Hari Suci Hindu


Om Swastyastu

“Tan arta tan kama pidonya tan yasa”

Demikian penggalan wirama mengajarkan kita; bahwasanya untuk mendapatkan semua jenis harta dan kesenangan, mesti didasari oleh YASA (Dharma). Tanpa dilandasi oleh Dharma maka harta, dan kesenangan yang kita nikmati tidak akan pernah mendatangkan kedamaian.

Mari kita gunakan “pengetahuan” yg telah dianugerahkan kepada kita untuk memperoleh semua jenis kekayaan dengan jalan dharma, dan menggunakannya pula di jalan dan demi dharma.

Om Santih Santih Santih Om

* permenungan Dina Some Ribek (Soma Pon Wuku Sinta), 06 Oktober 2014.
~ Jro Mangku Danu

Om Swastyastu

“…Ndatan apa pakaryannira?”
“Manira makarya Lumbung”
“Isining Lumbung?”
“Mas, Inten, salaka, sarwa manik, Pala bungkah, pala gantung, pala wija, pala madon, pala woh, mwang sarwa mule”
“Sira sang adruwe?”
“Druwe Sang Apaselang, apan yang tan kapaselang tan siddha punang karya”.

Demikianlah isi penggalan Lontar Paselang, yang dibaca tiap kali ada upacara Mautama di Bale Paselang yang juga dikenal dengan upacara Pajiwan-Jiwan.

Dari petikan Pustaka ini mengingatkan kita bahwa segala hal yang saat ini kita miliki sejatinya hanyalah PINJAMAN (Druwe Sang Apaselang), yang dititipkan oleh Hyang Widhi melalui Alam Semesta kepada kita.

Dengan demikian Harta kekayaan yang kita miliki baik kekayaan yang abstrak (pengetahuan, kecerdasan, emosi, phsikis, mental dan spiritual) hingga kekayaan riil (benda-benda duniawi termasuk badan ini); inilah SABUH (LUMBUNG) MAS kita. Yang semuanya mengacu kepada hukum aksi-reaksi. Jika digunakan dengan bijak di jalan Dharma maka SABUH tersebut akan kian cemerlang dan keberlimpahan dan bernilai berlipat ganda laksana kilau dan nilai EMAS. Namun jika digunakan dengan semena-mena di jalan Adharma maka SABUH itu akan kian kusam dan mengalami kekeroposan laksana Besi yang termakan Karat.

Saat ini SABUH itu sedang bersama kita, mau diapakan dan dibawa kemana..??..Semua kembali kepada pribadi kita masing-masing. Namun harapan tityang….semoga LUMBUNG titipan Hyang Widhi ini kian hari akan kian BERSINAR CEMERLANG. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

*Permenungan Dina Sabuh Mas (Anggara Wage Wuku Sinta), 07 Oktober 2014
♡ Jro Mangku Danu

PANEGTEGAN

Oleh: Jro Mangku Danu (I W Sudarma)

Om Swastyastu
Memiliki hidup dalam wadag manusia memang dikatakan sebagai tingkat kelahiran Mautama, karena melalui badan manusialah Tuhan menganugerahkan Wiweka dan Winaya; yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, sekalipun manusia dilahirkan dalam suasana dan kondisi yang penuh penderitaan sekalipun. “Manadi dados Jadma Mautama juga ngaranya”. Demikian pesan Bhagawan Garga kepada I Watugunung.

Namun demikian, memiliki hidup  bukan berarti kita boleh menggunakannya dengan semena-mena, apalagi sampai bertentangan dengan kodrat kemanusiaan itu sendiri.
“Urip Kalantas bukan untuk disalahgunakan menentang Dharma, Ia mesti digunakan semata-mata demi Urip Yang Sejati. Urip Sejati mesti ditata dengan penuh kearifan. Inilah hakikat dari Dina Panegtegan. Tegteg ring sajeroning Manah, Kahyun, Anggah-Ungguhing Urip”. (Lontar Bhagawan Garga).

Semeton sinamain…. Hanya mereka yang memiliki Urip Kalantas lah yang berkesempatan mengusahakan  Kesadaran Baru  berupa “Ketetegan Urip”, dengan modal Ketenangan Hidup  inilah memungkinkan kita menyusun kembali daftar target yang hendak kita capai dalam perhelatan kehidupan ini, terutama dalam rangka “Ngulati Sarining Jnana”.

Menyusun skala prioritas juga menjadi penting dalam hal ini, tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan kita. Idealisme sah-sah saja, tapi jika hal tersebut tidak masuk akal dan justru menimbulkan persoalan baru, maka mengesampingkannya untuk sementara waktu bukanlah sikap yang keliru. 

Pada hari Wrhaspati Wage Watugunung inilah hari dimana kita diminta dan diajak bahkan dituntut untuk melakukan “Panegtegan Diri”, menyusunan skala prioritas hidup kita. Melalui pertanyaan:
Hidup seperti apakah yang hendak saya lakoni pada kehidupan ini?
Hidup yang bagaimanakah yang hendak saya capai melalui kehidupan ini?
Kemanakah arah bidak kehidupan ini akan saya labuhkan?

Mari kita jawab melalui Panegtegan ini…!!

Om Santih Santih Santih Om
* Disunting dari Artikel : Sisi Lain Makna Hari Sarasvati

image

Om Swastyastu
Secara harfiah Candung Watang berarti Tubuh Yang Tertebas, secara semantik bermakna hidup sebentar saja lalu mati karena ditebas. Demikianlah kisah  mitologi I Watugunung pada hari Soma Umanis Watugunung hari ini.

Namun secara rohani dapat kiranya kita maknai lebih dalam sebagai berikut:

Berangkat dari rumah di awal perjuangan biasanya kita memiliki semangat yang begitu tinggi dan rasa percaya diri jika kita akan mampu meraih setiap rencana yang telah tersusun rapi, walau terkadang kita tidak mengetahui medan seperti apa yang akan kita hadapi di depan sana.

Di awal setiap usaha; hambatan pertama kita adalah“Rasa- Ragu”. Secara alamiah rasa ragu selalu muncul pada setiap kita ingin memulai sesuatu, entah itu keinginan untuk mengawali kegiatan belajar, keinginan untuk melamar pekerjaan, mulai memilih sahabat termasuk ketika hendak menentukan pasangan hidup, bahkan untuk memasuki kehidupan rohani.

Keragu-raguan selalu muncul dan melemahkan semangat yang awalnya sangat tinggi. Seolah-olah terpampang dengan jelas antara kegagalan dan keberhasilan. Tidak sedikit dari kita menyerah di level ini; Hal ini terjadi jika rasa takut dan ragu-ragu itu lebih besar dan melemahkan bahkan mengalahkan semangat juang kita. Dan ternyata kita juga pernah mengalami hal ini bukan….?   

Ragu – ragu saya maknai sebagai Candung Watang (Soma Umanis Watugunung).

Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu
* Dikutip dari artikel: Sisi Lain Makna Hari Sarasvati.

Om Swastyastu
Hari ini Anggara Pahing Wuku Watugunung, dinamakan Hari Paid-Paidan. Hari ini hidup I Watugunung masih dihinggapi dilema, namun Ia terus berjuang untuk dapat lepas dari situasi penuh keragu-raguan (Candung Watang), I Watugunung tidak menyerah….ia terus merangkak-melangkah tertatih-tatih menuju Cahaya Pengetahuan.

Bagaimana dengan kita, yang saat ini misalkan masih diliputi I Candung Watang….Apakah harus menyerah dan kehilangan akal? Atau kita mencoba untuk keluar daripadanya?

Semeton sinamian…

Hidup tak boleh berhenti tergerus oleh keragu-raguan yang merupakan penggoda dan penghambat kesuksesan. Di saat situasi seperti ini adalah bijak jika kita “Membuka Diri” dan berkomunikasi dengan yang ada di sekitar kita entah itu diri kita, alam, sahabat, teman, keluarga, atau orang  yang kita anggap mampu untuk menuntun  dan membimbing kita melewati masa-masa krisis kepercayaan tersebut.

Dengan kerendahan hati dan ketulusan menerima berbagai kritik, saran dan nasihatnya. Karena kita yakin dia adalah sahabat kita..! Dan tentunya doa akan sangat membantu kita mengahadapi tantangan kali ini…!

Di sinilah betapa pentingnya diri ini, alam, sahabat, yang dapat kita jadikan sebagai guru….

Hari Paid-paidan (Anggara Pahinhg Watugunung) saya ibaratkan “Saatnya membuka diri dan belajar dan mohon tuntunan dari berbagai pihak”.

Manggalamastu
Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu
* Disunting dari artikel: Sisi Lain Makna Hari Sarasvati

Om Swastyastu
Pada hari Rabu Umanis Wuku Watugunung, oleh lontar Bhagawan Garga dikenal dengan nama Budha Urip atau Dina Urip Kalantas. Hal ini diambil dari kisah I Watugunung, setelah ia berjuang setapak demi setapak untuk mencapai Cahaya Pengetahuan, melewati masa keragu-raguan (Candung Watang) yang membingungkan, lalu ia mencoba bangkit dengan mendekati dirinya, mendekati keluarganya, sahabatnya, dan juga Gurunya (Paid-Paidan). Dengan cara inilah ia menemukan kembali ritme hidupnya yang pernah terkoyak dilema putus asa.

Kini I Watugunung telah terselamatkan dan memiliki semangat baru, dan dapat berdiri tegak penuh kepercayaan, laksana mentari yang terbebas dari kungkungan awan pekat. Hatinya sumringah, seberkas asa bertumbuh pada bhatinnya. Raganya nampak bugar kembali untuk melanjutkan perjalanannya menemukan Cahaya Agung Sarining Jnana.

Saudara-Saudari semuanya, dari kisah ini kita dapat belajar satu hal penting, bahwasanya…..Manakala kita telah pulih dari keragu-raguan berkat dorongan dari berbagai pihak yang kita percaya, kita memiliki semangat baru yang lebih segar dan lebih murni. Dan saat itulah penghalang utama berupa ketidakpercayaan diri akan menyingkir tanpa kompromi dengan sendirinya.

Ini pemaknaan inti dari hari Budha Urip Kalantas (Budha Pon Watugunung). Bahwa mereka yang benar-benar bersungguh-sungguh, yang menyayangi hidupnya, yang pantang menyerah, yang memiliki dedikasi, disiplin dan komitmenlah yang nantinya layak menjadi pemenang. Pemenang atas hidupnya, pemenang atas kesejatian Diri, pemenang atas waranugraha Sarining Jnana.

Mari kita gunakan kesempatan singkat ini dengan sebaik-baiknya…Manggalamastu…!!

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu
* Disunting dari Artikel: Sisi Lain Makna Hari Sarasvati

IMG_0197.JPG

Om Swastyastu

Om Guru deva guru rupam, Guru madhya guru purvam, Guru pantara devanam, Guru deva sudha nityam.
Om Shri Guru bhyo namah svaha

Kata “pagerwesi” artinya pagar dari besi. Ini merupakan simbolisasi dari suatu perlindungan yang kokoh dan kuat, karena sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi, agar jangan mendapat gangguan atau dirusak baik oleh diri sendiri pun oleh pihak dari luar diri.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik para rohaniwan (sulinggih, pemangku) maupun umat umum (walaka).

Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut “magehang raga”. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Paramesti Guru. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melimpahkan perlindungan atau proteksi agar terhindar dari hal-hal negatif, juga adalah untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Paramest Guru, Beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia.

Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur ini yang disebut oleh aksara suci: “sing nawang kaje kelod kangin kauh dalem kelawan daken”.

Dalam lontar Sunarigama disebutkan “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Para Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanggha ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”
Artinya:
Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Paramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanggha (sembilan dewa) untuk mensejahterakan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama ini sesuai dengan petikanlontar Sunarigama disebutkan: “Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”.
Artinya:
Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Parameswara (Paramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan dihaturkan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sunarigama; Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Paramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sanggha. Hal ini mengandung makna bahwa Hyang Paramesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Dengan demikian, siapa saja yang menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Paramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah “ilmu” yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Dalam pelaksanaannya, umat menghaturkan upakara/banten pejati, dapetan, sesayut pageh urip dan prayascitta sebagai upakar penyucian, serta banten segehan seperti biasa.

Demikian secara singkat saya sampaikan yang berkenaan dengan Hari Pagerwesi. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

“Selamat Hari Suci Pagerwasi, Rabu Kliwon Shinta, 12 Maret 2014, Semoga atas anugerah Hyang Widhi kita memperoleh kekuatan lahir bathin (sekala-niskala), sehingga dapat dan mampu menjaga kesejatian diri”.

Om Santih Santih Santih Om
~ Sudarma

20140311-222752.jpg

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers