DEWATĀ (PENJELASAN )

Dedicated by: I W Sudarma
1. ŚIVA MAHĀDEVA

Om Namah Śivāya Śarvāya, Deva-devāyā vai namaḥ, Rudrāya Bhuvaneśāya, Śiva rūpāya vai namaḥ.

Oṁ Tvaṁ Śivas tvaṁ Mahādeva Īśvara Parameśvaraḥ, Brahmā Viṣṇuś ca Rudraś ca, Puruṣaḥ Prakṛtis tathā.

Oṁ Tvaṁ Kālas tvaṁ Yamo Mṛtyur  Varuṇas Kuberakaḥ, Indraḥ Sūryaḥ Śaśaṅkaś ca graha nakṣatra tarakaḥ.

Śivastava 1-3.

‘Om Hyang Vidhi, Hamba memuja-Mu sebagai Śiva, yang menganugrahkan kerahayuan dan keberuntungan, penguasa alam semesta, dewata dari para dewa, Rudra, yang menakutkan,Engkau dalam wujud-Mu yang maha pengasih, Śiva Mahādeva’.
‘Om Hyang Vidhi, Engkau adalah Śiva (yang menganugrahkan kerahayuan), Mahādeva (devatā yang tertinggi), Īśvara (maha kuasa), Parameśvara (penguasa hukum tertinggi), Brahmā (pencipta alam), Viṣṇu, Engkau adalah Puruṣa (kesadaran agung) dan Prakṛti (unsur kebendaan)’

‘Om Hyang Vidhi, Engkau adalah Kāla (penguasa waktu), Yama (pengendali hukum), Mṛtyur (kematian), Varuṇa (penguasa air/laut), Kubera (penguasa kekayaan), Indra (penguasa tertinggi kahyangan), Sūrya (penguasa matahari) Śaśaṅka (penguasa bulan), penguasa planet-planet dan bintang-bintang’

Śiva Mahādeva adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Kuasa dan Maha Esa. Kata Śiva berarti yang menganugrakna kerahayuan, keselamatan atau kesejahtraan dan kebahagiaan. Śiva digambarkan sebagai Mahāyogi yang rambutnya diikat dengan Rudrākṣamālā (tasbih) dan membendung atau mengatur aliran sungai suci Ganggā (nampak gambar dewi Ganggā muncul di puncak rambutnya yang digelung), oleh karena itu disebut pula Ganggādhara. Duduk bersila (kaki terlipat) dalam sikap ‘padmāsana’ (seperti bunga teratai) adalah sikap yang sangat baik untuk meditasi. Sikap lainnya adalah ‘śiddhāsana’ (sikap seorang Yogi, bersila, tetapi satu kaki berada di depan perut/tidak terangkat di atas paha), juga merupakan sikap yang baik untuk menenangkan pikiran. Senjatanya yang tajam adalah Triśula, lambang penguasa tiga waktu (yang lalu, kini dan yang akan datang), sebuah kendang kecil (damaru) tergantung pada tongkat Triśula, sebagai simbol gema Omkara, suara yang muncul ketika proses tercipta dan berlangsungnya alam semesta. Ular kobra (menjerat/bertengger di leher) dan bulat sabit atau Ardhacandrakapala (pada bagian kepala) menunjukkan penguasa maut, tidak seorangpun mampu mengatasi kematian yang ditentukan-Nya. Sikap tangannya adalah Dhyānamudra, sikap meditasi, untuk merealisasikan ketenangan (Śānti) untuk mewujudkan Anandam (kebahagiaan yang sejati). Mengenakan busana dari kulit harimau, demikian pula duduk di atas kulit harimau, dengan kepala harimau berada di depannya, melambangkan bahwa seorang Yogi mampu mengatasi sifat-sifat Rajas, yakni sifat-sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri umat manusia. Sebuah kendi Amṛta terletak di depan kanan tangan-Nya, sebagai lambang Amṛta, air kehidupan, sebagai simbolis awal penciptaan dan gunung Kailaśa adalah salah satu puncak dari banyak puncak pegunungan Himalaya sebagai sthana-Nya. Wahana-Nya adalah seekor lembu bernama Nandini (terlihat pada latar belakang). Para Yogi dan Resi agung senantiasa memuja-Nya.

Di dalam beberapa kitab Purāṇa kita temukan berbagai Abhisekanama atau nama pujian untuk-Nya yang jumlahnya ribuan (Sivasahasranama), antara lain: Śambhu (yang menjadikan diri-Nya sendiri), Īśa (Yang Maha Tunggal/Maha Kuasa), Paśupati (pelindung mahluk), Sarva (segalanya), Śaṅkara (Pencipta), Candraśekhara (Yang bagaikan bulan muncul di puncak gunung), Bhūteśa (raja dari para Bhūta/raksasa), Girīśa (penguasa gunung), dan lain-lain.
2. TRI MŪRTI DAN ŚIVA AVATARA

Oṁ Brahmā Viṣṇu Īśvara devaṁ, Tri Puruṣa Śuddhātmakam, Tri deva Tri Mūrti lokam,
Sarva vighna vināśanam. Navaratnastuti 1.

(Om Hyang Vidhi, dalam manifestasi utama-Mu, Brahma, Viṣṇu dan Īśvara(Śiva),Tri Puruṣa,jiwa alam semesta yang maha suci,Tri Mūrti,tiga wujud utama penguasa jagat raya menghancurkan segala bencana).

Tri Mūrti adalah Tiga Manifestasi Utama Tuhan Yang Maha Esa. Brahma digambarkan sebagai Catur Mukha (memiliki empat wajah) yang sama dalam satu badan. Keempat wajahnya adalah wajah Sannyasin (Yogi) yang jernih, karena itu disebut juga sebagai Devatāpurohita (panditanya para devatā) . Viṣṇu digambarkan memegang cakram yang berputar, sangkha (terompet kerang) dan teratai sebagai lambang berlangsungnya alam semesta, pemeliharaan dan kesucian dan Śiva dengan Damaru (kendang kecil) dan Triśula lambang proses dan berlangsungnya penciptaan alam semesta dan penguasa waktu (Kala) sedang bulan sabit dan ular kobra adalah lambang maut, akhir dari penciptaan yang berulang-ulang. Sikap tangan dewa-dewa Tri Mūrti pada umumnya adalah Abhāyamudra yang berarti akan mengenyahkan segala bencana yang menimpa penyembahnya yang bhakti kepada-Nya.

Dalam gambar di atas, kelihatan Viṣṇu sebagai Narāyaṇa (pengendali mahluk hidup) dari telapak tangan kanan-Nya muncul cahaya dan dari cahaya itu lahirlah dewa Śiva (digambarkan sebagai bayi terlentang miring) dengan sikap tangan Kṛtāñjali (mencakupkan tangan), sebuah Triśula dan Damaru terlentang di sebelah tangan kanan-Nya. Di belakang-Nya terdapat sebuah Lingga (lambang dewa Śiva yang sesungguhnya tidak berwujud, namun untuk kepentingan Bhakti dari umat manusia kepada-Nya, munculah wujud Lingga sebagai yang tidak terbatas.

Dewa Brahmā digambarkan duduk di atas teratai merah (padma), seperti halnya Viṣṇu (Narāyaṇa). Sikap tangan dewa Brahma adalah juga dalam sikap Kṛtāñjali (mencakupkan tangan di dada). Kini timbul pertanyaan, mengapa Brahmā dan Śiva muncul dari Viṣṇu ? Berdasarkan kitab-kitab Purāṇa yang disebut Sattvika Purāṇa seperti Viṣṇu dan Bhagavata Purāṇa, Viṣṇu atau Mahāviṣṇu (Viṣṇu Yang Maha Agung) yang disebut juga Ananta (Tidak berakhir) adalah sumber segala-galanya, bahkan Bramā dan Śiva muncul dari diri-Nya.

3. ŚRI KṚṢṆA ARJUNA SAṀVĀDA (GĪTĀ UPADEŚA) DAN ŚRI KṚṢṆA MAHĀVIRĀTRŪPA

Yatra yogeśvara kṛṣṇo yatra pārtho dhanur dharaḥ, tatra Śrir vijayo bhūtir
dhruvā nītir matir mama. Bhagavadgītā XVIII.78.

(Di manapun Śri Kṛṣṇa berada, Penguasa tertinggi ilmu kerohanian dan di manapun Arjuna berada, pahlawan ahli panah yang paling utama,di sana pula pasti terdapat kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa dan moralitas.Itulah pendapat saya).

Pernyataan dari kutipan terjemahan Śloka di atas ditulis langsung oleh Maharesi Vyāsa ketika mengakhiri kitab suci Bhagavadgītā. Bhagavadgītā diyakini sebagai kitab suci Veda yang ke lima (V) yang merupakan rekaman sabda Śri Kṛṣṇa, Sang Pūrna Avatara. Kitab suci ini sangat populer, karena disusun dalam bentuk dialog atau percakapan Saṁvāda). Maharesi Vyāsa adalah maharesi agung yang menyusun kitab suci Veda, Purāṇa dan Mahābhārata, Brahmasūtra dan kitab-kitab Upaniṣad. Maharesi Vyāsa yang juga dikenal sebagai Kṛṣṇadvaipāyaṇa ini memperoleh karunia dari Śri Kṛṣṇa sang Pūrna Avatara, berupa Divyacākṣu sehingga memiliki kemampuan untuk melihat setiap peristiwa selama perang Bhāratayuddha berlangsung.

Tuhan Yang Maha Esa turun kedunia dalam wujud-Nya sebagai Śri Kṛṣṇa adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran moral dan spiritual yang menghancurkan peradaban dunia, sebagai danyatakan dalam kitab suci Bhagavagītā IV. 7, berikut:

Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmy aham.

(Kapan saja dan di mana saja pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma meraja lela, pada waktu itlah Aku turun menjelma,wahai putra keluarga Bhārata).

Pada gambar di atas terlihat pada latar belakang wujud maha agung dari Śri Kṛṣṇa sebagai Mahāvirātrūpa, wujud yang sangat dahsyat. Penjelasan ini dapat dijumpai pada kitab suci Bhagavadgītā Adhyāya XI dengan topik Viśvarūpadarśanayoga (yakni Śri Kṛṣṇa dalam wujud maha besar, semua dewata menyatu pada-Nya. Nampak puluhan kepala dewata, ṛsi dan Rudra yang menakutkan (dengan lidahnya menjulur) dengan banyak tangan yang masing-masing tangan-Nya itu memegang berbagai senjata pamungkas. Arjuna sebagai manusia yang bhakti mendapat karunia untuk melihat wujud-Nya yang sesungguhnya itu. Dalam Bhagavadgītā dinyatakan:

‘Paśyādityān vasūn rudrān aśvinau marutas tathā, bahūny adṛṣtha pūvāni  paśyāscaryāni bhārata’.

‘Ihaika sthaṁ jagat kṛtsnaṁ paśādya sa carācaram, mama dehe gudhakeśe yac cānyad draṣthum icchasi’.

‘Na tu māṁ śakyase draṣthum anenaiva sva cakṣuṣā, divyaṁ dadāmi te cakṣuḥ paśya me yogam aiśvaram’. Bhagavadgītā XI.6-8.

Wahai Arjuna yang paling baik di antara keluarga Bhārata, lihatlah wujud-Ku sebagai bermacam-macam Āditya, delapan Vasu, sebelas Rudra, dewa Aśvina yang kembar, dewa-dewa Maruta (dewa angin yang kencang), dan semua dewata yang
lainnya. Lihatlah banyak keajaiban yang belum pernah dilihat atau didengar oleh siapapun’.

‘Wahai Arjuna, apapun yang engkau ingin lihat, lihatlah segera pada diri-Ku. Bentuk alam semesta ini dapat engkau lihat, yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Segala sesuatu yang  bergerak ataupun yang tidak bergerak ada dalam diri-Ku’.

‘Tetapi engkau tidak dapat melihat Aku yang sesungguhnya dengan mata (duniawi)-mu itu. Untuk itu, kini Aku memberikan mata rohani (divyacakṣu). Lihatlah keagungan dan kehebatan-Ku ini’.

Demikianlah, ternyata Arjuna tidak sanggup melihat wujudnya yang dahsyat itu, oleh karena itu ia memohon, karena telah memiliki Śraddhā (keyakinan yang mantap) terhadap kebesaran Tuhan Mang Maha Esa, dan Śri Kṛṣṇa berkenan kembali pada wujud-Nya semula sebagai Sang Pūrna Avatara, yakni sebagai Puruṣa Uttama, sebagai manusia super.
4. SARASVATĪ (Dewi Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan)
Oṁ Sarasvatī namostubhyaṁ varade kāma rūpinī, siddhirāmbha karisyāmi siddhir bhavantu mesadā. Sarasvatīstava 1

‘Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai dewi Saravatī, pemberi berkah, wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan didam-bakan.Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karunia-Mu’.

Penggambaran atau perwujudan dewa-dewa (juga dewi-dewi serta mahluk kadewataan lainnya) tidaklah merupakan hasil renungan, lukisan khyalan dari pikiran seorang yang bersifat duniawi, melainkan berdasarkan pengalaman spiritual para mahāṛṣi yang disebut Darśanam.Seorang mahāṛṣi ketika melakukan meditasi memuja keagungan-Nya mendapatkan visi atau penglihatan gaib tentang dewa-dewa atau mahluk sorga itu. Mengingat seorang mahāṛṣi adalah juga seorang seniman, maka apa yang diperolehnya itu digambarkannya untuk memudahkan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Perwujudan atau penggambaran dewa-dewa dengan aneka atribut atau laksananya tentunya mampunyai makna simbolis yang bisa kaji melalui pendekatan teologis maupun filosofis. Demikian pula dewi Sarasvatī yang dikenal sebagai dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, pencipta huruf (aksara), disebut juga sebagai dewi ucapan dan berbagai nama lainnya. Adapun makna simbolis penggambaran dewi Sarasvatī yang amat cantik itu, sebagai berikut :

1)            Tubuh dan bhuṣana putih bersih dan berkilauan Di dalam Brahmavaivarta Purāṇa dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Triguṇa,yaitu Sattva-guṇātmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakṛti. Warna putih ini tidak hanya melambangkan Prakṛti “Suddha-sattvasvarūpa” saja, namun mengandung makna psikologis. Bila ilmu pengetahuan muncul dari sifat Sattvam, beralasanlah bila dewi Sarasvatī berwarna dan berbhuṣanaserba putih. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvaṁ-jñānam.

2)            Caturbhuja : memiliki 4 tangan, memegang vīna, pustaka, akṣamālā dan kumbhāja.
Di dalam Skanda Purāṇa (VII.33.22) dinyatakan keempat tangan itu adalah Śrutilakṣa-nā yang mengandung makna sebagai perwujudan Śruti yang terdiri dari Caturveda Saṁhitā. Dengan gelaran sebagai “vīnapustakadhāriṇī” (BvP.II.1.35, II.2.55) menunjukkan bahwa masing-masing tangan itu memegang vīna (sejenis gitar), pustaka (kitabsuci dan sastra)sedang di dalam Agni Purāṇa( L.16) dinyatakan di samping memegang vīna dan pustaka, juga memegang akṣamālā (tasbih) dan kumbhāja (bunga teratai).

3)            Berdasarkan atas sumber-sumber kitab Purāṇa dan analisa para mahāṛṣi, atribut yang dipegang oleh tangan dewi Sarasvatī masing-masing melambangkan : Vīna (di tangan kanan depan) melambangkan ṛta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nada / melodi (nada-brahman) berupa Oṁ. Suara Oṁ adalah suara musik alam semesta ataumusik angkasa. Akṣamālā ( di tangan kanan belakang ) melambangkan konsentrasi atau meditasi dan lembaran-lembaran lontar(pustaka)melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusia tidak memiliki arti. Kainnya yang putih menunjukkan bahwa ilmu itu selalu putih,mengingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela.

4)            Vahana. Sarasvatī digambarkan duduk di atas bunga teratai dengan kendaraan angsa atau merak. Bunga teratai. Angsa adalah sejenis unggas (burung) yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Monier Williams Monier menyatakan bahwa vahana (kendaraan) Brahmā digambarkan sebagai angsa yyang berarti jiwa yang agung (Supreme Soul) atau jiwa universal (Brahman) dan menurut Sāyana dalam menerjemahkan mantra ṛgveda IV.40.5 menjelaskan kata haṁsa dari han yang artinya : pergi, yaitu yang pergi menuju ke “keabadian”, beralasan pula kata ini berasal dariAhaṁ sa, aku adalah Dia /Brahman. Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan biji-bijian dari kebenaran ilmu pengetahuan, seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama.

5)            Burung merak. Pada bagian bawah di samping seekor angsa sebagai wahananya, maka terdapat pula seekor merak yang memamerkan bulunya yang indah. Meak adalah lambang keangkuhan (arogansi). Seseorang yang berpengetahuan tinggi, bila tidak memiliki dan mengamalkan nilai-nilai moral, etika dan spiritual, maka keangkuhan pada dirinya akan semakin membelenggunya. Dengan Sarasvatī bersthana di atas atau di samping-Nya, maka sifat-sifat yang buruk akan dapat ditekan dan dikendalikan.

Di India, pemujaan pemujaan kepada dewi Sarasvatī dilangsungkan setiap tahun dua kali yakni dirangkaikan dengan upacara pemujaan kepada Durgā (Durgāpūjā) pada hari Vijaya Dasami dan Dīpavali.
5. GĀYATRĪ, VEDAMĀTĀ (Ibu dari mantra Veda)

Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Tat savitur vareṇyam Bhargo devaṣya dhīmahi
Dhiyoyo naḥ pracodayat.

(Om Hyang Vidhi Penguasa Jagat Raya, Yang Maha Suci,sumber kehidupan,sumber segalas cahaya.Berkenaan kiranya Hyang Vidhi menganugrahkan kesucian pada hati nurani dan kecerdasan kami melalui cahaya-Mu yang Maha Suci).

Umat Hindu meyakini bahwa mantra Gāyatrī adalah mantra yang sangat suci dan keramat. Di dalam Atharvaveda, mantra Gayatrī disebut sebagai Vedamātā, yakni ibu dari seluruh mantra Veda. Mantra ini hendaknya darapalkan terus dalam berbagai situasi untuk memohon keselamatan diri dan keluarga. Mantram ini disebut juga Samanya Mantra, yakni mantra yang boleh diucapkan oleh siapa saja, berlaku untuk umum dan bersifat universal. Ketika bayi baru lahir, bisikkanlah mantra ini tiga kali pada masing-masing lobang telinga kanan dan kiri dengan kesujudan dan memohon keselamatan, kecerdasan dan kebahagiaan kepada dewi Gāyatrī.

Mantra, sesuai fungsinya adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri dengan Sang Hyang Vidhi, Tuhan Yang Maha Pengasih, untuk memohon kesucian, kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Di samping ini sebuah mantram, apalagi Gāyatrī akan berfungsi sebagai Kavaca (melindungi tubuh manusia) dan Pañjara (membentengi diri, keluarga dan rumah kita). Dalam keadaan apapun untuk sesuatu permohonan atau dalam rangka meditasi dan melakukan Japa (yakni dengan cara mengucapkan mantra tertentu berulang-ulang), mimpi buruk, mohon kesembuhan diri dan orang lain, ucapkanlah Gāyatrī mantra terus menerus.

Di dalam kitab-kitab Purāṇa dan Tantra dapat dijumpai berbagai versi Gayatri seperti Brahmā Gāyatrī, Viṣṇu Gayatrī, Rudra Gāyatrī dan lain-lain. Kitab Manavadharmasastra menyatakan bahwa seseorang yang mampu mengucapkan Gāyatrī sepuluh ribu kali dalam hidupnya, akan mencapai Moksa. Ribuan orang setiap tahun mengucapkan Gāyatri, pada hari Gayatri Japa di tempat yang dipandang suci di tepi sebuah kolam yang luas (Brahmasarovara) di kota suci Kuruksetra, India Utara, untuk mencapai kebebasan sejati (Moksa). Demikian pula berbagai permohonan akan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Nya sebagai dewi Gāyatrī atau Savitrī. Gāyatrī dengan Pañcānana, lima wajah, wajah dari lima dewi yang cantik atau sakti, lengkap dengan berbagai senjata di masing-masing tangan-Nya dan tubuhnya masing-masing menghadap penjuru alam semesta yang melambangkan penguasa alam semesta dengan kemurahan-Nya.Duduk dalam sikap padmasana di atas bunga padma (teratai merah).
6. GAṆEŚA (Dalam sikap menari)

Oṁ Gaṇapati ṛṣi poutram bhuktyantu veda tarpanam, bhuktyantu jagat trilokam
śudha pūrṇa sarīraṇam. Sarva viṣa vināśanam Kāla Durgā Durgīpati, maraṇa mala mucyate trivṛṣti paṅupajīvam.

Gaṅgā Umā stava-siddhi deva Gaṇa Guru putram, śakti vīryaṁ loka śriyaṁ
jayati lābhānugraham. Gaṇapatistava 1-3.

‘Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai Gaṇa yang merupakan putra ṛṣi (nama lain dari Śiva), semogalah berkenan dengan persembahan mantra Veda, dunia dan tribhuvana akan berbahagia dengan wujud-Mu yang maha suci dan maha sempurna’.

‘Membinasakan segala racun, Kāla, Durgā dan pengikut Durgā, membebaskan segala penyakit dan kecemaran, yang menurunkan hujan berlimpah-limpah yang merupakan sumber kehidupan’.

‘Pemujaan kepada dewi Ganggā dan Umā senantias terkabulkan, dewa Gana putra Bhaþāra Guru (Śiva sebagai guru tertinggi), perwujudan kekuatan dan kepahlawanan, jaya di jagat raya yang menganugrahkan keberhasilan dan kemakmuran’.

Gaṇeśa adalah salah satu putra dewa Śiva yang disebut sebagai Vighneśvara atau Vighnaghna, yakni dewata yang menguasai para Gaṇa yakni sesuatu yang menyebabkan bencana kepada umat manusia. Dengan memuja Gaṇeśa atau Gaṇapati kita memohon keselamatan kepada-Nya. Gaṇapati digambarkan sebagai berperut gendut (gudang kebijaksanaan) dan satu taringnya patah melambangkan kemampuan mengendalikan diri memegang Paraśu atau kapak, menebas kebodohan dan kegelapan, sangkha lambang kejayaan (kemenangan) dan genta (lambang kesucian). Ia senantiasa memuja Śivalingga menunjukkan seseorang hendaknya senantiasa bhakti kepada Hyang Maha Kuasa.

Dalam gambar nampak Gaṇapati dalam sikap berdiri dan menari di atas bola dunia yang mengandung makna sebagai penggerak kehidupan. Kitab suci Veda di sebelah kaki kanan-Nya yang mengandung makna memberikan bimbingan spiritual dan kebijaksanaan kepada umat manusia. Seekor tikus kecil yang merupakan kendaraan-Nya terletak di sebelah kaki kirinya, menunjukan bahwa sifat-sifa jahat selalu menggeogoti hidup manusia. Untuk itu mendekatkan diri kepada dewata Gaṇapati untuk memohon perlindungan kepada-Nya. Kini di Bali (Indonesia) kita mengenal upacara ṛṣīgaṇa untuk memohon keselamatan, terhindar dari bencana.

7. DEVĪ LAKṢMĪ

Oṁ Śri Lakṣmī Mahādevī, Pīta varṇā pītāmbarā, dala vāyavya sthānañ ca,
sarva pāpa praharaṇam. Aṣtadevīstava 6.

(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu yang sangat mulia, dewi Lakṣmī yang menganugrahkan kemakmuran yang maha agung. Warna dan bhusananya serba kuning,bersthana di Barat Laut dari daun bunga teratai. Melenyap segala kepapaan dan penderitaan).

Dewi Lakṣmī digambarkan sebagai dewi yang mengenakan bhusana (kain sari) berwarna merah, warna perhiasan (bhusananya) gemerlapan warna kuning (emas) sebagai wujud dewi kemakmuran yang menganugrahkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Lakṣmī bertangan empat sebagai wujud kemaha kuasaan-Nya. Dua tangan di belakang memegang padma (teratai merah) melambangkan kesucian, tangan kanan depan dalam sikap Vāramudra, yakni menganugrahkan kepingan-kepingan uang emas sebagai lambang menganugrahkan kemakmuran, tangan kiri depan memegang kendi Amṛta, lambang air kehidupan dan kebahagiaan abadi.

Umumnya pada alas Dīpa (lampu) bagian depan terdapat tulisan Śubha dan pada lampu kiri Lābha, yang maknanya dengan kebajikan memperoleh keberuntungan dan di depan padmāsana-Nya (tempat duduk teratai) terdapat tulisan di atas lembaran kitab yang terbuka, yakni Śri Lakṣmī Prasanna, yang artinya dewi kemakmuran yang maha suci dan penuh rakhmat.

Pada gambar di atas, dewi Lakṣmī digambarkan dalam sikap berdiri menganugrahkan berkeping-keping uang mas yang di tampung dalam sebuah piring. Uang atau emas adalah sarana untuk memperoleh kemakmuran. Di Indonesia (Bali) seperti halnya di India dewi ini dipuja (sebagai Iṣþadevatā, devatā pujaan utama) oleh para pedagang (Vaiṣya). Seperti halnya pemujaan kepada dewi Sarasvatī, maka pemujaan kepada dewi Lakṣmī dirangkaikan dengan pemujaan kepada dewi Durgā (setahun dua kali). Pada hari itu, arca dewi Lakṣmī dihiasi dengan uang kertas baru, seperti halnya Bhaþara Rambut Sadhana di Bali (Indonesia). Sebuah kidung (Bhajan) menyatakan: Durgā-Lakṣmī-Sarasvatī mapahi jagatmata, yang maknanya ketiga dewi itu (Durgā, Lakṣmī dan Sarasvatī merupakan perwujudan ibu alam semsta. Di Bali Lakṣmi digambarkan sebagai Śri Sadhana, yakni dewa-dewi yang badan dan perhiasannya terbuat dari uang kepeng dan pemujaan kepada-Nya dirangkaiakan dengan hari Sarasvatī, setahun dua kali.
8. ŚRI KṚṢṆA

Sargāṇām ādir antaś ca madhyam caivaham arjuna,  adhyātma vidyā vidyānāṁ vādaḥ pravadatām aham.Bhagavadgītā X.32.

(Di antara segala ciptaan Aku adalah permulaan, akhir dan juga pertengahan.Di antara segala ilmu pengetahuan, Aku adalah pengetahuan spiritual yang tertinggi dan di antara pengetahuan logika, Aku adalah kebenaran akhir).

Śri Kṛṣṇa adalah Sang Pūrna Avatara, Avatara yang maha sempurna. Di antara berbagai Avatara yang telah turun ke dunia menyelamatkan umat manusia. Penampilan Śri Kṛṣṇa yang tampan selalu awet muda (nirjara/tidak mengalami umur tua) dan senyum-Nya yang menawan memikat jutaan hati umat-Nya, demikian pula suara seruling-Nya yang merdu menjadikan umat manusia sangat terikat kepada-Nya, sebagai pengikut-Nya yang bhakti dan setia. Missi Śri Kṛṣṇa adalah untuk menegakan Dharma, kebenaran dan kebajikan, meruntuhkan segala yang bertentangan dengan ajaran moral, etika dan spiritual. Sabda Śri Kṛṣṇa mewupakan wahyu yang terhimpun dalam kitab suci Bhagavadgītā dan tersebar pula dalam kitab-kitab Purāṇa dan Mahābhārata.

Tuhan Yang Maha Esa turun kedunia dalam wujud-Nya sebagai Śri Kṛṣṇa adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran moral dan spiritual yang menghancurkan peradaban dunia, sebagai danyatakan dalam kitab suci Bhagavagītā IV. 7, berikut:

Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmy aham.

(Kapan saja dan di mana saja pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma meraja lela, pada waktu itlah Aku turun menjelma,wahai putra keluarga Bhārata).

Dalam gambar di atas nampak menonjol Śri Kṛṣṇa dengan seruling-Nya yang bersuara merdu. Pada punggung tangan kiri-Nya terdapat hiasan Omkara (simbol Tuhan Yang Maha Esa), demikian pula pada bulu merak yang ditempatkan pada geluang bagian kakan Śri Kṛṣṇa juga terdapat hiasan berupa Omkara. Ciri khas untuk secara mudah mengenal Śri Kṛṣṇa adalah seruling dan bulu meraknya itu.

Di India hari lahir Śri Kṛṣṇa dipoeringati pada hari Kṛṣṇa Janmaṣtami, yakni pada paro gelap ke 8 (di Bali disebut Panglong 8), pada bulan Bhadrapada (Agustus-September). Śri Kṛṣṇa diyakini lahir pada tengah malam. Umat Hindu yang memuja-Nya melakukan puasa sehari-semalam (24 jam). Pura Viṣṇu dihias meriah. Kīrtanam (mengucapkan mantra-mantra mengagungkan Śri Kṛṣṇa terus menerus dilantunkan, demikian pula sangka (terompet kerang tiada hentinya di bunyikan. Riabuan umat Hindu datang ke Mathura (tempat lahirnya Śri Kṛṣṇa) yang disebut Janmasthana, di samping juga mengunjungi kota Vrindavan, tempat Śri Kṛṣṇa bermain-main dengan para gopala (gembala lembu) di masa yang silam.

9. ŚIVA, DAN PARVATĪ

Oṁ Namaḥ Śivāya Oṁ Śri Parvatyai namaḥ

(Om Hyang Vidhi, hamba memuja-Mu sebagai Śiva, yang menganugrahkan keberuntungan dan kesejahtraan. Hamba memuja-Mu sebagai Śri Parvatī, dewi yang menganugrahkan kemakmuran dan hamba memuja-Mu sebagai Śri Gaṇapatī yang mengenyahkan segala bencana yang kamiu hadapi).

Pada setiap rumah tangga umat Hindu di India kita dapat menyaksikan arca-arca atau gambar Śiva, Parvatī dan Gaṇeśa yang dijadikan media pemujaan oleh umat Hindu di sana. Media ini dimaksudkan menghadirkan manifestasi utama Tuhan Yang Maha Esa untuk kesejahtraan dan kebahagiaan umat manusia. Śivaparivara adalah sebutan untuk menyebutkan ketiga dewata ini. Parivara artinya keluarga, diharapkan pula setiap keluarga senantisa rukun dan damai seperti halnya rukunnya ketiga dewata ini yang sikap tangannya adalah Abhāyamudra, melenyapkan kekhavatiran umat manusia.

Pada gambar di atas terlihat dewa Śiva dan dewi Parvatī berdiri mesra bagaikan suami istri yang penuh kasih sayang, saling mencintai. Sang Hyang Śiva dalam wujudnya sebagai maha yogi mengenakan bhusana (kain kuning), lambang kesucian dan kemakmuran, mengenakan selimut/selempang kulit harimau, yang mengandung makna dapat mengatasi berbagai sifat kebinatangan (Gunarajah). Ular kobra melilit lehernya, lambang pencabut nyawa (kematian), sebab tidak ada mahluk apapun yang akan hidup selamanya. Setiap kehidupan akan diakhiri dengan kematian. demikian pula rambut bergelung menyangga sungai Ganggā yang memancur ke bumi, lambang kasih-Nya menurunkan karunia berupa kemakmuran. Tangan kanan belakang memegang tombak Triśula (senjata berujung tiga), yang melambangkan penguasa terhadap tiga dimensi waktu, lahir, hidup dan mati, oleh karena itu Śiva disebut juga Triśuladharani (yang membawa tombak Triśula). Pada tombak itu tergantung Damaru (kendang kecil) yang suaranya nyaring, yakni gema (nada) Omkara ketika jagat raya ini diciptakan. Tangan kanan depannya dalam sikap Abhāyamudra, sikap menolak bencana. Pada telapak tangan itu terdapat Wijakṣara Omkara, lambang Tuhan Yang Maha Esa. Siapa saja yang mau mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa akan bebas dari bahaya, karena karunia berupa perlindungan yang dianugrahkan-Nya. Tangan kiri belakang membawa Sangka (terompet kerang) yang memancarkan suara yang merdu, lambang kehidupan yang manis dan merdu dan tangan kiri depan, memeluk sakti-Nya dewi Parvatī. Pada tubuh dewa Śiva kelihatan lumuran abu suci yang disebut Bhāsma, yang mengandung makna penyucian diri serta mengingatkan umat manusia bahwa pada akhirnya tubuh mahluk akan hancur manjadi abu ketika kematian telah tiba.

Śiva dan Parvatī adalah teladan pasangan abadi. Cinta kasih dan kesetiaan Parvatī diwujudkan dengan Satī, ia sedia membakar dirinya sendiri untuk menunjukan kesetiannya kepada Śiva ketika dewa Śiva dibunuh dan dibakar menjadi abu oleh Dakṣa, yang kemudian kita waris tradisi Satya atau Satyāgni, untuk menunjukan cinta dan kesetian kepada suami.

Parvatī digambarkan sebagai dewi yang sangat cantik, mengenakan bhusana (sari) berwarna merah yang dipenuhi hiasan berwarna keemasan, mengandung makna kemakmuran, keindangan dan keagungan yang sangat didambakan oleh setiap umat manusia. Tangan kanan dewi Parvatī dalam sikap Abhāyamudra, sikap menolak bencana, membebaskan penyembah-Nya dari berbagai hal yang membahayakan, sedang tangan kiri-Nya memegang kendi Amṛta yang di dalamnya terdapat air kehidupan. Siapa saja yang bersedia mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan memperoleh kehidupan yang sejati berupa kesejahtraan dan kebahagiaan yang abadi.
10. RĀMA, SITĀ, LAKSAMANA DAN HANUMAN

Rāma, Sitā, Lakṣamaṇa dan Hanuman adalah contoh persaudaraan yang abadi, kompak dan tidak terpisahkan. Rāma merupakan Pūrna Avatara yang lahir pada jaman Traitayuga (4000 tahun sebelum Masehi). pada saat Śri Rāma lahir, saat itu Ratnakara, seorang penjahat besar mendapat mantra japa dari maharsi Narada yaitu Rāmanama. Tiga tahun setelah mengucapkan japa itu terus-menerus, Ratnakara yang bermeditasi di tengah-tengah sebuah sarang semut akhirnya diinisiasi (di Dikṣa) oleh mahasi Narada dan diberi nama Vālmīki (dari kata Vālmīka yang berarti sarang semut). Beberapa saat kemudian Vālmīki mendapat anugrah berupa kemampuan untuk melihat jauh, Divyacakṣu dari dewa Brahma, sehingga mampu melihat Śri Rāma ketika masih di sorga (sebagai Viṣṇu) kemudian turun ke bumi sebagai putra prabhu Daśaratha (raja Ayodhyapura di Uttar Pradesh, India Utara). Sejak Vālmīki menerima anugrah penglihatan dewata, kemudian ia menulis Rāmāyaṇa dalam bentuk syair yang sangat indah dan sangat populer berbahasa Sanskerta.

Tentang keutamaan Śri Rāma sebagai Avatara, kitab kakawin Rāmāyaṇa menyatakan:

He Madhusūdanāmriha Bhaþara haywa malupa, Wiṣṇu awakta jāti Puruṣottama kita, Satwa ya satya nitya ry awakta tan dadi hilang, moha karih hana tuwi rajah tamah pwa kawaśa.

Na ta dadin ta don ta puwi dadya ning parahita, janma anung anāgata temun bhaþāra taya len, kabwataken nikang dadi saneka tata alupa, nitya tutur ku tan katutupan apa prabhu kita. Rām.K. XXI. 126,128.

(Oh, Sri Rāma sadarlah engkau jangan lupa! Engkau adalah perwujudan dewa Wiṣṇu yang menjelam sebagai Puruṣottama, Awatara yang utama.Dharma dan kesetiaanitu abadi yang ada pada tubuh-Mu tidak boleh hilang.

Kendati mungkin ada pikiran yang bingung demikian pula sifat angkara murka semua sudah dikuasai.

Demikian Avatara-Mu di masa silam sama sekali tidak boleh menyebabkan pikiran-Mu bingung. Dahulu ketikapenjelmaan-Mu yang pertama sebagai ikan, berwujud kura-kura, babi hutan, Narasinga. Engkau adalah dewa Wisnu. Orang cebol, Rāma Paraśu, menitis menjadi Sri Rāmadewa juga Engkau).

Lebih jauh ajaran moral, kebenaran, keteguhan dan tingkah laku yang baik sebagai wujud pengamalan Dharma merupakan missi yang disampaikan oleh penjelmaan Śri Rāma diceritrakan dalam Rāmāyaṇa, seperti dinyatakan oleh maharsi Vālmīki sendiri sebagai berikut:

Idaṁ pavitraṁ pāpaghnaṁ puṇyaṁ vedaiśca sammitam, yaḥ paþhed rāmacaritaṁ sarvapāpaiḥ pramucyat. (98).

etadākhyānamāyuṣyam paþhan rāmāyaṇaṁ naraḥ, saputrapautrah saganah pretya svarge mahiyate (99).

pathan dvijo vagṛṣabhatvamīyāt syāt  kṣatriyobhūmipatitvamīyāt, vaṇigjanaḥ puṇyaphalatvamīyājjanaśca  śudro’pi mahattvamīyāt (100). Ram.Val.Bal.K.I. 98-100.

(Siapa saja yang membaca ceritra sejarah Sang Rāma ini,mereka akan mencapai kesucian sejajar dengan orang yang mencapai kesucian melalui kitab suci Veda,segala dosanya akan lenyap(98)

“Seseorang yang membaca ceritra Rāmāyaṇa akan mencapai panjang umur, setelah meninggal akan berbahagia dengan anak, cucu dan pengikutnya di sorga”(99).

“Seorang Brahmana yang membaca ceritra ini akan memperoleh kecerdasan, seorang Kṣatriya akan memimpin dunia, seorang Vaiṣya akan berhasil bisnisnya dan para Śudra (pekerja) akan memperoleh kemuliaan (100).

Penjelasan yang hampir sama juga kita jumpai pada bagian akhir kakawin Rāmāyaṇa berbahasa Jawa Kuno, sebagai berikut :

Jaya parameśwarātiśaya śakti nātha  nikanang jagattraya kita, praṇata hatingku nitya ri sukunta  tātan alupā lanā matutura, ikanaphalāni bhaktini hatingku  rātyata tumūta bhaktya rikita, kalawan iking subhāṣita kathā sabhākena  rengon rasa nya subhaga (49).

Sākṣat Manmatha śīla sang Raghusutāmenuhi  wiṣaya dharma ring sarāt, ngkan Rāmāyaṇa bhadrawada niramogha  mawangi rumesepteke hati,  Sang Yogīśwara śiṣta sang sujana śuddha  manahira huwus mace sira, byaktāwās ucapanta ring julung adomuka
pinaka nimitta ning lepas (50). Ram.K. XXVI.49-50.

“Tuanku telah berhasil dan berkuasa penuh sebagai pemimpin tiga dunia. Hamba senantiasa bersembah sujud kehadapan duli Tuanku yang selalu hamba ingatkan dan tidak pernah hamba abaikan. Padahal sujud sembah hamba itu semoga menjadi itu panutan rakyat yang setia bakti kehadapan Tuanku. Dan ceritra yang mengandung ajaran utama dalam bentuk kakawin ini wajar disebar luaskan dan dengarkanlah inti sarinya (49).

Bagaikan Hyang Asmara perilaku Sang Rāma memenuhi kesenangan duniawi berlandaskan ajaran Dharma.Itulah sebab-nya ceritra suci tentang perjalanan Sri Rāma sungguh-sungguh harum jika sudah meresap dalam hati.Sang maha muni(pandita budiman)dan orang yang bijaksana makin suci hati beliau setelah usai membaca ceritra ini. Jika baik caranya menjelaskan kepada mereka yang awampun akan tertarik menyebabkan mereka mencapai kalepasan /Moksa (50).

Demikian antara lain missi Śri Rāma turun ke dunia digambarkan oleh maharsi Vālmīki, pungga sastra pertama dunia yang langsung mengabadikan perjalanan Śri Rāma, dewi Sitā, Lakṣmaṇa dan Hanuman yang menyatu dalam suka dan duka.
11. DEWI DURGĀ

Oṁ Caturdevī Mahādevī Catur aśrama Bhattārī, Śiva jagat pati devī Durgāma śarīra devī.
Durgāstava 1.

(Ya Tuhan Yang Maha Esa, Sakti-Mu dewi Durgā dipuja oleh umat manusia dalam berbagai tingkatan hidup yang terdapat di dalam masyarakat. Dewi Durgā adalah śakti dari Sang Hyang Śiwa, raja seluruh alam semesta. Ya Tuhan Yang Maha Esa, hamba memuja di bawah kaki-selamatkanlah hamba-Mu).

Dewi Durgā sesungguhnya adalah dewi yang sangat cantik, bertangan delapan melambangkan kemaha kuasaan-Nya. Tiap-tiap tangan dewi Durgā memegang senjata milik para dewa untuk digunakan menghancurkan raksasa yang bernama Raktavijaya. Kendaraannya adalah seekor harimau yang garang dan tangan kanan depan dalam sikap Abhāyamudra membebaskan umat manusia dari kekhawatiran.

Pemujaan kepada dewi Durgā disebut Durgāpūjā dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada Rāmanavaratri (disebut juga Rāmanavami) pada bulan Chaitra (April-Mei) dan pada waktu Durgānavami atau Vijaya Dasami pada bulan Asuji (September-Oktober). Pada hari Rāmanavami atau Rāmajanmaṣtami, disebutkan bahwa Śri Rāma memperoleh kemenangan melawan Ravana justru setelah memperoleh anugrah dari dewi Durgā. Kini timbul pertanyaan, mengapa Śri Rāma sebagai Avatara legi memuja Durgā ? Jawabannya adalah Rāma sebagai Avatara mengambil bentuk tubuh sebagai manusia utama (Puruṣottama), oleh karena itu Ia memberi teladan dan bersikap sebagai manusia pula (Manuṣakṛti). Demikian pula pemujaan yang sama dilakukan untuk memperingati kemenangan Śri Rāma yang dirayakan selama 10 hari (Vijayadasami). Sembilan hari pertama disebut sebagai pemujaan kepada Navadurgā atau 9 aspek dewi Durgā, yang terdiri dari: Durgādevī sebagai pusat (tengah), Rudrā, Caṇdā, Pracaṇdā, Ugracaṇdā, Caṇdogrā, Caṇdanāyikā, Caṇdavatī dan Caṇdarūpā.

Rupanya hari raya Galungan yang dirayakan di Indonesia 2 kali dalam setahun mempunyai makna yang sama dengan Durgāpūjā, seperti pula ditetapkan dalam keputusan seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu I di Amlapura, tahun 1975, sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh bapak K. Ginarsa terhadap prasasti-prasasti jaman Bali Kuna maka dapat disimpulkan baha Galungan telah dirayakan pada jaman Valajaya atau Tarunajaya yang didalam lontar Usana Bali disebut Jayakusuma putra dari raja Bhatara Guru yang memerintah pada tahun saka 1246 -1250 . Didalam lontar Usana Bali dinyatakan bahwa para raja pendek usianya disebabkan melupakan tradisi untuk merayakan Galungan ( yakni upacara pabhyakalan pada Kala Tiga ning Dungulan )

Bila kita melihat upacara Śraddhā, yakni upacara penyucian roh sang raja Gunapriya Dharmapatni, permaisuri raja Dharma Udayana Varmadeva yang memerintah Śaka 911-929 dan ketika mangkat rohnya disatukan dengan Istadevata-Nya sebagai Durgāmahiśāsura mardini, yaitu dewi Durgā sedang membunuh raksasa dalam wujudnya seekor kerbau ( kini arcanya tersimpan di pura kedarman burwan kutri, Gianyar), maka upacara Durgapuja telah dilaksanakan pada waktu itu. Upacara penyatuan roh yang telah disucikan dengan dewata pujaan (Istadevata) disebut mencapai tingkatan Atmasiddhadevata dan hal ini dapat kita lihat dari informasi penyucian roh leluhur raja Hayam Wuruk, yakni Ratu gayatri di Pura penataran yang dalam kitab Nagarakrtagama, Pura ini disebut Hyang I Palah.

Upacara Durgāpūjā pada waktu itu belum disebut Galungan, melainkan disebut “atawuri umah anucyaken pitara” yang artinya upacara selamatan rumah dan penyucian roh ( leluhur), sebagaimana bunyi prasasti Śuradhipa tahun Saka 1037.

Istilah Galungan rupanya pertama kali disebut dalam prasasti yang di keluarkan oleh raja Jaya Sakti tahun Saka 1055, disamping juga sesajen yang bernama Tahapan-stri, persembahan yang ditujukan kepada dewi Durgā Sakti Siva, karena dewi Durgā-lah yang dapat membasmi berbagai bentuk kejahatan dalam wujud raksasa.. Ciri khas persembahan kepada dewi Durgā adalah berupa daging babi yang sampai kini masih tersisa di Bengala dan Nepal dan rupanya penggunaan daging babi ( yang juga warisi di Bali) adalah tradisi dari upacara Durgapuja itu.

Selanjnya bila kita melihat penanggalan Bali, dalam hitungan hari yang disebut Astawara, maka sejak Radite sampai dengan Anggara Wage Dungulan, hari-hari itu bertepatan dengan Kala, karenanya disebut Sang Kala Tiga, sedang pada hari galungan ( Buda Kliwon Dungulan) adalah Uma, nama lain dari Durgā dalam aspek Śānta ( damai) pada saat ini umat memohon anugerah-Nya. Hari Galungan di samping memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspek beliau sebagai Umā, Durgā atau Śiva Mahādeva, bagi umat Hindu di Bali (Indonesia) adalah juga merupakan hari pemujaan kepada leluhur. Hal ini dapat kita lihat dari rangkaian dari dan upacara Galungan, sejak Sugihan Jawa, Bali sampai dengan Sabtu Umanis Wuku Kuningan, akhir dari rangkaian perayaan Galungan.

12. DATTATREYA (Tri Mūrti dalam satu badan)

Oṁ Namo Bhagavate Dattatreyāya Mālākamaṇdalu dharaḥ karapadmayugme Madhyaṣtha pāniyugale damarutriśulam, Adhyaṣtha urdhva karayoḥ śubha śaṅkhacakre Vande tamatrivaradaṁ bhujaśatkayuktam. Dattatreyastrotra l.

(Om Hyang Vidhi, Hamba memuja Engkau dalam wujud Dattatreya, Perwujudan Tri Murthi dalam satu badan, yang menjelma sebagai putra maharesi Atri, yang memiliki enam tangan, yang memegang tasbih dan kendi Amrta, Damaru (kendang kecil) dan tombak Triśula pada kedua tangan yang lain, kedua tangan bagian atas memegang Sangkha (terompet kerang) dan Cakram).

Dattatreya adalah perwujudan Trimurti dalam satu tubuh yang memberi pendidikan kepada umat manusia dengan cara berguru kepada 24 guru sebagai berikut: (1). bumi, (2). air, (3). api, (4). langit, (5). angin (6). bulan, (7). matahari,(8). merpati, (9). ular piton. (10). samudra,(11). semut,(12). lebah madu, (13). tawon, (14). gajah betina, (15) menjangan, (16). ikan, (17). penari wanita, (18). burung gagak, (19). anak-anak, (20). pelayan, (21). ular, (22). pembuat panah, (23). laba-laba dan (24). kumbang. Setiap orang hendaknya belajar pada hal-hal yang baik dari 24 hal yang dapat memberikan teladan dalam berbuat dan bertingkah laku yang baik dan benar.

Pemujaan kepada Dattatreya dilakukan pada hari Dattreya Jayanti yang jatuh pada bulan Mārgaśirśa (Desember-Januari) yang dilakukan sebagai hari pemujaan kepada guru, khususna dewa-dewa Tri Mūrti sebagai guru tertinggi umat manusia.
Perhatikanlah mantram Gurupūjā berikut:

Oṁ Gurur Brahmā gurur Viṣṇur guru deva maheśvaraḥ, gurur sakṣāt paraṁBrahmā tasmai Śrir gurave namaḥ. Gurupūjā 2.

(Om Hyang Vidhi, kami memuja Hyang Vidhi sebagai Brahmā, guru pencipta alam semesta, sebagai Viṣṇu, guru pemelihara alam semesta, dan sebagai Maheśvara, sebagai guru dewata tertinggi. Sesungguhnya bhakti persembahan kami, kami tujuan kepada Sang Hyang Vidhi, dalam wujud-Mu sebagai Tri Mūrti, sebagai Brahman yang merupakan guru tertinggi umat manusia.

13. VĪRA HANUMAN

Yatra-yatra raghunātha kīrtanam tatra-tara kṛta masthakāñjalim, Bhaspavāri paripūrṇa lochanaṁ mārutiṁ namata rākṣāntakam.

‘Kami memuji Maruti, Śri Hanuman yang selalu memuliakan Śri Rāma dengan Kīrtanam (mengulang-ualngi menyanyikan nama-Nya) dengan sikap sembahnya yang sujud. Meleleh air mata keharuannya, ketika nama Rāma diucapkan, pelindung kematian’.

Hanuman disebut juga Vīra Hanuman, tubuhnya sangat kuat dan berkialauan bagaikan petir, oleh karena itu ia disebut juga dengan nama Bajrāṅgi (berbadan bajra). Sebuah senjata gada di tangan kanannya, sedang tangan kirinya membawa puncak gunung Kailaśa. Peristiwa itu terjadi ketika Hanuman diperintahkan untuk mencari tumbuhan obat (Ausadha) oleh Śri Rāma untuk mengobati bala tentara yang luka-luka. hanuman tidak tahu persis wujud tumbuhan obat dimaksud. Untuk cepatnya dia langsung mengambil puncak Kailaśa. kekuatan tangan dan tenaganya juga digambarkan sebagai kekuatan petir (Bayubajra).

Hanuman adalah contoh abdi yang setia kepada Śri Rāma, di manapun ia berada, selalu ceria dalam medan tugas dan selalu menyebut Rāma nama (Jaya Rāma, Jaya Rāma, Jaya Rāma ……) tiada hentinya. Dengan nama-Nya, segala kekuatan turun pada dirinya. Ketika tugas telah usai dan Śri Rāma kembali ke Vaikuntapāda, maka sebelumnya Hanuman telah mendapatkan wisik (sabda suci) untuk mencapai kelepasan. Wisik suci-Nya itu terhimpun dalam kitab Muktika Upaniṣad, sebuah Upaniṣad yang menuntun seseorang untuk mencapai Mokṣa, tujuan tertinggi hidup manusia.

hanuman adalah contoh kesetiaan, ketulusan, kepatuhan, bhakti yang taat sebagai seorang pelayan kepada pimpinan (Dasyabhava), dan ketika upacara Abhivandanam dilakukan di Ayodhya, Hanuman tidak berkenan menerima anugrah apapun dalam bentuk duniawi, melainkan hanya satu, yakni perkenan Śri Rāma dan dewi Sitā untuk bersemayam dihatinya. Ketika hati berkembang memperoleh vibrasi dan kasih-Nya, maka segela penderitaanpun lenyap, kebahagiaan yang sejati (Ananandam) akan terus bersemi. Inilah yang mesti direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Oṁ Śrī Hanumate Namah, Om Jaya Śri Hanuman.

14. LAKṢMĪ, SARASVATĪ DAN GAṆEŚA

Oṁ Śri Lakṣmyai namaḥ Oṁ Śri Sarasvatyai namaḥ Om Śri Gaṇapatyai namaḥ.

(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai  Lakṣmī, dewi kemakmuran yang kami puja. Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
yang maha suci yang senantiasa kami puja. Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai
Śri Gaṇapati, penolak segala bencana yang yang kami puja).

Dewi Lakṣmī, Sarasvatī dan Gaṇeśa sering dipuja secara bersamaan terutama pada Hari Raya Dipavali oleh umat Hindu India, semacam Hari Raya Galungan di Indonesia. Pada Hari Raya yang merupakan hari kejayaan Dharma itu, setiap rumah tangga umat Hindu memohon kehadiran dewi Lakṣmī atau Śri yang di Bali disebut Bhatarī Rambut Sādhana, arcanya dibuat dari untaian/rangkaian uang kepeng atau uang perak. Kata Lakṣmī maupun Śri mengandung arti yang sama yakni kesejahtraan, kemakmuran, kesejahtraan, keindahan dan yang sejenis dengan itu. Kata Śri Sadhana artinya mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan dalam diri dan rumah tangga kita. Dengan dewi Śri atau Lakṣmī dimohon kehadirannya di rumah-rumah untuk menurunkan wara nugraha-Nya,dengan demikian diri dan keluarga kita akan sejahtra dan bahagia. Perhatikan kepingan-kepingan uang emas ditumpahkan melalui periuknya oleh dewi Lakṣmī yang maha cantik ini sebagai wujud karunia-Nya yang berlimpah ruah.