UPACĀRA  DAN UPAKĀRA  PIODALAN SEDERHANA*

Oleh:  Shri Danu Dharma P (I Wayan Sudarma)**

Oṁ Swastyastu,

Oṁ Visvadeva ya namaḥ, Oṁ Aim Kalim namo Durgayai  namaḥ, Oṁ Shri Guru Bhyo namaḥ Hariḥ Oṁ,  Namame smaranam padame sharanam

Pengertian Umum

A. Pendahuluan

Seiring dengan pesatnya perkembangan Iptek dan gencarnya penyiaran agama baik yang dilakukan oleh PHDI, Departemen Agama, LSM, Organisasi Kepemudaan, Banjar dan Desa Adat, membuat perkembangan umat Hindu terutama dari sisi kualitas semakin menggembirakan. Hal ini tampak dengan semarak diadakannya acara-acara keagamaan baik dalam bidang ritual, kesenian, seminar keagamaan, munculnya kelompok – kelompok kajian Veda, sekeha pesantian, kelompok meditasi dan sebagainya. Kondisi ini menggambarkan adanya penyadaran akan eksisitensi sebagai hamba Hyang Widhi, dengan selalu mendekatkan diri kepadaNya melalui jalan Bhakti, dengan melakukan pemujaan ataupun dengan Upacāra  yajña. Namun di balik semua kemeriahan dan ketaatan itu, belum kita rasakan ada dampaknya terhadap kehidupan Umat Hindu secara umum, justru semakin banyaknya konflik yang terjadi, rasa kebersamaan, kesetaraan dan toleransi di antara sesama umat Hindu semakin menipis, masih adanya diskriminasi dalam kehidupan beragama (apalagi di Bali), dengan dalih ”Aja Wera” dan masih banyaknya oknum yang mengobjekkan umatnya sendiri, dengan memanfaatkan berbagai kelemahan dan ketidaktahuan umat, demi keuntungan pribadi dan kelompok mereka sendiri, dengan mengatakan ’kamu tidak boleh membuat ini ataupun itu, karena kamu orang sudra/panjak, berasal dari non- Bali dan tadinya non- Hindu, kamu tidak boleh memada-mada’.

*  Makalah disampaikan pada acara: Penataran Pinandita se-Jawa Barat,  25-26 Oktober 2008. Di Hotel Endah Parahyangan-Bandung.

Berbeda dari apa yang terdapat dalam susastra Veda, bahwa semua umat berhak dan wajib mengetahui, meresapi, menghayati dan melaksanakan segala kewajiban agama sebagai sebuah Dharma sesuai dengan guna dan swadharmanya masing-masing, terlepas dari siapa mereka, apa warna kulitnya, dari kelahiran mana mereka berasal, apa jabatannya, semuanya harus tunduk kepada hukum hukum agama, baik Sruti Smrti, Sila, Acara dan Atmanastusti (Manawadharmasastra, II.6).

Ajaran Agama tidak cukup hanya diketahui dan dimengerti saja, harus dibarengi dengan penghayatannya, dari semua itu pengamalan dalam bentuk perilaku sehari-hari kita di dalam bermasyarakat itulah yang paling utama. Semakin sering kita sembahyang, beryajña, membuat Upakāra  hendaknya kita dapat meningkatkan sikap, moral dan perilaku kita menuju kualitas yang lebih baik dan benar sesuai dengan kaidah Dharma. Karena setiap Upacāra  dan Upakāra  yang kita buat pada dasarnya merupakan penjabaran ajaran agama dan memiliki hakekat sebagai pembelajaran diri, dalam menata  hidup dan kehidupan sehingga dapat meniti ke tujuan utama kelahiran ini, yaitu ”Mokshartam Jagadhita”

Setiap Upacāra  (proses untuk mendekatkan diri dengan Brahman) agama selalu disertai dengan Upakāra  (sarana yang dipakai sebagai media pemujaan Brahman), baik dalam wujud kecil (sederhana/kanistama), menengah (madhyama) maupun besar (mewah/uttama), hendaknya dibarengi dengan memahami akan tujuan Upacāra  tersebut dan memahami makna Upakāra nya. Oleh karena itu Upacāra  dan Upakāra  harus mengacu kepada sastra-sastra agama, bukan hanya dilandasi dengan ”Gugon Tuwon, Anak Mula Keto

Banten dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya. Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten. Dalam Lontar Yajña Prakrti disebutkan: “ sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana” artinya: semua jenis banten (Upakāra)  adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta)  Demikian pula dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten, dinyatakan: “ Banten mapiteges pakahyunan, nga; pakahyunane sane jangkep galang” Artinya: Banten itu adalah buah pemikiran artinya pemikiran yang lengkap dan bersih.

Bila dihayati secara mendalam,  banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih.

B. Tujuan Yajña

Tujuan pokok Yajña, antara lain:

  1. Untuk menjabarkan dan menyebarluaskan ajaran Veda yang bersifat rahasia
  2. Sebagai sarana menyebrangkan Atma untuk mencapai Moksha
  3. Sebagai sarana untuk menyampaikan permohonan kepada Hyang Widhi.
  4. Sebagai sarana untuk menciptakan keseimbangan (tri hita karana).
  5. Sebagai sarana untuk menciptakan suasana kesucian dan penebusan dosa.
    1. Sebagai sarana pendidikan yang bersifat praktis  (Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2004: 11).

C. Landasan Yajña:

Setiap Yajña yang ingin dibuat/diadakan harus memenuhi kriteria yang terdapat dalam Veda, hal ini dimaksudkan agar Yajña tersebut berkualitas sattvam, karena hanya kualitas Yajña yang sattvamlah yang dapat menghantarkan orang yang mengadakan Yajña mencapai kemanunggalan dengan Brahman, adapun landasan Yajña sesuai dengan Manavadharmasastra, VII.10, yaitu:

  1. Iksa; tujuanyng ingin dicapai melalui Yajña tersebut harus jelas
  2. Sakti; harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang dimiliki, baik kualitas SDM, maupun pendanaannya, jangan sampai meninggalkan hutang.
  3. Desa; disesuaikan dengan tempat dimana Yajña itu akan dilakukan,  kearifan daerah setempat (lokal genius) harus dihargai sehingga tidak ada kesan pemaksaan
  4. Kala; situasi atau keadaan wilayah, masyarakatnya juga harus diperhatikan sehingga Yajña tersebut efektif dan efisien serta bermanfaat positif
    1. Tattva; harus merujuk pada ketentuan sastra agama baik Śruti, Smṛti, maupun Nibandha.

Disamping hal tersebut di atas, agar Yajña tersebut berkualitas śāttvam harus memenuhi standar/mutu seperti apa yang telah ditetapkan dalam Bhagavadgītā , XVII. 11-14, yaitu:

l   Śraddhā; dilakukan dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati

l   Sastra; sesuai dengan petunjukk sastra

l   Gita; terdapat lagu-lagu pujian kepada Hyang Widhi

l   Mantra;terdapat doa-doa pujaan yang dihaturkan untuk memeuliakan Hyang Widhi

l   Lascarya; dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan hati

l   Daksina; pemberian penghormatan berupa Rsi Yajña kepada Sang Sadhaka (pandita/pinandita)

l   Annaseva; menjamu  dengan senang dan tulus setiap tamu dengan makanan dan minuman yang menyehatkan badan dan rohani

l   Nasmita; tidak ada unsur pamer atau jor-joran.

l   Segar dan menyehatkan; setiap banten yang dibuat haruslah banten yang segar, tidak basi, busuk, dan kering / layu, sehingga prasadamnya dapat memberikan dampak kesehatan  Jasmani & Kemurnian Rohani

l   Renungan: “Apapun yang hendak dinikmati oleh manusia hendaknya ia mempersembahkannya terlebih dahulu kepada Brahman sebagai bhakti, karena jika tidak ia adalah seorang pencuri dan hanya akan memakan dosanya sendiri, dan adalah kewajiban pula baginya untuk menikmati setiap  hasil persembahan sebagai  prasadam (karunia Brahman), karena jika tidak ia adalah orang yang paling berdosa.” (Bhagavadgītā ). Manusia saja tidak mau makan makanan yang sudah basi, melihat bunga yang sudah layu, mencium aroma busuk, apalagi banten yang yang akan dipersembahkan kepada sesuhunan sudah basi, busuk, jamuran, dan kering, apa ya…?

E. Tujuan Upacāra

Secara umum tujuan diadakanya Upacāra  menyangkut empat hal, yaitu:

  1. Yang bersifat umum dan kepercayaan adalah: untuk melenyapkan pengaruh yang kurang baik; mengundang atau menambahkan pengaruh-pengaruh yang baik dan memberikan kekuatan; untuk memperoleh tujuan hidup sekala-niskala; sebagai pernyataan umum yang dimaksud menurut tujuan Upacāra  itu sendiri.
  2. Sebagai pembinaan moral (budhi) sehingga memungkinkan berkembangnya sifat-sifat: welas asih dan pengampunan; tahan uji; bebas dari iri hati; meningkatnya kesucian rohani; wajar dan tenang dalam menghadapi segala cobaan hidup;  suka berderma dan tidak rakus/lobha.
  3. Untuk pengembangan kepribadian dari Avidya (kegelapan bati) menuju Vidya (memiliki pengetahuan) menuju Vijñana  (bijaksana) menuju Kṣṭrajña (kesadaran ilahi).
  4. Untuk pengembangan spiritual sehingga terbebasnya Ātma dari belenggu saṁsara  atau manunggaling kawulo lan gusti

F. Fungsi Upakāra  Secara Umum

  1. Sebagai linggih dan perwujudan Hyang Widhi
  2. Sebagai sarana cetusan angayu bagia (persembahan)
  3. Seagai sarana permohonan
  4. Sbagai sarana pensucian lahir-batin

Struktur Banten / Upakāra

  1. A. Struktur Banten / Upakāra Pejati

  1. Struktur untuk banten pejati dipresentasikan oleh Mpu Lutuk sebagai Hulu atau Uttama Angga.
  2. Kriteria untuk menentukan tingkatan Upakāra atau banten disebut kanistama (sederhana), Madhyama (sedang), dan Uttama (besar) adalah banten jenis pejati yang ada di Sanggar Pesaksi atau Sanggar Surya atau pelnggih Pokok (Padmasana). Sanggar Pesaksi atau Sanggar Surya ini ada yang Rong Satu disebut Sanggar Tutuan, dan yang Rong Tiga disebut Sanggar Tawang.
  3. Banten yang dipersembahkan pada Sanggar Pesaksi dan Pelinggih Pokok akan menjadi pedoman manurut Lontar Widhi Sastra dalam menentukan banten yang patut dihaturkan pada pelinggih-pelnggih dan Bale Sakral yang ada di pura. Contoh misalnya di pura itu ada pelinggih pokok (Padmasana) dan ada pelinggih Pengiring dan ada pula Bale Sakral. Pelingih pengiring ini ada yang setara dengan pelinggih pokok seperti:  Taman Sari, dan ada yang tidak setara, seperti: Anglurah.  Jika banten yang dipersembahkan di Sanggar Pesaksi adalah Suci Laksana, maka di pelinggih pokok adalah sama yaitu Suci Laksana demikian juga pada pelinggih yang setara dan Bale Sakral (Bale Pawedan, Bale papelik, Bale Pahiyasan). Pada pelinggih yang tidak setara (Anglurah) adalah Suci Alit  dan pelinggih dibawahnya adalah Suci Sari seperti pelinggih Pengapit lawang atau Dwara Pala.
  1. B. Tingkatan Upakāra Pejati
  • Upakāra yang sederhana (Kanistama), jika Pejati di Sanggar Pesaksi (Sanggar Surya) mempergunakan:

Peras – Daksina        : Kanistamaning kanistama

Suci                        : Madhyaning kanistama

Dewa-Dewi              : Uttamaning kanistama

  • Upakāra yang sedang (Madhya), jika Pejati di Sanggar Pesaksi (Sanggar Surya) mempergunakan:

Dewa-Dewi              : Kanistamaning madhyama

Catur Rebah            : Madyaning Madhyama

Catur Niri                 : Uttamaning Madhyama

  • Upakāra yang besar (Uttama) , jika Pejati di Sanggar Pesaksi (Sanggar Surya) mempergunakan:

Catur Niri (lantaran Angsa)                      : Kanistamaning uttama

Catur Niri (lantaran Kambing)                            : Madhyaning uttama

Catur Niri Masambada (lantaran Kerbau)    : Utamaning uttama

  1. C. Upakāra atau Banten Tataban (Ayaban)
  • Wṛhaspati Kalpa Alit:

1.  Pengulap – Pengambean

2.  Suci

3.  Pulagembal

4.  Pulagembal dan Bebangkit

5.  Catur Rebah – Padudusan Alit

  • Wṛhaspati Kalpa Agung:
  1. Catur Niri – Padudusan Agung – Mapaselang – Tapakan       Bhatara:        Angsa
  2. Catur Niri – Padudusan Agung Kanisatama – Mapaselang –   Tapakan        Bhatara:        Kambing
  3. Catur Niri – Padudusan Agung Madhyama – Mapaselang –    tapakan        Bhatara:        Kerbau.
  4. Catur Niri – Padudusan Agung Utama – Mapaselang – tapakan        Bhatara:        Kerbau
  1. D. Upakāra atau Banten Sor (Lontar: Sundarigama)
  1. Upakāra pada tingkatan sederhana (kanistama) disebut: Segehan, misalnya segehan acacahan, segehan panca warna, dan segehan agung
  2. Upakāra pada tingkatan sedang (madhyama) disebut: Caru, misalnya caru eka sata, caru manca sata, caru manca sanak, caru manca kelud, dll
  3. Upakāra pada tingkatan besar (uttama) disebut Tawur, pada tingkatan Upācāra tawur ini mempergunakan lebih dari tiga jenis binatang. Untuk tingkatan tawur ini maka sebelum dibuat sate dan olahannya maka dilakukan Upācāra Mapepada terlebih dahulu.

  1. E. Sorohan atau Kumpulan Upakāra Pejati

  1. Sorohan Banten Suci :
  2. Menurut Lontar Medang Kamulan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:
  • Suci Alit (Suci Nanampan atau Suci Sibakan ) – 4 buah tamas
  • Suci Laksana (Suci  Bungkulan) – 6 buah tamas
  • Suci Gde (Suci Tibaro) – 8 tamas
  1. Menurut Lontar Kusuma Dewa (Indik Tetandingan) terbagi menjadi enam jenis yaitu:
  • Suci Lekah (Suci Babungkul) – 1 buah tamas
  • Suci Sari (Suci Tumpukan ) – 3 buah tamas
  • Suci Bunga (Suci Siabakan Alit) – 5 buah tamas
  • Suci Kerama (Suci Sibakan Ageng) – 7 buah tamas
  • Suci Pejati (Suci Laksana) – 8 buah tamas
  • Suci Sejati (Suci gening) – 10 buah tamas
  1. Sorohan Banten Dewa-Dewi:

Kalau sorohan banten suci dapat digunakanuntuk melengkapi Upakāra yang lain , maka banten dewa-dewi selalu ditempatkan di Sanggar Pesaksi dan di Pelinggih Pokok (Padmasana), sebagai simbol Purusa-Pradhana.

  1. Sorohan Banten Catur – Lontar Indik Karya:

Perbedaan antara Catur rebah, Catur Niri adalah pada Catur Rebah sanggar Pesaksinya (sanggar surya) memakai rong satu (Tutuan), sedangkan Catur Niri memakai rong tiga (Tawang), banten Catur biasanya dilengkapi dengan banten Guru dan Banten Gana

Rancangan Upakāra Piodalan Sederhana

  1. A. Upakāra Nuasin Karya:
  1. Padmasana: Peras, Daksina, Soda, Katipat kelanan,  di bawah segehan cacahan putih kuning.
  2. Taman Sari: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, di bawahnya segehan cacahan putih kuning.
  3. Pengempon Tirtha: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, di bawahnya segehan cacahan hitam.
  4. Anglurah: Peras, Daksina di bawahnya segehan cacahan hitam.
  5. Banten tiap sudut: sanggah cucuk 4 set, soda 4 set, canang sari 4 set, ceniga 4 set, gantung-gantungan 4 pasang, di bawah sanggah cucuk @ segehan cacahan putih (tangkih 7).
  6. Banten ngingsah/ tapeni: pejati, bahan – bahan Upakāra  selengkapnya dijadikan 1 tempeh, daksina taksu (daksina mepayas), rantasan putih kuning, segehan cacahan.
  7. Dapur Suci:  Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, di bawahnya segehan cacahan merah.
  8. Bale Pawedan, Bale Papelik:  Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, Segehan cacahan
  9. Candi Agung, Bale Kulkul, Candi Bentar, Pemedal Agung:  masing-masing soda, dan segehan.

10. Arepan Memuja: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, Prayascitta, byakala, Pengulapan, segehan cacahan

  1. B. Upakāra Nunas Tirtha  ke pura-pura:

1.  Upakāra Matur Piuning Di Pura:

  1. Padmasana: peras, daksina, soda, katipat kelanan, penastan,  di bawahnya segehan cacahan putih kuning.
  2. Pelinggih pokok yang lainnya: soda, dan segehan
  3. Arepan memuja: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, Prayascitta, Byakala, Pengulapan, segehan cacahan.
    1. Upakāra Nunas Tirtha: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan , Tempat tirtha, canang sari lepas 5 tanding, segehan cacahan, dupa, petabuh arak-berem-tuak.

Catatan: banten B.1-2, ini dibuat jika ada kegitan nunas tirtha ke pura atau tempat lain

  1. C. Upakāra Piodalan / Pujawali

a.  Sanggar Surya: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, penastan, rantasan putih kuning, lamak, gantung-gantungan, uduh, peji, pisang lalung, di bawahnya segehan cacahan, penjor yajña lengkap dengan sanggah cucuk dengan bantennya: soda

b.  Padmasana: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan , Daksina Linggih, penastan, rantasan, sesayut amertha dewa, lamak, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan.

  1. Lapaan / panggungan: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, ayaban tumpeng pitu,  sesayut siddha karya, sesayut siddha sampurna, sesayut dewa rame rawuh,   sesayut guru piduka, sesayut pamuput karya, penastan, lamak, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan.

d.  Taman sari: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, daksina linggih, penastan, sesayut amerta sari, rantasan, di bawahnya segehan cacahan putih kuning

e.  Pengempon Tirtha: Peras, Daksina, Soda, daksina linggih, rantasan, di bawahnya segehan cacahan hitam

  1. Anglurah: Peras, Daksina, Soda, daksina linggih, rantasan, di bawahnya segehan cacahan hitam

g.  Bale Papelik: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, penastan, rantasan, lamak, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan.

h.  Bale Pamujaan: Peras, Daksina, Soda, Katipat Kelanan), sesayut dharma wiku  prayascitta, byakala, pengulapan, durmenggala, payuk pelukatan, ceniga, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan

  1. Candi Agung: Soda 2 set, penjor 1, ceniga, gantung-gantungan 2 set, di bawahnya segehan cacahan.
  2. Tapeni: Peras, Daksina, Soda, ceniga, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan.

k.  Dapur suci: Peras, Daksina, ceniga, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan merah.

  1. Bale kulkul: Peras, Daksina, ceniga, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan putih kuning.

m. Candi Bentar: Soda 2 set, penjor 1, ceniga, gantung-gantungan 2 set, di bawahnya segehan cacahan.

n.  Pemedal Agung: Soda 2 set, penjor 1, ceniga, gantung-gantungan 2 set, di bawahnya segehan agung.

  • o.  Bale Gong: Soda, ceniga, gantung-gantungan, di bawahnya segehan cacahan putih kuning

p.  Kanistama Mandala: Segehan Agung. Ada kalanya masih ada peluang untuk menghaturkan Caru Eka Sata: caru ayam brumbun, dengan urip 8, lengkap dengan banten ayaban caru, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng. Perlengkapan lainnya: sapu, tulud, kulkul, tetimpug, arak-berem-tuak-toya anyar. Atau dapat mengadopsi kearifan lokal masing-masing daerah yang memiliki tujuan dan makna yang sama dengan bhuta yajña.

q.  Banten Gong: Peras, Daksina,  ketipat gong, segehan cacahan.

  1. D. Upakāra Panyineban

a.  Sanggar Surya, Padmasana, Taman Sari: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, di bawah pelinggih segehan cacahan

b.  Pengempon Tirtha, Anglurah:  Peras, Daksina, Soda, segehan cacahan

  1. Bale papelik, Bale Pamujaan : Peras, Daksina, segehan cacahan

d.  Asagan: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, sesayut pamuput karya, di bawah pelinggih segehan cacahan.

e.  Pelinggih yang lainnya: masing-masing: soda, segehan

  1. Arepan memuja : Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, segehan cacahan
  1. E. Upakāra  Ngelemekin (biasanya dilaksanakan 3 hari setelah Upacāra pujawali)
    1. Sanggar Surya: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, penastan, di bawahnya segehan cacahan.
    2. Padmasana: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan , penastan, di bawahnya segehan cacahan
    3. Lapaan / Panggungan: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan di bawahnya segehan cacahan.
    4. Taman Sari: Peras, Daksina, Soda, katipat Kelanan, di bawahnya segehan cacahan putih kuning
    5. Pengempon Tirtha: Peras, Daksina, Soda, bawahnya segehan cacahan hitam
    6. Anglurah: Peras, Daksina, Soda, di bawahnya segehan cacahan hitam
    7. Bale Papelik: Peras, Daksina, di bawahnya segehan cacahan.
    8. Bale Pamujaan: Peras, Daksina, di bawahnya segehan cacahan.
    9. Candi Agung: Soda 2 set, di bawahnya segehan cacahan.
    10. Tapeni: Soda, di bawahnya segehan cacahan.
    11. Dapur Suci: Soda, di bawahnya segehan cacahan merah.
    12. Bale Kulkul: Soda, di bawahnya segehan cacahan putih kuning.
    13. Candi Bentar: Soda 2 set, di bawahnya segehan cacahan.
    14. Pemedal Agung: Soda 2 set, di bawahnya segehan agung.
    15. Bale Gong: Soda, di bawahnya segehan cacahan putih kuning.
    16. Banten Guru Daksina kepada: pinandita, serati banten, panitia pujawali,: masing – masing Peras, Daksina dan segehan cacahan.

About these ads