Oleh:Pndt. Shri Danu Dharma P.

Om Swastyastu
Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma. Mahaṛṣi Cānakya dalam kitabnya Nītisāstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian. Untuk mewujudkan kemakmuran bersama, pemerintah menurut ajaran Hindu hendaknya dapat mengatur perekonomian rakyat dengan baik. Perekonomian disebut dengan istilah Vārttā, yang menurut Kautilya dalam bukunya Arthasāstra (I.7) meliputi pengelolaan kekayaan negara. Perekonomian hendaknya pula didukung oleh keberhasilan pengembangan : Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Danîanīti (Hukum), sedang lingkup Vārttā meliputi 4 bidang (Vārttā Caturvidhā), yaitu : pertanian, peternakan, perdagangan dan membungakan uang seperti disebutkan dalam Bhāgavata Purāṇa X.24.21 (krsi-vānijya-goraksā kusīdam tūrīyamucyate, vārttācaturvidhā tattra vayam govṛttayo’nisam).

Berbicara keterkaitan antara Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Dandanīti (Hukum), kiranya tidak jauh berbeda dengan teori sistem ekonomi modern, seperti diungkapkan oleh Dr. Winardi, S.E. dalam bukunya Kapitalisme Versus Sosialisme, Suatu Analisis Ekonomi Teoritis seperti dikutip oleh I Gede Sudibya dalam bukunya Hindu Menjawab Dinamika Zaman (1994), antara lain: “Every economic system is part of constellation of economic and political institutions and ideas and can be understood only as a part of this whole”, demikian pula pernyataan lainnya: “Economic systems comprise the ways and means by which economic welfare can be secured within the framework of social relations”. Dewasa ini kita diingatkan oleh sistem ekonomi kita yang mengalami krisis yang mulai dari krisis moneter, yang berpengaruh pada bidang-bidang yang lain seperti politik, stabilitas nasional, dan kepercayaan yang tentunya bila tidak tertangani dengan baik, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbicara tentang sistem ekonomi Hindu, ada baiknya dikutipkan secara lengkap pendapat yang dikemukakan oleh cendekiawan Hindu terkemuka dan presiden pertama India, S. RadhaKrishnan, sebagai berikut: “The Hindu view of the individual and his relation to society can be best brought out by a reference to the synthesis and gradation of: The fourfold object of life (Purūṣārtha: desire and enjoyment (Kāma), interest (Artha), ethical living (Dharma), and spiritual freedom (Moksa),
The fourfold order of society (Varṇa), the man of learning (Brahmin), of power (Kśatriya), of skilled productivity (Vaisya), and of service Sudra, and The fourfold succession of the stage of life (Aśrama), student (Brahmacari), householder (Gṛhastha), forest recluse (Vanaprastha, and the free supersocial man (Sanyasin). By means of this threefold discipline the Hindu strives to reach his destiny, which is to change body into soul, to discover the world’s potentiality for virtue and derive happiness from it”.

Jadi menurut S. Radha Krishnan, melalui ralisasi nilai-nilai Catur Purusārtha, Catur Varṇa dan Catur Aśrama, umat Hindu akan mecapai tujuannya, yakni penemuan manusia terhadap jiwanya, yang mengantarkannya ke jalan Tuhan Yang Maha Esa, untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati.

Lebih jauh tentang pengelolaan penghasilan untuk mendukung hidup dan kehidupan, mahaṛṣi (Bhagavān) Vararuci yang disebut juga dengan nama Katyāyana, dalam Sarasamuccaya (261-276) secara panjang lebar menjelaskan cara-cara memperoleh harta benda yang tidak boleh bertentangan dengan Dharma (kebenaran dan kebajikan). Harta benda atau penghasilan yang diperoleh melalui kerja atas dasar Dharma, hendaknya dibagi tiga, yakni masing-masing sepertiga, digunakan untuk: Dharma, mengembangkan harta dan untuk dinikmati. Untuk jelasnya kami kutipkan śloka Sarasamuccaya, sebagai berikut:
“ekanāmcena dharmāthaḥ kartavyo bhūtimicchatta, ekanāmcena kāmtha ekamamcam vivirddhayet”.
“Nihan kramaning pinatêlu, ikang sabhāga, sādhana rikasiddhaning. dharma, ikang kapingrwaning bhāga sādhana ri kasiddhaning Kāma ika, ikang kaping tiga, sādhana ri kasiddhaning artha ika, wṛddhyakêna muwah, mangkana kramanyan pinatiga,denika sang mahyun manggiha kênang hayu”. Sarsamuccaya 262
Yang artinya: Demikian hendaknya dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian, digunakan sebagai biaya mewujudkan Dharma, bagian yang kedua digunakan sebagai biaya untuk memenuhi Kāma (untuk kenikmatan hidup) dan bagian yang ketiga digunakan untuk mengembangkan hartamelalui berbagai usaha,kegiatan ekonomi, agar berkembang lagi. Demikianlah hendaknya harta penghasilan itu dibagi tiga, oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan.

Demikianlah sepintas tentang tujuan hidup manusia, masalah perekonomian dan pengelolaan penghasilan. Selanjutnya marilah kita bahas usaha untuk memperoleh harta benda atau kekayaan, ditinjau dari sudut pandang agama Hindu. Kitab Nītisāstra, karya mahārsi Cānakya yang dikenal juga dengan nama Kautilya, di antaranya menyatakan sebagai berikut: “Udyoge nāsti dāridriyam”
(Tidak ada masalah kemiskinan bagi mereka yang giat berusaha) Cānakya Nītisāstra III.11.
“Dhana-dhanya prayogesu vidyā samgrahanesu ca, Āhāre vyavahāra ca tyakta lajjāḥ sukhi bhavet” (Dalam urusan mencari beras dan dalam urusan keuangan,
dalam hal menuntut ilmu, dalam hal menikmati makanan dan dalam hal berdagang, orang hendaknya meninggalkan rasa malu. Orang tersebut akan memperoleh kebahagiaan). Cānakya Nītisāstra VII.2.

Demikian pula mahaṛṣi Vararuci dalam kitabnya Sarasamuccaya menyatakan: “Lawan tekaping mangarjana, makapagwanang dharma ta ya”
Sarasamuccaya 261.
(Dan cara memperoleh sesuatu, hendaknyalah senantiasa berdasarkan Dharma (kebenaran dan kebajikan)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, juga kutipan terjemahan mantra Veda yang kami sampaikan dalam pendahuluan tulisan ini, ternyata ketekunan bekerja, bekerja dengan penuh kejujuran, termasuk tidak perlu malu dalam hal berusaha yang benar (halal) atau sesuai dengan ajaran Dharma. Ajaran agama Hindu memberi motivasi untuk berusaha, untuk itu sebenarnya bisnis, sebagai satu kegiatan perekonomian adalah wajar dan patut ditinjau dari sudut pandang agama Hindu, sepanjang di dalamnya atau kegiatan tersebut tidak merugikan konsumen, tidak ada unsur penipuan atau ketidakjujuran.

Selanjutnya bila kita tinjau dari sudut pandang hukum Hindu, distributor independen, produsen dan konsumen seperti tergabung dalam satu perserikatan, yakni dengan pemberian diskon atau bonus kepada distributor independen dan konsumen pada derajat tertentu keberhasilannya melakukan penjualan. Hukum Hindu yang mengatur ketentuan tentang perserikatan atau perjanjian kerjasama atau penjualan bersama, termasuk dalam Vyāvaharapāda (titel hukum): Sambhūya-Samutthāna yang artinya perusahaan kerjasama atau persekutuan. Maksudnya adanya usaha kerja sama dengan para pihak, antar produsen atau antara produsen dengan distributor dan bahkan dengan konsumen. Di dalam Bṛhaspati Smṛti diamanatkan persyaratan orang yang patut diajak kerja sama atau bekerja sama dalam membuat sekaligus memajukan perusahaan, yakni: “orang-orang dari keluarga yang baik (integritasnya tidak diragukan), orang-orang yang cerdas, terdidik, penuh aktivitas, rajin, fasih mengelola keuangan, ahli dalam mengatur pengeluaran dan pemasukan, jujur, memiliki keberanian, bertanggung jawab, dan perusahaan perserikatan atau joint venture, hendaknya jangan dikelola oleh orang yang yang ahli dan rajin dengan partnernya yang lemah, malas, orang yang sedang menderita karena penyakit, orang yang tidak memiliki keberuntungan, atau orang yang sangat melarat”(Bṛhaspati Smṛti dalam Sacred Books of the East, vol.33 p.336 verses 1-2).

Terjemahan sloka tersebut patut kita dikaji kembali, yakni orang-orang dari keluarga baik, maksudnya jangan sampai bekerja sama dengan mereka yang reputasinya tidak baik di dunia bisnis, di samping keseimbangan antar partner, jangan bekerja sama dengan orang yang malas, atau sedang menderita penyakit yang berat atau orang yang sangat melarat, dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan dan banyak bukti di masyarakat, bekerja sama dengan orang yang demikian sering mengalami kegagalan disebabkan tidak ada keseimbagan dalam kerjasama. Dalam kitab-kitab Dharmasāstra diatur pula kewajiban para pihak yang diajak bekerja sama, termasuk dalam hal perusahaan mengalami kerugian karena berbagai faktor, misalnya ditimpa musibah, atau adanya peraturan baru dari pemerintah. Penjualan asset dan lain sebagainya. Selanjutnya bisnis bila kita tinjau dari ajaran karma (Karmayoga dalam Bhagavadgītā), maka melakukan kerja apapapun yang dipandang benar menurut ajaran agama hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan, kebaktian, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berikut kami kutipkan śloka yang menegaskan hal tersebut: “yat karosi yad asnāsi yaj juhosi dadāsi yat, yat tapasyasi kaunteya tat kurusva mad arpanam” (Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau makan, yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan. Displin diri
dan pertapaan apapun yang engkau lakukan, laksanakanlah wahai Arjuna, hanya sebagai bentuk bhakti dan persembahan kepada Aku). Bhagavadgītā IX.27
Adapun maksud sloka di atas adalah melakukan segala tugas dan kewajiban atau pekerjaan dan disiplin diri hanya sebagi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karma Marga atau jalan kerja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa berawal dari melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Segala usaha bila dilakukan dengan sebaik-baiknya, tentunya akan mendapat rakhmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Masih relevankah ajaran agama pada jaman Kaliyuga ini? Pertanyaan ini muncul karena kenyataan hal-hal yang bersifat normatif sebagai pembimbing moral sering dilanggar oleh umat manusia. Di dalam berbagai kitab Purāṇa ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Pariksit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (Gambirananda, 1984 : XIII). Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kāma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia. Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka. Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur. Di mana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran. Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda Purāṇa , XVII.1, antara lain pada: minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas (Vettam Mani, 1989: 373). Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran), di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan. Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya mirip dengan penggambaran Viṣṇu Purāṇa , sebagai berikut : “atha evā bhijana hetuḥ, dhanam eva asesadharma hetuḥ
abhirucir eva dāmpatyasambandha hetuḥ, anṛtam eva vyavahjayaḥ strītvam eva’pabhoga hetuḥ……………….brahma sūtram eva vipratve hetuḥ lingga dhāranam eva asrama hetuḥ”
Viṣṇu Purāṇa IV. 24. 21-22.
Yang artinya: Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan
status sosial/kemewahan bagi seseorang, materi menjadi dasar kehidupan
kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya
sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan
spiritual.

Walaupun jaman Kaliyuga ini digambarkan seperti tersebut di atas, seseorang akan memperoleh keselamatan bila ia menyadari makna penjelmaan serta senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menyadari dan mencermati makna penjelmaan, seseorang akan tekun melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama, khususnya nilai-nilai moralitas sebagai usaha untuk memberi makna terhadap penjelmaan ini. Kitab Sarasamuccaya, karya mahaṛṣi Vararuci, menjelaskan bahwa kesempatan untuk menjelma sebagai manusia sangat sulit untuk diperoleh, oleh karena memanfaatkan penjelmaan ini untuk merealisasikan ajaran Dharma (Dharmasādhana) dalam hidup ini adalah mutlak : “Sebab hanyalah manusia yang mampu mengentaskan dan memperbaiki dirinya dengan jalan berbuat baik (subhakarma). Amat sulit memperoleh kesempatan untuk menjelma (lahir) sebagai manusia, oleh karena itu setiap orang hendaknya dapat mensyukurinya.
Orang yang tidak memanfaatkan penjelmaan inidengan baik keadaannya seperti orang yang sakit pergi kesuatu tempat yang tidak memberikan pertolongan atau obat.
Penjelmaan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas hidup seperti halnya meniti tangga menuju sorga. Penjelmaan ini walaupun singkat, bagaikan kerdipan petir, hendaknya dimanfaatkan untuk melaksanakan Dharmasādhana, yakni merealisasikan (mewujudkan pengamalan Dharma) yang akan memberikan pahala berupa kebahagiaan yang sejati dan kalepasan (Moksa). Orang yang tidak melaksanakan Dharma sādhana, akan jatuh ke lembah neraka. Orang yang tidak berusaha melepaskan diri dari ikatan penjelmaan di dunia ini dinyatakan tetap dalam penderitaan (Sarasamuccaya, 2-12).

Dengan menyadari makna penjelmaan ini serta kesadaran Sang Hyang Ātma (Sang Diri) yang terbelenggu oleh badan, maka seseorang akan berusaha menyucikan hidupnya, yang senantiasa akan berpegang teguh kepada nilai-nilai moralitas dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada jaman Kaliyuga, jalan yangpaling mudah dilakukan untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan : Japa, Dhyana dan Seva (Padasevanam). Japa adalah mengulang-ulang mantra atau nama suci Tuhan Yang Maha Esa, Dhyana adalah memusatkan diri kepada-Nya dan Seva memberikan pelayanan kepada masyarakat, memandang anggota masyarakat sebagai ciptaan-Nya. Banyak ajaran yang mengandung nilai-nilai moralitas yang tinggi dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya, yang intinya menuntun manusia untuk mencapai tujuan tertinggi (Moksa) dan kesejahtraan hidup (Jagadhita) di dunia ini. Bila seseorang menyadari bahwa setiap perbuatan akan menghasilkan pahala baik atau buruk:
“punye vai punyena karmanā bhavati pāpaḥ pāpeti” “sādhukari sādhur bhavati pāpakari pāpo bhavati” (Bṛihadāranyaka Ūpaniṣad III.2.13 & IV.4.5.)
(Yang dipuji adalah Karma. Sesungguhnya yang menjadikan orang itu berkeadaan baik,adalah perbuatannnya yang baik dan yang menjadikan orang itu berkeadaan buruk adalah perbuatannya yang buruk. Seseorang akan menjadi baik, hanya dengan berbuat kebaikan dan seseorang menjadi papa karena berbuat jahat).

Menyadari bahwa setiap perbuatan memberikan pahala baik atau buruk, mereka yang memiliki kesadaran rohani senantiasa ingin mengamalkan ajaran Dharma dan menghindarkan diri dari perbuatan buruk, untuk itu nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam ajaran agama senantiasa memancar dalam tingkah laku dan perbuatannya dapat menjadi motivasi dan inspirasi dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Demikian pula berkaitan dengan bisnis, bila dilakukan sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilandasi dengan penuh keihklasan, maka bisnis merupakan salah satu jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan ini kami kutipkan pula pernyataan Svami Vivekānanda seratus tahun yang lalu: “Your hand on work, but your heart o God”, tangan menghadapi pekerjaan (apapun) namun hati hendaknya senatiasa menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Om Santih Santih Santih Om