Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Sasih anglawean adalah sasih atau bulan yang amat buruk (ala dahat). Oleh karena itu dikatakan materas bhuta (berkepala bhuta). Tidak boleh membangun rumah, memulai memasuki pekarangan rumah, keburukannya tidak mempunyai keturunan, mungkin gila, kalau kawin mungkin menjadi janda atau duda dan mendapat kata-kata yang tidak baik. Apabila terjadi perkawinan kemungkinan anaknya atau keturunannya menjadi kerdil dan menjadi janda atau duda salah satu dan semua pekerjaan tidak akan berhasil. Yang dinamakan sasih (bulan) anglawean, berdasarkan pencarian pada waktu pananggal pisan (1) tilem itu hilang. Dan apabila mencari purnama menjadi panglong pisan (bulan) materas (berkepala) bhuta catus pata, sama sekali tidak boleh dipakai dewasa. Hal inilah disebutkan dalam buku wariga Dewasa sebagai berikut:

Sasih anglawean “ala dahat” apan materas bhuta. Tan wenang amangun graha, ngulihin pakarangan. Alania tan pasantana, doyan buduh, balu muang kaogan-ogan. Yan mate muang alakirabi, bedi anaknia, malih rangda salah tunggal, salwiring karya tan sida. Sane kawastaning sasih anglawean, matapakan pangalihan, kalaning ngalih tanggal 1, tilem hilang. Muang kalaning ngalih purnama dadi panglong 1, purnama hilang (Sri Reshi Anada Kusuma, 1979: 10-11).

 

Jadi sasih anglawean itu apabila terjadi pangalihan atau pergeseran pada waktu mencari tanggal apisan (1), tilem hilang maksudnya panglong 15 (tilem) menjadi pananggal pisan (1). Dan pada waktu mencari purnama menjadi panglong pisan (1), maksudnya tanggal 15 (purnama) menjadi panglong 1. jelasnya Tilem dan Purnama hilang menjadi pananggal 1 dan panglong 1. apabila kita lihat sloka nguna latri seperti diuraikan dalam modul 4 di depan, dapat dibandingkan dengan sloka yang berbunyi: “Prati padentu” artinya pananggal/panglong 15 menjadi satu (1) 1 (15/1). Oleh karena itu untuk menghindari padewasan ala (buruk) yang disebut sasih anglawean terlebih dahulu perlu lebih di dalami pemahaman tanggal – panglong dan sasih itu.

Sumber Bacaan:

Anandakusuma, Sri Reshi, Wariga Dewasa. Satya Hindu Dharma Klungkung, Bali, 1979.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisement