Om Swastyastu
Sejak zaman dahulu, sekarang maupun yang akan datang, manusia selalu mempunyai harapan dan harapan. Satu harapan menjadi kenyataan, harapan yang lain menanti untuk dipenuhi. Anak kecil mempunyai harapan, orang dewasa juga mempunyai harapan, apalagi orang tua. Umat awam mempunyai harapan, para rohaniawan juga memiliki harapan. Singkatnya, manusia dalam kehidupannya selalu berharap dan berharap. Harapan atau cita-cita yang menjadi kenyataan menjadikan manusia bahagia, sedangkan harapan yang tidak menjadi kenyataan menjadikan manusia merana.
Semakin banyak harapan atau cita-cita yang kita miliki, maka semakin terbuka kemungkinan untuk kecewa, karena adakalanya harapan itu tidak semuanya menjadi kenyataan. Semakin sedikit keinginan atau harapan, maka semakin sedikit pula kemungkinan untuk tidak terpenuhi, sehingga kemungkinan kecewa juga sedikit.
Harapan-harapan itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh: anak kecil ke Pura untuk bermain-main, harapannya tentu untuk berbahagia; remaja ke Pura untuk mencari teman; yang beranjak dewasa ke Pura untuk mencari pacar; ada juga yang ke Pura untuk mencari jodoh; orang tua ke Pura untuk mencari bekal; dan orang tertentu ke Pura untuk berbuat baik. Di antara umat Hindu, ada juga yang ke Pura hanya untuk ngobrol-ngobrol saja karena di Pura banyak umat Hindu yang bisa diajak ngobrol. Di luar keinginan-keinginan atau harapan-harapan umat yang beraneka ragam itu, ada yang menginginkan usahanya lancar, cepat dapat jodoh, cepat mempunyai anak, disayang oleh suami, istri maupun anak, dan masih banyak lagi keinginan-keinginan dari para umat.
Dalam usaha supaya harapan atau cita-citanya terkabul, berbagai usaha ditempuh oleh para umat, mulai dari cara-cara yang masuk akal sampai cara-cara yang di luar akal sehat. Cara-cara yang masuk akal misalnya dengan melakukan hal-hal yang sesuai, yang mendukung cita-cita atau harapannya dengan berjuang sungguh-sungguh, dengan banyak melakukan kebajikan. Dan mungkin juga ada yang melakukan hal-hal yang di luar akal sehat, misalnya mandi kembang tengah malam, kemana-mana membawa jimat atau yang lainnya. Ada pula umat yang supaya cita-citanya tercapai, minta dibacakan mantra atau doa oleh Pandita-Pinandita bagi yang beragama Hindu. Ada yang supaya cita-cita atau harapannya tercapai, datang ke tempat-tempat keramat tujuannya supaya selamat dan cita-citanya terwujud. Ada juga umat yang datang ke paranormal atau tokoh-tokoh spiritual yang dianggap mampu menjembatani keinginannya supaya terkabul, tidak peduli itu masuk akal atau tidak yang penting dijalani. Kalau keinginannya terkabul; syukur, sebaliknya kalau keinginannya tidak terkabul, sering kali menyalahkan pihak yang didatangi atau diminta pertolongan.
Sesungguhnya harapan-harapan atau keinginan-keinginan tidak memonopoli milik umat saja, tetapi kaum rohaniawan juga memilikinya. Tidak peduli agama atau kepercayaannya apa, tentu semuanya memiliki harapan. Jadi sesungguhnya rohaniawan juga memiliki harapan atau keinginan tidak jauh berbeda dengan umat awam. Jadi tidak usah kaget atau terkejut kalau mendengar seorang rohaniawan memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan tertentu.
Ingat rohaniawan juga manusia, tidak beda dengan umat awam, jadi semuanya mempunyai harapan. Ada yang untuk dirinya sendiri, ada juga untuk orang lain, ada juga untuk para leluhur dan lain sebagainya. Keinginan-keinginan atau harapan-harapan para rohaniwan itu, misalnya:
- Ingin disayangi dan menyenangkan sesama rohaniwan di dalam kehidupan suci, dihormati dan dijunjung tinggi oleh mereka.
- Ingin mendapatkan empat macam kebutuhan pokok: makanan, pakaian, obat-obatan dan tempat tinggal.
- Mereka yang menyokong kehidupan-kehidupan kerohaniannya memperoleh pahala yang besar.
- Para leluhur berbahagia.
- Terbebas dari hal-hal yang tidak baik.
- Terbebas dari ketakutan dan kengerian.
- Memiliki kemampuan-kemampuan batin.
- Mencapai tingkat-tingkat pembersihan kekotoran batin.
- Merealisasi Moksha.
Apakah keinginan-keinginan atau harapan-harapan pararohaniwan dan juga para umat itu bisa menjadi kenyataan? Ataukah itu hanya keinginan saja tanpa dapat diwujudkan? Dengan cara apakah harapan-harapan atau keinginan-keinginan itu bisa menjadi kenyataan? Ada orang tertentu, supaya harapannya menjadi kenyataan, ia selalu berdoa dan berdoa, meminta dan meminta kepada kekuatan di luar sana, bahkan tidak jarang sampai menangis tersedu-sedu. Para Maharsi tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk menjadi peminta-minta atau pengemis supaya harapan kita tercapai. Seandainya dengan berharap, berdoa dan menangis semua harapan menjadi kenyataan, maka tidak perlu manusia berjuang mencapai cita-cita dengan susah payah. Berjuang dengan cara apakah supaya harapan dan keinginan-keinginan itu menjadi kenyataan? Avatara Buddha menjelaskan supaya keinginan atau harapan itu menjadi kenyataan, maka siapapun haruslah sempurna di dalam pelatihan moralitas yang lebih tinggi dan yang lebih baik, tidak mengabaikan meditasi, mengembangkan kebijaksanaan. Seandainya siapa pun berharap, maka seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak malas.
Sesungguhnya, “berharap” bagi umat Hindu tidak ada salahnya. Masalahnya supaya harapan-harapan itu menjaddi kenyataan, manusia itu harus berjuang. Berharaplah dan berusaha mewujudkan harapan dengan berjuang sebagai kuncinya. Setelah tahu bahwa harapan harus dibarengi dengan perjuangan, maka sebagai umat Hindu sudah sepatutnya kita terus berjuang dan berjuang. Menjadi kenyataan atau tidak harapan kita tergantung pada diri kita. Semakin banyak berjuang semakin terbuka kesempatan untuk berhasil. Ingat, sukses atau gagalnya harapan kita ditentukan seberapa keras perjuangan kita. Selamat berjuang. Semoga berhasil.
Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag
