Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Sebagai Umat Hindu Kita meyakini bahwa: adanya mahluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena yajna, adanya yajna karena karma. Ini mengandung makna yang sangat mulia bagi manusia. Hidup ini senantiasa memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang seimbang antara jasmani dengan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus berusaha dengan karmanya guna membuahkan hasil atau pahala.

Demikian juga bahwa manusia untuk tetap menunaikan kewajibannya untuk melaksanakan yajnanya, baik yajna yang dilakukan setiap hari atau nitya karma maupun yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Pelaksanaan yajna sesa merupakan jenis yajna yang dilaksanakan oleh umat Hindu sehari-hari atau Nitya Karma. Yajna sesa adalah persembahan yang tulus ikhlas dengan mempersembahkan makanan berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, garam, dan air, yang dilaksanakan setelah selesai memasak yang dipersembahkan pada tempat-tempat tertentu. Yajna sesa juga disebut Ngejot atau Banten Saiban. Perlu diingat bahwa pelaksanaan Yajna sesa/Ngejot/Saiban ini dilaksanakan setelah selesai memasak nasi dan belum makan yang dipersembahkan setiap hari.Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat yajna sesa, sebagai berikut :

  1. Daun pisang, yang dipotong segi empat agak kecil dan dibuat sedemikian rupa yang berbentuk tangkih atau taledan yang digunakan sebagai alasnya
  2. Nasi, nasi ini sebagai persembahan pokok dari yajna sesa, apabila belum masak lauknya ataupun yang lainnya, biasanya dapat pula dengan suguhan nasi dan diisi sedikit garam. Ini mengandung makna bahwa nasi merupakan makanan pokok manusia yang bermula dari beras dan melalui proses memasak ini yang disertai dengan bantuan kekuatan Dewa Brahma dengan panasnya api, kekuatan Dewa Wisnu dengan air, dan kekuatan Dewa Siwa untuk “Nyupat” atau menyucikan beras sehingga bisa masak berubah menjadi nasi.
  3. Garam, ini sebagai sarinya air laut yang terasa asin dan rasa asin ini sangat diperlukan bagi kebutuhan manusia serta makanan yang akan dimakan tidak terasa hambar. Makna terkandung di dalamnya adalah segala usaha maupun yajna supaya dapat dirasakan atau dapat dinikmati hasilnya, tanpa ada rasa maka sia-sia usaha itu. Lebih dari itu dengan “rasa” bahwa manusia sadar atau merasakan dirinya berutang kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
  4. Lauk-pauk, ini juga merupakan bahan untuk yajna sesa untuk melengkapi rasa yang terkandung dalam suguhan itu. Lauk pauk yang kita masak maka ini pun juga dipersembahkan sebagai yajna sesa. Apapun bahannya lauk-pauk itu perlu juga dipersembahkan, baik dari ikan, daging, buah-buahan atau biji-bijian.
  5. Sayuran, inilah jenis makanan yang dibuat dari daun-daunan yang segar dan hijau yang juga dapat melengkapi persembahan yajna sesa.
  6. Air juga sebagai sarana untuk melengkapi melaksanakan yajna sesa. Seperti halnya manusia jika habis makan perlu air untuk minum sebagai pengantar makanan dan sebagai tanda kepuasan. Dengan minum air kita merasa tenang dan sejuk serta pikiran tidak menjadi tegang, karena kekuatan Dewa Wisnu berfungsi untuk menenangkan dan menyejukan kehidupan umatnya.Demikian halnya juga dalam melaksanakan yajna sesa diakhiri dengan persembahan air sebagai bukti bahwa suguhan itu telah dilaksanakan.

Setelah persiapan untuk melaksanakannya telah dilengkapi sesuai dengan bahan-bahan tersebut di atas dan telah ditata sedemikian rupa (ditanding), maka suguhan itu siap untuk dipersembahkan.

Pelaksanaan Yajna Sesa atau Ngejot ini ditujukan kehadapan :

1)     Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya (Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Surya) suguhan ditempatkan diatas atap rumah atau di atas tempat tidur pada pelangkiran yang telah disediakan.

2)     Sang Hyang Brahma bertempat di tungku atau tempat memasak.

3)     Sang Hyang Wisnu bertempat di tempat menyimpan air atau bisa juga disumur.

4)     Sang Hyang Amerta atau Dewi Sri bertempat di penyimpanan beras atau nasi.

5)     Sang Hyang Pertiwi bertempat di halaman rumah yang juga ditujukan kehadapan bhuta-bhuti.

6)     Kehadapan Penunggun Karang bertempat di Tugu.

7)     Kehadapan Bhatara-Bhatari dan roh suci leluhur bertempat di Merajan dan Sanggar yang lainnya.

8)     Serta pada tempat-tempat yang lainnya yang dipandang perlu dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

Hakikat pelaksanaan Yajna Sesa tersebut di atas dapat bermakna bahwa Hindu dimanapun berada senantiasa membiasakan diri untuk mendahulukan kepentingan umum atau para dharma dari pada kepentingan pribadi atau swadharma. Juga berarti untuk mendahulukan dharma bakti dan kewajiban daripada pamrih atau kehendak menurut hak untuk diri sendiri.

Om Santih Santih Santih Om