha gaib, tanpa awal, tanpa pertengahan, tanpa akhir, amat suci:

“Keadaan Sang Hyang Siva berada di hati semua mahluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir, Keberadaan Beliau kekal berwujud seperti putaran air. Demikianlah beliau tampak oleh Sang Yogiswara.”

* Bhatara Siva sumber segala dan tujuan kembalinya semua yang ada:
“Penampakan Bhatara Siva dalam menciptakan dunia ini adalah Brahma, wujudnya waktu memelihara dunia ini adalah Visnu, Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini, demikian ketiga wujudnya namun beda nama.”

* Bhatara Siva bersifat Imanent dan Transendent:
“Sang Hyang Siva ada dimana-mana, tetapi sangat halus tidak dapat dibayangkan , beliau bagaikan angkasa tidak terjangkau oleh pikiran dan panca indra.”

* Bhatara Siva ada dimana-mana:
“Api ada pada kayu tetapi tidak kelihatan karena sangat halus, itulah ibarat angkasa. Demikianlah Sang Hyang Mahadewa ada pada semua yang berwujud tetapi beliau tidak tampak karena kehalusan Beliau.”

Om Santih Santih Santih Om
*Sumber Bacaan: Bhuwana Kosa, teks dan terjemahan, Upada Sastra, Denpasar

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.