Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu 
Sepuluh hari setelah hari Galungan kita rayakan sebagai hari suci Kuningan. Jika diperhatikan dari saran upakara yang dipersembahkan pada Hari Suci Kuningan, tak berlebihan kiranya jika saya nyatakan kalau  sesungguhnya  Kuningan adalah merupakan pengejawantahan ajaran perasaan CINTA KASIH   dari kemenangan  Dharma (kebenaran)  itu sendiri yang kemudian diwujudkan berupa pelaksanaan pelayanan dan pengabdian. Untuk itu mari kita telaah upakara inti dari hari Suci Kuningan dari sudut filosofis, yakni:

TAMIANG (Tameng),  bisa dibuat dari janur,  slepan (blarak, dalam bahasa Jawa),  daun Ron (enau), juga bisa dari daun lontar, dibuat berbentuk bulat, menyerupai matahari atau bulan.  Tamiang (Tameng) bermakna  sebagai pelindung, yang sering digunakan oleh para ksatria dalam mempertahankan diri dari serangn musuh. Matahari dan bulan  juga berfungsi sebagai pelindung agar semua mahluk hidup dapat hidup.  Dalam ranah sekala kita sebagai  umat semestinya mampu memberikan perlindungan, akan rasa aman dan nyaman dari ancaman, gangguan baik sekala dan niskala, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan juga masyarakat.

SULANGGI atau NASI SULANGGI, upakara nasi lengkap dengan lauk-pauknya, yang ditempatkan pada wadah khusus bernama Sulanggi, dibuat menyerupai bunga yang mulai mekar, atau seperti tamas kecil. Secara Etimologi kata Sulanggi terdiri dari suku kata  Su = baik, Langgi = panutan, umat Hindu harus dapat menjadi panutan baik bagi anak, istri, suami, keluarga, kerabat, bawahan. Intinya Ia harus menjadi suri tauladan  dalam penegakan panji-panji kebenaran.

TEBOG atau NASI TEBOG, juga merupakan persembahan nasi lengkap dengan lauk-pauknya, yang dialasi dengan wadah yang dibuat menyerupai piring atau bunga yang sudah mekar. Kata Tebog (bahasa Jawa Kuno) artinya berbagi (sama rata), adil.  Mengisyaratkan kepada umat Hindu untuk bisa saling care (melindungi) dan share (berbagi), apalagi kepada mereka yang kesusahan dan sedang menderita (daridra deva bhava = kaum fakir miskin yang datang kepadamu adalah perwujudan Tuhan). Juga bermakna rasa keadilan sesuai dengan tugas dan fungsi kita baik sebagai individu, bagian dari sebuah keluarga, dan di tengah-tengah masyarakat.

ENDONGAN , adalah sebuah jejaitan dari janur, slepan (blarak), daun ron enau), dan juga daun lontar yang dibuat menjadi berbagai reringgitan kemudian disatukan.  Kata Endongan (bahasa Jawa Kuno) berarti:  bergandengan,  saling menuntun. Dalam mengarungi hidup ini kita tidak bisa berdiri sendiri kita membutukan orang bahkan mahluk lain, karena setiap kehidupan memerankan fungsinya sesuai dengan Rta (hukum abadi semesta alam).

KOMPEK, dibuat menyerupai Tas (betek) berisi tumpeng, buah, kue, dan lauk pauk.  Kompek bermakna bahwa  setiap manusia pasti membutukan bekal ataupun biaya untuk melangsungkan kehidupannya. Untuk itu kita diwajibkan untuk dapat juga memberikan bekal penghidupan baik berupa makanan, harta, pendidikan, dan sebagainya kepada anggota keluarga, dan juga masyarakat. Seperti halnya Hyang Widhi dan Leluhur yang telah memberikan kita sumber penghidupan sampai saat ini.

Demikian sekiranya kupasan filosofis singkat dari makna Hari Suci Kuningan yang dapat diketengahkan. Jika kita renungkan secara seksama, ajaran Cinta Kasih  sudah lebih dahulu diajarkan oleh Leluhur Kita melalui Kuningan.  Dan tidak berlebih kiranya kalau saya dapat katakan KUNINGAN adalah VALENTINE nya umat Hindu. Pesan inti dari Kuningan adalah agar kita  dapat memperbaiki, menata dan mengaplikasikan  hidup ini  dengan rasa cinta kasih, dan  agar dapat  kita meniti kehidupan yang jauh lebih bermartabat, bersahaja, dan akhirnya dapat berlabuh dilautan kedamaian.

“Kepada umat Hindu dimanapun berada, saya haturkan Selamat Hari Suci Kuningan, Semoga Cinta Kasih Melingkupi kita semua, sehingga bisa mewujudkan hidup yang Santih” 

Om Santih Santih Santih Om
Bali, 10 Agustus 2008

About these ads